
Rudian masih bertumpu pada tumpukan alam pikirannya. Nayapun demikian tapi kedua insan dalam ikatan sah itu seperti tak saling kenal. Yang satu miring kekanan dan satu lagi miring kekiri. Sampai larut malam mereka sama-sama gelisah tidak bisa tidur tapi tidak ada yang mereka bicarakan.
Ada yang ingin Naya perdebatkan, ingin rasanya berdebat dalam segala hal. Tapi tidak, akhirnya ia justru memilih diam. Percuma. Lelah jiwa raga. Percuma bila selalu saja akhirnya ia yang harus mengalah.
Ketika sudah lewat tengah malam, mereka baru tertidur. Hingga menjelang subuh, Naya terbangun karena suara alrm ponselnya. Ia membangunkan suaminya untuk sholat subuh dan kembali menarik selimut karena ia tidak sholat.
"Kanda, bangun sudah azdan!" kata Naya dengan suara serak.
"Kamu gak bangun, gak sholat?' tanya Rudian yang menggeliatkan badannya lalu melihat Naya tetap di tempat tidur.
Naya diam dan hanya mengangguk. Ia memejamkan mata malas beraktifitas, karena pengaruh hormon. Tapi karena ada kewajiban lain yang membuat Naya kemudian duduk, menggeliatkan tubuhnya lalu beranjak ke dapur.
Sementara Rudian membersihkan dirinya dan menuju ke masjid karena Naya yang mengingatkan untuk rajin ke maajid bila ada di rumah atau tidak sedang sibuk.
Pagi itu Rudian bersikap manis dan lembut. Dari saat mereka sarapan bersama, sampai Naya pergi bekerja, ia mengucapkan kata-kata baik menyemangati istrinya agar tidak usah banyak pikiran. Jadi bisa fokus kerja. Mengambil hatinya kah?
'Apa yang harus aku lakukan padamu, kanda? Tak ada alasan yang begitu buruk sehingga aku bisa dengan mudah menuntut berpisah, dan menyerah dengan pernikahan kita. Kamu kadang terlalu manis. Haruskah aku menunggu sampai tiga bulan berlalu?'
Pertanyaan demi pertanyaan meluruh dalam hati Naya, mempertanyakan masa depan dirinya akan seperti apa. Padahal bukannya tidak sengaja Allah merahasiakan masa depan setiap hamba-Nya. Sebab kalau manusia tahu keadaan mereka sebelum waktunya, maka membuat manusia enggan berusaha dan malas berbuat yang terbaik untuk dirinya dan masa depannya.
"Apa yang harus aku lakukan, menurutmu? Apa aku sedang dimanfaatkan oleh suamiku sendiri, karena ia masih butuh dukungan ekonomi?" tanya Naya pada Farah, sahabatnya disela-sela waktu senggangnya saat bekerja, melalui ponselnya.
"Kalau soal manfaat diri seorang manusia, maka tergantung cara menilainya. Aku pernah dengar sebuah ceramah seorang ustafz kalau sebaik-baik hamba adalah yang bermanfaat bagi manusia lainnya." jawab Farah tenang.
"Tapi bukankah seorang suami harus menafkahi istrinya? Jadi menurutku wajar kalau aku merasa dimanfaatkan?" tanya Naya lagi.
"Benar, tapi bila istri memberikan nafkah pada suaminya, maka itu bernilai sedekah. Naya, bayangkan pahala sedekah yang kamu punya?"
"Tapi kenapa rasanya aku justru diperlakukan tidak adil?"
"Naya, aku ngerti seperti apa perasaan kamu. Tapi belajarlah lebih ikhlas, lebih sabar... atau kamu bisa bicarakan baik-baik dengan suamimu."
"Baiklah aku akan mencoba bicara. Sebenarnya aku malas, si. Ngomong sama dia kayak percuma."
"Jangan putus asa, coba saja. Siapa tahu ada jalan keluar yang baik."
"Hmm...baiklah. Akan kucoba."
__ADS_1
Naya mengakhiri percakapannya melalui ponsel dan kembali bekerja. Setelah shipnya selesai dan ia pulang bekerja ia singgah kerumah ibu mertuanya untuk menanyakan janji yang dulu pernah ibu meetuanya itu katakan pada Naya.
"Wah, tumben kamu keaini, Naya?" kata Sarita begitu menjawab salam Naya dan mempersilahkan menantunya itu masuk.
'Apa kabar, bu?" tanya Naya sambil mencium punggung tangan ibu mertuanya.
"Aku baik, duduklah. Bagaimana dengan kamu, sudah hamil?" tanya Sarita sambil duduk di hadapan Naya dengan menyilangkan kaki.
Naya terdiam, ada anak panah tajam menusuk diulu hatinya. Tapi tetap saja ia tak bisa mati karena anak panah itu dihunjamkan Sarita melalui kata-katanya.
'Bahkan sekarang saya masih datang bulan' lalu tersenyum kecut.
"Apa Kak Sania tidak ada dirumah, kenapa sepi?" tanya Naya menanyakan kakak iparnya. Mereka tidak ada dirumah saat ini.
"Mareka pergi ke pasar malam tadi" Sarita berkata sambil melipat kedua tangannya di depan dada.
"Oh, pantas saja sepi."
"Ada apa..? Paati ada yang mau kamu bicarakan sama ibu, kan?" Sarita sepertinya tidak ingin basa-basi dengan menantunya.
"Ah, ibu benar. Naya mau tanya." ujar Naya sopan.
"Tanya apa, katakan." menyahut tanpa ekspresi.
"Ibu, bukankah dulu ibu bilang mau memberi Naya modal, kalau Naya mau dipoligami?"
"Oh ya. Soal itu. Ibu juga sudah tahu kamu pasti akan menanyakan itu. Terus, kamu mau minta uangnya sekarang? Begitu?"
"Bukan seperti itu, Naya cuma nanya, benar ibu mau memberi modal? Sekarang kanda Rudian sudah punya istri yang hamil, kan?"
Sarita tertawa mendengar ucapan Naya. Lalu mengambil air minum untuk dirinya sendiri. Lalu berkata,
"Kamu ini matre ya. Ibu gak nyangka kamu berani menagih seperti ini. Rudian anakku sendiri saja tidak menanyakan apa-apa..."
'Apa penilaian ibu serendah itu padaku setelah selama ini aku menjadi menantunya?'
"Ibu, Naya tidak minta uangnya sekarang. Naya hanya memastikan saja. Kalau ibu benar mau memberi Naya modal. Maka Naya tinggal memikirkan usaha apa nantinya. Dan kalau Naya tidak cape kerja, Naya mudah-mudahan bisa hamil."
__ADS_1
"Gak perlu susah-susah hamil. Sekarang ada Yola yang akan memberiku cucu. Jadi kamu gak bisa hamil juga gak masalah."
Deg! Jantung Naya seperti meloncat. Jadi ini rencananya selama ini. Lalu apakah ucapannya dulu itu hanya iming-iming belaka?
'Ah, seharusnya aku tidak percaya secepat ini.'
Naya kembali diam, tubuhnya tak bergerak. Seperti kaku menahan segala rasa dalam dada dan airmata yang hampir keluar dari wadahnya. Kenapa ia merasa seolah harga diri tak ada artinya hanya karena sebuah kehamilan?
"Oh, jadi sekarang Naya juga gak perlu berhenti bekerja hanya karena berharap bisa hamil ya, bu?" kata Naya sambil tertawa kecil. Menertawakan dirinya sendiri.
"Baiklah, bu. Maaf, Naya sudah menjadi menantu yang sangat mengecewakan ibu." kata Naya lagi.
Sarita diam, sebenarnya ada sedikit rasa kasihan pada Naya, tapi ia juga tidak memiliki uang yang dulu pernah ia janjikan sebagai modal.
Ya, sepertinya takdir sudah mulai menghisap energinya sedikit demi sedikit. Naya melangkah pergi, setelah mengambil kesimpulan sendiri dari obrolannya dengan Sarita dan kemudian pamit untuk pulang.
-
Sepekan telah berlalu dan hari kepindahan Yola pun tiba. Saat pulang malam itu, Naya melihat pintu rumahnya terbuka, ada beberapa barang yang berada di luar rumah. Terkesan acak-acakan.
"Kamu, baru pulang?" tanya Rudian setelah Naya masuk dan mengucap salam.
"Iya, aku ship sore hari ini, Nda." kata Naya mengitari pandangan kerumahnya sendiri. Tapi sejenak kemudian ia tak perduli.
Kamar kosong yang ada disebelah kamarnya, kini sudah terisi beberapa barang Yola. Ia juga melihat Yola dan Rudian tengah membereskan pakaian. Sedang beberapa barang pribadi Naya ada diluar, entah akan disimpan dimana barang-barang itu kelak. Tidak banyak tempat untuk menyimpan barang, karena rumah mereka adalah rumah sederhana yang belum ditambah bangunannya.
Naya mandi dengan air dingin, dan membasahi rambutnya, ia sudah selesai haid hari ini. Ia hanya menganggap apa yang dilihatnya itu adalah sesuatu seperti cicak atau kucing yang lewat. Bukannya ia tak mau membantu sesama manusia. Tapi ia hanya melindungi hatinya sendiri, menjaga peraaaannya sendiri.
Rasa sakit hatinya dia yang merasakan, jadi dirinya sendiri juga yang harus menjaganya. Hati seorang wanita itu mudah sekali pecah. Dan kalau sudah pecah hati ini akan susah untuk pulih. Bayangkan akan seperti apa akibat dari rasa sakit yang tak terlihat ini? Air mata sepanjang malam.
Setelah selesai membersihkan diri dan sholat, Naya keluar untuk membereskan beberapa barang yang ada di luar. Menjaganya agar tidak hilang. Sayang, kan?
Ada karpet beludru, ada laci susun dari plaatik, ada lemari kecil berisi beberapa perabot rumah yang pernah ia beli secara kridit dengan harga yang lumayan bagus. Banyak dari barang itu dibeli saat promo, sebab harganya lumayan mahal. Tahukan maksudnya barang seperti apa? Itu satu merk yang cukup terkenal. Ada juga beberapa barang hadiah dari teman-teman saat pernikahan yang sampai saat ini belum ia pakai.
Barang-barang itu ia susun di ruang tamu saja untuk sementara. Setelah selesai menyimpannya, ia kembali ke kamar. Tapi saat ia hampir tiba di pintu kamar, Yola keluar dari kamar sebelah dan berkata,
"Kamu pulang kerja semalam ini?"
__ADS_1