Diujung Harapan

Diujung Harapan
Eps 21. Perasaan Tak Berarti


__ADS_3

Rudian mengangkat tubuh Naya yang hampir terjatuh di lantai. Lalu membawanya ke kamar dengan digendong ala bridal style. Naya dibaringkan dengan perlahan dan Sania menyusulnya kemudian memberikan minyak kayu putih disekitar hidung Naya agar segera sadar.


Beberapa orang melihat kejadian itu dengan penilaian yang berbeda. Termasuk Yola dan Sarita yang melihat Naya dengan tatapan kesal.


'Buat gara-gara saja tuh, anak. Mau cari perhatian saja dia pura-pura pinsan. Padahal kalau marah tinggal bilang saja. Merepotkan'


'Kasihan Naya, dia dipoligami. Pantas saja dia pinsan, pasti tidak kuat. Perasaannya pasti sakit. Mana ada wanita yang mau dimadu si?'


'Naya apa sakit ya, kok wajahnya tadi pucat sekali. Apa karena kabar soal suaminya ini yang tidak tahu diri. Naya sudah sabar selama ini ikut bekerja tapi sekarang cinta suaminya harus dibagi.'


'Seharusnya tidak perlu buat acara seperti ini, pake ngundang tetangga segala, itukan menyinggung perasaan Naya, wajar dia sampai pinsan.'


Beberapa orang bermonolog dengan diri mereka sendiri. Tapi pada kenyataannya Naya sakit. Dan itu memang ada kaitannya dengan Rudian dan Yola. ***** makannya turun drastis.


Sementara di dalam kamarnya Naya sudah tersadar, ia membuka matanya perlahan sambil mengumpulkan nyawa. Mengingat apa yang terjadi dan mengamati beberapa orang yang ada dihadapannya.


"Kak, Sani. Tolong bawakan kantung belanjaan Naya yang di dekat sofa, ya. Ada obat saya di sana?" kata Naya sambil berusaha duduk dan bersandar di kepala ranjang. Sania melangkah keruang tamu mengambil barang yang diminta Naya.


"Kenapa Naya, kamu sakit? Kenapa diam saja dari tadi" tanya Rudian terkesan menyalahkan Naya.


'Mana sempat aku bicara. Sampai di rumah sudah dapat kejutan seperti ini. Kamu juga tidak bertanya apapun lewat pesan atau wechat. Kamu seperti tidak perduli padaku lagi, Kanda. Jadi bilang juga percuma'


Tak lama Sania masuk dan Naya mengambil obat sakit lambung yang biasa ia minum. Dan ia kembali merebahkan diri di tempat tidur setelah menelan obatnya.


"Apa kamu mau di sini saja, tidak akan keluar kamar?" tanya Rudian lagi.


"Apa itu perlu. Itu bukan acara untukku kan? Bilang pada semua, aku sakit" kata Naya ketus.


"Kamu sakit apa si, Nay?" tanya Rudian gelisah.


"Sakit perut biasa. Nanti juga sembuh. Keluarlah. Nanti ada yang cemburu"

__ADS_1


'Aku juga cemburu, Nda. Aku tidak suka ibu berbuat semaunya seperti ini.'


"Apa maksudmu?' kata Rudian.


'Maksudku jelas kan?'


"Tidak ada maksud apa-apa. Aku baik-baik saja. Aku hanya merasa kalau aku sudah tidak ada artinya lagi buatmu, Kanda."


"Ah, kamu ini sekarang bukan waktu yang tepat untuk pertengkaran" sahut Rudian sambil berlalu pergi.


'Aku tidak mengajakmu bertengkar... aku hanya merasa tak berarti. Itu saja. Astagfirullah'


Dari dalam kamarnya Naya dengan jelas mendengar Sarita yang memperkenalkan Yola sebagai istri kedua Rudian, ia bermaksud mengadakan pertemuan itu untuk menghindari fitnah seandainya nanti Rudian sering membawa Yola kerumah itu. Sehingga para tetangga tidak akan heran, karena Yola dan Rudian sudah sah menikah secara agama.


Sarita juga mengatakan kalau Nayana sebagai istri pertama Rudian sudah mengijinkan suaminya itu untuk menikahi Yola, karena Yola sedang mengandung anak Rudian sedang Naya sampai sekarang belum bisa hamil.


"Jadi, saya bersyukur punya menantu sholehah semuanya. Saya juga minta do'a dan restu dari ibu bapak semua, agar pernikahan mereka langgeng, bisa jadi contoh kebaikan dan bisa berbuat adil." kata Sarita mengakhiri bicaranya yang disambut dengan kata aamiin oleh semua yang hadir.


"Naya, aku pulang dulu ya, sudah magrib. Kamu yang sabar ya, yang sehat dan kuat. Aku gak tau kalau jadi kamu Naya, pasti aku sudah minta cerai." kata Sania duduk di sisi pembaringan Naya.


Mendengar kata-kata kakak iparnya itu, Naya tersenyum. Cinta, itukah alasannya, sekonyol itukah cintanya pada Rudian selama ini? Cinta itu tidak berotak, itukah alasannya? Bercerai dari Rudian, tidak ada sama sekali terlintas dikepala mungilnya.


'Bodohkah orang menilaiku? Bagaimana kalau aku masih punya harapan yang bisa membuatku tetap bertahan.'


Apakah ia salah kalau memutuskan untuk bertahan, walau tetap harus bekerja, tidak dinafkahi, dan kemudian dipoligami?


"Iya, kak. Terimakasih." sahut Naya. Melepas Sania pergi.


"Naya, apa kamu sengaja, ha? Merepotkan saja. Apa kamu cari perhatian?" kata Sarita yang masuk begitu ke kamar Naya setelah semua orang sudah pergi. Hanya ada mereka berempat di sana.


Sepertinya Sarita sudah tidak bisa menahan amarahnya dari tadi. Ia terlihat emosi pada Naya.

__ADS_1


Naya yang melihat gelagat tidak menyenangkan dari ibu meetuanya, berusaha bangkit dan duduk di sisi ranjang. Perutnya masih terasa sakit.


"Ibu, lambungku sakit. Aku tidak bohong..." kata Naya lirih.


"Apa kamu cemburu, melihat Yola bisa hamil. Itu bukti kalau Rudian tidak mandul. Kamu memang tidak bisa hamil. Akui saja, tidak usah drama pinsan segala." kata Sarita berdiri di depan Naya.


"Aku tidak mandul, bu. Aku sehat, aku sudah pernah periksa. Itu karena memang belum ada takdir Allah saja, bu. Allah sayang, karena masih banyak cicilan yang harus dilunasi, kami"


'Bukankah kita harus berprasangka baik?'


"Baik, kalau kamu memang percaya diri kalau kamu sehat, buktikan selama tiga bulan ini, kamu harus hamil"


"Baik, saya akan terima permintaan ibu. Saya akan tunggu selama tiga bulan. Kalau memang saya tidak bisa hamil, maka saya rela bercerai dari Kanda" Kata Naya semangat, keyakinan besar muncul begitu saja dalam dirinya. Ia sudah banyak mengkonsumsi herbal akhir-ini.


"Apa Naya? Kamu bilang mau bercerai denganku, kalau kamu tidak hamil? Janji macam apa itu?" kata Rudian yang tiba-tiba muncul dari balik pintu kamar, diikuti Yola dibelakangnya.


'Kenapa dia ikut masuk juga ke kamarku si? astagfirullah... beri aku kekuatan ya Allah'


"Kalian semua keluar!" bentak Naya. Ia seperti lupa sedang berhadapan dengan ibu dan suaminya. Semua itu karena ia melihat Yola ada di pintu kamarnya.


"Yola! Perhatikan dirimu bicara sama siapa?" kata Rudian setengah membentak.


Karena ia tak ingin pembicaraan berlanjut di dalam kamarnya, Naya memilih pergi keluar sambil menahan sakit perut dan amarahnya. Seolah negara api datang menyerang dan ia akan menghalau dengan elemen air.


Sampai di pintu, tubuhnya bersenggolan dengan Yola. Naya melirik sekilas dan bicara.


"Kamu sudah puas sekarang, berhasil memiliki suamiku dan sekarang kamu lihat aku dibentak oleh suamiku sendiri?"


Yola tidak menjawab, ia terlihat serba salah. Padahal ia ingin sekali membalas Naya, tapi citra baik akan hilang dimata Sarita bila ia melakukannya. Ia memilih diam.


"Apa benar, kamu sungguh tulus mencintai suamiku? Apa yang kamu lihat darinya? Suamiku tampan kan? Makanya kamu tergila-gila padanya sampai rela jadi istri kedua."

__ADS_1


__ADS_2