Diujung Harapan

Diujung Harapan
Eps 6. Menikahinya 2


__ADS_3

Waktu sudah menunjukkan jam dua siang, Naya membungkus beberapa makanan dari restoran, lalu membayarnya di meja kasir, ia bersiap hendak pulang. Tinggal menunggu jemputan dari suaminya.


"Tumben, banyak kamu bawa makanannya. Ada tamu?" tanya bu Nha sambil menghitung uang kembalian, dan menyerahkan pada Naya.


"Ada ibu dirumah. Mau makan malam bareng. Jadi biar gak usah repot masak, gitu bude" kata Naya sambil merapikan makanan take awaynya ke dalam kantong.


"Pasti dia mau ngomong soal poligami suamimu"


"Kok, bude tau? Apa ibu suka ngobrol sama bude?"


"Gak. Tapi pernah ketemu si, terus nanyain soal kamu kalau kerja gimana, pernah keliatan dekat sama laki-laki lain, gak?" Bu Nha mengungkap pembicaraannya dengan Sarita.


'Apa maksudnya ibu bicara begitu, si?' Naya.


"Terus bude bilang apa?"


"Ya aku jawab aja apa adanya,.yang aku tahu soal kamu selama ini"


"Terimakasih, bude. Gak apa-apa kok kalau bude mau bilang yang aneh-aneh soal aku"


"Ck. Buat apa. Kamu ini pegawai paling lama dan betah disini. Udah aku anggap anak sendiri. Apalagi kamu gak punya ibu lagi, kan?"


Naya mengangguk, ia memang kehilangan ibunya setahun setelah pernikahannya. Dan saat ini ayahnya sudah menikah lagi dengan seorang janda beranak satu, setelah satu tahun kamatian ibunya.


Ibu tiri Naya seorang wanita yang lembut dan baik, tapi Naya tetap tidak bisa menganggapnya sebagai ibunya, karena baginya ibunya adalah ibu satu-satunya di dunia, tidak ada pengganti bagi seorang ibu kandungnya, sebaik apapun wanita yang telah menikahi ayahnya.


Setelah pamit pada bu Nha, dan berganti ship dengan rekannya yang lain, Naya memutuskan menunggu Rudian menjemputnya dengan berdiri di trotoar depan restoran.


Setelah beberapa waktu lamanya, ia mengirim pesan pada Rudian tapi tak juga dibalas. Tak lama, ada mobil Afanza berhenti di depannya. Mobil minibus warna hitam itu terbuka jendelanya secara perlahan.


"Tante, mau pulang? Ayo bareng lagi!" kata anak remaja yang wajahnya muncul dari balik jendela dengan senyum ramah.


Naya menggelengkan kepala. Ia melangkah mendekati mobil itu.


"Raya, baru pulang sekolah ya?" Naya balik bertanya, dan Raya mengangguk.

__ADS_1


Raya berkata lagi, "Nunggu jemputan?" Anak itu sebenarnya hanya menebak saja.


Naya kembali mengangguk. Ia celingukan mencari satu anak lagi, yang biasa bersama mereka.


"Mana, Yoni?" tanya Naya penasaran. Anak kecil itu seolah mencuri perhatiannya.


"Tidur... Tuh," kata Raya sambil menunjuk kursi sebelahnya, ada Yoni yang tidur dengan tenang di sebalah Raya, ia tidak terlihat dari pandangan Naya, karena ada Raya menghalanginya.


"Ih, lucunya." kata Naya begitu wajah Yoni terlihat oleh nya.


"Benar nih, Tante gak mau ikut?"


"Gak. Terimakasih." jawab Naya sambil menjauh kan tubuhnya dari mobil itu.


"Hmm... Ya sudah tante, kalau gitu aku duluan ya, Tante!" kata Raya sambil memasukkan kembali kepalanya yang semula terjulur keluar jendela.


Dan kaca jendela kembali tertutup, lalu mobilpun melaju meninggalkan Naya, yang berdiri terpaku menatap mobil itu pergi menjauh, semakin lama semakin hilang dari pandangannya.


Sementara itu di dalam mobil Ares.


Dua orang ayah dan anak itu mulai berbicara.


'Menikahinya? Apa sebenarnya yang anak ini pikir kan, berani ngatur orang tua'


"Menikahi siapa maksud kamu, Raya...? Menikah itu urusan orang dewasa. Buat apa kamu ikut campur?"


"Menikah sama tante Naya lah ..."


"Sembarangan kamu. Tante itu punya suami."


"Oh," sahut Raya sedikit kecewa.


'Jadi, tadi tanye Naya nunggu suaminya?'


'Aku pikir papa bisa menikah dengannya, Yoni baik-baik saja berdekatan bahkan tidur dipangku tante Naya. Ahk, ternyata tante sudah menikah, apa yang bisa kulakukan?' Raya.

__ADS_1


"Kukira papah menyukai tante Naya..." Gumam Raya.


"Orang menikah itu bukan karena asal suka. Memangnya anak kecil." Sahut Ares.


"Ya, ya... Papa selalu menganggapku anak kecil."


Ares hanya diam, padahal anak itu memang masih kecil, ia baru kelas dua sekolah menengah pertama.


Ares menatap anak sulungnya dari balik kaca spion depan kemudinya. Ia terlihat kesal. Memiliki istri kembali setelah kematian istrinya adalah hal yang paling ia hindari. Ia belum terpikir sama sekali. Apalagi mengingat agoraphobia yang diderita Yoni, membuatnya selalu berjaga jarak bila berhubungan dengan wanita. Selain karena ia takut bila jatuh cinta, ia juga tak ingin bila hubungannya, dengan seorang wanita yang terlanjur dicintainya kelak, kandas karena phobia anaknya. Ia tak ingin dirinya sendiri kecewa dan mengecewakan orang lain.


Di tempat lain.


Beberapa waktu berlalu, Naya masih setia menghubungi suaminya melalui ponselnya, menanyakan apakah ia jadi menjemput dirinya atau tidak. Kesabaran wanita itu diuji, bukankah menunggu adalah hal yang paling membosankan?


Setelah cukup lama bersabar, orang yang diharapkan pun datang, Naya akhirnya dijemput Rudian. Pria yang mengendarai motor matick itu menghentikan kendaraan di hadapan Naya sambil membuka kaca helmnya. Ia tersenyum simpul pada Naya yang terlihat cemberut dan kelelahan.


"Maaf, ya, lama. Tadi sepulang kerja, aku jemput ibu dulu ke rumah" kata Rudian masih di atas motornya.


"Terus, sekarang ibu sudah di rumah kita?" tanya Naya sambil memakai helm yang diasongkan Rudian kepadanya.


"Sudah," jawab Rudian.


"Bukannya kemarin malam kanda nginep di rumah ibu? Kenapa jemput dulu ibu, memang Kanda dari mana?" Naya bertanya ketika sudah berada diatas motor.


"Oh, itu ... Aku, dari ... rumah Teo. Iya, aku main catur lagi di rumah Teo!" kata Rudian sambil terus melajukan motornya.


"Dari rumah Teo? Terus kanda gak kerja dong...?" Tanya Naya heran.


"Iya, si...tapi, itu...ahk sudahlah. Nanti ngobrol lagi dirumah. Kanda cape," sahut Rudian ketus.


'Cape ngapain? kerja juga tidak kan?' Naya.


Sesampainya di rumah, Rurian memarkirkan motornya ke teras dan Naya pun turun dengan membawa bungkusan makanan yang dibawanya dari Restoran.


Saat itu, Naya sudah melihat ada sepasang sendal wanita di depan pintu rumah mungilnya.

__ADS_1


' Alhamdulillah, ibu sudah ada di rumah. Ada apa ya, sampai ibu repot-repot sengaja datang ke sini, apa ada keperluan yang penting? Tapi kenapa gak nyuruh aku ke rumah, tapi justru datang sendiri ke sini?'


Bersambung


__ADS_2