Diujung Harapan

Diujung Harapan
Eps 95. Dilain Waktu


__ADS_3

Lama tak ada jawaban dari smart phone Ares. Hening. Sementara Naya tengah duduk bersandar di dinding kamar, sambil memeluk lututnya. Hp yang ada dalam genggaman tangannya ia biarkan menyala tanpa mengatakan apa-apa.


"Haruskah aku membina rumah tangga kembali setelah semua yang aku alami? Dan haruskah aku menikah dengan laki-laki yang jelas-jelas dicintai wanita lain, bahkan wanita itu mengatakan terus terang agar aku tidak berharap? Ya Robbul 'alamiin, berilah petunjuk-Mu." gumam Naya pada dirinya sendiri.


"Naya ... Naya ... Apa kamu sudah ngantuk." suara Ares di balik telepon, tapi Naya tidak menjawab karena ia tidak menempelkan ponselnya ke telinga.


Setelah beberapa saat lamanya ponsel mereka tetap tersambung. Tapi tanpa bicara. Ares memaklumi mungkin Naya tengah merenung, hingga ia membiarkan Naya memikirkan sendiri, dan akan menerima apapun jawabannya. Hingga kemudian Naya berkata kembali.


"Pak ... "


"Hmm ... "


"Jawaban seperti apa, yang ingin bapak dengar?"


"Saya juga tidak tahu. Semua terserah kamu."


'Tapi aku harap kamu mau menerima permintaanku' Ares.


'Walau aku menolak, semua akan baik-baik saja, kan?' Naya.


"Saya tahu perasaan bapak." sahut Naya pelan.


Hening


Ares berharap Naya melanjutkan kalimatnya.


"Lalu?"


"Ya, saya tahu perasaan seperti itu bisa muncul pada siapa saja. Jadi saya bisa memahami apa yang bapak rasakan."


Tentu saja, bila seseorang menemukan orang yang bisa dia andalkan dalam hidupnya pasti ia akan menyukainya, bahkan berharap bisa hidup bersama sampai maut memisahkan.


'Iya, tapi jawabanmu apa, Naya!'


"Ya, kalau begitu, terimakasih sudah mau memahami saya."


Ares menghela nafas panjang, ia tahu Naya tidak akan mau memberinya jawaban secara pasti, ada kemungkinan Naya masih ragu.


Ini bagian dari perjuangan, kemauan perempuan susah ditebak, mereka cenderung tidak mau mengatakan dengan lugas tentang keinginannya, tapi berharap orang lain mengerti apa yang ia inginkan.


Memang beberapa hari yang lalu, Naya menawarkan Ares untuk mengetahui rumah orang tuanya, sebagai isyarat untuk melamar dirinya secara langsung, karena ia tidak mau pacaran seperti yang dilakukan kebanyakan orang, sebagi upaya pendekatan. Tapi setelah pertemuan antara Naya dengan Caca, membuat Ares perlu menegaskan kembali apa yang Naya rasakan. Ia tidak akan menjadi lelaki yang memaksakan kehendak atas kemauannya sendiri, karena ia menyadari sikap Naya yang kembali menjauhi.


'Seandinya bisa, kubalut luka hati yang begitu dalam hingga kau tak berani memulai, kalu saja bisa kutanggung kepahitan yang pernah kau rasakan hingga kau tak berani menatap kedepan'


Untuk masalah Yoni, laki-laki itu berharap agar Naya punya inisiatif sendiri untuk menjaganya, ia malu mengatakan atau memintanya secara terus terang walaupun ia membutuhkan Naya.


"Besok, bapak kerja?" tanya Naya kemudian.


"Iya."


"Kalau tidak ada Caca atau Dinda, biar Yoni sama saya saja yang jaga."


Naya sadar kalau keinginannya menjaga Yoni di rumah sakit adalah atas inisiatifnya sendiri, tidak ada yang memaksa.


"Kamu bisa, kamu gak ke kantin besok?"


"Saya sudah ambil libur untuk sepekan kedepan."


Pembicaraan pun berhenti, setelah Ares mengucapkan terimakasih, dan mengucapkan salam. Namun setelah telepon ditutup, masih ada pesan masuk dari Ares, dan Naya langsung membacanya.


"Kamu harus istirahat sekarang. Tidur yang nyenyak, biar besok semangat jaga Yoninya. Maaf sudah merepotkan."


Membaca pesan dari Ares itu, Naya tersenyum. Dan ia kembali ke peraduan, menenggelamkan diri dalam kehangatan selimut dan kasur peninggalan bibinya di kamarnya. Mencoba introspeksi diri atas semua yang terjadi.


Tapi ia tidak bisa tidur nyenyak, karena ia banyak berpikir tentang apa yang akan ia lakukan kalau ia harus menikah juga. Mungkin ia akan memasang pengumuman penjualan rumah, tapi bagaimana dengan Ida. Wanita itu masih betah tinggal di rumahnya, ia tak tega menyuruhnya pergi.


'Semoga mbak Ida cepat nikah juga ... '


-


Mentari pagi yang datang setiap hari selalu hangat, sinarnya tidak menyengat, tetapi lembut selembut kemunculannya yang perlahan, dengan wajahnya yang ramah menyambut asa setiap insan yang berharap hari ini akan lebih baik dari kemarin.


Naya masuk ke dalam kamar perawatan Yoni, dengan mengucap salam dan senyum manis, Yoni yang baru saja terbangun dari tidurnya. Ia membawa tas besar berisi makanan dan sebuah termos penyimpanan air panas, yang baru ia beli kemarin saat belanja kebutuhan dan perlengkapan memasak.


Naya melihat Ares ada di sana, tengah membuatkan susu untuk anaknya. Ia menoleh sebentar pada Naya, melihat senyum manis itu sekilas dan kembali sibuk dengan gelas di tangannya. Kedua orang itu tidak saling menyapa, seperti tidak ada yang pernah terjadi diantara mereka semalam, atau mereka memang lupa dengan semua yang sudah mereka bicarakan.


Ares jarang melihat senyum Naya kepadanya, mungkin Naya sungkan, atau merasa tidak perlu mengumbar senyum pada orang yang bukan mahrom. Tapi suatu saat nanti, Ares yakin kalau Naya akan lebih banyak tersenyum padanya, bila Naya sudah menjadi istrinya. Ia tidak banyak berkomentar, ia hanya diam. Mereka terlihat seperti sebuah keluarga yang berjumlah tiga orang.


Sementara Yoni menghabiskan susunya, Naya menyiapkan sarapan untuk Ares juga dirinya sendiri. Ia melihat ada karpet beludru kecil yang terhampar di lantai.


'Kemarin karpet ini tidak ada'


Yoni dirawat di ruang kelas satu biasa, yang hanya dilengkapi dengan dua buah kursi saja. Tidak ada orang lain yang bersamanya dirawat di sana, hingga mereka cukup leluasa untuk berbincang ataupun menemaninya.


Naya merawat Yoni dengan telaten, membersihkan tubuh mungil itu dengan air hangat yang ia bawa dari rumah, dan menyuapinya makan, dengan makanan yang disediakan oleh pihak rumah sakit. Panas demam badannya sudah tidak terlalu tinggi, hanya saja ia masih membutuhkan perawatan, dokter belum mengijinkannya pulang.


Ares juga bersiap untuk melakukan aktivitasnya, mengurus dirinya sendiri, yang akan segera berangkat pergi bekerja. Ia menikmati sarapan yang dibuat oleh Naya, sambil duduk di karpet yang sengaja dihamparkan di samping tempat anaknya.

__ADS_1


Ia menyimpulkan kalau Naya sudah tidak lagi merasa sedih, bila harus berhadapan dengan dirinya, karena ia melihat kini perempuan itu tidak lagi tampak terlalu menghindarinya, walaupun sikap Naya masih saja cuek dan biasa saja. Seolah perempuan itu tidak memiliki perasaan apapun padanya.


"Kamu gak makan?" tanya Ares ketika ia sudah selesai makan, tapi Naya masih sibuk berceloteh dengan anaknya.


Naya menggelengkan kepalanya. Ia memang belum ingin makan saat masih ada Ares bersamanya. Ia berniat makan setelah laki-laki itu pergi, dan ia hanya berdua dengan Yoni saja.


"Makan dulu sana, dari pada nanti repot ngurusin Yoni, kamu gak sempat makan, nanti kamu lapar."


"Gak repot, nanti saja."


'Keras kepala' Ares.


'Cepat pergi sana!' Naya.


"Benar ya, nanti kamu makan." Ares setengah mengancam. Naya hanya mengangguk, tanpa ekspresi berarti diwajahnya.


Akhirnya Ares pergi setelah membereskan bekas sarapannya, ke atas meja kecil. Naya melihat semua itu sambil mengendikkan bahunya, dan membiarkan apa yang dilakukan laki-laki itu tanpa berniat membantunya. Ares sudah biasa melakukan pekerjaan rumah, kan?


Setelah beberapa saat berlalu, saat Naya tengah menikmati cemilan bersama Yoni. Mereka berdua menghabiskan waktu dengan bercakap-cakap seperti biasa, dan juga melukis gerabah yang sengaja Naya bawa. Saat itu Naya menerima sebuah pesan dari ponselnya berisi pertanyaan dari Ares.


Ares,


Kamu sudah makan?


Pertanyaannya menunjukkan perhatian, ia sudah sampai di kantornya, dan menyempatkan diri, untuk mengirim pesan padanya Naya sebagai bentuk perhatian padanya.


Naya,


Belum.


Ares,


Cepat makan. Awas kalau kamu jadi sakit, gara-gara jaga Yoni. Kalau kamu sakit juga kan jadi repot semua.


Ck!


Naya mencebik, 'repot semua apa?'


Ia tidak menjawab pesan Ares, tapi melakukan apa yang Ares minta, ia memakan sarapannya.


Beberapa saat setelah itu, saat Naya baru saja selesai menghabiskan makanannya. Ares kembali mengirimkan pesan.


Ares,


Sudah makan? Enak gak masaknnya?


Naya,


Sudah.


Ares,


Pasti makanannya enak, soalnya aku sudah makan tadi, rasanya enak.


Naya membaca pesan terakhir itu dengan merasa geli. Memangnya dia harus jawab apa?


-


Ditempat lain.


Kereta listrik yang membawa penumpang dari berbagai jurusan dan berbagai kota, berhenti di sebuah stasiun. Tampak Budiman dan Nuriya serta anak batitanya keluar dari salah satu gerbong, dengan membawa dua koper besar mereka.


Mereka duduk di kursi panjang yang ada koridor stasiun, seperti menunggu seseorang.


"Jadi kita nunggu di sini saja, pak?" tanya Nuriya pada Budiman yang masih memeriksa ponselnya, mengetkkan beberapa pesan.


"Iya, tadi aku sudah nyuruh dia jemput kita di stasiun ini." jawab Budiman tanpa melihat istrinya.


"Siapa tahu dia sibuk, pak. Kok seenaknya saja minta jemput. Kita kenal saja cuma lewat telepon." Nuriya menggerutu.


"Ya, kalau dia sungguh-sungguh mau jadi menantu, ya pasti dia mau jemput kita. Ini ujian pertama."


Nuriya menghela nafas berat sambil menimang-nimang anaknya yang tertidur dalam gendongannya.


Saat itu Ares sudah sampai di kantornya lebih cepat dari biasanya, bahkan sebelum jam kantor dimulai. Setelah mengirim pesan pada Naya, iaa menggunakan waktu yang ada untuk menghubungi nomor Budiman yang telah diberikan Naya padanya.


Begitu, telepon tersambung, ia memperkenalkan diri dan meminta alamat atau lokasi tempat rumah Budiman berada. Ia hendak bersilaturahmi ke sana dengan maksud melanjutkan ta'aruf antara orang tua. Siapa sangka justru Ares dibuat terkejut karena mereka tengah berada di kereta, dalam perjalanan menuju rumah Naya.


"Jadi, Naya sudah ngomong soal kamu. Sudah cerita tentang kalian. Kalau kamu memang sungguh-sungguh mau jadi suami Naya, ya nanti kita bisa ketemu saja di rumah Naya."


Kata Budiman waktu itu membuat Ares tercengang karena tidak menyangka kalau urusannya akan dimudahkan seperti ini. Hanya rasa syukur yang ia rasakan dan ucapkan dengan bibirnya.


"Baik, pak. Saya cuma bisa berterima kasih bapak sudah mempermudah kami." jawab Ares.


"Ya, saya maklum. Kita ini jauh dan juga anakmu lagi sakit. Kamu juga butuh seorang ibu buat anakmu itu. Jadi lebih baik saya yang pergi," kata Budiman.


Apa salahnya memudahkan orang lain, apalagi hal ini juga bagian dari kewajiban seorang muslim, sebagai tingkat ukhuwah islamiyah yan tertinggi, yaitu mendahulukan kepentingan bersama daripada kepentingan pribadi.

__ADS_1


Lagipula yang dimudahkan adalah anaknya sendiri, menghantarkan Naya menuju gerbang pernikahannya kembali. Tempat ia akan lebih terlindungi dan terjaga secara martabatnya, daripada ia hidup sendiri. Mengantarkan anaknya menuju kebahagiaan dan juga memberikan kemudahan bagi suami dan keluarganya yang memang membutuhkan Naya.


Sedangkan Ares merasa, mungkin inilah jawaban dari doa-doanya selama ini, yang ia dan Raya sering panjatkan bersama, untuk kemudahan dalam merawat Yoni adiknya.


Jarak yang cukup jauh membuat mereka terpaksa saling berhubungan hanya melalui telepon genggam. Tetapi hal ini juga dimaklumi oleh Budiman yang ternyata ia justru mengalah untuk Ares dan Naya sekarang, sehingga mereka berdua tidak perlu bolak-balik untuk pergi ke rumahnya, melakukan serangkaian acara pernikahan yang mungkin akan memakan waktu dan tenaga yang tidak sedikit.


Budiman memutuskan untuk pergi ke kota batu, karena ia mempertimbangkan alasan bahwa Ares dan Naya hanya akan melakukan pernikahan secara agama, sedangkan resepsi pernikahan dan juga peresmian status perkawinan mereka, akan dilakukan di lain waktu, dan saat itulah mereka akan mengadakan syukuran, walimah atau pesta yang memungkinkan mereka bisa bertemu kembali atau bersilaturahmi ke rumah Budiman.


Hari sudah hampir sore ketika keluarga kecil itu, sampai di stasiun yang mereka tuju. Saat itulah Budiman menelpon Ares untuk menjemput mereka. Ini adalah keinginan yang tiba-tiba muncul begitu saja, dari dalam benak Budiman, ia tidak memberi kabar pada Naya, dan juga meminta agar Ares pun merahasiakan kedatangannya.


Ares sedang sibuk dengan pekerjaannya, ketika ia mendapatkan panggilan mendadak dari Budiman dan memintanya untuk menjemput di stasiun. Mau tidak mau ia segera meninggalkan aktivitasnya, meminta izin pada direktur, untuk meninggalkan kantor karena urusan yang mendesak.


Ia melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi hingga sampai di stasiun. Begitu ia turun dari mobilnya, kepalanya celingukan mencari seseorang yang tadi pagi melakukan panggilan video dengan dirinya.


Langkahnya terhenti ketika melihat keluarga kecil, yang duduk di ruang tunggu koridor stasiun, ia melangkah dengan cepat menghampiri Budiman dan istrinya. Lalu membungkukkan sedikit badannya, sambil mengucapkan salam.


Ia bertanya, "Pak Budiman?"


Budiman mengangguk dan menatap Ares dari ujung kepala sampai ujung sepatunya, kemudian ia tersenyum, melangkah mendekati Ares dan menepuk bahunya.


'Oh jadi seperti ini calon suami Naya, anakku tidak salah memilih orang rupanya, sepertinya kamu memang berbeda dari suaminya yang sebelumnya'


"Kamu lebih tampan dan lebih tinggi dari yang aku lihat vidio, tadi."


Ares mempertahankan senyum simpulnya, hingga tampaklah keramahan yang kental dari wajah tampannya. Tubuh tinggi tegap nya mendekat pada Budiman dan memeluk calon mertuanya dengan hangat.


Ares berkata, " apa kabar pak? "


"Kami, baik. Kamu sendiri gimana?"


"Alhamdulillah Pak. ini Bu Nuriya?" tanya Ares.


"Iya, saya ibunya Naya sekarang." kata Nuriya, sambil mengatupkan kedua tangannya di depan dada, wanita itu membalas senyum Ares, dengan senyum manisnya.


"Gimana, Pak. Kita langsung berangkat sekarang? Saya antar bapak pulang ke rumah Naya."


"Iya, sekarang. Masa tahun depan? Kamu bawa apa ke sini, bawa mobil kan?"


Mendengar pertanyaan Budiman, Ares mengangguk dengan cepat, masih sambil tersenyum.


"Tapi, mobil sendiri kan, bukan mobil pinjaman dari kantor?" tanya Budiman lagi sambil berjalan.


"Alhamdulillah, Pak. Mobil sendiri, walaupun mobilnya, biasa saja."


"Yang pentingkan mobil sendiri, daripada nggak punya mobil."


Mendengar ucapan Budiman, Ares menyembunyikan tawanya, ucapan calon mertuanya ini menggelikan.


Ares membantu mereka membawakan barang-barang dan kopernya, hingga sampai di dalam mobil.


Setelah mereka sudah duduk manis di sana, Budiman kembali bertanya.?


"Kamu sudah tahu kan, rumahnya bibinya Naya?"


"Oh, sudah Pak," jawab Ares tenang sambil mengemudikan mobilnya dan fokus melihat jalanan.


"Kalau sudah tahu, ya bagus. Berarti Naya tidak tahu kalau aku sudah ada di rumahnya sekarang.


"Baik Pak," jawab Ares sambil mengangguk.


"Kamu juga tahu, dimana Naya kerja?" Budiman masih mengutarakan berbagai pertanyaan.


"Ya, tahulah, Pak. Dia kerja di kantin, gedung tempat teman saya."


"Jadi kalian sering ketemu di sana?"


"Iya, pak."


Mereka memang sering bertemu tapi sering tidak menyapa.


"Naya itu pinter masak, masakannya enak kan?"


"Iya Pak," sahut Ares sambil tertawa kecil.


"Dia itu kerja di restoran, sekarang di kantin, urusannya soal makanan, aku tahu pasti kamu juga sudah pernah makan masakan Naya!"


"Iya, Pak, masakan Naya enak, dia kalau datang ke rumah sakit pasti bawa sarapan untuk saya."


"Berarti kamu beruntung, kamu nggak boleh bikin Naya sedih, apalagi menyia-nyiakan anak saya. Kamu sudah tahu kan masa lalu Naya punya suami seperti apa?"


'Ya, saya tahu masa lalunya, tapi saya tidak peduli, saya menganggap masa lalu tidak harus dibahas dan membayangi masa depan, karena yang akan saya lakukan adalah membahagiakannya, mengobati luka hatinya, dan saya ingin mengubah perasaan sedihnya setiap kali bertemu dengan saya, menjadi perasaan bahagia setiap kali melihat saya'


"Iya, pak. Saya faham maksud bapak." jawab Ares penuh keyakinan.


"Oh, iya Pak. Kalau Naya gak tau kita datang, gimana nanti kita masuk rumahny"


bersambung

__ADS_1


__ADS_2