Dokter Afifa

Dokter Afifa
Kebahagiaan Afifa dan Ardiansyah


__ADS_3

Afifa dan Ardiansyah yang mendengar kalau Uma dan bunda sudah mempersiapkan semuanya begitu terharu bahagia.


"Uma sama bunda sengaja melakukan semua ini karena mereka gak ingin kedekatan kalian menimbulkan fitnah nantinya makanya Uma dan bunda ingin kalian mengumumkan pernikahan kalian dan sekaligus membuat pesta pernikahan kalian ini" kata Abi Hamid menjelaskan.


"Terima kasih Abi" kata Afifa dan langsung memeluk Hamid Abdullah dengan sayang.


Hamid membelai puncak kepala Afifa dengan penuh sayangnya.


"Semoga kamu selalu berbahagia ya nak" kata Hamid yang masih saja membelai Afifa.


Ardiansyah yang disana hanya melihat dengan bahagia kehangatan Afifa dengan Abi Hamid.


"Sini nak" pinta Hamid kepada Ardiansyah.


Ardiansyah pun mendekat dan mulai memeluk Abi Hamid seperti Afifa.


Mereka berpelukan bertiga.


"Ya sudah sebaiknya kita kedalam. Sepertinya Reina sudah menunggu kita" kata Hamid sambil merangkul putri dan menantunya itu.


Afifa bersama Abi dan suaminya akhirnya masuk kedalam dan mendapati Reina baru saja keluar dari ruangan Nicholas.


"Bagaimana keadaan Nicholas sekarang" kata Hamid kepada putri satunya itu.


"Sebaiknya secepat nya kita atur kepindahan Nicholas dari tempat sini Abi.


Apa Abi punya tempat yang setidaknya aman dan bisa memuluskan rencana kita" kata Reina sekaligus bertanya kepada Hamid.


"Abi punya tempat masih di daerah sini, tempat itu sudah lama kosong.


Tetapi masih terawat karena setiap seminggu sekali pasti ada orang yang membersihkan tempat itu.


Dan Abi akan memberikannya 5 orang pilihan yang akan menjaga dan membantu Nicholas nantinya" kata Hamid.


"Woww ternyata Abi ku ini orang yang selalu cepat tanggap ya" kagum Reina yang langsung masuk dalam pelukan Hamid.


"Reina bangga jadi anak Abi" kata Reina dengan manja nya.


"Mulai deh manja kayak anak kecil" kata Afifa yang jengah melihat sifat Reina yang kadang kekanak-kanakan itu.


"Biarin" kata Reina sambil menjulurkan lidahnya.


Afifa dan Ardiansyah yang melihat itu hanya menggelengkan kepala saja.


Afifa dan Ardiansyah memasuki ruangan Nicholas untuk berpamitan.


"Dokter Nicholas selamat bergabung, dan aku harap kamu tidak mengecewakan kami" kata Ardiansyah menjabat tangan Nicholas saat sudah berada diruangan Nicholas.


"Ini obat untuk menyembuhkan lukamu, semoga nanti kita akan bisa menjadi partner yang sangat solid" kata Afifa.


"Oh ya datanglah besok, karena besok adalah pesta pernikahan kami" kata Ardiansyah yang sengaja memberitahukannya kepada Nicholas agar dia tidak terlalu berharap kepada Afifa.


" Terima kasih fa.


Tetapi maaf seperti nya aku tidak bisa datang karena itu akan menjadikan kecurigaan profesor Alfaro.


Aku turut berbahagia dengan pernikahan kalian.


Semoga kalian bahagia selamanya" Nicholas mendoakan tulus walau sebenarnya hatinya sedang menangis.


"Terima kasih. Aku berharap nantinya kita bisa menjadi teman" kata Ardiansyah yang mulai membuka hatinya untuk berteman dengan Nicholas.

__ADS_1


"Terima kasih karena kalian berdua mempercayaiku" kata Nicholas.


"Sama-sama dokter Nicholas" kata Ardiansyah.


"Sebaiknya kami permisi dahulu" pamit Afifa lembut.


"Tunggu tuan Ardiansyah saya memiliki satu permintaan kepada anda" kata Nicholas menghentikan langkah Ardiansyah.


"Katakanlah dokter Nicholas" Ardiansyah memberi ijin Nicholas berbicara.


"Aku ingin tuan menjaga dokter Afifa dan pastikan dia akan bahagia bersama anda. Jangan pernah anda sedikitpun menyakitinya karena aku adalah orang pertama yang akan mencari anda dan membuat perhitungan dengan anda" ancam Nicholas.


"Tenang saja dokter Nicholas aku akan pastikan istriku ini bahagia dan aku berjanji akan menjaganya dengan seluruh jiwaku" kata Ardiansyah.


"Terima kasih, karena kami sudah memenuhi permintaanku" tulus Nicholas.


"Sama-sama dokter Nicholas. Kami berdoa semoga kelak anda akan mendapatkan semua kebahagiaan anda sendiri" doa tulus Ardiansyah dan Afifa.


"Aamiin, terima kasih" kata Nicholas.


Afifa dan Ardiansyah pun meninggalkan Nicholas seorang diri diruangan itu.


Diluar tampak Hamid menyuruh anak buahnya untuk menempatkan Nicholas ditempat yang layak dan memberikan pengobatan yang sepantasnya untuk Nicholas.


Afifa dan Ardiansyah mendekati Hamid dan juga Reina.


"Sebaiknya kita pulang sekarang, Abi gak mau Uma dan bunda kamu khawatir lagi" ajak Hamid kepada anak dan menantunya itu.


Mereka berempat segera menuju mobil mereka.


Setelah dirasa semua sudah duduk dengan nyaman Ardiansyah segera melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang.


Setelah menempuh jarak yang sedikit jauh akhirnya mereka sudah sampai di halaman rumah Hamid Abdullah.


Afifa dan Ardiansyah setelah membersihkan badannya segera melaksanakan shalat ashar yang sangat terlambat itu.


Selesai beribadah mereka menuju ke ruang tengah bersama-sama.


Ternyata disana sudah berkumpul semua keluarga.


"nak Afifa, Syah coba sini kalian mendekat" kata bunda Habibah meminta mereka mendekat.


Mereka berdua pun mendekat kepada bunda yang saat itu duduk bersebelahan dengan Uma Hamida.


"Ini baju pengantin yang dipakai Uma waktu dahulu menikah dengan Abi kamu semoga kamu mau mengenakannya disaat besok pesta pernikahan kalian" pinta Uma kepada Afifa.


Baju itu sudah sedikit dimodifikasi agar terlihat pas dipakai Afifa.


Baju itu sederhana tetapi masih terlihat sangat mewah.


Kebaya yang didominasi warna coklat keemasan dan ditaburi dengan kristal-kristal permata yang menambah keanggunan bagi siapa saja yang memakainya.


"Terima kasih Uma, baju ini sangat indah sekali.


Afifa senang sekali bisa memakainya" kata Afifa terharu dan tanpa terasa bulir-bulir air mata merembes ke pipi.


"Kenapa kamu menangis nak" tanya bunda.


"Afifa menangis bahagia bunda karena Afifa bisa mengenakan baju yang merupakan pakaian yang penuh sejarah bagi kedua orangtua Afifa" kata Afifa yang masih saja menangis.


Bunda membelai puncak kepala Afifa.

__ADS_1


"Dan ini cincin pernikahan bunda dengan almarhum ayahnya Ardiansyah.


Bunda harap kalian berdua Sudi memakainya" kata bunda menyerahkan itu kepada Afifa dan Ardiansyah.


"Terima kasih bunda kami akan selalu memakainya" kata Ardiansyah dan Afifa hampir bersamaan.


Mereka berpelukan sambil menangis penuh haru dan kebahagiaan.


Tak terasa waktu sudah menunjukkan sholat Maghrib.


Mereka semua menuju ke mushola dan mulai melakukan sholat Maghrib berjamaah dan akan di imami oleh Abi Arsyad yang kebetulan sejak dari tadi beliau dengan Uma Aisyah sudah berada dikediaman Hamid Abdullah.


Mereka menjalankan sholat Maghrib dengan sangat khusuk.


Selesai sholat mereka pun langsung menuju keruang makan.


Mereka mulai makan malam bersama.


Semua hidangan telah disiapkan diatas meja oleh para asisten rumah tangga.


Mereka semua duduk ditempat masing-masing, tak ketinggalan juga dengan Aziel dan juga Anna.


Mereka berdua juga sudah berada disana.


Semua orang menyantap makanan itu dengan penuh nikmat dan hikmat.


Tidak ada suara yang keluar dari mulut mereka kecuali dentingan suara sendok dan garpu yang bertabrakan dengan piring.


Gak beberapa lama makanan mereka yang ada di piring masing-masing sudah habis tak bersisa.


Mereka kembali berdiri dan menuju keruang keluarga yang sangat luas itu.


Mereka berbincang seputar acara besok dan diselingi dengan canda dan tawa.


Acara pesta pernikahan Afifa dan Ardiansyah akan diadakan disebuah hotel berbintang lima.


Udangan sudah disebarkan oleh Uma dan bunda melalui orang kepercayaan Ardiansyah dan Afifa tanpa sepengetahuan Afifa dan Ardiansyah.


Tak terasa waktu sudah memasuki waktu sholat isya. Mereka kembali melakukan ibadah bersama-sama setelah itu mereka kembali kekamar masing-masing.


Didalam sebuah kamar yang cukup luas tampak sepasang suami istri sedang berada di balkon kamar nya.


"Sayang, apakah kamu bahagia" tanya Ardiansyah dengan lembut sambil memeluk Afifa dari belakang dan menyandarkan kepalanya di ceruk leher sang istri.


"Tentu saja aku bahagia hubby" jawab Afifa lembut.


Afifa mengusap pipi sang suami dengan lembut.


Ardiansyah membalikkan wajah sang istri dan ditangkup nya wajah Afifa dengan kedua tangannya.


Dia tatap wajah sang istri dan kemudian dia mulai mencium Afifa dengan penuh kelembutan.


Setelah Ardiansyah melepaskan ciumannya Afifa mengajak suaminya itu untuk masuk kedalam.


"Hubby sebaiknya kita masuk kedalam karena hari sudah sangat larut" ajak Afifa.


"Kamu benar sayang" Ardiansyah membenarkan ucapan sang istri.


Mereka pun akhirnya masuk dan bergantian membersihkan diri sebelum mereka merebahkan tubuhnya diatas kasur.


Beberapa menit mereka pun selesai membersihkan diri dan mulai merebahkan tubuhnya diatas kasur empuknya itu

__ADS_1


Mereka pun tidur dengan saling berpelukan.


__ADS_2