
Ketika Hamid, Aziel, Afifa, Ardiansyah, Anna, Reina, Fano, Nicholas sedang membicarakan tentang musuh tiba-tiba Lionel dan kedua orang kepercayaannya datang menghadap.
"Selamat siang tuan, misi telah terlaksana dengan baik, sekarang tugas apa yang harus saya lakukan" kata Lionel saat menghadap ke Hamid Abdullah.
"Sekarang perintahkan kedua anak buah mu itu berjaga diluar.
Sekarang kamu gabung bersama kami disini" kata Hamid.
Lionel bagi Hamid bukan sekedar pengawal kepercayaannya dan kaki tangannya tetapi dia sudah seperti anak Hamid sendiri.
Semua keluarga juga menganggap Lionel adalah saudara mereka.
Lionel pun duduk dan kembali serius.
"Disini kita membahas langkah selanjutnya untuk menghentikan langkah kaki mereka" kata Hamid menjelaskan kepada Lionel.
"Baik tuan" kata Lionel.
"Kamu itu sudah aku anggap anakku sendiri jadi jangan sungkan. Panggil aku Abi seperti mereka semua termasuk Nicholas juga" tutur Hamid lembut tapi terlihat begitu tegas.
"Baik Abi" kata Lionel yang sedikit canggung dengan panggilan itu.
"Ya sudah sekarang kita perhatikan video yang akan diputar oleh Abang kamu" pinta Hamid.
Tadi saat Lionel datang video sempat dihentikan dan dimatikan oleh Aziel.
Kini Lionel ikut menatap layar besar yang ada dihadapannya itu.
"Berhenti bang, putar balik sedikit sepertinya aku mengenal mereka" kata Lionel saat melihat seseorang yang berada didalam markas musuh.
Aziel mulai memutar balik dan menghentikan ditempat yang diminta oleh Lionel.
"Apa kamu mengenalnya Lionel" tanya Hamid.
"Benar Abi, aku mengenalnya.
Dia adalah kaki tangan Fernando namanya Torres" kata Lionel yang sangat hafal betul dengan semua anak buah Fernando.
"Apa dia salah satu mata-mata agen rahasia internasional" tanya Hamid.
"Benar Abi, dia salah satu mata-mata milik Fernando" kata Lionel.
"Sebaiknya kita dengar perbincangan mereka karena saat ini mereka sedang bersama dengan Gerald dan Danielo" kata Aziel.
Ya kini ditempat jauh di suatu pulau tempat musuh berada terjadi perbincangan yang sangat serius antara Torres, Danielo dan Gerald.
Sedang profesor Alfaro kini sedang memimpin ilmuwan lainnya untuk membuat penelitian dan menemukan sesuatu yang luar biasa yang nantinya digunakan untuk melancarkan misi nya itu.
"Hai profesor Liu, apa yang kamu dapatkan beberapa hari ini" tanya profesor Alfaro.
"Kami tidak banyak menemukan sesuatu. Kami butuh istirahat dan bertemu keluarga kami.
__ADS_1
Betul kan Kitaro" kata profesor Liu kepada teman profesor lainnya yang bernama Kitaro" kata profesor Liu memelas.
"Tidak bisa, kamu harus segera membuat penemuan baru agar semua keluargamu dalam keadaan aman" ancam profesor di Alfaro.
Kini profesor Liu dan Profesor Kitaro kembali keruangan mereka dengan lemas.
Profesor Alfaro tidak menyadari setiap pembicaraannya didengar langsung oleh Hamid dan anak-anaknya.
"Sial Ternyata selama ini mereka membuat ancaman yang sangat menjijikan.
Mereka seperti banci" teriak Nicholas yang begitu marah karena Nicholas juga pernah mengalami hal seperti mereka itu.
"Kau benar Nick, mereka tak ubahnya seorang pengecut yang beraninya menindas orang yang lemah tak berdaya" kata Fano.
"Sebaiknya kita bebaskan orang-orang itu deh Abi, kasian mereka.
Afifa tidak tega melihat penderitaan mereka dan Abi tahu kalau profesor Liu adalah orang yang sangat hebat dia memiliki kemampuan yang tidak dimiliki oleh manusia pada umumnya.
Dia sebenarnya orang yang sangat baik Abi" kata Afifa yang kini wajahnya tampak sedih.
"Kenapa kamu bisa berpikiran seperti itu fa, apa hanya karena mereka dalam ancaman mereka kamu anggap baik" tanya Anna yang tak habis pikir dengan apa yang dikatakan oleh Afifa.
"Maaf sebelumnya aku melihat dari hatinya Anna" kata Afifa.
"Oh ya, bagaimana bisa" tanya Anna yang penasaran kenapa Afifa begitu yakin kalau Profesor Liu adalah orang yang baik.
"Kamu tidak mengetahuinya nak Anna. Afifa itu bisa melihat apa yang ada dihati dan dipikiran orang hanya dengan sekali melihat.
Itu dia peroleh baru-baru ini" jelas Hamid.
"Pantas akhir-akhir ini kalau kamu menatap seseorang pasti tahu siapa orang itu dengan baik dan benar.
Kami benar-benar mendapatkan mukjizat yang sangat menakjubkan fa.
Allah benar-benar memberikan kemampuan yang luar biasa sangat cocok dengan kesederhanaan dan kebaikan hatimu" puji Anna yang sempat terperangah mendengar penjelasan Hamid.
Tidak hanya Anna tetapi semua yang disana juga sangat terperangah dengan kenyataan yang dimiliki oleh Afifa.
"Kita patut bersyukur orang-orang yang mendapatkan keistimewaan dari Allah berada di pihak kebenaran dan selalu melakukan apapun di jalan Allah" kata Hamid.
"Benar kata Abi, sekarang kita harus menolong orang-orang yang memiliki keistimewaan yang hampir serupa dengan Afifa seperti profesor Liu" kata Ardiansyah.
"Menurut ku sebaiknya kita amankan dahulu keluarga profesor Liu dan profesor Kitaro" kata Fano.
"Biar aku dan anak buahku menyelamatkan keluarga kedua profesor itu" pinta Lionel.
"Baiklah kalau begitu kerahkan anak buah mu untuk menyelamatkan mereka terlebih dahulu" Hamid menyetujui permintaan Lionel.
"Sebaiknya besok kamu mulai persiapkan semuanya dan berangkatlah menyelamatkan keluarga dari kedua profesor itu" lanjut Hamid.
"Siap Abi" kata Lionel dengan tegas dan lantang bak seorang prajurit perang.
__ADS_1
tetapi memang Lionel adalah prajurit dahulunya yang memiliki pangkat yang sangat tinggi tetapi dia lebih memilih bergabung dan menjadi bagian dengan Hamid Abdullah.
"Abang putar balik percakapan Torres dengan Gerald dan Danielo" kata Afifa.
"Emangnya kamu menemukan apa lagi" tanya Aziel.
Aziel kembali memutar percakapan Torres dengan Gerald dan Danielo.
"Coba kalian dengar jelas-jelas.
Seperti nya Torres sedang melakukan pengkhianatan kepada Fernando deh" kata Afifa.
Semua yang disana yang sedang mendengarkan dengan jelas baru menyadari.
"Benar apa yang dikatakan oleh nona Afifa. Sepertinya dia mulai membelot" kata Lionel yang setuju dengan ucapan Afifa.
"Lionel jangan panggil aku nona, panggil aku Afifa.
Anggap aja aku adalah adik kamu ya" pinta Afifa.
"Baiklah" kata Lionel menyetujuinya.
"Kamu memang sangat jeli fa, hal sedetail itu tak luput dari pendengaran dan penglihatan mu" kata Hamid yang bangga terhadap putri nya itu.
"Semua karena Allah Abi, aku hanya perantara saja.
Kemampuan yang aku miliki ini adalah milik Allah dan kapanpun bisa diambil lagi oleh Allah jika Allah menghendaki"jawab Afifa yang tak ingin mendapatkan pujian karena memang sejatinya apa yang dikatakan Afifa benar adanya.
"Ya itulah keistimewaan mu sayang, kau harus mensyukurinya" kata Ardiansyah.
"Iya hubby, Afifa mengerti" kata Afifa santun.
"Sudah sekarang kita kembali ke pembicaraan awal" pinta Hamid dan semua kini sudah serius dan mulai memperhatikan.
"Kau Aziel dan Anna kamu tetap disini.
Biar Afifa sesekali membantumu mengawasi dan memonitor semuanya.
Lionel besok kerahkan anak buah mu dan pimpin langsung misi penyelamatan keluarga dari profesor Liu dan profesor Kitaro.
Ardiansyah dan Fano kamu sebaiknya mulai menyusun rencana untuk bisa menyusup ke pulau itu.
Tetapi sebelum kalian menyusup biar Aziel menghancurkan tombol yang dikatakan oleh Afifa tadi biar kalian leluasa masuk dan tidak ada kendala apapun.
Reina dan Nicholas tetap disini membantu Afifa di laboratorium.
Misi dilakukan besok semua.
Dan setelah misi usai kalian harus segera kembali kesini" perintah Hamid tegas.
Mereka serempak menjawab dengan tegas.
__ADS_1
"Siap Abi" hampir bersamaan.