
Deg. Jantung Naya berdegup lebih kencang karena pertanyaan Dero.
'Aku benci sikap dan perbuatannya'
Laki-laki itu menatap Naya srius. Dan berkata lagi,
"Kak Yola itu sebenarnya baik, dia cuma pemalas saja. Jadi tolong maafkan kak Yola kalau dia gak mau bantu-bantu soal kerjaan rumah."
'Pemalas kok, baik?'
"Terus?" kata Naya menginterupsi.
"Ya, kalau mbak Naya mau mengerti, saya berterimakasih sekali."
"Kalau gak?"
"Ya, biarin saja, mbak. Nanti dia juga akhirnya mau juga nyuci kalau sudah gak punya pakaian lagi."
"Kamu pikir begitu ya. Tau gak, dia pernah pura-pura sakit hanya karena pakaian habis, kotor semua dan Rudian malah marahnya sama aku?"
Ya, hal itu terjadi beberapa hari yang lalu saat Rudian mengatakan Yola sakit dan membuat Naya mengerjakan semuanya, tapi setelah semua beres dan Rudian berangkat kerja, Yola terlihat baik-baik saja. Masa ngidam atau mhorningseecles nya juga sudah lewat.
"Maaf, mbak. Saya juga dulu yang ngerjain semua kerjaan rumah, kak Yola malas-malasan saja. Paling berangkat kerja saja yang rajin."
"Terus aku harus maklum dengan semua kemalasannya, dan mau ngerjain kewajiban dia, gitu maksudmu?" kata Naya sambil melipat tangan didepan dada.
"Ya, bukan juga si. Saya cuma minta maaf atas kemalasan kakak saya itu saja."
"Kamu gak perlu minta maaf. Kamu gak salah soal itu, yang aku gak habis pikir itu, kenapa kamu mau menerima uang dengan mudah dari suamiku?"
"Oh. iya. Soal itu juga aku minta maaf. Aku gak punya uang, mbak. Kak Rudi itu baik banget mbak. Aku gak pernah minta kok. Tapi dia ngasih aja tiap bulan."
"Sejak kapan?"
"Sejak kak Yola jadi teman kak Rudi."
'Itu artinya sudah tiga bulan yang lalu?'
"Berarti kamu jadi pengangguran sudah lama ya?'
" Hehe. Iya, mbak."
__ADS_1
'Lama-lama keenakan kamu. Jadi laki-laki gak kerja tapi bisa dapat uang'
"Kamu tau kalai Kakak iparmu itu sudah punya istri yang lain?"
"Awalnya si gak tahu. Tapi setelah kak Yola resmi jadi istri kak Rudi, baru saya tahu."
"Kamu tahu semuanya, terus kamu gak coba nasehatin kakakmu?"
"Udah, si mbak. Tapi...ya begitulah, kak Yola."
"Dengar, ya. Kalau orang yang bersalah terus menerus dimaafkan tanpa adanya sangsi dari kesalahannya, maka ia akan menjadikan kesalahannya itu sebagai kebiasaan."
"Hmm.." Dero bergumam.
"Apa kamu yakin kamu sama kakakmu gak punya maksud lain dengan pernikahan ini? Menguasai rumah ini, misalnya. Atau mengusirku pergi?"
"Apa? Tidak...!" kata Dero membantah sambil mengoyang-goyangkan telapak tangan dihadapan Naya.
Mereka diam sejenak, Naya melanjutkan mencuci piring dan Dero hanya memperhatikannya sambil berkata.
"Terimakasih mbak Naya sudah baik sama kak Yola. Banyak istri pertama yang berkelahi atau menyiksa istri muda suaminya."
"Aku justru lebih muda dari Yola. Oh, ya. perbuatan yang kamu bilang itu yang aku gak suka. Menzolimi orang lain sama saja menzolimi diri sendiri. Makanya aku gak suka sikap kasar seperti itu."
'Gak semua istri pertama itu lebih tua dan gak semua istri kedua itu lebih muda. Ini kasus yang berbeda. Tapi dimana-mana sudah seperti mengakar dimasyarakat, bahwa istri yang dinikahi pertama kali itu pasti lebih tua makanya dengan mudah akan disebut dengan istilah istri tua atau istri muda'
"Deroo..." teriakan Yola terdengar dari ruang tamu, ia harus kembali bekerja karena jam makan siang sudah selesai.
"Iya, kak...! Mbak Naya. Makasih sekali lagi ya." kata Dero sambil berlalu meninggalkan Naya di dapur.
Mereka sudah pergi, Sarita, Yola dan Dero. Tinggal Naya yang masih harus menemani Rudian duduk sambil menonton televisi.
"Apa hukumnya kalau suami suka ngasih uang untuk orang lain tapi tidak bisa ngasih uang untuk istri sendiri." kata Naya yang duduk di samping suaminya.
"Kamu ini ngomong apa, masih saja soal uang. Ternyata kamu matre juga ya, Nay" kata Rudian sambil memindahkan chanel tivi dan melirik Naya sekilas.
Entah kenapa hati Naya seperti dilubangi dengan pecahan kaca mendengar suaminya bicara. Sedikit tapi nyelekit diulu hatinya. Sebenarnya soal nafkah ini dimanapun kalau dibahas akan menjadi hal yang sensitif.
Banyak lelaki yang sudah berkeluarga, tidak sadar kalau dirinya harus menafkahi dan memenuhi semua kebutuhan sehari-hari sebagai kewajibannya. Juga masalah pekerjaan rumah, yang mereka anggap bukanlah kewajibannya melainkan kewajiban perempuan, sehingga ia tidak harus membantu pekerjaan rumah para wanita.
Laki-laki seperti ini akan berfikir bahwa nafkah bisa diberikan kalau dia mampu, tapi kalau tidak mampu maka ia boleh tidak memberikannya. Sementara istri bila suaminya tidak mampu menafkahi, maka ia harus sabar dan menerima. Bahkan kalau bisa, istri harus membantunya mencari nafkah. Kalau tidak maka ia harus mau mengerti kalau kebutuhan hidupnya tidak terpenuhi.
__ADS_1
Ada juga sebagian laki-laki yang merasa bahwa uang yang Allah titip kan pada dirinya adalah milik pribadinya hingga ia tidak atau lupa bahwa dalam setiap rezeki yang Allah berikan itu ada hak orang lain atau hak istrinya.
"Kanda kok bisa nilai aku kayak gitu si. Aku ini istri kanda. Masa ngomongin istri sendiri begitu. Kalau matre hanya sekedar untuk kebutuhan sehari-hari itu wajar, Nda."
"Ah, sudah lah aku gak mau bahas ini lagi." kata Rudian beranjak ke kamarnya dan tidur. Karena pengaruh obat ia jadi lebih mudah mengantuk.
-
Naya berada di halaman restoran menunggu bu Nha yang akan memgajaknya berbelanja ke pasar dan pusat grosir, untuk membeli beberapa bahan-bahan makanan yang sifatnya awet. Sedang kan bahan makanan yang lain yang mudah rusak seperti sayuran, ikan dan daging, biasanya ada yang memasok secara berkala dan menjadi langganan belanja bu Nha.
Biasanya sepekan sekali, bu Nha akan mengajak salah satu pegawainya menemani. Hari ini giliran Naya. Ini kesempatan besar bagi para karyawan yang mendapatkan giliran, sebab biasanya bu Nha akan memberikan bonus makan ditempat-tempat tertentu yang disukai bu Nha. Dan yang paling menyenangkan adalah bisa menikmati makanan itu secara gratis.
"Ayo, Naya!" kata bu Nha dari dalam mobilnya. Mereka berangkat menuju pasar bersama suami bu Nha yang menjadi sopir mereka.
Sampai di pusat grosir mereka berbelanja saling bahu membahu membeli dan membawa berbagai macam barang ke dalam mobil. Naya tampak bersemangat. Baru dua hari ia mulai bekerja lagi di restoran, setelah lama cuti merawat suaminya, ia sudah mendapat bonus belanja. Ia menganggap ini hiburan.
Biar bagaimanapun ia hanyalah wanita biasa yang butuh hiburan setelah beberapa hari mendapatkan cobaan yang tidak mudah. Bahkan kini setiap ia berangkat bekerja, ia harus bersabar menahan gejolak cemburu di hatinya.
Setiap pagi ia terpaksa harus pergi bekerja sendiri dengan menumpang ojek atau angkutan umum sedang suaminya membonceng wanita lain di depan matanya dengan alasan arah mereka sama sedang arah tempat kerja Naya, berbeda. Sebenarnya Naya ingin protes karena dulu Rudian selalu mengantarnya terlebih dahulu tapi sekarang suaminya itu tidak mau dengan berbgai alasan.
"Ayo kita pulang, kita sudah selesai sekarang." kata bu Nha sambil masuk kedalam mobil dan diikuti oleh Naya.
Selang beberapa menit berlalu mobil dihentikan oleh bu Nha dan suaminya. Mereka mengajak Naya makan disebuah foodcourt yang menyajikan berbagai macam menu andalan yang berbeda disetiap standnya.
Naya memilih makanan yang sama yang dipilih oleh bu Nha dan suaminya. Karena sebagai adab dalam bergaul bila ada seseorang mentraktir makanan maka pesan lah makanan yang sama atau biarlah orang yang mengajak, yang memilihkan makananannya.
"Naya, gak usah malu. Gak perlu beli makanan yang sama. Pesan saja sesuai keinginan kamu." kata bu Nha yang diangguki suaminya.
"Ini yang Naya mau, bude. Sama sama bude sama pakde. Alhamdulillah. Naya gak mau yang lain lagi, ini saja cukup."
"Ya, sudah. Kamu gak sama ya sama teman-teman kamu itu, biasanya mereka aji mumpung. Pesan juga buat take away." kata bu Nha jujur membuat Naya tertawa. Sebab bu Nha seperti kesal dibuatnya. Tapi karena sudah kesepakatan membuat bu Nha menahan kesalnya saja.
Tiba-tiba Naya mengentikan tawanya ketika secara tak sengaja matanya menangkap sebuah bayangan seseorang yang sangat dikenal sosoknya. Mereka adalah Yola, Rudian dan Dero.
Naya melihat suami, istri dan saudara ipar itu tengah asyik menyantap makanan yang cukup banyak di atas meja. Mereka terlihat sangat akrab bahkan Rudian terkesan mesra.
"Ada apa, Nay? kok bengong!" pekik bu Nha sambil menatap kesekililing mereka. Wanita itu melihat ekspresi wajah Naya tiba-tiba berubah.
"Ah, mungkin aku salah lihat lagi." gumam Naya nyaris tak terdengar.
"Naya!" bu Nha kembali memanggil Naya untuk memulihkan kesadaran Naya dari rasa terkejut nya. Kebetulan apalagi ini. Apakah Allah sengaja menunjukkan semua ini satu-persatu.
__ADS_1
'Apa yang harus aku lakukan kali ini?'
"Maaf, bude. Tadi aku salah lihat orang."