
Mereka semua melaksanakan sholat subuh berjamaah dengan diimami sendiri oleh Hamid Abdullah.
Seusai melaksanakan ibadah bersama mereka semua kembali ke aktifitas masing-masing.
Para perempuan sibuk menyiapkan makanan didapur sedangkan para lelaki kini tampak sedang melakukan olahraga disekitar pulau itu.
Saat memasak tiba-tiba Afifa merasa mual dan gak suka dengan bau bawang merah.
"Kamu kenapa fa, kok kamu kelihatan pucat banget" tanya Anna.
"Entahlah sepertinya aku sedikit kecapean aja" jawab Afifa.
"Sebaiknya kamu beristirahat saja fa, biar kami yang meneruskan memasaknya" kata Reina yang ikutan berbicara.
"Iya fa, lebih baik kamu beristirahat saja biar aku sama Reina yang memasak" kata Anna.
"Baiklah kalau begitu aku akan kekamar dahulu, maafkan aku tidak bisa membantu"kata Afifa dan langsung membuka apron nya dan pergi menuju kamarnya.
Sesampai didalam kamar Afifa terlebih dahulu membersihkan tubuhnya.
Setelah selesai dia langsung merebahkan tubuhnya karena dia merasa benar-benar lemas dan pusing.
Di dapur Reina dan Anna tampak sudah menyelesaikan masakannya dan kini dibantu oleh beberapa asisten rumah tangga Reina dan Anna menyajikan semua diatas meja makan yang ditata dengan rapi.
Dirasa semua sudah beres kini Reina dan Anna kembali ke kamarnya untuk membersihkan tubuhnya sambil menunggu para lelaki selesai berolahraga.
Tak beberapa lama tampak para lelaki sudah selesai berolahraga kini mereka semua menuju ke kamar masing-masing untuk membersihkan tubuhnya dan setelah itu sarapan bersama.
Ardiansyah betapa terkejut saat mendapati Afifa yang tampak sudah tertidur dengan wajah yang sedikit pucat.
"Sayang kamu kenapa" disentuhnya kening Afifa tampak tidak demam sama sekali.
Ardiansyah sedikit panik dan kemudian dia memanggil-manggil Afifa.
"Sayang, kamu sakit" terlihat gurat kekhawatiran diwajah Ardiansyah.
Afifa mengerjapkan matanya sambil berbicara lirih dan sedikit parau khas orang bangun tidur.
"Aku hanya sedikit pusing saja kok hubby, sebentar lagi juga aku sudah sembuh.
Mungkin aku hanya kecapekan saja" jawab nya.
"Ya sudah kamu istirahat dahulu biar aku ambil kan sarapan kesini nanti" kata Ardiansyah langsung membenarkan letak tidur istrinya dan menyelimutinya.
Setelah itu Ardiansyah menuju ke kamar mandi untuk membersihkan badannya.
Seusai membersihkan badannya Ardiansyah menuju ke meja makan dan disana ternyata seluruh anggota keluarga sudah berkumpul disana.
Dia menyiapkan sarapan Afifa dan juga dirinya untuk dibawa ke kamar.
__ADS_1
"Lho Syah dimana Afifa, kenapa tidak turun bersama kamu" tanya Aziel yang memang tidak tahu kalau adiknya itu sedang sakit.
"Afifa kurang sehat bang, sekarang dia sedang beristirahat.
Mungkin dia kecapekan dengan misi yang kita lakukan beberapa hari belakangan ini" jawab Ardiansyah sambil memasukkan makanannya didalam piring.
"Ya sudah kamu dan Afifa sarapan dikamar saja" kata Hamid Abdullah.
"Iya Abi" kata Ardiansyah yang saat ini sudah selesai menyiapkan sarapannya dengan sang istri.
"Aku pamit ke kamar dahulu ya" pamit Ardiansyah sambil membawa nampan yang berisi 2 piring sarapan dan 2 gelas minuman.
Sesampai dikamar diletakkannya makanan itu diatas meja dekat sofa dan kemudian Ardiansyah membangunkan Afifa
"Sayang bangun dulu, lebih baik kamu sarapan dahulu setelah itu kamu minum obatnya ya" kata Ardiansyah lembut dan penuh kasih sayang.
Afifa terbangun dan duduk bersandarkan sandaran tempat tidur.
"Aku suapi ya sayang" lanjut Ardiansyah.
Dia mulai menyuapi sang istri dengan penuh kelembutan.
Dipandangi wajah cantik istrinya itu tanpa bosan-bosannya.
Sesuap demi sesuap dan akhirnya makanan Afifa kini sudah habis tak bersisa.
Ardiansyah menyodorkan air putih dan tak beberapa lama dia kembali menyodorkan obat meringankan pusing dan sakit dikepala nya.
Kini Ardiansyah mulai memakan semua sarapannya dengan tenang.
Setelah habis semua kini Ardiansyah kembali membawa semua bekas makanannya ke dapur.
Disana sudah ada Asisten rumah tangga yang dipekerjakan oleh Ardiansyah selama ini.
Sepeninggal itu dia langsung menuju ke ruang kerjanya dan ternyata disana sudah ada Abi, Fano, Aziel, Nicholas, Anna dan juga Reina.
"Bagaimana keadaan Afifa Syah" tanya Aziel.
"Sudah lebih baik dari pada tadi bang" jawab Aziel.
"Syukurlah kalau begitu" kata Aziel.
"Kesini nak, kamu duduk dekat sama Abi" kata Hamid kepada Ardiansyah yang saat itu baru saja sampai.
Ardiansyah mengikuti permintaan Hamid Abdullah.
"Begini nak, sebaiknya kita kembali ke negara kita dan berkumpul dengan keluarga.
Kasihan bunda sama Uma yang selalu mencari keberadaan mu dan Afifa.
__ADS_1
Mereka semua sangat mengkhawatirkan keadaanmu dan Afifa.
Biarlah pulau mu ini di jaga oleh anak buah mu" kata Hamid meminta Ardiansyah kembali pulang kerumah.
"Baiklah Abi, kebetulan Afifa sangat merindukan Uma Hamida, Uma Aisyah dan bunda Habibah.
Mungkin dengan bertemu dengan Uma dan bunda Afifa bisa langsung pulih" jelas Ardiansyah.
"Benar, Afifa itu sangat dekat sekali dengan Uma Aisyah apalagi saat sakit pasti Uma Aisyah selalu lebih peka dan feeling nya lebih tajam" Hamid mengingat kedekatan anaknya itu dengan adik kesayangannya dan satu-satunya.
Belum selesai mengucapkannya tiba-tiba ponsel Hamid berbunyi.
"Sebentar Abi mengangkat telepon dahulu ya" kata Hamid dan langsung mengangkat sambungan teleponnya itu yang ternyata Uma Aisyah yang menelepon.
"Assalamu'alaikum Aisyah"
"Wa'alaikumsalam bang"
"Ada apa kamu menelepon ku"
"Bang, bagaimana keadaan Afifa.
Aku merasa ada sesuatu yang terjadi padanya bang.
Suruh dia cepat kembali bang, aku sangat mengkhawatirkan keadaannya" memberendong dengan banyak pertanyaan.
"Kamu tenanglah dahulu, insyaallah nanti Afifa dan suaminya akan pulang.
Kamu tunggulah di rumahku" kata Hamid
"Benarkah bang" sedikit meragukan ucapan Hamid
"Benar Aisyah" meyakinkan adiknya itu.
"Baiklah kalau begitu, aku akan bersiap-siap kerumah Abang sekarang karena aku akan mempersiapkan makanan kesukaannya" kata Aisyah.
"Baiklah kalau begitu aku tutup dahulu ya, Wassalamu'alaikum" kata Hamid langsung menutup teleponnya setelah dapat jawaban salam dari Aisyah.
"Benar kan apa yang Abi katakan, belum lama kita menceritakan Afifa dengan Uma Aisyah eh tiba-tiba Uma Aisyah sudah menelepon dan merasakan apa yang dirasakan oleh Afifa" kata Hamid Abdullah.
"Iya Abi, tetapi Uma Aisyah kan bukan ibu kandungnya kenapa dia begitu sangat dekat hatinya dengan Aisyah" tanya Aziel yang begitu penasaran sekali melihat adiknya yang begitu sangat dekat dengan Uma Aisyah dari pada Uma kandungnya Uma Hamida itu.
"Karena sejak kecil Uma Aisyah yang selalu merawat Afifa disaat Uma sakit setelah melahirkan dan saat Afifa kecil pernah mengalami kecelakaan Uma Aisyah lah yang mendonorkan darahnya untuk Afifa jadi tidak heran kalau mereka sangat dekat.
Ikatan batin diantara keduanya sangatlah kuat" jelas Hamid.
Semua mengangguk tanda mengerti apa yang diucapkan oleh Hamid.
"Sebaiknya kita bersiap-siap berangkat pulang kerumah" perintah Hamid kepada semua anak-anaknya itu.
__ADS_1
"Baik Abi" jawab mereka serentak.
Ardiansyah kembali ke kamarnya dan melihat keadaan Afifa sekaligus memberitahukan kepadanya untuk bersiap berangkat sekarang untuk pulang kerumah Abi Hamid Abdullah.