
Mendengar kata-kata yang keluar dari mulut Yola, Naya membuka mata dan menegakkan punggungnya lalu menjawab.
"Apa maksud ucapanmu? Urusanku dan Rudian bukan urusanmu!"
"Ah, aku baru dua malam di sini, tapi sudah dengar kamu membantah suamimu beberapa kali." kata Yola sambil mencebik.
"Aku bukannya membantah, aku hanya meluruskan saja masalahnya. Terus, apa maksudmu beberapa kali. Apa kamu menguping pembicaraan orang?"
'Yang benar saja. Ada seorang penguping rupanya di sini.'
"Aku gak menguping, tapi kamu ngomong juga kuat-kuat, pasti aku dengar, kan?"
"Lalu? Kamu merasa bersalah ya, karena sudah menjadi penyebab suami istri bertengkar?" mendengar ucapan Naya itu, Yola diam, ia mempertimbangkan kata-kata yang akan ia ucapkan.
"Aku tidak bermaksud ikut campur, aku hanya mengingatkanmu saja. Ya, kan kita sekarang tinggal satu rumah, jadi wajar kalau saling mengingatkan."
'Mengingatkan apanya?'
"Aku tahu batasannya gimana bicara sama suamiku. Gak usah kamu ajari."
"Berarti ka..." ucapan Yola terputus karena Rudian berkata, tegas.
"Sudah, kalian jangan bertengkar. Malu di dengar tetangga."
'Memangnya, siapa yang buat gara-gara duluan?' Naya bermonolog.
Anak manusia yang sedang terlibat dalam cinta segitiga itu kemudian diam, terpaku oleh perasaan masing-masing.
"Jadi, Yola. Aku masih ada urusan dengan Naya masuklah ke kamarmu." kata Rudian yang diangguki oleh Yola.
Wanita itu segera menuju ke kamarnya sendiri dan menutup pintunya, tapi tidak terlalu rapat. Ia masih bisa mendengar apa saja yang dibicarakan oleh Rudian dan Naya.
"Dan kamu, Naya. Aku gak mau lagi lihat kamu diantar laki-laki lagi, apalagi malam-malam begini. Gak bagus dilihat orang, apalagi dinilai oleh Allah."
"Apa tukang ojek juga tidak boleh? kalau begitu aku akan dijemput sama Kanda terus, dong? Alhamdulillah." kata-kata Naya membuat Rudian diam, hingga Naya melanjutkan.
"Atau lebih baik, aku gak usah kerja lagi, karena Kanda sudah jadi leader sekarang. Gaji kanda pasti cukup buat biaya hidup kita sehari-hari."
"Siapa yang bilang seperti itu. Jangan asal nuduh." Mendengar ucapan Rudian ini, tanpa sadar Naya tertawa cukup keras. Ahk, akhirnya dia tertawa juga.
__ADS_1
'Seperti itu kok dituduh menuduh, si'
"Kenapa. Kanda takut aku minta nafkah dari uang bonus atau gaji bulanan? Ck! Itukan kewajiban."
"Aku tahu soal kewajibanku, Nay. Gak usah diingatkan, aku gak lupa. Tapi gajiku juga naiknya tidak besar. Apalagi ibu sering sakit sekarang, jadi aku tambahin uang bulanan buat ibu."
"Lalu, aku?" Setelah Naya bicara seperti itu, Rudian diam, menyandarkan kepala di sandaran sofa. Merasakan seolah-olah beban yang teramat berat baru saja ditaruh di pundak nya.
'Bahkan kanda menggunakan ibu sebagai alasan. Aku sudah menemui ibu, beliau baik-baik saja. Bang Bagas merawat ibu dengan baik.'
Air mata Naya mulai menetes, tanpa suara. Ia kembali merasakan ribuan pedang Zulfikar sedang terhunus kearahnya, mengiris hatinya. Merasa diperlakukan tidak adil, tentu saja.
"Nay, aku cuma kuatir kalau saja laki-laki itu jadi suka sama kamu. Aku sayang sama kamu, Nay. Jangan sampai kamu berbuat dosa. Karena dosa istri itu akan menjadi pertanggung jawaban suami." kata Rudian lagi dengan suara lirih masih dengan mata yang terpejam.
"Kalau soal orang yang ngantar aku, kanda gak usah kuatir. Aku benar-benar gak ada hubungan apa-apa. Aku juga sayang sama Kanda. Aku gak akan ngasih dosa buat suami sendiri." jawab Naya sambil menghapus jejak air matanya.
"Hmm...bagus. Aku percaya sama kamu, Nay."
"Terus gimana soal gaji. Yola sudah dapat bagiannya, bagaimana aku, Nda. Yola kerja, aku juga kerja. Tapi kenapa dia dapat tapi aku tidak?"
"Kamu tahu dari mana si, sola gaji aku naik dan jabatan juga naik?"
"Dari Yola." kata-kata Naya membuat Rudian menghela nafas dan menoleh pada Naya.
"Jangan pakai lagi alasan dia hamil, Nda. Itu gak lucu. Ini bukan soal hamil atau tidak, tapi soal nafkah, itu jelas harus adil."
Mengapa Allah menghendaki adanya sebuah perbuatan yang dinisbatkan dengan istilah adil dan tidak adil? Mungkin agar manusia bisa menjadi lebih taqwa. Ada dalam firman-Nya bahwa adil itu lebih dekat dengan ketaqwaan.
"Baikalah, aku akan kasih kamu nanti, kalau gajian. Tapi jangan protes kalau sedikit. Soalnya dibagi-bagi." jawab Rudian pelan.
"Aku sudah tahu kalau Kanda naik gaji sejak tiga bulan yang lalu. Tapi aku diam, Nda. Aku ingin tahu apa kanda akan jujur atau tidak. Ternyata, heh." kata Naya.
"Apa?! tanya Rudian.
" Ya, ternyata Kanda sudah terjebak sama Yola. Nda, gak mungkin ada wanita yang mau jadi istri kedua kalau tidak ada yang bisa ia jadikan sebagai jaminan untuk hidupnya. Termasuk Yola." kaya Naya tegas.
'Iya, kan. Mana ada yang mau dijadikan istri kedua, ketiga atau keempat dijaman sekarang ini, dengan laki-laki yang miskin. Kalau memang ada, wanita itu wajib masuk dalam buku Guennes Of Record. Hehe'
"Jadi, kamu nuduh aku matre, gitu?! Enak saja. Mana buktinya!" kata Yola Tiba-tiba keluar dari kamar yang ditempati.
__ADS_1
Yola keluar dengan memakai baju tidur yang seksi dan transparant. Menampakkan bentuk tubuhnya. Naya dibuat geleng-geleng kepala. Yola seperti sengaja membakar kayu dengan api cemburu Naya.
Naya muak melihat pemandangan di depannya. Ia memalingkan pandangan kearah langit sambil tersenyum miris. Memberi senyum pada keadaan yang ia hadapi. Tapi hatinya sudah berdarah.
"Yola! Bukankah tadi aku suruh kamu ke kamarmu?" kata Rudian terlihat tidak suka.
"Bang, Naya sudah fitnah aku. Ingat bang, fitnah itu lebih kejam dari membunuh." kata Yola seperti merengeknya anak kecil. Childis.
'Kapan aku menuduh matre, coba? Hei. Aku cuma bilang, kalau semua istri itu butuh jaminan untuk hidupnya dari laki-laki yang menikahinya. Bukan cuma kamu yang butuh itu. Apalagi para wanita yang mau dijadikan istri tambahan, maka ia akan butuh jaminan lebih besar, biasanya. Dan itu bukan cuma kamu.'
"Aku yakin Naya gak bermaksud begitu. Iya kan, Nay?" dan Nayapun mengangguk ditanya seperti itu.
"Iya. Bang Rudi memang yang terbaik... Abang tahu kan aku menikah dengan abang bukan karena materi." kata Yola duduk memeluk lengan Rudian mesra.
'Mana ada?' Naya mencebik tak percaya.
"Abang memang beda dari suamk aku yang dulu, kasar dan suka mukul. Makanya aku mau sama abang, soalnya abang mah baik dan lemah lembut sama aku."
'Oh, jadi dia janda?' Naya mengankat alisnya lalu beranjak pergi ke kamarnya dengan membawa rasa mual diperutnya.
'Ah, sekarang aku gak harus hamil biar meraskan mual mau muntah.'
Naya pergi untuk membersihkan diri, merebus air hangat untuk memanjakan dirinya sendiri. Mengikuti teori orang Jepang jaman kuno, kalau disaat panas, justru minum minuman hangat agar tubuh menjadi dingin. Jadi ia mengguyur kepalanya dengan air hangat agar rasa panas dikepalanya jadi dingin.
Setelah selesai mandi, Naya membuat secangkir teh manis karena belum terasa ngantuk. Malam itu ingin nonton televisi saja untuk mengusir sepi. Ia sudah mendahulukan sholat isya saat masih di restoran tadi.
Tapi sampai di sofa, ternyata masih ada suami istri yang masih asyik ngobrol berdua di sana.
'Apa kalian gak punya kamar?' Naya kesal.
Ingin rasanya menyiramkan teh panas kepada mereka berdua. Tapi tidak. Ia mencintai suaminya. Cinta itulah yang membuatnya mematahkan logika kemarahan nya.
Iya sadar kalau bukan hanya tangannya yang memggenggam tangan suaminya, dan ia sadari kalau ia harus rela bila suaminya membagi semua yang dia punya.
Naya kembali ke kamarnya dan mengganti piyamanya dengan baju tidurnya yang sudah jarang ia gunakan, ia sudah malas memakai baju model nightgown atau tanktop juga hotpant.
Ada rasa sesal yang merayu hatinya, ia kini sudah jarang memberi perhatian lewat pesan atau saat mereka sedang ada di rumah, ia jarang mengucapkan kata-kata mesra atau bermanja-manja dengan Rudian. Ia sudah sangat lelah bekerja. Merawat cinta itu lebih susah dari mendapatkannya. Atau juga karena usia pernikahan yang cukup lama hingga semua terkesan biasa.
'Ya Allah, ampuni aku. Mungkin ini memang salahku juga. Apakah karena ini, suamiku jadi mudah tergoda? Astagfirullah.'
__ADS_1
Naya keluar dari kamar, menuju sofa dimana Yola dan Rudian duduk, dengan memakai nightgown warna pink miliknya. Ia melangkah tenang, dengan membawa secangkir teh hangat ditangannya. Rambut digerai rapi dan indah. Aroma sampo yang lembut menguar darinya.
Lalu dengan cara anggun seperti artis-artis Korea dalam drama yang pernah ia lihat, Naya duduk manis dihadapan Yola dan suaminya. Lalu menyalakan televisi yang selama ini hanya sebagai hiasan saja.