
Naya tersenyum menanggapi ajakan Rudian. Bagi Naya, sebenarnya mereka secara tidak langsung sudah rujuk, ketika mereka kemarin saling berpelukan dan bersikap baik satu sama lain. Tapi mungkin Rudian butuh ketegasan untuk meyakinkan dirinya sendiri.
"Iya, aku mengerti." jawab Naya sambil merapikan bantal dan guling lalu duduk di samping Rudian.
'Walaupun demikian, semua tidak akan sama seperti sebelumnya, saat hatiku belum terluka. Apalagi setelah aku pergi, mungkin Yola yang tidur di sini'
"Jangan pikirkan Yola. Biar dia yang mengalah kali ini," kata Rudian seperti mengerti apa yang dipikirkan Naya. Mendengar hal itu, Naya kembali tersenyum sambil menatap Rudian dengan tatapan tak percaya.
"Kamu pikir Yola mau melakukan seperti yang sudah aku lakukan dulu? Lihat saja nanti."
'Dan apa yang akan kamu lakukan kalau Yola menolakmu. Apa kamu akan membelaku kali ini?'
"Ya, aku akan membelamu nanti," kata Rudian sambil memejamkan mata, sekali lagi Naya tidak tahu apakah ia tidur atau pinsan.
Naya bersikap biasa saja ketika Yola datang dan ia masih duduk di sisi Rudian diatas tempat tidur yang biasa ia tiduri bersama suaminya. Yola sudah tau kalau hari ini Rudian pulang dari rumah sakit. Hanya saja ia tidak menyangka akan melihat Naya duduk di tempat tidur itu dengan posisi yang intim dengan Rudian.
Naya segera meletakkan ponselnya, ketika ia melihat Yola masuk rumah tanpa mengucapkan salam dan kini ia tengah berdiri di samping tempat tidur, pandangan mereka bertemu dengan tatapan panas yang keluar dari hati masing-masing. Seolah-olah pandangan itu mengandung api.
"Kau? Beraninya duduk di situ, itu kasurku!" kata Yola dengan nada tinggi. Mendengar Yola berkata demikian, Naya tertawa kecil dan menjawab,
"Hei, itu juga tempat tidurku, bahkan sebelum ada kamu." sambil turun dari tempat tidur dan kembali menatap layar ponselnya mencoba tidak perduli dengan gangguan Yola selanjutnya.
Naya berjalan keluar kamar hendak bersiap menyiapkan makan malam untuk Rudian dan juga berwudhu, waktu magrib akan segera tiba.
"Kamu memang merawat bang Rudi, tapi kamu tidak bisa berbuat semaunya di sini. Kamu bukan istrinya lagi," kata Yola mengikuti Naya.
"Eh, Yola. Makan sana. Ini makanan dari kak Sania. Masih banyak," jawab Naya keluar dari pernyataan Yola.
"Aku tidak lapar."
" Wah, bagus dong. Jadi aku bisa makan lebih banyak," jawab Naya sambil mengambil makanan kedalam nampan.
" Naya! Apa kamu pura-pura tuli?!"
Naya, tertawa lagi. menenangkan diri dengan menarik nafas dalam, "Yola," katanya seraya menghentikan kegiatannya mengambil nasi. Lalu berkata, "Rudian sudah mengajakku rujuk. Aku menerimanya, agar aku bebas merawat sampai dia sembuh atau Allah berkehendak lain padanya. Jadi aku akan tidur di kamar itu atau kamu yang akan merawatnya ketika malam dia butuh sesuatu. Bagaimana?"
"Apa maksudnya, rujuk? Ini gak mungkinkan. Gimana Dero, kalau kamu tidur di sana?"
"Mana kutau..dia laki-laki, bisa tidur disofa kan?"
'Ahk, iya... Ya Allah, ada laki-laki bukan muhrim tinggal di sini'
Yola diam, ia tak bisa bangun malam untuk mengurus Rudian, ia akan terlalu lelah setelah seharian bekerja. Tapi memberikan tempat itu juga tidak rela. Apalagi ia kasihan dengan Dero kalau setiap malam harus tidur di sofa. Dengan kesal ia melangkah kembali ke. kamar, ia mendekati Rudian.
"Kau merepotkan saja." Yola berkata sambil melipat tangan di depan dada. Tapi kemudian ia duduk di dekat Rudian dan menggenggam tangannya. Lalu berkata,
"Cepat sembuh ya bang, biar kita bisa bersama seperti biasa. Kita sudah lama gak makan diluar."
"Do'akan saja kebaikan untuk Rudian kalau kamu masih betah di rumah ini," kata Naya yang ternyata sudah ada di kamar sambil membawa nampan berisi makanan dan obat Rudian. Wajahnya juga sudah basah karena air wudhu.
Yola tidak menanggapi ucapan Naya, ia keluar setelah melirik Naya sekilas. Sementara adzan magrib mulai berkumandang. Naya lebih dahulu sholat. Setelah selesai, ia membersihkan Rudian agar suci dari najis, setelah itu membiarkannya sholat sendiri sambil berbaring. Naya hanya menunggunya sampai selesai setelah itu membantunya makan dan minum obat.
"Biar aku makan sendiri tanpa disuapi." kata Rudian setelah selesai sholat dan Naya menyodorkan makanan dipiringnya. Naya membantu Rudian duduk dan makan sendiri. Begitulah kwgiatan Naya dalam merawat Rudian dari pagi hingga malam ini.
Yola sudah selesai mandi dan makan, ia hendak mengambil pakaian tidur ketika ia melihat Naya sedang tidur miring di samping Rudian dengan satu tangan di atas dada suaminya.
"Hei, Naya. Apa kamu sadar kamar ini bukan kamar kamu sendiri dan aku juga memiliki hak atas kamar ini?"
__ADS_1
Mendengar Yola bersuara cukup keras, Naya memberi isyarat agar tidak ribut dengan menyimpan jari telunjuk di bibirnya.
"Sstt..berisik! Biar Rudian tidur." kata Naya. Kemudian ia turun dari tempat tidur dengan perlahan dan ia keluar kamar.
Yola mengganti pakaiannya, dengan baju tidur yang biasa ia gunakan. Lalu menyusul Naya yang duduk di sofa. Malam ini urusan ranjang harus segera selesai. Naya harus mengambil keputusan kapan ia akan mengambil bajunya di tempat kos atau tidak.
Naya hanya mempunyai satu baju yang ia bawa kemarin. Kebetulan Naya mempunyai kebiasaan selalu membawa pakaian cadangan, sejak peristiwa kehujanan di tempat parkir waktu itu. Jadi, ketika ia terpaksa menginap di rumah sakit, ia sudah memiliki baju cadangan untuk hari ini. Tapi untuk besok, tidak ada atau ia harus membawa kopernya kembali.
"Jadi, malam ini kamu tidur di kamarku?" kata Yola, duduk di hadapan Naya sambil menyilangkan kaki.
Secara kebetulan, Dero datang dengan motor Rudian dan masuk tanpa mengucapkan salam.
"Dero, sebaiknya kalau masuk rumah siapapun itu, apalagi rumah orang lain, harus ucapkan salam. Biar setan gak ikutan masuk ke sini!" kata Naya.
"Sudah, gak usah menghindar dari masalah deh kamu, Nay!"
"Aku gak menghindar. Cuma ngasih tau aja biat adik kamu itu kalau mau masuk rumah harus salam."
"Jadi, apa jawabannya, kamu mau tidur sama bang Rudi?" tanya Yola.
Dero mengernyit mendengar obrolan dua wanita yang sedang duduk saling berhadapan. Lalu ia duduk di salah satu sofa diantara mereka berdua.
"Jadi mbak Naya sekarang tinggal di rumah ini lagi?" tanya Dero terlihat tidak suka.
"Dero, bang Rudi sudah pulang dan butuh orang buat ngurusinnya, jadi Naya di sini buat nguruusin abang!" kata Yola.
Naya tertawa, menertawakan dirinya juga perkataan Yola. Bagaimana bisa dia menganggap orang lain serendah itu? Bagaimana kalau seandainya dia mendapatkan perbuatan yang sama? Mata karma, ya karma punya mata, sedang mengamati setiap perbuatan orang untuk dibalas setimpal dengan perbuatannya.
"Yola, Rudian sudah rujuk denganku. Aku kembali jadi pemilik rumah dan kamar itu," kata Naya setelah berhenti tertawa, lalu melihat Dero sambil berkata, "Dero, kamu boleh tinggal di sini, tapi tidak ada tempat tidur lagi, jadi kalau kamu mau tetap tinggal di sini kamu harus mau tidur di sofa atau berbagi kamar sama Yola. Oke?"
Jadi akhirnya ia menerima kalau ia harus berbagi kamar dengan Yola. Di tempat kos juga ia selalu berbagi dengan kakak perempuannya itu. Jadi ia sudah terbiasa, hanya saja ia kurang bebas karena ada Naya. Apalagi ia semakin kecewa karena kakak perempuannya itu tidak sanggup merawat suaminya sendiri karena sudah lelah bekerja.
Begitulah akhirnya, Naya tidur di kamarnya yang dulu dengan Rudian yang kadang-kadang terbangun hanya memastikan Naya ada di samping dirinya. Setelah ia bisa melihat wajah Naya maka ia akan tertidur kembali, kecuali kalau ia butuh sesuatu atau perlu mengganti diapersnya saja.
-
Hari itu, Naya meminta Sarita untuk menjaga Rudian, karena ia akan pergi menanyakan sesuatu memeriksakan diri ke bidan terdekat. Pikirkanya sedikit terganggu karena saat ini sudah hampir dua bulan ia tidak mendapatkan haidnya. Padahal ia selalu kedatangan tamu bulanannya tepat waktu. Terlambat sehari dua hari dari perhitungan itu wajar.
Sarita sudah tiba ketika Naya sudah beepakaian rapi. Ia mengambil dompet dari kopernya. Sejak ia membawa koper dan barang-barangnya dari tempat kos, ia tidak memindahkannya dari sana, lemarinya sudah penuh dengan barang dan pakaian Yola, ia hanya menyimpan sedikit baju di laci dekat sofa.
"Kenapa kamu simpan barang-barang kamu dikoper, Nay?" tanya Sarita. Naya tersenyum dan menjawab,
"Gak apa, bu. Gak cukup lemarinya. Laci dan lemari kecil di sana sudah dipakai buat barang-barang Dero."
"Ya sudah, nanti ibu bawa lemari kecil dari rumah, biar di bawa Bastian kalau mau nengok adik nya."
"Iya nih, kak Bastian sudah sepekan belum ke sini lagi. Kalau mau ke sini, ajak kak Sania, bu." sahut Naya.
"Ya, nanti ibu bilang sama Bastian. Kamu mau ngapain si ke dokter?"
"Gak apa, bu. Ini cek saja, aku sakit perut dari kemarin. Takutnya aku punya asam lambung. Jadi cuma mau tahu saja."
"Ya sudah. Hati-hati."
Naya pergi menggunakan ojek untuk segera sampai di tempat yang sudah sejak lama jadi langganan ia memeriksakan kesehatan selama ia tinggal di sana. Itu sebuah klinik sederhana. Tapi cukup ramai, selain karena tarif konsultasi yang terjangkau, dokter jaga yang melayanipun ramah.
Naya duduk di depan seorang bidan yang cantik dan kenal dengan dirinya, Naya memilih konsultasi dengan layanan ibu dan anak. Naya menceritakan keluhannya, bahwa ia belum mendapatkan menstruasi, ia terakhir haid saat sepekan sebelum berpisah dengan Rudian dan hingga saat ini ia tidak pernah lagi berhubungan intim dengan siapapun. Naya menceritakan keadaan haid terakhirnya yang tidak biasa. Kemudian bidan menyarankan agar Naya melakukan tespack saat itu juga.
__ADS_1
Betapa Naya terkejut saat ia mendapatkan hasilnya, dan ternyata positif, ia hamil! Bidan menyarankan untuk melakukan ultrasonografi untuk lebih jelasnya lagi, sebab beberapa kali bercak darah dikehamilan trimester pertama sangat mengkhawatirkan.
Karena rasa penasaran yang tinggi dan juga rasa bahagia yang membuncah, Naya segera mendaftarkan dirinya ke dokter spesialis kandungan yang juga berada di klinik kesehatan yang sama. Wajahnya tampak ceria, sama cerianya dengan wajah ibu-ibu yang mengantri menunggu giliran mereka, penuh rasa syukur.
Ia tak menyangka akan mendapatkan kesempatan seperti ini juga akhirnya, walau ia tidak di dampingi suaminya seperti ibu-ibu lainnya, ia sudah sangat bahagia. Mulutnya tidak berhenti mengucapkan rasa syulur, dengan harapan, semua baik-baik saja.
'Apakah harus menelpon Rudian, ahk..dia tidak bisa menerima telpon sendiri. Itu akan merepotkan ibu. Nanti saja aku akan memberitahukannya langsung'
Sampai giliran Naya, dokter itu juga dokter perempuan yang manis, ia tersenyum mendengar keluhan Naya dan ia meminta Naya melakukan pemeriksaan selanjutnya.
"Bu, Naya," kata dokter itu lembut dan ramah. Dan bicara sambil menunjukkan gambar yang tidak jelas bagi Naya.
"Ibu memang hamil, ini calon bayinya," menunjukkan titik kecil yang kabur di layar monitor yang cukup besar, tapi tetap saja Naya tidak mengerti, gambarnya tidak jelas.
"Tapi sayangnnya calon janin dalam rahim ibu tidak berkembang, usia kehamilan ibu sudah sekitar delapan minggu, kalau berkembang dengan baik, maka bentuknya akan seperti ini," dokter menunjukkan satu gambar di dinding ruang konsultasi.
Deg! Jantung Naya berdegup lebih kencang, ia tak rela mendengar keadaan janin dalam perutnya seperti menolak untuk hidup.
'Tapi kenapa, nak? Apakah kau tahu lewat perasan ibumu bahwa hidup akan terlalu kejam bagimu hingga menahan diri bahkan sebelum Allah meniupkan ruh padamu, nak?'
Airmata Naya menetes tanpa ia sadari. Anaknya bahkan menolak untuk hidup bersamanya untuk menanggung luka sedalam ini.
Naya duduk sambil menghapus airmatanya. Lalu kembali ke meja konsultasi dan dokter berkata lagi,
"Saya tahu, ibu pasti sedih. Apalagi bu Naya belum pernah hamil ya bu, sesuai catatan kami?" mendengar pertanyaan itu, Naya mengangguk.
"Ibu harus melakukan currat untuk mengeluarkan darah itu dari rahim ibu, sebab kalau tidak, darah itu beku dan akan memicu timbulnya penyakit lain, seperti kista atau miom,"
"Iya, dok. Lakukan saja sekarang. Saya tidak punya banyak waktu," kata Naya karena mengingat ia harus merawat Rudian.
"Ibu harus puasa sebelum melakukannya, apa ibu tidak makan tadi pagi?"
"Kebetulan saya belum makan atau minum dari kemarin malam," jawah Naya, ia terlalu sibuk mengurus Rudian yang kesakitan dibeberapa bagian tubuhnya dari semalam, hingga ia tak terpikir untuk makan. Apalagi pikirkan juga kacau soal datang bulan.
"Kalau begitu, kita bisa melakukan tindakan sekarang lebih cepat lebih baik."
Dokter dan perawat melakukan persiapan sementara Naya terus meneteskan air mata. Mencoba kembali bersabar hingga sampai akhir nanti, tapi entah kapan.
Bukankah semua sudah tertulis di lauhmangfhus tentang semua kejadian ini sejak limapuluh ribu tahun sebelum bumi diciptakan?
'Nak, bahkan sebelum kau menolak hidup dirahimku pun aku sudah terbiasa melepaskan harapanku untuk memilikimu? Tapi secepat inikah kau pergi, setelah aku tahu aku memilikimu? Apakah kau hanya hidup untuk memberiku harapan? Bahwa aku bisa hamil suatu hari nanti tapi tidak untuk saat ini'
"Bu, Naya. Sudah selesai..." kata dokter sambil menunjukkan darah hasil currat dari dalam rahim Naya. Kini tangis Naya benar-benar pecah, melihat gumpalan darah merah kehitaman seperti potongan cumi-cumi dalam wadah stainlessilver bulat. Itu anaknya! Anak yang menolak tinggal dirahimnya.
Setelah menyelesaikan semua bagian tindakan padanya, Naya membayar biaya administrasinya. Ia sudah menghabiskan sejumlah uang tabungannya untuk tindakan ini.
Ia ikhlas, ia keluar dari klinik itu dengan berbagai harapan positif, ia tidak seperti yang orang lain tuduhkan! Apalagi dokter itu dan juga suster yang merawat memberinya semangat, harapan dan do'a kebaikan untuk Naya selanjutnya. Ia masih punya banyak kesempatan untuk memiliki seorang bayi.
Naya sampai ke rumah Setelah hari mulai sore, Sarita menyambutnya dengan suka cita. Ia sudah lama menunggu. Naya masuk setelah mengucapkan salam.
"Kamu baru pulang, Naya? kenapa kamu pucat sekali? Kamu baik-baik saja, kan?" tanya Sarita ketika melihat Naya dalam keadaan lemah dan pucat.
Naya tidak menjawab pertanya Sarita, ia memasuki kamar Rudian, duduk di sisi ranjangnya dan menggenggam tangannya.
'Haruskah aku mengatakan bahwa aku hamil tapi kehilangan calon janin di saat yang sama saat aku mengetahuinya, haruskah? Apakah dia akan percaya?'
"Rudian..." Naya meneteskan airmata.
__ADS_1