Diujung Harapan

Diujung Harapan
Eps 93. Turun Ranjang


__ADS_3

* jangan lupa like, komentar, dan vote, terimakasih atas dukungannya *


Ares menoleh pada Naya, yang melangkah masuk ke dalam ruangan tempat Yoni dirawat. Begitu juga Caca yang mengikuti langkah Naya ke dalam, tanpa menunggu jawaban dari Ares. Caca terlihat sangat penasaran dan ia menepuk pundak Naya begitu ia berada di sampingnya.


"Siapa kamu?" tanya Caca.


Naya yang hendak memberskan bekas sarapan di meja, menghentikan kegiatannya. Ia menatap Ares sekilas, tatapan matanya seolah menanyakan, aku harus menjawab apa, haruskah aku mengaku, kalau aku calon istrimu?


Ares yang kembali masuk ke dalam ruangan, tidak menjawab, ia hanya diam membalas tatapan Naya seolah matanya berkata, aku mau lihat, kamu mau bilang apa sama dia?


'Pak Ares, kenapa diam saja. Gak mau kenalin aku sama dia?'


"Kenalkan, saya Nayana Haruni, panggil saja Naya." jawab Naya, sambil mengulurkan tangan dan tersenyum pada Caca.


'Kenapa kamu nggak bilang kalau kamu calon istriku sih?' Ares.


Kedua wanita itu bersalaman, dan Caca menyahut, " aku Caca, adik iparnya kak Ares. Kamu kenapa bisa ada di sini?"


'Oh, jadi dia adiknya Nindi, kok bedanya jauh banget sih, sama Nindy? Terus, apa salahnya kalau aku disini?'


"Saya Saya jaga Yoni di sini, gantian nanti dengan Dinda dan Pak Ares."


Wajah Caca menunjukkan keheranan yang amat sangat. Ia tahu keadaan Yoni, tidak bisa sembarangan bersama dengan orang lain, tapi mengapa wanita yang bernama Naya ini bisa ada di sana? Disaat yang bersamaan ia juga melihat beberapa makanan yang sedang Naya bereskan di atas meja. Alisnya mengernyit, tampak berpikir.


Dan ia berkata, "sejak kapan kamu disini, apa kamu tahu fobia Yoni? Kamu harus hati-hati, kalau tidak ingin lihat Yoni ngamuk dan kambuh lagi, apalagi sekarang dia lagi sakit,"


Saat Caca bicara, Naya sudah menyelesaikan pekerjaannya. Meja kecil itu sudah rapi kembali, dan di saat yang sama Yoni membuka matanya, sambil merengek. Ia merasa kesakitannya kembali, ketika ia sadar dari tidur.


Ketika tidur, sakit di sekujur tubuhnya mungkin tidak akan terasa, tapi begitu ia sadar, maka rasa sakit akan kembali terasa. Rengekan atau tangisan yang keluar dari mulutnya adalah, reaksi yang ditimbulkan dari sakit yang ia derita. Luka yang masih basah di sekujur tubuh dan kepalanya, tentu saja itu akan sakit, apalagi efek obat sudah berlalu sekian lama.


Naya mendekati Yoni dan mengusap pipinya yang gembil dengan lemah lembut, mengusap air mata yang keluar akibat tangisannya.


Semua yang dilakukan Naya, tak lepas dari pandangan aneh Caca, ia tertegun dan menelan ludah dari mulutnya dengan susah payah, seolah tak percaya. Tapi itulah kenyataannya, bahwa wanita yang ia lihat sekarang, berinteraksi dengan Yoni, terlihat sangat akrab, sehingga Caca menyimpulkan bahwa, hubungan kedua orang ini sudah terjalin cukup lama.


Tapi sejak kapan?


Naya mengambil beberapa makanan, yang ia bawa. Itu makanan yang sama, yang pernah Ares beli ketika mereka berkunjung ke rumahnya. Saat itu Naya berpikir, kemungkinan makanan itu adalah makanan yang disukai Yoni ataupun Raya.


"Taraa.. Lihat umma bawa ini." kata Naya sambil menunjukkan sebuah bungkusan makanan dan lolipop, yang sejak tadi berada di ataa meja.


"Yoni, mau nggak?"


Seketika Yoni berusaha hendak bangkit dari berbaring, dan Naya membantunya untuk duduk. Kini mereka duduk berhadap-hadapan di atas tempat tidur. Naya membuka salah satu bungkus makanan, dan memberikannya pada Yoni, dan anak kecil itu menikmatinya sambil tersenyum.


Ia menatap Naya, dan mengiceh, "Umma, beli di mana? Beli di mana Umma? Ada banyak enggak?" katanya sambil terus makan.


Saat mendengar celotehan Yoni, wajah Naya terlihat kecewa karena ia hanya membawa masing-masing satu bungkus saja. Lalu ia menoleh pada Ares yang masih berdiri ditempat yang sama, ia menunjukkan raut wajah permohonan, agar nanti, ketika laki-laki itu pulang, akan membawa makanan yang sama seperti yang ia beli sebelumnya.


"Minta sama papa biar papa beli yang banyak ya?" Kata Naya.


"Papa, papa, nanti beli lagi. Yoni mau lagi. Umma cuma bawa satu, nanti kalau kakak mau udah habis, kasihan Kakak laya, kasihan kakak laya nya.."


"Hmm.." gumam Ares sambil beranjak menjauh dan pergi.


Ares sengaja, masih berada di sana, hanya ingin melihat bagaimana reaksi Caca, ketika melihat interaksi antara Naya dan Yoni. Ia ingin menunjukkan siapa yang sebenarnya berhak, untuk dekat dengan dirinya dan keluarganya. Ia ingin Caca melihat sendiri siapa Naya, di mata anak-anaknya. Ia sendiri tidak menyangka, kalau Caca akan muncul saat itu di rumah sakit, sebab menurut pengetahuannya, Caca sedang bersiap untuk melakukan sidang, desertasi yang ia lakukan sudah selesai.


Sebuah kebetulan perempuan itu muncul, hingga bisa dimanfaatkan oleh Ares, untuk mempermudah dirinya memberi pengertian pada Caca. Ia harap, gadis itu tidak lagi meneruskan keinginan, dan usahanya untuk mendekati dirinya. Karena bagi Ares, sikap dan tindakan Caca yang yang berlebihan, membuat dirinya risih dan justru tidak disukai oleh keluarganya. Selain itu, Caca memang terlihat sangat berbeda dengan Nindy, kakaknya.


Ares pergi tanpa berpamitan pada Caca, ia meninggalkan gadis itu begitu saja, membuat Caca kebingungan antara, ingin mengejarnya atau berdialog dengan Naya, karena rasa penasarannya juga sangat tinggi pada Naya.

__ADS_1


Akhirnya Caca memutuskan untuk tetap berada di ruangan, seperti yang ia katakan pada Ares sebelumnya, bahwa ia berada di sana untuk menengok dan menjaga Yoni.


Caca berdiri di dekat tempat tidur dan menatap Naya, ia melihat keakraban antara keponakannya dan wanita yang tadi sempat dipanggil Uma oleh keponakannya.


Mereka mulai membuka obrolan ketika Yoni terlihat tenang.


"Kamu sudah lama kenal sama kakakku?" tanyanya tanpa melepaskan tatapan matanya, dari mata Naya seolah ingin mencari sebuah kepastian di sana.


"Bisa dibilang begitu, cukup lama juga." jawab Naya sambil mengernyit.


Ia berusaha mengingat-ingat kapan waktu yang tepat, pertama kali bertemu dengannya. Seingatnya, Ares dulu, mulai menjadi pelanggan restoran Bu Nha, sudah cukup lama juga. Naya sudah sering melihatnya, hanya saja tidak terjadi apa-apa antara mereka berdua. Mereka mulai saling mengenal ketika ia membantu Yoni, yang waktu itu kebetulan ikut bersamanya dan Yoni hampir terluka.


"Kamu tahu, Yoni punya sakit apa?" tanya Caca lagi, mengeluarkan segala rasa penasarannya.


"Sakit apa maksudmu, sekarang juga dia lagi sakit kan?"


Naya terlihat enggan meladeni keingintahuan Caca terhadap dirinya, tapi ia tidak sungkan. Dan ia tidak merasa, harus bersikap lebih menghormati Caca, karena umur mereka juga tidak terpaut terlalu jauh, atau bisa dibilang mereka seumuran.


"Kau tahu, dia tidak bisa dekat dengan orang asing yang tidak ia kenal atau baru kenal. Kadang orang yang dekat saja belum tentu bisa berdekatan dengannya."


"Oh begitu. Tapi aku tidak, aku orang asing, aku bukan keluarga pak Ares. Tapi Yoni baik-baik saja."


"Apa kamu suka sama kak Ares, ada hubungan apa kamu sama dia?"


Jleb. Pertanyaan yang keluar dari mulut Caca seperti pisau tajam yang menusuk hati Naya. Benarkah ia menyukainya, ia bertanya pada dirinya sendiri, benarkah ia menyukai Ares? orang yang baru saja berbincang dengannya, dan yang akan menjadi suaminya kelak?


Pertanyaan selanjutnya yang ada di kepala Naya adalah, apakah ada takdir Allah di antara mereka, yang meng-iya-kan rencana mereka, dan membenarkan apa yang mereka ucapkan? Takdir masa depan adalah hal yang paling misterius di dunia, yang tidak bisa ditebak, bahkan tidak bisa dipertanyakan, mengapa dan kapan? Jangankan untuk beberapa apa hari ke depan, bahkan untuk satu menit berikutnya pun, tidak ada manusia yang tahu apa yang akan terjadi padanya.


"Apa maksudmu bertanya seperti itu, aku biasa saja, tidak ada hubungan apa-apa sama Pak Ares."


Memang seperti itulah kenyataannya, antara Naya dan Ares, belum ada hubungan apapun yang terjalin antara mereka berdua.


'Bagus kalau memang dia tidak ada hubungan apa-apa sama kakak'


"Dinda bilang apa soal aku?"


'Dinda bilang kalau aku gak usah repot-repot datang buat jaga Yoni, karena kak Ares sudah punya calon istri'


"Hmm... berarti kamu juga kenal sama Dinda ya, kalian akrab, atau kamu memang sudah dekat sama keluarga kak Ares?"


"Belum lama sih, dekatnya."


"Oh, kalau aku, sudah lama banget dekat sama keluarga kak Ares, seharusnya hari ini aku ada persiapan sidang buat besok, tapi aku maksain kesini, aku khawatir sama Yoni, sebenarnya aku sayang banget sama dia, tapi dia nggak bisa deket sama aku, nanti dia kejang, ngamuk-ngamuk marah, tantrum, ya gitu deh."


Caca berharap akan mendapatkan simpati.


"Oh, kasihan memang Yoni. Kamu harus sering-sering dekat dan ngobrol sama Yoni biar dia lama-lama terbiasa, kalau udah terbiasa kan, nanti dia nggak ngamuk lagi."


"Kamu kamu juga dulu gitu ya, sering ngobrol sama Yoni?"


"Ahk, gak juga. Waktu pertama kali aku gendong Yuni waktu itu, dia enggak ngamuk-ngamuk, enggak apa-apa, makanya aku enggak tahu kalau dia punya penyakit seperti itu."


Ternyata, jawaban Naya kali ini membuat Caca waspada, wajahnya tiba-tiba terlihat serius. Dia gadis yang cerdas. Jadi ia tahu bahwa Naya bukan perempuan biasa, yang bisa ia remehkan.


"Naya, aku kasih tahu kamu sesuatu."


"Apa?"


"Aku, suka sama kak Ares, dia itu suaminya Nindy, kakakku yang sudah meninggal. Aku ingin menikah sama kak Ares, jadi turun ranjang gitu istilahnya. Kan keluarga kita jadi tetap utuh."

__ADS_1


Boom! Kata-kata yang didengar oleh Naya dari bibir merah Caca, membuatnya seperti mendengar suara bom yang baru saja meledak di luar jendela. Naya benar-benar tak menyangka kalau gadis ini mengaku terus terang kepadanya.


Mungkin ada rasa kekhawatiran, dalam hati Caca, kalau Naya akan merebut posisi yang ia inginkan, yaitu menjadi pendamping Ares. Apalagi setelah ia melihat interaksi antara Naya dan Yoni, membuat hati Caca menjadi ciut. Biar bagaimanapun, ia akan mengusahakannya sampai akhir. Ia benar-benar menginginkan takdir turun ranjang terjadi, antara dirinya dan Ares.


Sebaliknya Naya tidak ingin menjadi orang yang merusak hubungan antara Caca dan Ares. Apalagi melihat kejujuran Caca padanya saat ini. Walaupun pada kenyataannya belum terjadi pernikahan ataupun semacamnya antara Caca dan Ares, tetapi ia melihat bahwa harapan, yang Caca bangun untuk dirinya sendiri dan Ares begitu besar. Bahkan secara terbuka Caca seolah menunjukkan, bahwa Ares adalah miliknya. Bahkan dilihat dari sikap dan tatapannya, Caca memperlihatkan kesungguhan usahanya untuk bisa memiliki pria yang dicintainya.


"Kau menyukai, pak Ares, apa pak Ares juga suka sama kamu?"


"Tentu saja, apa kamu gak lihat tadi Kakak kelihatan khawatir sama aku, soalnya aku kan mau sidang, tapi aku datang ke sini buat jaga Yoni."


'Tapi kenapa Pak Ares nggak bilang apa-apa? Terus apa maksudnya mau melamar, ngomong langsung biar aku jadi ibunya anak-anak, apa dia cuma bohong. Apa dia mau menikahi kami berdua? Masya Allah ... Iya, aku yang salah, aku yang sudah mancing pak Ares lewat pesan, seharusnya aku nanya dulu dia suka sama perempuan lain atau enggak, harusnya aku nanya dulu ada wanita lain disekitarnya atau enggak? Astaghfirullah'


"Oh, begitu. Ya bagus lah kalau anak-anak pak Ares nanti ada yang jaga. Jadi gak harus di bawa kemana-mana."


"Hehe, iya si. Tapi aku tetep gak bisa jagain mereka di rumah, kan aku juga kerja."


'Ya, kalau begitu mah sama saja, mendingan enggak usah punya istri sekalian'


"Itu pasti jadi urusan kalian nanti, kalau kalian sudah menikah. Soalnya, kalau menikah dengan orang yang bukan lajang, misalnya duda atau janda, pasti harus memikirkan anak-anaknya juga. gaok bisa egois memikirkan keinginan diri sendiri, karena menikah dengan orang yang berstatus janda atau duda itu berbeda dengan orang yang sama-sama berstatus lajang, iya kan."


"Iya."


"Ya, mudah-mudahan apa yang kamu inginkan tercapai. Aku cuman bisa bilang itu." kata Naya akhirnya.


Ia malas menanggapi dan ia mengambil tas besarnya, mencari beberapa bahan gerabah dan lukisan yang ia bawa, untuk ditunjukkan pada Ykni, karena makanan yang dinikmati Yoni sudah habis.


"Ayo kita melukis sekarang," kata Naya.


Kini mereka asik menggambar berdua, walaupun yang sibuk melukis hanyalah Naya, karena Yoni tidak bisa menggunakan tangannya, anak kecil itu cukup senang hanya melihat gambar-gambar yang dibuat oleh Naya.


Beberapa waktu akhirnya berlalu, karena merasa tidak ada yang bisa ia lakukan, Caca pun pergi. Kepergian Caca ini seperti menyisakan sebuah rasa gundah di hati Naya.


'Apa aku harus jujur soal ini pada Ares. Apa dia sudah tahu kalau Caca mencintainya?'


Ketika sore sudah menjelang, Naya berpikir untuk tidak menemui Ares kembali, karena ia tidak tahu apa yang akan ia lakukan kalau melihat laki-laki itu. Ia mungkin akan memukulnya, atau sepertinya dia tidak akan bisa menahan tangisnya.


Sekarang saja, Naya sangat ingin menangis sekeras-kerasnya, bukan menyesali atau mempertanyakan nasib, hanya saja ia merasa bahwa ujian yang mirip, seperti enggan menjauh darinya, ujian yang menyedihkan. Batas keimanan wanita akhir zaman, yang setipis kulit bawang.


Belum juga memulai, belum juga melangkah, tapi rintangan sudah seberat ini menghadang.


Belum juga mencintai, belum juga memiliki, tapi ujian cinta sudah terjadi.


Saat dulu ia menjadi istri Rudian, ada Yola yang datang dalam kehidupan antara dirinya dan suaminya, haruskah sekarang ia menjadi wanita yang mengganggu hubungan antara Ares dan Caca? Ia tahu bagaimana sakitnya ketika orang yang dicintai, justru menunjukkan rasa cintanya pada wanita lain, hingga ia tak tega bila orang lain merasakan hal yang sama dengan dirinya.


'Mengapa harus seperti ini ... Mengapa harus seperti ini'


Naya menelepon Dinda, untuk menjaga Yoni karena ia akan pamit untuk pulang. Dinda menanyakan beberapa hal, tetapi Naya hanya mengatakan bahwa ia harus pulang karena ia memiliki sebuah pesanan.


Saat hampir maghrib, Ares berjalan masuk ke dalam kamar perawatan Yoni, dengan terburu-buru. Dia membawa beberapa makanan yang dipinta Yoni dan Naya tadi pagi, tapi begitu ia masuk kedalam, ia tidak menemui perempuan itu ada di sana. Ia lihat hanya Dinda yang sedang duduk sambil memainkan ponselnya.


"Dinda, ke mana Naya?"


"Naya, pulang. Memang enggak bilang sama kakak?"


"Gak, kenapa pulang?"


'Tadi kan sudah aku bilang, tunggu aku, Nay? Kenapa sekarang pulang duluan?'


"Mana kutahu, tanya sendiri sana, telepon kenapa dia pulang? Kakak selalu saja bikin gara-gara."

__ADS_1


Ares pun mengeluarkan ponselnya.


Bersambung


__ADS_2