Diujung Harapan

Diujung Harapan
Eps 58. Ibu Tiri Yang Lembut


__ADS_3

Naya mendesah keras sambil menyandarkan tubuhnya di pintu,


"Ahk..." melirik pada rekan kerjanya itu dengan tatapan tak berdaya.


"Tadi sudah kenalan, kenapa gak sekalian minta nomor ponselnya, Nia?" Tanya Naya dengan malas.


"Ayo dong.." kata Nia sambil meringsek masuk kedalam rumah kost Naya.


"Hei, siapa yang nyuruh masuk? keluar sana. Nanti kalau suamiku datang gimana?"


Sepertinya Nia tidak akan menyerah sebelum ia mendapatkan apa yang ia inginkan. Ia menatap Naya dengan raut wajah penuh permintaan.


"Naya, aku tau pak Ares itu sering nitip anak kecilnya sama kamu, kan? Gak mungkin kalau kamu gak punya nomor ponselnya."


"Tapi aku gak akan ngasih nomor ponselnya tanpa seizin orangnya," jawab Naya.


"Hais, kamu ini. Sekarang saja kirim pesan sama dia kalau kamu ngasih nomor ponselnya ke aku."


"Gak. Aku malu," kata Naya sambil menarik tangan Nia agar mau pergi dari sana, ia sudah sangat lelah. Ia mau istirahat.


"Besok saja, oke?" kata Naya akhirnya menyerah.


"Janji, ya?" kata Nia sambil berlalu dan me gacungkan jari kelingkingnya.


'Ih, mirip anak kecil saja'


Naya mengangguk dan tersenyum. Baru saja ia hendak menutup pintu, ia kembali di kejutan oleh kemunculan Ares di depannya.


'Kok, dia bisa ada di sini?'


" Pak Ares?" kata Naya dengan wajah terkejutnya.


"Iya, aku. Kenapa, kaget? Aku ada di situ, apa kamu gak lihat?" kata Ares sambil menunjuk satu arah dengan dagunya.


"Maaf, pak. Saya tidak bisa menerima tamu sekarang, suami saya tidak ada." kata Naya mengelabuhi Ares.


Mengelabuhi memang mirip seperti kebohongan, tapi bukanlah dusta. Cara ini bisa digunakan untuk orang yang memang harus melakukannya tanpa berdosa. Sebab mengelabuhi bisa membuat orang tertipu tanpa sebuah penipuan. Cara yang sering digunakan sebagai taktik dalam strategi dalam perang.


Hal ini pernah dilakukan Nabi ketika beliau (dalam sebuah riwayat) duduk disebuah dahan pohon yang tergelek di jalan, beliau hendak pulang dari sebuah perjalanan. Saat itu melintas seorang lelaki yang berlari dengan terburu-buru, terlihat wajah orang itu sangat ketakutan dan membutuhkan pertolongan.


Sebagai seorang Nabi, beliau tahu bahwa orang itu sedang menghindari sesuatu. Kemudian, setelah laki-laki yang melintas itu tidak tampak lagi, beliau pindah posisi duduk pada dahan pohon yang lain.


Tak lama datang lah serombongan orang berkuda yang berhenti begitu melihat Nabi duduk di jalan yang tengah mereka lewati, mereka bertanya,


"Apakah kamu melihat seseorang lewat di jalan ini?" kata salah satu diantara mereka dengan menyebutkan ciri-ciri lelaki yang melintas tadi.


Dengan lugas Nabi Muhammad Shallallahu Alaihi Wasallam, menjawab,


"Sejak aku duduk di sini, aku tidak melihat orang yang anda sebut kan itu."


Jawaban yang bisa menipu, tapi bukan penipuan, Nabi berhasil mengelabui mereka hingga membuat mereka percaya.


"Iya, aku tau suamimu tidak ada di sini karena dia ada di rumahnya, kan?"


Deg. Jantung Naya berdegup lebih kencang.


'Gimana kalau dia tau yang sebenarnya tentang aku? Ya Allah...'


"Tapi ini rumah saya, saya bebas melarang siapapun," jawab Naya kembali akan menutup pintunya.


"Apa kamu pergi karena aku?" Ares akhirnya langsung bicara pada inti yang ingin ia tanyakan. Membuat Naya menghentikan gerakannya.


Naya menatap Ares sekilas, dan ia mendapati mata laki-laki itu tengah tertuju kearah matanya. Dengan gugup Naya menjawab,


"Tidak ada hubungannya dengan bapak." sambil memalingkan pandangan.


Mendengar ucapan Naya, Ares mengerutkan keningnya tanda ia tak percaya. Memang masalah Naya berawal dari sejak lama, sejak ibu mertuanya menuntut kehadiran seorang anak darinya, hingga saat pertemuan dengan Ares kemarin yang membuat masalah itu seperti berada pada puncaknya.


Hingga saat berada dipuncak itulah, ia tidak bisa menjaga keseimbangan tubuhnya yang membuat ia harus jatuh dari tempatnya, dengan keadaan penuh luka. Biar bagaimanapun ia mengambil keputusan, ia akan tetap terluka.

__ADS_1


Ia bertahan akan tetap terluka, dan ketika ia memutuskan untuk mundurpun terluka juga.


"Kenapa bapak, ada disini?" tanya Naya mengalihkan pembicaraan.


"Aku kan kerja, di perusahaan yang di seberang jalan itu, memangnya kamu belum tahu?" arus balik bertanya.


Naya hampir melupakan hal itu. Karena urusan pribadi Ares tidak lah penting baginya, apalagi untuk menghapalkan dimana ia bekerja.


"Oh.." Naya mengangguk.


"Saya baru selesai lembur, ada sedikit masalah tadi," kata Ares santai.


'Aku gak tanya, pergi sana'


"Kalau bapak tidak punya urusan lagi, maaf saya tutup pintunya, saya perlu istirahat," kata Naya benar-benar menutup pintunya kali ini, tanpa menunggu perkataan dari Ares selanjutnya.


Naya di dalam rumah kostnya, masih berdiri di belakang pintu, memastikan Ares benar-benar pergi dari sana.


Sedangkan Ares di luar masih tercenung mencoba mencerna apa yang terjadi sebenarnya pada Naya. Ia sempat menduga beberapa hal tapi ia tidak mungkin menanyakan pada Naya saat itu juga. Dengan rasa penasaran dan rasa bersalahnya, ia pergi meninggalkan rumah kost Naya, berbagai dugaan dan pertanyaan berkecamuk di kepalanya.


-


Dalam perjalanan menuju terminal bus, Naya akan menjenguk ayahnya di salah satu desa pinggiran kota. Ia menyempatkan diri singgah ke Toserba, membeli bingkisan untuk ayah dan keluarga barunya yang baru mereka bina sejak tiga tahun yang lalu atau tepatnya sejak setahun dari kematian ibunya.


Saat itu Naya melihat Rudian dan Yola juga sedang berbelanja, ini Kebetulan sekali kan? Naya bisa melihat keadaan mantan suaminya itu setelah beberapa hari ia tinggalkan, menurut Naya Mereka terlihat baik-baik saja.


Naya tersenyum kecut, memang apa yang diharapkannya, bukankah seharusnya ia ikut bahagia karena suaminya juga bahagia?


Naya bukan berusaha untuk membohongi dirinya sendiri, kalau masih ada rasa penasaran dan rindu dalam hatinya, pada Rudian. Tapi ia hanya ingin terlihat baik-baik saja sehingga dia tidak mengeluhkan apapun yang dialaminya pada orang lain, sampai-sampai dia berpuisi dalam hatinya,


"Ada hasrat ingin bertemu, ketika sunyi menunjukkan taring tajam menusuk jiwa, ada angin yang terus terbang, menuju arah mencari jawaban masihkah rindu Itu milikku? meski semua hanya melahirkan semu tetap saja gejolak rasa ini membakar yakinku, sehingga logika menolak sadar, bahwa cintamu telah memudar untukku."


Rasa kehilangan akan sangat menyedihkan karena sesuatu yang hilang atau yang terlepas itu, adalah sesuatu yang dimiliki sedemikian rupa, bahkan sangat tergantung kepadanya sehingga ketika sesuatu itu hilang maka seolah-olah hilang pula sebagian dari dirinya.


Karena kebanyakan orang sudah terbiasa dengan sesuatu atau sangat menyayangi sesuatu, hingga saat apa yang dimilikinya itu hilang, maka akan membutuhkan waktu yang cukup lama untuk kembali bangkit dan kembali tetbiasa tanpanya.


Naya berusaha menepis pikiran buruknya dengan memejamkan matanya sejenak, lalu ia meneruskan belanja dengan cepat dan segera meninggalkan tempat itu menuju terminal Bus sesuai niatnya semula.


Sebenarnya saat ibu tirinya menelepon, wanita itu berpesan agar Naya pergi dengan suaminya Rudian. Karena bila dengan naik motor, maka perjalanan bisa lebih cepat. Menggunakan bis bisa memakan waktu lebih lama sampai beberapa jam. Naya tidak berterus terang tentang keadaannya sebab Ia tidak ingin melukai hati orang tuanya.


Dalam bis, Naya memeriksa sisa jumlah tabungannya melalui ponselnya. Ia memiliki banyak waktu selama perjalanan untuk menghitung berapa jumlah uang yang akan ia habiskan untuk pergi ke daerah pesisir kota dan berapa jumlah uang yang bisa ia gunakan untuk bertahan.


Sebab Ia hanya membutuhkan biaya hidup untuk bisa membayar tempat tinggal dan makan saja. Ia tidak membutuhkan apa-apa lagi setelah itu, keinginan yang lain menjadi tidak berarti baginya ketika tinggal sendiri.


Bahkan semua barang-barang yang dimilikinya sejak ia mulai bekerja, Ia tinggalkan begitu saja di rumahnya bersama Rudian. Ada rasa tidak rela memang tapi ia tidak tahu harus membawanya atau tidak, sebab dalam kamar kos yang kecil ini membawa barang-barang itu sangatlah tidak mungkin.


Siapa si, yang rela meninggalkan barang-barang peralatan rumah tangga dan juga perlengkapan makan, yang harga satu set nya bisa mencapai ratusan ribu itu? Apalagi itu adalah merek terkenal di negeri ini, rasanya semua ibu-ibu rumah tangga yang lain juga tahu. Walaupun ia mendapatkannya dengan cara mencicil saat masih bekerja dan membayar dari uang gajinya, tetap saja barang-barang itu adalah miliknya dan bukan milik Yola


Naya terbangun dari tidurnya setelah hampir sampai di tempat tujuan. Kenek bus memperingatkan kalau ia sudah dekat di kampung ayahnya tinggal.


Naya turun dari bus dengan cepat menuju rumah sederhana, dimana dulu dia tinggal bersama Ibu, ayah dan saudara-saudaranya. Rumah itu masih sama seperti saat terakhir kali ia kunjungi beberapa bulan yang lalu.


Banyak kenangan yang terjadi dalam rumah itu terutama dengan ibunya, tiba-tiba ia teringat akan mimpinya beberapa pekan yang lalu dalam mimpi itu ia teringat jelas akan kata-kata ibunya,


"Kau akan menjalani pernikahan sampai kematian yang memisahkan kalian berdua"


Tapi apa yang dihadapinya kali ini, bahkan ia harus menjadi seorang janda. Air matanya sempat menetes, tapi buru-buru ia hapus karena pintu rumah itu tiba-tiba terbuka.


Seorang wanita berwajah lembut menatapnya sambil tersenyum lalu berkata,


"Naya, akhirnya kamu pulang, nak?" wanita itu menengok kearah belakang Naya, memastikan tak ada orang lain bersamanya. Naya hanya tersenyum.


" Kamu sendiri?" tanya Nuria seperti tidak yakin kalau Naya tidak bersama dengan suaminya. Naya mengangguk.


"Mana Rudian?" katanya lagi.


" Ada di rumah, tante. Lagi sibuk," jawab Naya sambil mencium tangan ibu tirinya dan masuk ke dalam rumah.


"Tante, apa kabar?"

__ADS_1


"Alhamdulillah, sehat-sehat semua, kecuali ayahmu," jawab Nuria.


Naya tidak pernah bisa memanggil Nuria, ibu tirinya itu dengan sebutan Ibu. Padahal Nuria adalah seorang wanita dan ibu tiri yang lembut. Bagi Naya sosok seorang ibu tidak akan pernah bisa digantikan sebaik apapun wanita pilihan yang menjadi istri ayahnya setelah ibu kandungnya meninggal.


Sosok seorang Ibu, bagaimanapun juga keadaannya, selamanya tidak akan pernah tergantikan di mata seorang anak.


"Mana, ayah?" tanya Naya sambil berjalan memasuki area rumah dan memeriksa isinya, pergi ke dapur untuk menyimpan buah tangan yang dibawanya.


"Naya...!" terdengar suara parau yang berasal dari salah satu kamar, itu suara ayahnnya.


"Ayah, kenapa sakit? Makanya, jaga diri baik-baik dong, ayah..." kata Naya mengomel. Ia mendekati Budiman ayahnya sambil mencium tangannya dan tersenyum.


"Kamu ini ayahmu sakit malah diomelin," kata Budiman cemberut.


Naya menepuk-nepuk tangan ayahnya, memberi pria itu semangat agar cepat sembuh. Ia mendoakan ayahnya dengan doa yang biasa ia lafalkan ketika menengok orang yang sakit, memberikan kata-kata positif dan menyenangkan bagi ayahnya.


Hanya saja Budiman melihat sesuatu yang berbeda sehingga membuat ia bertanya penuh rasa penasaran,


"Kenapa kamu kelihatan kurus,apa kamu nggak makan, pucat lagi, matamu juga bengkak apa kamu sering nangis?" kata Budiman sambil duduk dari tidurnya.


Naya menarik nafas dalam dan kemudian menatap ayahnya dengan tatapan yang susah diartikan, kemudian dia berkata sambil tersenyum,


" Ayah aku baik-baik saja, " kata Naya.


Naya masih berpikir apa dia akan jujur dengan ayahnya atau tidak tentang keadaan dirinya. Ia khawatir apabila berkata jujur sedangkan ayahnya masih dalam keadaan sakit, maka ayahnya tidak akan segera sembuh atau justru akan memperparah sakitnya.


"Tapi yang ayah lihat kamu tidak baik apa kamu berbohong pada Ayah? tanya Budiman dengan tatapan serius pada anaknya.


" Sudah, sudah, ayo makan dulu. Kebetulan aku masak ikan asam manis," kata Nuria sambil menepuk bahu Naya.


Naya menuntun tangan Budiman agar bisa dengan cepat menuju meja makan.


"Sudah tidak usah dituntun aku baik-baik saja masih kuat kalau untuk berjalan ke meja makan, " kata Budiman.


" Iya, iya, aku percaya Ayah masih kuat. Makanya cepat sembuh. Ayah jadi enggak kerjakan? nanti kalau gaji ayah dipotong gimana? kasihan kan Tante, " kata Naya sambil duduk disalah satu kursi untuk makan bersama.


" Ayahmu ini, jarang sakit jarang cuti juga jarang libur kerja, kemarin itu lembur berhari-hari sampai lupa makan, akhirnya jadi sakit seperti ini," kata Nur Ya sambil mengambilkan makanan di piring Budiman.


" Ayah sering lembur ya Tante? Jangan memaksakan diri ayah kalau memang sudah capek, kan ayah tidak semuda dulu lagi," katanya Naya sambil menyendok nasinya.


Usia dan kekuatan biasanya berhubungan erat dengan kesehatan. Seiring berjalannya waktu juga bertambahnya usia, manusia akan lemah dengan sendirinya. Sekuat apapun ia menjaga vitalitas kesehatannya tidak akan bisa menolak sunatullah yang sudah menjadi kodratnya.


" Aku tidak apa-apa, aku sakit ini biar kamu datang kesini, nengok ayahmu. Kalau aku tidak sakit kamu pasti susah kamu mau datang ke sini ya kan, " kata Budiman sambil menyuap makanan ke mulutnya.


Jarak, waktu dan kesibukan yang menjadikan alasan jarang nya pertemuan antara orang tua dan anak. Sebuah alasan dan juga sekaligus fakta yang menjadikan hubungan Ikatan Keluarga menjadi renggang karenanya.


Tapi sebagian manusia akan menolak, bila dikatakan bahwa cinta mereka pada orang tuanya, sudah berkurang karena jarangnnya mereka datang.


Padahal pada kenyataannya memang cinta seorang anak tidak akan bisa menyemai besarnya cinta orang tua kepada dirinya. Orang tualah yang akan merindukan anaknya dan biasanya karena alasan kesibukan bahkan seorang anak tidak sempat merindukan orang tuanya.


Kecuali dengan alasan Bakti dan dalamnya pengetahuan keagamaan seorang anak yang membuat ia mengusahakan sesulit apapun, kesibukan dan sedikitnya waktu luang, Ia tetap akan berusaha untuk menjenguk orang tuanya secara berkala.


"Maafkan aku, ayah. Jarang menengok ke rumah," kata Naya sambil menghabiskan makanannya.


"Menginaplah yang lama, harus tinggal satu rumah dengan sampai ayahmu sembuh," kata Nuria.


Naya berpikir untuk sesaat, ia enggan berlama-lama tinggal atau menginap di rumah ayahnya karena ada Hasan, anak laki-laki Nuria dari pernikahan pertamanya. Hasan adalah seorang laki-laki yang notabene bukan muhrimnya sehingga ia tidak pernah tinggal lama di rumah ayahnya. Terlalu canggung baginya harus tinggal satu rumah anak remaja itu walaupun ia masih sekolah tapi tetap saja dia orang lain baginya.


-


Naya sudah dua hari tinggal di rumah ayahnya dan Budiman terlihat sudah lebih baik. Mereka sedang bercengkrama di teras rumahnya ketika suara telepon berdering dari ponsel Naya.


Naya segera mengambil dan menerima panggilan itu yang ternyata dari bu Nha dan mengatakan bahwa ia harus cepat kembali bekerja, tenaganya dibutuhkan di sana.


Setelah Naya selesai menelpon, ayahnya bertanya,


" Kenapa kamu tidak menelpon Rudian, bahkan suamimu itu juga tidak menelponmu. Apa kalian ada masalah atau Kalian sedang bertengkar?"


Dengan berat hati, Naya menceritakan semua kejadian yang dia alami. Biar bagaimanapun, ayahnya adalah orang tuannya yang tetap harus tahu apa yang sebenarnya terjadi. Tapi, sebaik apapun Naya menyembunyikan masalah ini cepat atau lambat kalau Allah menghendaki ayahnya juga pasti akan tahu Suatu Hari Nanti.

__ADS_1


" Lalu bagaimana selanjutnya.Apa kau berniat tetap tinggal disini atau kau ingin pergi ke tempat lain, ke kampung ibumu misalnya?"


__ADS_2