Diujung Harapan

Diujung Harapan
Eps 79. Tidak Mungkin Menghindar


__ADS_3

Setelah Raya duduk bersama dengan mereka bertiga, ia menyimpan tas besarnya dan kemudian menjawab pertanyaan Naya satu persatu. Ia sudah mengetahui alamat rumah Naya, hingga ia berusaha untuk mencari alasan agar bisa pergi ke rumah Naya sendirian tanpa ditemani Papanya.


Mendengar pernyataan dari Raya itu, Naya pun tersenyum lega. Hingga mereka melanjutkan obrolan mereka. Mengobrol bersama orang dewasa, menjadikan pengalaman berbeda bagi Raya. Ada lebih banyak pengalaman dan pengetahuan yang ia dapatkan, dari ketiga orang dewasa yang ada di sekelilingnya. Selama ini Raya selalu dibatasi pergaulannya karena Ares sangat perhatian dan peduli kepada anaknya itu.


Dari ketiga orang yang ada disebelahnya Raya mengetahui bahwa mereka bertiga adalah sesama teman yang saling peduli dan baik hati. Selain itu Raya juga mengerti bahwa Ida adalah salah satu orang yang menyewa kamar kos di tempat Naya, yang secara tidak langsung menjadi teman.


Tak lama Naya melihat jam di dinding rumahnya, yang menunjukkan bahwa waktu sudah sangat sore, untuk anak-anak seusianya, berada di luar rumah. Sebentar lagi waktu magrib tiba. Naya pun mengungkapkan kekhawatirannya pada Raya.


"Raya, ini sudah hampir maghrib, bagaimana, apa kamu mau pulang sekarang?" tanya Naya dengan wajah khawatir.


Raya menjawab, " tenang Uma, Raya mau menginap. Raya sudah minta izin kok, sama Papa." Ia tersenyum mnis. Sekali lagi Naya tersenyum lega dan ia senang Raya ada di sana, sehingga mereka bisa berbincang-bincang lebih lama.


"Nanti kamu tidurnya sama kakak, saja ya?" kata Ida sambil merangkul bahu Raya.


Tapi anak remaja itu menolak dan melepaskan tangan Ida, yang ada di bahunya, sambil berkata, "Enggak ah, aku mau tidur sama Uma saja."


Dan tak lama suara adzan maghrib pun terdengar. Rama berpamitan untuk pulang. Ia berkata,


"Ya sudah kalau gitu, aku pulang dulu ya? Besok ketemu lagi. Inget Ida, jangan mau dijemput sama pak Rama!"


Ida mendengus kesal sambil menjawab, "Pulang, memangnya kamu punya rumah di sini? Gak usah ngatur aku, kalau gak bisa nganterin aku..."


Rama tertawa mendengarnya kelakar Ida, lalu berkata, " kamu mau dianterin aku pakai apa. Pakai bus, angkot? Ayo. Tapi bayar sendiri ya?" mereka semua tertawa mendengar candaan Rama, karena memang Rama tidak membawa kendaraan ke tempat kosnya.


Malam pun terus melaju, Raya dan Naya melewati waktu-waktu mereka bersama, dengan penuh canda dan tawa. Mereka salat berjamaah, menyimak tadarus dan belajar. Raya menyusun buku pelajarannya untuk besok. Naya memperhatikannya.


"Wah, pantas saja kamu bawa tas sebesar ini. Ternyata isinya baju ganti dan buku-buku buat besok?" kata Naya, ia duduk di sisi tempat tidur di kamar Naya.


"IIya Uma, tapi kalau boleh, aku menginap sampai dua hari ya di sini?" tanya Raya menatap Naya penuh harap.


Naya tersenyum kemudian menepuk-nepuk bahu Raya sambil berkata, " boleh, asal kamu sudah kabari papa, dan bilang nginepnya di rumah temen, jangan bilang di rumah Uma."


"Iya, tapi rumah Uma juga rumah teman aku, ya kan? Uma pokoknya yang terbaik deh!" Kata Raya sambil memeluk Naya.


Naya merasa malam Ini Istimewa, karena Ida ada di rumah. BIasanya wanita itu selalu pulang larut malam. Dan juga ada Raya bersamanya, hingga Naya memutuskan untuk mengajak mereka makan malam di luar rumah.


Naya mencari tempat makan sederhana yang berada dilingkungan tempat tinggalnya. Di sana ada lesehan pecel lele yang tidak jauh dari rumah Naya. Tempat-tempat makan seperti ini bisa ditemui dihampir setiap sisi jalan utama kota.


Secara tidak sengaja, mereka bertemu dengan Rama tengah makan malam juga. Akhirnya mereka pun memesan makanan mereka. Dan kembali mereka terlibat obrolan yang menarik, disela-sela makan malam itu, hingga tanpa terasa makan malam mereka selesai.


Mereka berjalan beriringan menuju rumah masing-masing. Namun ssbelum tiba di belokan rumah Naya, Rama memanggilnya hingga mereka berdua berjarak agak jauh dari Ida dan Raya.


" Kalau nggak salah ingat, anak itu yang pernah ketemu dengan kita di supermarket, waktu itu aku lihat ada Pak Ares juga. Jangan bilang kalau anak itu anak Pak Ares?" kata Rama.


Naya mengangkat kedua alisnya lalu tersenyum, dan berkata, "mmang iya, itu anak pak Ares."


"Hmm. Jadi seperti itu. Kalau begitu, hubungan kamu sama pak Ares itu sudah lama dan juga dekat. Anaknya saja sudah lengket sama kamu." kata Rama sambil mengusap-usap dagunya sendiri.


"Apa itu salah? Aku cuma dekat sama anaknya. Bukan sama bapaknya!" kata Naya.


Ucapan Naya itu membuat Rama tertawa dan membuat Raya dan Ida menoleh pada mereka berdua.


"Itu, sama saja! Ahk, Naya...Naya. Pantas saja pak Ares sikapnya begitu sama aku."

__ADS_1


"Kenapa? Kamu gak diapa-apain, kan?"


"Iya. Aku sakit tau?"


"Sakit kenapa? Aku juga enggak nyangka, kalau ketemu sama mereka lagi di sini," kata Naya merasa bersalah pada Rama.


'Padahal aku pergi ke sini niatnya mau lupain semua yang berhubungan sama masa laluku. Ternyata Allah berkehendak lain'


"Maaf ya, Rama kamu Jadi terlibat sama masalahku," kata Naya lagi.


"Gak apa. Anggap saja ini pengalaman berharga. Sejak ketemu sama kamu, banyak pengalaman seru. Haha," kata Rama seolah-olah tanpa beban, menutupi perasaan yang sesungguhnya.


Semua keakraban yang terjadi antara Rama dan Naya, terlihat jelas oleh Raya. Gadis itu mengerutkan kedua alisnya, ketika ia melihat Naya tampak sangat gembira dan dekat dengan Rama. Tidak seperti ketika Naya bertemu dengan papanya, karena Raya menilai Naya, apabila bertemu dengan papanya, terlihat kecanggungan dan kegugupan yang jelas pada sikapnya.


"Oh, gitu. Maaf sekali lagi ya, Ram?"


"Eh, justru aku yang harus bilang terimakasih sama kamu. Aku cuma mau bilang, kamu harus tegas sama pak Ares. Aku kira dia juga suka sama kamu." kata Rama sebelum akhirnya pergi ke rumah kos-nya sendiri.


Naya terdiam sejenak, mencerna ucapan Rama. Dengan berat hati ia mengakui kebenaran ucapan Rama. Hanya saja ia memang tidak ada niat untuk menikah kembali.


Akhirnya Naya membawa Naya ke kamarnya untuk beristirahat. Dan di dalam kamar sebelum mereka sempat tertidur, Raya berbaring menghadap Naya. Gadis remaja itu mencoba mencari kebenaran tentang apa yang dilihatnya.


"Tante, suka ya sama om Rama?" katanya to the point. Naya mengarutkan keningnya.


"Gak. Jangan berfikir seperti ini. Umma tidak mau menikah sama laki-laki manapun lagi, jadi untuk apa menyukai laki-laki. Buat sakit hati."


"Oh, gitu."


"Uma, selamat tidur ya...' katanya.


Tanpa Naya lihat, gadis itu menitikkan air mata. Ia merasa harapan dan keinginannya akan sia-sia. Saat Raya mulai memejamkan matanya, ia mencium bau wangi dari bunga sedap malam, yang semakin jelas memenuhi hidungnya, hingga ia kembali berbalik menghadap pada Naya.


Lalu ia bertanya pada Naya yang juga belum tidur, " ini wangi bunga sedap malam kan?" Mungkin Raya tidak memperhatikan keadaan rumah Naya sebelumnya.


,


Naya tersenyum lalu mengangguk sambil berkata, "iya bunga sedap malam, soalnya tante suka."


Ada bunga itu di sudut ruang tengah dan ruang tamu, swmuanya ada empat pot bunga sedap malam yang sengaja ditanam oleh Naya, dan disimpan disana, sehingga ketika bunga itu berbunga di malam hari ia akan menyebarkan bau wangi seperti ini.


Raya merasakan kembali bahwa kebiasaan dan kesukaannya Naya, sama dengan mamanya, tapi ia hanya menarik nafas dalam, karena merasa apabila Naya mengetahuinya pun, mungkin tidak akan merubah pendirian Naya sehingga Ia mau menjadi Ibu baginya.


Naya mengusap lembut punggung Raya sambil berkata, "apa kamu nggak suka dengan baunya? kalau kamu nggak suka, nanti Uma pindahin keluar, biar baunya nggak memenuhi ruangan."


"Gak apa, Umma. Raya mau tidur saja."


"Alhamdulillah kalau kamu juga suka, tante Ida juga suka sama wanginya katanya ini jadi parfum ruangan alami. Ya sudah, tidur. Jangan lupa berdo'a."


-


Keesokan harinya di tempat lain.


Ares masih duduk di dalam apartemennya sambil melihat layar ponselnya, ketika ia mendengar pintu apartemennya terbuka. Lalu terdengar Ucapan salam setelahnya. Hari sudah menjelang magrib, saat Raya mengucapkan salam itu, sambil melepas sepatunya. Laki-laki itu menoleh melihat Raya sedikit heran, dan bertanya,

__ADS_1


"Raya, kenapa kamu sudah pulang? Kemarin bilangnya mau nginep di rumah teman kamu sampai dua hari?"


"Oh, nggak apa, kok Pah, sudah beres tugasnya," kata Raya sambil melangkah pergi menuju kamarnya, ia terlihat lesu dan pucat.


"Kamu gak bawa hp, jadi papa gak bisa telpon. Kalai tahu kamu mau pulang kan bisa papa jemput.?" kata Ares berdiri di depan pintu kamar Raya.


Raya, dengan sengaja meninggal kan ponselnya di rumah, agar ia bisa bebas bersama Naya di rumahnya, tanpa gangguan dari papanya. Namun stelah mengetahui bagaimana pendirian Naya, dan apa yang ia lihat semalam antara Naya dan Rama, membuatnya sedikit kecewa, hingga Ia memutuskan untuk pulang saja dan membatalkan menginap dua hari di rumah Naya.


Dan di sinilah Raya sekarang berada, di rumahnya sendiri, merebahkan diri menyembunyikan wajahnya, agar tidak terlihat oleh Papanya. Raya sedang berurai air mata merasakan seolah-olah harapannya terbang begitu saja. Ia berusaha keras bisa pergi ke rumah Naya dengan berbohong pada Papanya. Ia ingin lebih dekat dengan Naya dan meyakinkan diri Naya agar bisa menjadi Ibu sambungnya. Tetapi justru Ia mendapatkan jawaban yang tidak ia inginkan. Berkata terus terang tentang isi hatinya pun tidak berani, hingga yang bisa ia lakukan adalah menangis.


Raya menyimpan baik-baik Ingatan tentang hari ini, ketika ia bersama dengan Naya. Ia ingat, bagaimana Naya memperlakukannya dengan sangat hangat dan manis, memasakkan sarapan untuknya dan membawakan beberapa makanan, sebagai bekal makan siangnya sebelum mereka berangkat ke tempat tujuan masing-masing. Sebelum berpisah, Raya mengatakan bahwa ia tidak akan menginap lagi dan memutuskan untuk pulang ke apartemen sepulang sekolah. Naya tidak bisa memaksa, waktu itu Ia hanya tersenyum dan berpesan agar Ia hati-hati di jalan, dan kemudian mereka berpisah begitu saja.


-


Hari hari terus berlalu hingga tak terasa pekan dan bulan pun dilalui oleh setiap anak manusia di dunia, dengan aktivitas dan perjalanan hidupnya masing-masing.


Begitu pula dengan Naya. Selama ini Naya menjalankan aktivitas seperti biasa. Nay dan Ares sering bertemu di kantin, saat makan siang. Tetapi mereka benar-benar bersikap seperti orang yang hanya saling mengenal saja. Naya bersikap, bagaimana semestinya seorang pelayan pada pelanggannya. Sedangkan Ares juga bersikap bagaimana seorang pelanggan yang membeli kebutuhannya di kantin. Ares cukup melihat bahwa Naya baik-baik saja, sudah cukup baginya.


Sering juga Ares melihat keakraban ataupun kedekatan antara Rama dan Naya. Tapi ia tidak lagi menganggapnya sebagai sesuatu yang mengganggu. Terlihat jelas di matanya, walaupun mereka berdua akrab, tetapi Naya tetap menjaga diri dan sopan terhadap Rama. Naya bukanlah wanita yang memperlihatkan kelebihan yang ada pada dirinya, sehingga membuat laki-laki lain tergoda. ia memang biasa saja, bersikap dan berkata dengan kewajarannya.


Hingga suatu hari, ketika Naya dan Rama sedang berbicara seusai makan siang. Saat itu ponsel Naya berdering, ada panggilan dari Dinda sahabatnya. Naya menerima panggilan itu dan kemudian berkata,


"Hai suami, apa kabar?"


"Aku, baik. Kita ketemuan yuk, hari ini? mumpung aku gak sibuk. Sudah lama kan kita gak ketemu. Kebetulan, Mama juga ngajak keluar buat makan-makan di cafe. Kalau mau kita ketemu di cafe yang dulu ya? aku tunggu sore ini!" kata suara di seberang telepon.


"Ih, maksa. belum tentu aku bisa." jawab Naya.


"Pokoknya harus bisa, kamu jadi istri harus nurut sama suami kan?hahaha!" terdengar suara di seberang telepon tertawa keras.


"Ya deh, kita ketemu sore ya..." kata Naya.


Setelah beberapa kata ia ucapkan ia menutup ponselnya dan kemudian ia berkata pada Rama, "Aku ada janji nih sama Dinda, mau nggak kamu ikut aku? Nanti sore kalau sudah beres kerja.


" Boleh, makan-makan enak kita?"


"Iya. Dinda ngajak makan."


"Oke. Tunggu aku ya, nanti sore."


"Iya, jangan kelamaan!"


Obrolan dan janji makan-makan yang Rama dan Naya ucapkan, tidak sengaja di dengar oleh Ares yang kebetulam melintas sesudah ia selesai makan siang di kantin tempat Naya bekerja.


Naya, melihat Ares sekilas, ia tersenyum tipis sambil menundukkan kepala, lalu berkata dengan sopan, "terimakasih atas.kunjungannya, pak. Hati-hati di jalan."


Pesan dan kata-kata Naya yang singkat ini, membuat Ares sedikit terhibur, seperti angin sejuk baginnya, karena jarangnya mereka berbincang-bincang. Padahal, bukan berarti Naya berubah, sikap itu hanya dipicu oleh suasana hatinya yang sedang gembira apalagi beberapa waktu terakhir ini, ia tidak mengalami banyak hal berat yang menguras energi. Dan Ia baru mendapatkan ajakan makan siang dari sahabatnya.


Area menanggapi sikap Naya dengan membalas senyumnya.


"Iya, kamu juga hati-hati." jawab Ares sambil berlalu kembali ke kantornya.


Naya tertegun mendengar jawaban dari Ares, yang membuat Naya berpikir logis, bahwa Sekuat apapun ia berusaha untuk menghindari laki-laki ini tapi ia tetap tidak bisa menghindari.

__ADS_1


__ADS_2