
Naya bergegas menuju rumah sakit dengan menggunakan taxi. Dero hanya memberikan informasi di rumah sakit mana Rudian dirawat. Semua barang yang sudah ia bereskan dalam tas, ia tinggalkan begitu saja di sana. Setelah sampai di rumh sakit, ia segera menanyakan dimana Rudian dirawat pada layanan informasi.
Sampai dikamar yang dimaksud, Naya berdiri sejenak, ia masih ragu apakah ia akan meminta Rudian menandatangani surat cerai itu saat ini juga atau nanti ketika ia sudah sembuh? Demi alasan kemanusiaan, Naya menunda keinginannya, tapi di sisi lain ia sudah tidak punya tempat tinggal juga bibinya akan segera berangkat, apa tindakannya kali ini? Keraguan itu ia tepis, lalu ia melngkah masuk.
'Nanti saja, lihat dulu kondisinya'
Setelah Naya membuka pintu kamar dimana bangsal Rudian berada, ia mencium bau yang tidak sedap, serta keadaan kamar yang berantakan, bekas makanan di meja, pakaian kotor dilantai, dan,
'Bau apa ini? Seperti kamar yang sudah berhari-hari tidak dibersihkan saja, apa gak ada yang nunggu di sini?'
Naya melihat Rudian tergolek lemah, ada selang infus terpasang di tangan kirinya, ia tampak tertidur pulas. Ia berdiri di sisi tempat tidur, hanya ada Rudian di sana, tidak ada orang lain, kamar ini kamar untuk dua orang tapi ranjang yang lain kosong.
Karena penasaran dengan bau yang tidak sedap, Naya segera memeriksa sekitar kamar, ia tidak akan membangunkan Rudian. Karena rasa kasihan dalam benaknya. Naya mulai membersihkan meja kecil di sisi ranjang, memasukkan sampah dalam satu kantong plastik yang ada serta membereskan pakaian kotor dalam satu kantong yang lain.
Ia kembali mendekati Rudian dan akhirnya ia tahu kalau bau yang tidak sedap itu berasal darinya, pakaian kotor itu juga menyebarkan bau yang sama.
Dengan hati-hati ia membuka selimut yang ternyata sudah basah oleh cairan kotoran yang mungkin keluar dari tubuh Rudian. Melihat semua ini, Naya berinisiatif membeli popok instan untuk dewasa yang biasa digunakan untuk keadaan darurat seperti sekarang ini.
Naya kembali setelah menemukan yang ia cari di toko terdekat dengan rumah sakit. Sampai di kamar itu, kini Rudian tidak sendiri, ada Yola dan Sarita yang sepertinya batu saja sampai.
Ketika mereka mepihat Naya, mereka berdua seperti baru saja menemukan orang yang sudah lama mereka rindukan. Naya juga terkejut mendapatkan sambutan hangat seperti ini dari orang yang telah menyakiti hatinya.
"Naya, akhirnya, kamu datang, na?" tanya Sarita lembut sambil memeluk Naya.Mendapatkan teguran seperti itu Naya hanya tersenyum dan mengangguk.
"Apa kabar, Nay?" tanya Yola, sambil mengulurkan tangannya menyalami Naya.
"Aku baik. Alhamdulillah." jawab Naya tenang.
Naya tidak mengatakan apa-apa lagi. Ia merasa tidak perlu banyak bicara dengan dua wanita ini. ia mendekati Rudian yang sudah membuka matanya, tapi hanya melihat ke atas, kelangit-langit rumah sakit, tidak berkedip, bahkan tidak melihat dirinya.
'Rudi, kamu sudah bangun?" tanya Naya, sambil menyimpan popok dewasa yang ia beli di meja.
"Oh, jadi kamu yang tadi sudah kesini, beresin kamar ini, Naya?" tanya Sarita sambil menepuk bahu Naya, dan Naya hanya mengangguk.
Rudian tidak menjawab, tapi ia menggapai-gapai tangannya seolah mencari sesuatu. Naya membiarkannya, ia justru menyibakkan selimut dan memasukkannya ke dalam tempat pakaian kotor.
"Siapa kamu?" tanya Rudian ketika tangannya yang menggapai-gapai tadi berhasil menyentuk pundak Naya.
'Kenapa dia, apa dia gak bisa lihat aku?'
"Ini aku, Naya." jawab Naya sambil mengerutkan alis dan menoleh pada Sarita, meminta penjelasan. Tapi wanita paruh baya itu justru menangis dengan membekap erat mulutnya sendiri. Ia berbuat seperti itu agar suara tangisannya tidak keluar.
"Naya!" kata Rudian, seperti berusaha menyentuh tubuh Naya lebih banyak, atau ia seperti berusaha memeliknya. Naya mendekati Rudian dan seketika itu juga Rudian memeluk Naya erat.
Sementara Yola hanya bersungut-sungut sambil membuang pandangan. Ia tidak marah, bahkan membiarkan apa yang dilakukan suaminya, ia sudah menduga kalau seandainya Rudian bertemu dengan Naya, pasti ia akan memeluknya.
'Ini darurat, dia sakit dan buta. Tapi kenapa?'
__ADS_1
Kalau ia sadar dan baik-baik saja, maka bersentuhan tanpa izin darinya pada masa iddah tidak diperbolehkan. Kecuali berniat untuk rujuk.
"Apa kabar, Naya? Kamu baik-baik saja, kan? Aku tahu kamu pasti datang cepat atau lambat," kata Rudian sambil tersenyum. Lalu melepaskan pelukan.
"Hmm..." Naya menanggainya dengan bergumam. Lalu berjalan ke kamar mandi. Menyiapkan alat untuk membersihkan Rudian.
"Kamu menginaplah di sini, aku mau ngomong sama kamu," kata Rudian lagi.
Naya menyiapkan lap dan ember berisi air. yang sudah ada di kamar mandi, membawanya ke arah Yola, sambil berkata.
"Gak tau nanti, apa aku bisa nginap atau tidak di sini," matanya menatap Rudian dan Yola bergantian.
Tiba-tiba Yola berlari ke kamar mandi dan ia muntah-muntah dengan suara yang keras dan cukup lama. Naya menarik nafas dalam. Lalu membuka pakaian Rudian tanpa rasa jijik dan mulai membersihkannya, dan memakaikan diapers padanya. Setelah selesai, ia berkata,
"Mana baju gantinya?" mengulurkan tangan pada Yola.
Dengab wajah pias dan menutupi mulutnya, Yola memberikan satu stel piyama tidur yang biasa dipakai oleh Rudian. Naya masih ingat, ia dulu yang sudah membelikan piyama itu untuknya.
Naya hampir saja mengeluarkan air mata, sedang Sarita dari tadi hanya menangis tanpa suara. Ia mengambil makanan khusus pasien ketika pakaian sudah rapi melekat ditubuh Rudian.
"Rudi, makan, ya. Ini makananmu masih utuh. Kamu mau makaj sendiri atau disuapi?"
"Suapi aku ya? Aku gak bisa duduk." kata Rudian tanpa beban, ia seperti sudah pasrah sama penyakitnya.
Naya menambah satu bantal pada kepala Rudian agar ia bisa makan dengan nyaman, Rudian hanya bisa menggerakkan kepala, tangan dan jari-jari kakinya, swlain itu ia hampir tidak bisa melakukan apapun.
"Kamu masih kerja di restoran?" tanya Rudian disela-sela makan.
"Kamu masih ditempat kos yang dulu?"
"Masih"
"Tapi ada apa bilang, sebelum aku sakit, tempat itu masih dalam sengketa tanah. Kok bisa?"
"Jangan berpikir urusan orang lain. Kamu saja masih sakit. Lebih baik mikirin diri sendiri saja." kata Naya sambil terus menyuapi makan Rudian. Sebentar-sebentar ia menoleh pada Yola yang sibuk dengan ponselnya. duduk di ranjang pasien yang kosong disebelah ranjang Rudian.
'Sfatnya gak berubah, padahal suaminya sakit'
Walau agak susah, akhirnya proses makan sambil tidur itu selesai. Naya tampak tersenyum puas. Memang Rudian makan selahap ini setiap hari, kemauannya untuk ssmbuh sangat besar, walau ia tahu kemungkinannya kecil.
Kelainan otak yang ia derita sudah sampai pada tahap perkembangan akhirnya, setelah proses selama bertahun-tahun. Multiple clerisis, atau skkerosis ganda, gangguan syaraf pada otak yang bisa mengakibatkan kebutaan atau gangguan tulang belakang, dan gangguan gerakan tubuh. Kelainan ini akan bersifat sementara bila tidak dibarengi dengan gangguan lain pada otak. Tapi gangguan lain mengakibatkan kelumpuhan fungsi otak pada Rudian yang disebabkan oleh kecelakaan yang pernah dialaminya, menjadikan kondisinya terus menurun dari waktu ke waktu.
Setelah Rudian tertidur karena obat yang sudah diminumnya, Naya duduk berdampingan dengan Sarita diruang tunggu rumah sakit. Dengan menarik nafas dalam, Naya mendengar semua yang Sarita ceritakan padanya bagaimana kejadian hingga Rudian jadi seperti sekarang ini.
Naya terdiam, merenung sambil memandang gelapnya malam diluar sana ditemani cahaya lampu dan kerlip bintang. Karma-kah? Bukankah ini baru satu bulan, benarkah karma itu ada, dan kalau memang ini adalah karma bagi Rudian, mengapa ia juga mengalami sakit yang sama? Jujur ia masih mencintainya, masih ada rasa sayang untuk Rudian, bahkan kadang ia masih merindukan saat-saat bersama.
'Apakah aku orang yang naif, masih menyayangi orang yang sudah menyakiti dengan rasa sayang sedalam ini? salahkah perasaanku?'
__ADS_1
Sakit rasanya melihat orang yang disayanginya mengalami nasib seperti ini. Pantas saja rambut Rudian cepat sekali memutih, padahal ia masih sangat muda. Dulu Naya menganggapnya karena kurang nutrisi atau karena Rudian suka memakai minyak rambut secara berlebihan. Rudian sudah sangat pelupa dalam segala hal, dan ia tampak tidak bertambah gemuk walau banyak makan.
Menurut cerita Sarita, Sudah tiga hari ini Rudian tidak lagi dirawat di ruang ICU dan harus menggunakan Kardiograf. Nanti kalau sehari sampai besok perkembangannya bagus, maka ia boleh pulang. Maksudnya perkembangan yang bagus adalah Rudian tidak lagi membutuhkan infus sebagai tambahan obat dan vitamin untuk tubuhnya. Tapi ia akan tetap dalam kondisinya yang sekarang ini. Kalau ia bernasib baik, maka tulang punggung dan saraf pada matanya bisa berfungsi kembali.
-
Sarita saat itu sedang berkunjung kerumah Rudian, karena ia ingin melihat sendiri hasil dari pemeriksaan ultra sonografi dari janin yang dikandung oleh Yola. Ia datang dengan membawa makanan sesuai permintaan Rudian, karena ia ingin berhemat agar bisa menabung lebih banyak. Kebutuhannya bertambah, karena adik Yola sekarang ada di rumah dan ia masih belum menghasilkan uang. Jadi Yola dan Rudian masih harus menanggung hidupnya secara bersama-sama, sedang keperluan bayi dan biaya melahirkan tetap harus dipikirkan.
Saat Sarita datang, rumah dalam keadaan berantakan dan tidak ada makanan. Hingga begitu Sarita membawa makanan, Rudian segera makan dengan lahap. Ia seperti sudah seharian tidak makan. Sedang Yola terlihat sedang bersantai di tempat tidur, dan Dero entah kemana.
Saat itu Sarita meminta Yola membantunya membereskan rumah dan menasehatinya agar tetap banyak bersih-bersih, agar bayinya kelak berkulit putih. Mitos seperti ini masih banyak dikalangan masyarakat. Saat hamil harus begini dan begitu biar kelak bayinya bisa begini dan begitu.
Saat itu tiba-tiba Yola berlari ke kamar mandi dan muntah-muntah, cukup lama ia seperti itu di sana. Karena panik, Rudian berjalan dengan cepat menyusul Yola, sambil memanggil nama YolaIa. Ia tidak memperhatikan lantai yang licin, Sarita baru saja mengepelnya. Hingga Rudian terpeleset, dan jatuh, kepalanya membentur dinding, dan naasnya lagi, ketika ia hendak bangkit ia menggapai dan menggunakan sisi meja untuk menopang berat tubuhnya. Karena pusing dan vertigo yang dirasakannya, Rudian kembali terjatuh dan kepalanya kembali terbentur untuk yang kedua kalinya, tepat dibagian belakang kepalanya.
"Rudian...!!" pekik Sarita saat Rudia terlihat seperti pinsan dan tak bergerak.
"Rudian! Rudian!" kata Sarita sambil menangis dan berteriak, sementara Yola menghampiri tubuh suaminya dengan rasa bersalah, tapi tak berdaya.
"Kenapa bang Rudi, bu?" tanya Yola sambi menggoyang-goyangkan tubuh Rudian.
"Cepat telepon bulan!" teriak Sarita lagi dengan panik. Yola melakukan panggilan pada layanan kesehatan setempat.
Sarita masih berjuang, ia menepuk-nepuk pipi anaknya dengan keras agar segera terbangun, tapi ternyata Rudian tidak bisa bamgun hingga keesokan harinya.
Tak lama ambulanpun datang dan segera membawa tubuh Rudian yang pinsan ke rumah sakit, hingga kemudian oleh dokter ia divonis koma.
Saat Rudian koma di ruang observasi gawat darurat, tubuh Rudian seperti mayat yang bernafas. Ia benar-benar tak berdaya. Awal dirawat di sana, Sarita tidak pernah bisa menghentikan tangisannya, ia merasa sangat bersalah karena ia tidak hati-hati dalam bertindak, ia sangat merasa bersalah pada Naya juga. Bahkan ia takut kalau inilah yang disebut karma.
Selama dua hari di riang icu rumah sakit, Rudian hanya menerima nutrisi ditubuhnya melalui infus hingga tubuhnya terlihat lebih kurus. Kenyataan pahit yang lain adalah bahwa ia tersadar dalam keadaan tidak bisa melihat, karena fungsi otaknya terganggu. Juga rusaknya tulang punggung yang menyebabkan ia juga tidak bisa bergerak bebas.
Sarita sering menangis, hingga ia tak sanggup menjaga Rudian di rumah sakit. Pernah dalam waktu satu atau dua hari tidak ada seorang pun yang menunggu Rudian di rumah sakit. Yola dan Sarita akan datang sehari sekali saja bila Yola pulang kerja, dan akan ditinggal kalau malam sudah.tiba.
Sarita masih syok, Yola akan sering muntah-muntah atau lelah karena harus bekerja, Dero tidak mungkin menjaga, ia tidak pernah mau, bahkan anak itu menyarankan agar membujuk Naya. Bastian harus bekerja, karybiaya rumah sakit akan ditanggung berdua dengan Yola dan Bastian. jadi seperti itu lah hasilnya, Rudian hanya akan dijenguk saja setiap hari. Padahal Rudian tidak bisa bergerak, maka wajar saja kalau ia sampai buang kotoran di atas kasur bangsal rumah sakit.
"Jadi, sekarang ibu gak mau tinggal dirumah sakit? Gimana Rudi akan sembuh kalau seharu-harinya ia merasa ditinggalkan? gak ada ibunya, gak ada istrinya?" tanya Naya pada Sarita yang sudah mengakhiri ceritanya.
Wanita setengah baya Itu kemudian meraih tangan Naya dan memintanya untuk menunggu Rudian.
"Naya, ibu mohon. Jagalah suamimu itu, kau masih istrinya karena masa iddahmu belum habis dan kau masih bisa rujuk, gimana?
" Ibu..."
"Naya, pikirkan sekali lagi..."
Naya tertawa kecil mendengar permohonan Sarita. Ia merasa menjadi orang bodoh yang dikendalikan hidupnya hanya untuk kepentingan pribadi semata.
"Nanti kalau saya mau merawat Rudian, saya juga yang harus mau cari makan sendiri, saya juga tetap harus bayar tempat tinggal sendiri, beli diapers sendiri, beli kuota sendiri, harus mau mencuci pakaian Rudian sendiri, harus apa lagi yaa..." kata Naya masih ada sisa kenangan pahit dengan semua maslah masalalunya.
__ADS_1
"Naya," kata Yola tiba-tiba Yola memanggilnya. Lalu berkata lagi, "Kalau kamu mau jadii abang, kamu gak usah repot soal makan. Tenang soal semua itu, aku yang urus. Naya mencoba tidak perduli.
Ia ingat dulu, waktu ia masih menjadi istri Rudian, sebesar apapun ia mencoba tak perduli, pada akhirnya ia tetap kalah, dan kembali perduli.