
" Tidak. Buat apa aku cemburu. Kita kan sudah bercerai nggak punya hubungan apa-apa lagi. Jadi kalau kamu mau menjalin hubungan sama laki-laki lain, ya terserah!" kata Rudian dengan suara keras seperti marah, wajahnya menjadi masam.
"Gak usah marah. Waktu kamu masih jadi suamiku saja aku gak marah kamu punya istri yang lain. kenapa sekarang marah kalau aku punya hubungan sama laki-laki lain padahal kita bukan suami istri lagi?" sahut Naya.
"Gak. Aku gak marah.. aku sudah gak perduli lagi kamu selingkuh atau tidak..." suara Rudian kini melemah.
Sebenarnya Ia juga merasa tidak rela kalau wanita yang pernah dicintainya ini kemudian dicintai oleh laki-laki lain. Walaupun pada kenyataannya Naya tidak mau lagi menjadi miliknya. Entah mengapa jiwa egoisnya menuntunnya untuk mengingkari perasaannya sendiri, perasaan tidak suka jika Naya memiliki seorang pria yang akan menggantikannya sebagai suami.
Kebanyakan laki-laki begitu gengsi untuk mengakui perasaannya sendiri karena dianggap sebagai sebuah kelemahan, banyak juga yang menjadikan kemarahan sebagai pelampiasan yang sebenarnya tidak perlu dilakukan, hanya untuk menutupi kelemahan.
Naya menatap Rudian dengan tatapan nanar, ia mengerutkan alis dan kemudian tersenyum tipis, lalu berkata,
"Kamu masih punya pikiran buruk seperti itu? Selama kita bersama, apa aku pernah berbuat sesuatu yang menyimpang seperti itu, tidak kan?"
Rudian juga menanggapi kata-kata Naya, "aku bicara seperti itu karena melihat kamu gak cuma sekali sama laki-laki itu, jadi jangan salahkan aku kalau aku jadi punya pikiran buruk."
"Tapi dugaan kamu itu belum tentu benar," kata Naya.
Orang melihat hanya yang bisa mereka lihat, dan yang mereka lihat belum tentu seperti kelihatannya. Orang kadang menduga yang tidak pada tempatnya. Orang melihat sesuatu pada orang lain lebih baik, lebih kaya atau lebih bahagia, padahal tidak tahu apa yang dialami orang itu selama hidupnya, sehingga mempunyai kebaikan seperti itu dalam kehidupannya.
"Ya sudah, sudah. Terserah kamu saja. Ingat jangan berbuat macam-macam sebelum masa iddah mau berakhir!"
"Baiklah. Oh iya. Aku baru ingat, orang yang kamu selalu tuduh selingkuhanku itu, sebenarnya orang baik, pernah menolong kamu, Rudi. Saat kamu pinsan di restoran waktu itu." kata Naya.
"Oh, iya. Kalau begitu bilang terimakasih sama dia. Aku gak bilang juga gak apa kan? soalnya aku gak minta dia nolong aku" jawab Rudian sambil beranjak pergi.
"Ya Allah, ada ya manusia seperti ini, yang gak punya rasa perduli dengan orang lain, mungkin karena ia juga masih butuh untuk diperdulikan'
Naya mengangguk dan membiarkan Rudian pergi begitu saja tanpa mengucapkan pamit ataupun salam kepadanya. Naya hanya berdoa di dalam hati untuk kebaikan kerugian dan keluarganya. Naya tidak tahu bahwa ternyata malam itu adalah saat terakhirnya melihat Rudian dalam keadaan seperti itu dan ia juga tidak menyangka kalau di kemudian hariia harus menghadapi kenyataan bahwa dia akan kembali pada laki-laki ini.
Naya menatap punggung Rudian yang pergi menjauh, sampai bayangan laki-laki itu benar-benar hilang dari pandangannya. Tapi saat dia akan menutup pintu kamar kos-nya, terdengar suara deheman yang cukup keras, seperti mencegahnya untuk menutup pintunya. Ia pun kembali membuka pintu lebar-lebar dan melihat pria yang berdehem dengan keras di luar sana.
Ia melihat ada Ares yang berdiri menatapnya sambil menaik turunkan kedua alisnya berkali-kali. Naya memalingkan pandangannya dengan malas.
'Kenapa harus laki-laki ini lagi si?'
Naya berpikir sambil memejamkan mata dan mengepalkan satu tangannya dengan kuat.
'Apa dia mendengar semuanya, apa dia mendengar apa yang aku katakan dengan Rudian tadi? Astagfirullah... Sekarang aku harus bagaimana menghadapi dia, ya Allah....'
Arez mendekat sambil berkata, "Laki-laki tadi suamimu ya?"
Naya menjawab dengan malas, "Iyaa, dia Rudian, suami saya. Memangnya ada apa apa?"
'Jadi kamu sudah bercerai?'
"Gak. Cuma tanya saja," jawab Ares, ada senyum simpul di bibirnya. Ahk...lihat, sepertinya ia mendengar semuanya, bahkan ketika Naya bilang, dia orang yang baik. Haha.
"Baiklah kalau begitu, saya masuk dulu ya, pak. Sekarang sudah malam, saya cape, Pak. Saya mau istirahat. Tolong pergi..." Naya Berkata sambil meneteskan air mata.
'Pergilah...Aku lelah, aku tidak mau menghadapi mu, aku malu. Kenapa kau selalu muncul di saat aku seperti ini dan sekarang kau tahu aku bertengkar dengan mantan suamiku, ya Allah...Bagaimana aku menaruh mukaku.. didepan laki-laki ini?'
"Ya aku Sebenarnya sudah lama nunggu kamu, tapi ada suamimu. Besok saja aku bilangnya. Sekarang, istirahat sana, tidur yang nyenyak ya?" kata Ares sambil berbalik, ia tidak tega melihat Naya meneteskan air mata.
'Ahk, mana bisa tidur nyenyak. Tidur sambil nangis pasti'
Mungkin wanita itu butuh sendiri, butuh tempat untuk menumpahkan semua air mata dan keluh kesahnya saat ini. Jadi apabila ia mengganggunya maka Ares khawatir kalau Naya semakin menjauhinya.
Kadang kekuatan seorang pria jika dia menyukai seorang wanita, tidak diukur seberapa besar pria itu menginginkannya tapi dilihat dari seberapa besar dia mampu menahan dirinya ketika wanita itu bisa dimilikinya saat itu juga.
Dalam hati Aries berkata, "jika kita memang ditakdirkan bersama walau kau berlari sekencang-kencangnya tetap kupastikan akan ada tempat yang menuntunmu untuk pulang kembali padaku, sampai saat itu tiba"
__ADS_1
Ares mengendarai mobilnya dengan tenang, ia tidak bisa menghilangkan bayangan wajah Naya, yang tadi memohon padanya untuk pergi dengan air mata yang menetes di pipinya.
'Entah kenapa aku takut, aku takut kalau ada orang yang menyebut namamu lebih banyak dari yang aku lakukan selama ini. Karena sekuat apapun aku meminta pada Allah sang pemilik alam semesta, Jika Allah tidak mengizinkan takdir memihak kita berdua maka semuanya akan menjadi sia-sia'
Ketika sampai dirumah Arez masuk sambil mengucapkan salam, ia memainkan kunci mobilnya dan menyimpan kunci itu di atas meja. Ia hendak mencuci tangannya ketika ia melihat Raya baru selesai melaksanakan salat Isya. Gadis itu melipat mukena sambil mengusap air matanya. Ares berkata,
"Kakak kenapa? Kakak nangis, kenapa nangis?"
Raya menatap wajah Papanya dan kemudian ia membersihkan sisa air mata di pipinya sambil berkata,
"Nenek sakit lagi, tadi Yoni juga tidur sama Raya."
Ares membelalakkan matanya secara sempurna dan dengan cepat ia masuk ke kamar Rasti, dia melihat ibunya itu tertidur dengan selimut yang menutupi seluruh tubuhnya. Ia meraba kening wanita yang rambutnya sudah hampir memutih semua. Ia merasakan panas di tangannya. Karena tidak ingin mengganggu ibunya yang sedang tidur, Aras membiarkannya, membenarkan letak selimutnya, dan kemudian pergi setelah menutup pintu kamar. Ia duduk di sofa sambil memijit pelipisnya.
'Ya Allah, ada apa dengan ibuku? Ibu mungkin sudah lelah. Tapi siapa yang bisa membantunya untuk mengasuh anak-anakku? Bantu aku ya Allah'
"Papa, apa yang papah pikirkan? Kenapa papa gak banyak berdoa, sholat, pa. Dari pada melamun?" kata Raya sambil duduk di hadapan Ares.
Ares mengangkat alisnya dan bertanya pada Raya,
"Raya mau papa berdoa seperti apa?"
Kemudian Raya menjawab, "Ya berdoa misalnya, ada orang seperti tante Naya yang mau menolong kita buat mengasuh Yeoni, anak manja itu merepotkan orang saja."
Hari ini Yoni banyak membuat ulah, dia sering merengek dan menangis, meminta sesuatu yang membuat neneknya terlalu lelah hingga kemudian wanita itu jatuh sakit. Raya menceritakan bagaimana manjanya Yoni pada Rasti hingga sore hari, Rasti terlihat pucat dan kemudian iya tertidur karena badannya mengalami demam tinggi. Walaupun Rasti sudah minum beberapa obat tapi sepertinya belum ada perubahan, hingga masih harus menunggu beberapa hari. Itu artinya untuk sementara waktu itu pasti tidak bisa mengasuh Yoni karena harus istirahat agar segera pulih.
"Pa, aku do'akan papa mudah-mudahan ada orang seperti tante Naya yang mau sama papa."
"Papa juga mau, kalau memang ada,"
"Makanya papa banyak-banyak berdo'a." sahut Raya sambil beranjak meninggalkan papanya.
'Ck! anak ini'
"Naya!" suara Nia, rekan kerja Naya memanggilnya, saat itu, Nia menghampiri Naya yang masih berada di dapur untuk membersihkan beberapa peralatan. Naya menoleh tanpa menghentikan pekerjaannya.
"Ada apa?" tanya Naya.
Nia kembali berkata tanpa membantunya Ia hanya melihat Naya membersihkan peralatan,
" aku tadi ketemu sama bu Kos," kata Nia sambil menatap Naya yang masih sibuk dengan tugas bagiannya.
"Terus, dia bilang bulan depan harga kontrakan kita dinaikkan," kata Nia tanpa beban. Nia adalah orang yang memperkenalkan Naya pada pemilik rumah kost yang ditempati Naya saat ini.
Seketika Naya menghentikan pekerjaannya lalu menatap Nia, dan berkata,
"Kenapa naik?"
Nia menjawab, " Mana kutahu." sambil mengendikkan bahu.
Ini belum juga satu bulan Naya berada di tempat itu, apabila harga sewa dari dari tempat kosnya berubah, tu artinya anggaran yang sudah ia hitung dan ia sisihkan akan berubah pula. Ia hanya berpikir bagaimana kalau nanti uang yang dimilikinya tidak cukup? Apa yang harus ia lakukan untuk menopang hidupnya sehari-hari?
'Ya Allah... aku hanya butuh pekerjaan atau butuh tempat tinggal, sekedar untuk menegakkan tubuhku agar bisa beribadah kepadamu, maka Berilah aku jalan Untuk masalah ini. Sesungguhnya tidak ada yang lebih mengetahui keadaan hambaMu kecuali Engkau sebagai penciptanya'
"Naya," Panggil Nia lagi sambil menyenggol Naya dengan siku lengannya.
"Ada apa lagi?" kata Naya. Panggilan Nia itu membuyarkan lamunannya.
"Kamu masih dekatkan sama Pak Ares kan?" tanya Nia.
Pertanyaannya Ini membuat Naya mendesah kesal, ia memejamkan matanya mencoba menghapus ingatannya tentang kejadian tadi malam yang cukup memalukan Ares mempergoki nya sedang bertengkar dengan mantan suaminya. Ia mengepalkan kedua tangannya menahan geram di hatinya, ia berharap, mudah-mudahan ia tidak harus bertemu dengan Ares hari ini, besok atau lusa atau selamanya.
__ADS_1
Setelah berhasil menguasai dirinya sendiri, Naya menoleh pada Nia, dan berkata,
"Gimana kamu sekarang, sudah berhasil ngobrol sama Pak Ares, belum?"
"Pesanku saja tidak pernah dijawab," kata Nia sambil bersungut-sungut, bibirnya cemberut. Ekspresi lucu itu cukup menghibur Naya sehingga ia tersenyum dibuatnya.
'Ada Banyak wanita yang menanyakan soal kamu, pak. Tapi kenapa apa kamu malah menggangguku shi?'
"Ya sudah, jangan putus asa ya, coba aja terus siapa tahu suatu saat nanti dia tertarik sama kamu, jangan lupa banyak berdoa, terus dandan yang cantik, oke?" kata Naya sambil menepuk-nepuk punggung Nia.
" Ck! Kamu ini. Aku bukan wanita penggoda, tau?" mendengar ucapannya Naya tertawa kecil, lalu berkata,
"Iya aku tahu tapi apa salahnya sih, berdandan yang cantik dengan niat untuk memantaskan diri dan bersyukur, bukan untuk menggoda laki-laki."
Setelah semua pekerjaan selesai, Naya dan Nia kembali ke ruang makan di restoran itu untuk melakukan tugas yang lain lagi.
Saat jam makan siang tiba, saat itu pula restoran mulai ramai pengunjung yang lapar dan juga hendak menikmati hidangan yang menjadi menu andalan hari ini. Saat Naya sedang menyimpan beberapa makanan pesanan dimeja seorang pembeli, ia merasakan aphron yang sedang dipakainya ditarik-tarik, seseorang. Naya menoleh ke sampingnya dan ia tersenyum lebar begitu melihat makhluk kecil berdiri sambil menatapnya dan sedang menarik bajunya.
"Yoni?!" katanya sambil menyelesaikan pekerjaan nya.
Naya segera menggendong anak kecil itu dengan penuh kasih sayang, kangen. Sudah lama kan mereka tidak ketemuan seperti ini? Seperti biasa, kalau ada anak ini, dunianya seperti disihir olehnya hingga semua yang ada disekelilingnya bukanlah keramaian restoran, tapi hanya kebun bunga dan mereka berdua. Naya tersedot dalam dunianya. Mereka pergi ke samping Restoran dimana ada sebuah kursi panjang dibawah pohon.
Bu Nha, melihat hal itu, ia tidak menegur sikap Naya, bukan karena pilih kasih dengan karyawan lainnya, hanya saja ia tidak enak dengan pak Ares yang sudah sangat baik menurutnya, dan lagipula ia pernah mendapatkan kompensasi yang cukup besar hanya karena ia meminta izin untuk Naya.
Naya terus saja berceloteh di depan Yoni dan anak itu menanggapinya dengan tanggapan khas anak kecil dan semua kelucuannya. Naya sedang mencubit kecil pipi Yoni, ketika Ares datang membawa satu piring berisi nasi dan lauk pauk untuk Yoni. Laki-laki itu tersenyum sambil berkata,
"sekarang makan dulu. Biarkan dia makan sendiri"
Naya mengambil piring dari tangan Ares tanpa melihat wajahnya, padahal mata laki-laki itu sedang mengamati ekspresi wajah Naya yang tiba-tiba pucat, mata coklatnya seolah menghindari tatapan Ares, terbukti dengan matanya yang tak lepas dari menatap Yoni.
Ares kembali ke dalam restoran untuk menghabiskan pesanannya yang belum disentuh sama sekali. Ia melangkah sambil tersenyum geli melihat tingkah Naya. Ia tahu pasti Naya sangat malu padanya. Sementara Naya dan Yoni meneruskan aktivitas mereka, bercerita sambil menghabiskan makanan yang ada di piring Yoni. Naya tak henti-hentinya memberi anak kecil itu semangat agar ia makan lebih banyak.
"Maaf, ya jadi ngerepotin kamu," kata Ares ketika berada didekat Naya dan Yoni, Ia baru saja selesai menghabiskan makan siangnya. Begitu pula dengan Yoni yang baru selesai memasukkan suapan terakhir ke dalam mulutnya. Seketika Naya bertepuk tangan sambil berteriak,
"Anak hebat, anak solehah, makannya habis. Alhamdulillah," lalu mengusap-usap kepala Yoni.
Seolah ia tidak mendengar apa yang Ares katakan padanya. Benar-benar Ares dianggap seperti udara yang lewat dari hembusan lubang hidung.
"Kamu sudah makan?" kata Ares bertanya pada Naya.
Naya melihat Aris sekilas kemudian pandangannya kembali kepada Yoni sambil mengangguk.
"Kamu bohong, kamu belum makan kan?" kata Ares.
"Makan itu gampang, Pak." kata Naya tenang.
Jawaban yang tidak memuaskan bagi Ares tapi laki-laki itu sadar bahwa pekerjaan Naya sebagai pelayan yang melayani pelanggan di saat jam makan siang, memang tidak mungkin bisa memenuhi kebutuhan makan siangnya di saat-saat seperti ini.
"Dimana, kak Raya, sekolah ya?" tanya Naya pada Yoni.
Padahal sebenarnya pertanyaan itu ditujukan untuk Ares. Tentu saja laki-laki dari dua orang anak perempuan itu berkata untuk menjawab pertanyaan Naya,
"Iya, dia sekolah, dia kirim salam buat kamu."
"Oh iya? Waalaikumsalam...," kata Naya sambil tersenyum tapi senyumnya tetap saja ditujukan pada Yoni, sambil berkata, "salam balik dari tante buat kakak, ya?"
" Ayo Yoni, kita ke kantor papa lagi," kata Ares sambil menggandeng tangan Yoni.
Tapi anak kecil itu seperti enggan, a melihat pada Naya dengan wajah memelas dan merengek,
"Tante juga ikut...?" Ares dan Naya ya sama-sama mengerutkan alis mereka.
__ADS_1
Disaat yang sama, Naya mendapatkan panggilan dari ponselnya.