Diujung Harapan

Diujung Harapan
Eps 69. Tidak Diharapkan


__ADS_3

Naya segera mengusap air matanya kemudian menoleh kearah sumber suara. Ia tidak menyangka ternyata laki-laki itu ada disampingnya dengan posisi sangat dekat dengan dirinya membuat Naya gugup. Ia berlutut dengan menyimpan satu kaki di lantai dan satu kaki ditekuk keatas menjadi tumpuan satu tangannya. Tentu saja dalam posisi ini ia bisa melihat wajah Naya dengan jelas, wajahnya yang penuh dengan air mata, bahkan hidungnya basah dan merah sebelum Naya menghilangkan jejaknya.


Ares mengangkat kedua alisnya sambil mengulangi pertanyaannya, "Kenapa kau menangis lagi, ada apa lagi sekarang?"


Pertanyaan itu seolah menelisik Naya yang selalu tertangkap basah di hadapannya dengan keadaan yang menyedihkan.


Naya menenangkan dirinya kemudian dia berdiri sambil menghirup napas dalam dan berkata, "Tidak tidak ada apa-apa apa."


Ares pun mengikutinya berdiri dan mereka saling berhadapan kemudian Ares menggerakkan dagunya, menatap laki-laki yang ada di kursi roda.


" Siapa dia?" tanya Ares kemudian.


Naya melihat kearah Rudian yang tidak sadarkan diri. Ia meyakinkan bahwa memang suaminya saat ini sedang tidak sadarkan diri, sehingga tidak bisa melihat, ada siapa bersama mereka saat ini.


"Dia suami saya," kata Naya tanpa ekspresi, ada perasaan berat menghimpit dadanya.


Setelah itu liftpun berbunyi menandakan lantai tujuannya sudah sampai. Ares menggulung lengan kemejanya sampai siku dan beralih mendorong kursi roda itu keluar lift.


Naya berusaha menghalanginya dan berkata, "biarkan saya saja, pak. Bapak nggak usah menolong saya terus."


Ares menghentikan langkahnya kemudian menoleh kearah Naya yang ada disampingnya dan masih berusaha mengambil kursi roda itu dari tangannya.


"Siapa yang menolong kamu? Aku mau menolong suamimu." kata Ares sambil mengendikkan bahu.


'Ck! Bukan itu maksudku'


Karena jawaban itu Naya merasa tidak berdaya, akhirnya ia hanya mengikuti Ares dari belakang, berjalan kemanapun laki-laki itu mendorong kursi roda suaminya. Hingga mereka sampai di tempat pelataran parkir, melihat tempat ini bukan tujuannya, Naya mengerutkan alisnya.


"Pak. Kenapa suami saya dibawa kesini. Saya mau mencari taksi, Ibu sudah menunggu disana." kata Naya, ia khawatir ibu mertuanya akan salah faham.


Ares kembali menghentikan langkahnya dan menoleh pada Naya yang terlihat khawatit.


"Sudah, bareng aku saja sekalian aku mau pulang juga." kata Ares sambil bersiap membuka pintu dan ia membungkukkan badan hendak mengangkat Rudian ke kursinya, saat Naya merentangkan satu tangan dihadapan Ares.


Ares kembali menegakkan punggungnya. dan menatap Naya dengan sudut bibirnya yang ditarik ke atas. Ia tidak suka, Naya terkesan khawatir berlebihan entah pada apa. Gemas juga kesal Ares dibuatnya. Mereka sudah cukup lama tidak bertemu, dan ketika bertemu kembali ia harus menghadapi kenyataan bila Naya dalam keadaan yang membutuhkan pertolongan. Tapi Naya seperti memiliki keengganan padanya.


"Sebenarnya apa yang kau takutkan? Aku tidak akan membuatmu merasa malu. Atau melakukan sesuatu yang tidak pantas padamu. Apa aku salah mau nolong kamu, nolong suami kamu?" kata Ares sambil mencondongkan kembali badannya, ke kursi roda Rudian.


"Tapi Pak..."ucapan Naya terputus.


Ares segera menyala dengan berkata, "sudah, biar aku saja, percaya gak? aku bisa sendiri kok."


Naya terdiam, tidak bisa mengatakan apa pun, lidahnya seperti kelu, melihat Ares mengangkat tubuh Rudian dengan gagah. Ares mengangkat tubuh suaminya sendirian. Naya terhenyak, sebenarnya maksud Naya juga ingin membantunya mengangkat tubuh suaminya, tapi ia tidak menyangka Ares mampu melakukan tanpa bantuan dirinya.


Naya duduk di samping Rudian, ketika mobil Ares berjalan ke halaman rumah sakit. Ketika melihat Sarita berdiri menunggu Naya di sana. Naya memberi isyarat untuk berhenti dan mengajak Sarita ikut bersama mereka. Sarita duduk dikursi penumpang di sebelah Ares. Laki-laki itu tersenyum ramah dan memperkenalkan dirinya kepada Sarita, sebagai teman dari Naya dan Rudian.


Ia mengatakan kalau ia baru saja menengok seorang temannya yang juga sedang dirawat di rumah sakit yang sama. Tanpa sengaja ia melihat Naya dan dan Rudian dan ia menawarkan untuk mengantar mereka.


Mendengar semua yang dikatakan Ares, Slerita mengangguk dan percay. Memang itulah yang terjadi. Tapi wanita itu kemudian mengingat sesuatu. Ia ingat tentang cerita yang dikatakan oleh Yola dulu, tentang Naya waktu yang terpergok oleh Rudian dan Yola sedang bersama seorang laki-laki. Sarita menduga laki-laki yang dimaksud oleh Yola adalah Ares.


Meski Sarita sempat menduga dan berprasangka buruk, tetapi ia melihat dengan mata kepalanya sendiri. Bagaimana reaksi dan interaksi antara Naya dan Ares, sehingga dia yakin bahwa antara mereka berdua memang tidak ada hubungan apa-apa, melainkan hanya teman biasa saja.

__ADS_1


Sesampainya di rumah, mereka turun bersama. Naya menyiapkan kursi roda, Ares menurunkan kembali tubuh Rudian dan mendudukkannya di atas kursi roda yang sudah disiapkan oleh Naya. Ia melakukannya seorang diri tanpa dibantu oleh Sarita maupun Naya.


Melihat hal itu, Sarita tidak bisa menahan bertanya, dan ia berkata," apa tidak berat mengangkat Rudiansendiri?"


Ares dan Naya yang mendengar sama-sama mengerutkan alisnya. Naya merasa bahwa memang berat badan Rudian semakin menyusut. Kemungkinan tidak terlalu memberatkan bagi laki-laki seperti Ares.


Ares tersenyum menanggapi pertanyaan Sarita dan ia menggeleng, kemudian berkata, "Sepertinya Pak Rudi sudah semakin kurus ya, Bu?"


Mendengar Ares kembali bertanya padanya, Sarita mengangguk dan mengucapkan terima kasih. Begitu pula dengan Naya, ia pun mengucapkan terimakasih dan menitipkan salam untuk Yoni.


Sudah begitu saja pertemuan mereka hingga Ares dan Naya tidak mengetahui bahwa itulah pertemuan terakhir mereka di sana.


-


Malam hari itu, setelah makan dan minum obatnya, Rudian sudah tidur dan Naya juga sudah merebahkan tubuhnya di samping Rudian. Laki-laki itu itu sejak pulang dari rumah sakit dan meminum obatnya, akan lebih banyak tidur atau tidak sadarkan diri.


Ia hanya sebentar tersadar dan yang keluar dari mulutnya ketika membuka mata dan melihat Naya, hanyalah kata-kata, "Siapa kamu?"


Dengan manis dan lembut, Naya menjawab, "aku Naya, istrimu."


Atau juga, ketika Rudian sadar dan membuka matanya, maka yang ia katakan adalah ucapan,


"Maafkan aku," sambil menatap Naya penuh arti seolah-olah takut kalau istrinya itu tidak memaafkan kesalahannya.


Ketika Naya menghadapi kenyataan itu Ia hanya tersenyum dan mengusap kepala suaminya sambil berkata, "ya, aku sudah memaafkanmu."


Setelah mata Rudian terpejam, barulah Naya kembali menangis. Ini lebih sakit dari saat ia dikhianati, perih dihatinya terasa lebih menyayat daripada saat ia tahu Rudian menikah lagi. Biar bagaimanapun dilupakan oleh orang yang dicintai dengan cara seperti ini tidak pernah terpikirkan, ia dilupakan suaminya dihadapannya sendiri.


Ia yang dulu ingin melupakan tapi justru ia yang lebih dulu dilupakan. Ia yang pergi karena ingin meninggalkannya, tapi justru dirinya yang lebih dulu akan ditinggalkan, bahkan untuk selamanya. Ia kemudian berpikir kalau ternyata rasa dari kebahagiaan dan kesedihan, kecewa dan harapan, senang dan benci seperti hanya dipisahkan oleh seduah benang yang sangat tipis. Perasaan itu tidak berarti kalau pada akhirnya semua akan pergi.


" Bagaimana keadaan suamimu?"


Naya mengabaikan pesan itu hingga beberapa saat lamanya. Kemudian terdengar lagi tanda dari ponselnya bahwa ada pesan masuk. Lagi-lagi pesan itu dari Ares. Ia kembali menanyakan tentang Rudian,


"Sakit apa suamimu?"


Dan Nanya kembali mengabaikan, menurutnya Ares tidak perlu tahu hal itu dan juga tidak penting bagi Naya membicarakan suaminya dengan laki-laki lain yang tidak mempunyai hubungan apapun dengan Rudian. Ia tidak dalam posisi mencari simpati seseorang.


Cukup lama Naya mengabaikan pesan itu, hingga ia hampir tertidur. Ia kembali membuka matanya karena mendengar suara ponselnya yang kembali berbunyi. Itu pesan masuk dari Aras padanya, isi pesannya kali ini bersifat perhatian pada Naya.


" Bagaimana keadaanmu? Apa kamu capek mengurus suamimu mu? Kalau kau butuh sesuatu, bilang saja. Siapa tahu aku bisa membantu."


Begitu membaca pesan yang satu ini, Naya mengerutkan alis. Pertanyaan seperti ini yang membuat seseorang atau dirinya menjadi salah tingkah, terlihat laki-laki ini sedang memikirkan dirinya atau mengkawatirkan Naya. Untuk pesan seperti ini, Naya merasa perlu untuk menjawab, agar pesan-pesan Ares segera berakhir dan laki-laki itu tidak perlu memikirkan keadaannya. Lalu Naya menulis,


"Saya baik-baik saja. Dan sebaiknya Pak Ares tidak menanyakan hal seperti itu pada saya. Maaf, saya mau istirahat."


Tak lama kembali Ares membalas pesannya,


"Aku senang kalau kau baik-baik saj. Istirahat ya. Jangan lupa berdo-a," membaca pesan itu Naya menautkan alis.


'Apa-apaan ini? Hei, aku bukan anak kecil!'

__ADS_1


-


Hari berganti hari, pekan berganti pekan dan bulan ini adalah waktu kelahiran bagi Yola. Waktu berjalan tanpa terasa, tanpa mau menunggu atau menunda. Hingga saat yang ditunggu inipun tiba. Hari itu semua berkumpul dirumah Sarita, menyambut bayi baru anak dari Yola dan Rudian yang dilahirkan dengan selamat, di rumah sakit terdekat.


Sementara Naya masih bersama dengan Rudian yang sedang diperiksa oleh dokter. Sejak semalam Naya mendapati suaminya itu sudah tidak merespon apapun yang Naya katakan, juga apapun yang Naya lakukan padanya. Tubuhnya benar-benar lemas seperti tidak memiliki tulang. Naya berteriak memanggil namanya pun Rudian tetap diam. Hingga Naya berpikir, mungkinkah ini batas akhir otaknya untuk merespon sesuatu dan benar-benar lumpuh untuk menggerakkan seluruh organ vital ditubuhnya? Mungkin bila berada di rumah sakit atau ia orang yang sakit biasa, maka ia akan dinyatakan koma.


Akhirnya untuk meyakinkan dirinya, Naya memanggil seorang dokter dan sekarang tengah memeriksa keadaan Rudian. Hingga dokter itu menyatakan bahwa Rudian sudah pergi untuk selamanya.


Terakhir yang Naya ingat pada beberapa hari yang lalu sebelum seluruh jari-jari dan gerakan matanya seperti berhenti, Rudian waktu itu hanya tersenyum sangat tipis seperti berat untuk menggerakkan bibirnya sendiri.


Walau suaranya lirih, dengan hanya menggerakkan bibir, ia berkata pada Naya, "Maafkan aku,"


Naya yang mendekatkan telinganya dan mendengar apa yang diucapkan Rudian padanya.


Kemudian Naya menjawab, "Aku sudah memaafkanmu. Aku juga minta, maafkanlah semua kesalahanku."


Rudian menggerakkan bibirnya lagi, Naya mengerti bahwa Rudian akan bicara lagi, hingga ia mendekatkan telinga di bibir Rudian, saat itu Naya mendengar Rudian berkata dengan terbata-bata.


"Kau cantik." mendengar itu Naya tersenyum dan ia pun berkata,


"Iya, aku adalah bidadarimu. Tenanglah semua akan baik-baik saja." kata Naya mencoba menenangkan Rudian. Padahal hatinya sendiri juga tengah gusar, karena sadar akan segera ditinggalkan.


Waktu itu, Rudian menatapnya dengan tatapan yang gelisah, seperti menyimpan dan merasakan rasa sakit yang amat sangat. Setelah itu matanya terpejam dan tidak pernah terbuka lagi, hingga saat ini. Dan tidak ada kata-kata yang keluar dari bibirnya laagi, hingga hari ini.


Walaupun Rudian pernah menyakiti tapi Rudian adalah suami yang pernah ia cintai bahkan sampai saat ini. Mereka pasangan yang masih muda bahkan belum memiliki anak, tapi ditinggalkan dengan cara seperti ini lebih menyakitkan dari saat hatinya merasa tersakiti.


Naya mengabarkan kepergian suaminya pada keluarga Rudian dan saat itu juga Ia mendapatkan kabar Yola sudah melahirkan bayinya. Keluarga itu mendapatkan dua rasa sekaligus, antara sedih dan juga terhibur, seperti memiliki seorang pengganti yang datang, disaat orang yang lainnya pergi.


Tidak menunggu lama, keluarga besar pun berdatangan, juga para tetangga yang sudah mendengar kabar tentang kepergian Rudian ke hadapan Allah. Kabar itu terdengar dari mulut ke mulut dan dari pengumuman di maajid. Sehingga di rumah Naya terlihat begitu ramai.


Proses pemakaman Segera dilaksanakan, karena banyak yang membantu prosesi pemakaman maka kegiatan pemakaman itu dengan cepat segera selesai.


Saat jenazah Rudian sudah dikuburkan, Naya melihat semuanya sampai batu nisan yang bertuliskan nama Rudian terpasang. Ia tidak segera pergi meninggalkan makam suaminya. Ia hendak memuaskan rasa kehilangannya di sana, menumpahkan seluruh perasaan yang ada di hatinya di sana, dan ingin Ia tinggalkan semua perasaan itu terkubur bersama jasad suaminya.


Iia tidak ingin membawa kesedihan yang sudah begitu panjang ia rasakan, dibawanya kembali pulang. Cukup kesesihan itu sampai di sini.


'Kanda, aku simpan semua perasaanku, sedihku cintaku, sakit hatiku, dukaku semuanya disini, terkubur bersamamu. Walaupun kenangan itu akan tetap selalu ada, tapi aku tidak ingin membawa hal yang menyakitkan itu mengikutiku, sampai di kemudian hari'


Naya mengusap batu nisan Rudian, ia menyusut air matanya sampai kering, seolah-olah tidak ingin lagi menumpahkan air mata itu sesudah jasad Rudian terkubur di tanah yang ada dibawahnya.


Disaat yang bersamaan, Naya melihat Yola berjalan dengan perlahan bersama dengan Dero, ia melihat perempuan itu menangis terisak.Tanpa membawa bayinya di makam Rudian. Yola menangis dan menumpahkan segala isi perasaan hatinya, kekecewaannya dan sepertinya ia tidak bisa menerima semua kenyaan kepergian Rudian dari sisinya. Disaat ia membutuhkan seorang suami untuk mendampinginya membesarkan putranya, justru dia pergi meninggalkannya, setelah bayinya dilahirkan ke dunia.


Ini terlalu menyakitkan. Saat yang menyakitkan itu bukan hanya tentang ketika cintanya terbagi, yaitu tentang seseorang yang begitu mengharapkan kehadiran orang yang sangat ia cintai, tapi justru orang itu pergi bahkan tidak akan kembali.


Naya melihat dan mendengar semua yang dikatakan oleh Yola, kemudian ia beranjak meninggalkan Yola begitu saja. Ia menuju ke rumahnya lagi. Baginya kesedihannya sudah usai, ia sudah mempersiapkan diri untuk kehilangan seperti ini jauh-jauh hari. Sebelumnya akhirnya Rudian benar-benar pergi dan terkubur di Tanah ini. Ia sudah benar-benar ikhlas menghadapi kepergian suaminya. Jadi ia merasa tidak perlu meneteskan air mata lagi, karena selama merawat Rudian, air matanya sudah hampir setiap hari ia keluarkan.


Naya duduk di sofa, melihat bayi Yola yang dibaringkan disana dengan Sarita di sampingnya. Kedu wanita itu sudah cukup bersedih selama merawat Rudian, jadi ketika suami dan anak itu menghadap pemilik sejatinya, kedua wanita itu sudah ikhlas.


"Dia mirip sekali dengan Rudian." kata Sania sambil tersenyum. Naya mengangguk dan mengusap kepala bayi itu lembut.


Iya ingat dulu ketika Rudian pernah mengatakan bahwa ketika nanti Yola melahirkan, maka anak Yola akan menjadi anaknya juga. Naya tersenyum, ia mengingat satu hal yang lain, ketika timbul kecurigaan padanya dulu, bahwa anak yang dikandung Yola bukan anak Rudian. Namun anak ini benar-benar mirip seperti ayahnya seolah-olah wajah Rudian tertempel di sana. Hal ini menghilangkan keraguan Naya saat itu juga.

__ADS_1


Yola sudah datang dari makam Rudian. Ia melihat Naya sedang mengusap kepala anaknya, ia tertegun dan duduk dihadapan Naya, lalu berkata,


"Naya, aku minta maaf padamu," kata Yola.


__ADS_2