
Malam harinya Naya gelisah ditempat tidur, matanya tak juga terpejam, meski ia berusaha membuat dirinya tidur. Naya mencoba menghubungi suaminya, menanyakan kapan ia akan pulang. Setelah beberapa lama telpon tak juga diangkat.
"Halo, Kanda..." kata Naya setelah beberapa lama kemudian akhirnya terdengar suara sang suami menyambut panggilan telponnya.
"Ada apa? kan sudah kubilang aku akan pulang malam. Tidur saja dulu. Tak usah menungguku." kata Rudian dari balik telpon.
"Iya, tapi ini sudah jam berapa, Kanda? Hampir jam satu malam!" kata Naya kesal.
" Apa kanda mau tidur disana?"
"Ya sudah, anggap saja aku menginap. Jadi kamu gak perlu repot." lalu terdengar, tut. Suara telpon ditutup secara sepihak.
Naya menatap layar telepon yang menggelap. Rasa aneh dan gelisah menghantuinya. Ada apa ini? Ia sendiri tak mengerti, ada perasaan tidak tenang yang tiba-tiba mengganggunya.
Naya meninggalkan tempat tidurnya, mengambil aif wudhu dan menunaikan sholat malam. Memohon kekuatan dan ketenangan. Memasrahkan seluruh jiwa raga hanya pada penciptanya.
Hingga akhirnya ia tertidur diatas sajadah.
Keesokan harinya, Naya bangun setelah mendengar suara nyaring alarm dari ponselnya, yang menjadi pertanda waktu subuh sudah dekat. Naya kembali mengambil air wudhu di kamar mandinya.
Setelah selesai, ia kembali ke kamarnya dengan perasaan sepi. Rudian benar-benar tidak pulang lagi malam ini. Mengapa hubungan ini menjadi seperti ini? pikirnya. Apa yang salah dengan dirinya, benarkah karena tidak memiliki anak membuat seorang suami boleh mengabaikan istrinya?
Pernikahannya dulu sangat sederhana, Naya mencintai Rudian apa adanya, begitu pula Naya. Mereka bertemu saat mereka sama-sama menjadi karyawan pabrik disalah satu perusahaan swasta.
Setelah menemukan kecocokan, dan juga merasa sudah cukup lama saling mengenal, mereka pun akhirnya menikah. Walaupun pesta pernikahan mereka digelar dengan sederhana, tapi pernikahan itu sangat membahagiakan kedua pihak keluarga yang merestui hubungan mereka.
Mereka berasal dari satu suku yang sama, dalam kota metropolitan itu. Ini mungkin sebuah kebetulan, sebab di kota ini banyak terdapat aneka ragam suku, terlebih lagi mereka sama-sama perantau. Bertemu dan saling mencintai dalam satu suku yang sama sangat melengkapi kebahagiaan.
Naya menyelesaikan sholatnya, lalu bersiap membuat sarapan seperti biasanya sebelum berangkat bekerja. Ia terlebih dahulu menelpon Rudian kembali untuk mengingat kan agar suaminya tidak terlambat sholat subuh.
"Halo, Kanda." kata Naya setelah lama telpon baru diangkat.
"Apa lagi? mau diantar kerja? Aku gak bisa" balas Rudian dari seberang telepon.
"Bukan itu. Hanya mau mengingatkan sholat subuh. Kanda tidur dimana?"
__ADS_1
"Tidur di rumah ibu..." Jawab Rudian
"Kenapa tidur di sana?"
"Lebih dekat dari rumah temanku, daripada pulang."
"Ya Allah kanda, malu dong sama ibu, pulang malam-malam. Kasihan, ibu pasti terganggu."
"Tidak. Ibu memang menungguku. Aku juga sudah sholat. Kamu nanti berangkat sendiri saja ya" tut.
Lagi-lagi telepon ditutup secara sepihak oleh Rudian.
Naya, "......"
'Apa maksudnya ibu menunggu kanda? Apa mereka sudah janjian di rumah. Tapi kenapa tidak sekalian mengajakku. Atau itu hanya alasan saja?'
Banyak pertanyaan menggenangi otak Naya. Ia jadi tak semangat membuat sarapan. Kini ia hanya duduk di sofa kecilnya dan memainkan ponsel ditangannya. Berusaha menepis pikiran buruk tentang suaminya.
Haruskah ia menyelidiki suaminya? Tapi ia kembali meyakinkan dirinya, bahwa apapun yang terjadi dalam rumah tangganya dikemudian hari, adalah yang memang mesti terjadi. Allah tidak akan membiarkan sesuatu terjadi pada hamba-Nya kalau tak ada ijin dari-Nya. Bukankah satu daun yang gugurpun atas sepengetahuan-Nya? Apalagi kalau sebuah ujian dan cobaan pada manusia, pastilah Allah mengetahuimya. Ia yakin Allah menguji hanya sebatas kemampuan manusia yang diuji-Nya.
Hari ini ia berangkat lebih pagi. Ia harus menunggu angkutan umum untuk sampai di restoran.
"Bismillah..." bisiknya pelan ketika menaiki angkutan umum yang akan membawanya ke tempat kerja.
Naya bekerja di restoran itu baru dua tahun yang lalu, ketika ibu mertuanya mengatakan kalau ia harus banyak istirahat agar bisa cepat hamil.
Saat itu, demi memenuhi keinginan ibu mertua dan juga ia memang ingin memiliki anak, Nayapun berhenti bekerja dari perusahaannya.
Namun karena ia dan suami masih harus membayar cicilan rumah, ia memilih bekerja di restoran bu Nha, atas rekomenfasi Bastian, kakak iparnya, kakak Rudian satu-satunya.
Ibu mertuanya pun menyetujui, karena bekerja disana menurutnya tidak terlalu lelah, dan bisa istirahat lebih banyak, disela-sela waktu luangnya.
Bekerja di restoran itu, Naya mendapatkan gaji yang kecil, tidak sama saat ia bekerja di pabrik. Tapi setidak-tidaknya, dengan sedikit penghasilannya, Naya bisa membantu meringankan beban Rudian, sebagai penanggung jawab rumah tangga. Uang gaji Naya, biasa digunakan untuk makan dan membayar listrik. Sedang penghasilan Rudian untuk membayar cicilan Rumah.
Mereka memang belum memiliki anak, tapi biaya pengeluaran untuk menopang hidup mereka berdua di kota Metropolitan seperti itu, cukup besar pula.
__ADS_1
Naya sampai di restoran lebih pagi dari biasanya, bu Nha dan suaminya masih sibuk mempersiapkan bahan-bahan makanan yang akan dimasak oleh koki nantinya. Naya membantu apa saja yang bisa ia lakukan. Hal inilah yang membuat Naya sangat disayang oleh bu Nha, sebagai pemilik restoran. Selain karena rajin, Naya adalah menantu dari keluarga Sarita. Bu Nha sudah berteman dengan Sarita cukup lama.
Setelah beberapa hidangan untuk menu sarapan sudah siap, Naya mulai mempersiapkan beberapa meja dan mulai membersihkannya, melipat tissu dan merapikan segala pernak-perniknya. Teman-teman seprofesi juga sudah berbiap.
Tak lama, beberapa pelanggan mulai berdatangan, tentu saja mereka yang belum sarapan dari rumah dan harus pergi bekerja tepat waktu.
"Ajumma!" terdengar suara keras tapi nyaring dibelakang Naya.
Wanita berjilbab merah yang memakai celemek khas seragam restoran itu menoleh. Ia tersenyum lebar begitu mengetahui siapa yang datang sambil berteriak padanya dengan memanggilnya ajumma. Seorang gadis cilik dengan pipi gembil yang tersenyum manis itu mendekati Naya.
"Yoni?!" Sahut Naya. Ia langsung menghampiri dan memeluk gadis mungil yang membawa tas kecil dipunggungnya.
Ahk, wajah imut itu, sudah seperti merangkum seluruh dunia dan membuatnya menjadi sebuah wakah dengan rupa yang manis, Yoni!
Ssketika kegelisahan yang masih membayang dihati Naya, seolah lenyap begitu saja. Apakah wajah tak berdosa itu yang sudah melenyapkannya? Wajah tanpa dosa yang seperti melukis kerinduan dihatinya.
"Hei, mau sarapan, ya?" Kata Naya sambil menarik tubuh kecil Yoni dalam pangkuannya. Yoni mengangguk.
"Mana, kakak?" tanya Naya lagi
"Raya sekolah," jawab Ares tanpa melihat pada Naya.
Naya pun sama, ia tidak memperhatikan Ares. Ia seperti menganggap Ares tidak ada, seperti udara yang menguap begitu saja.
"Oh iya, ya. Ini masih pagi. Tentu saja kakakmu sekolah. Yoni belum sekolah?" tanya Naya dan Yoni pun mengangguk.
"Ayo Yoni, sini. Makan dulu" kata Ares sambil menarik sebuah kursi lalu menaruh sebuah piring yang sudah terisi makanan di atas meja. Melambai pada Yoni agar menghampirinya.
Naya menurunkan Yoni, anak itu segera menghampiri Ares.
"Ajumma! Cini!" Kata Yoni sambil melambai pada Naya.
'Ajumma, itukan bahasa korea. Siapa yang mengajari anak itu? Panggilan yang manis' Naya.
Naya menatap anak kecil yang tengah duduk manis di samping papanya dengan perasaan campur aduk. Ia seperti orang yang sedang jatuh cinta.
__ADS_1
Bersambung