Dokter Afifa

Dokter Afifa
Kejadian yang tak disangka-sangka


__ADS_3

Afifa memasuki kamarnya dan langsung menuju ke kamar mandi untuk membersihkan diri setelah itu dia mulai merebahkan tubuhnya diatas kasur nya.


Sedang Ardiansyah yang sedang berbincang bersama Abi Afifa diruang tamu.


"Abi maaf kan Ardiansyah yang telah lalai dalam menjaga Afifa" kata Ardiansyah ditengah-tengah perbincangannya itu.


"Sudah nak, kamu jangan menyalahkan diri kamu sendiri.


Abi yakin kamu pasti bisa melindungi Afifa kok.


Percaya deh Afifa juga bisa menjaga diri sendiri" kata Abi membesarkan hati Ardiansyah agar tidak terus-menerus merasa bersalah.


"Tapi Abi, Afifa tadi sampai terluka dibibir nya" kata Ardiansyah


"Sudah... sudah...


itu hanya luka kecil, kamu jangan terlalu diambil hati ya.


Sekarang sudah malam sebaiknya kamu pulang terlebih dahulu.


Besok kamu boleh kesini lagi" kata Abi Hamid Abdullah.


"Iya Abi, kalau begitu Ardiansyah pamit dahulu.


Assalamu'alaikum" kata Ardiansyah sambil mencium punggung tangan Abi.


"Wa'alaikumsalam nak, hati-hati dijalan ya" kata Abi.


Ardiansyah pun langsung menuju ke mobilnya dan melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang.


Ditengah perjalanan dia mendapat telepon dari Fernando.


Ardiansyah menepikan mobilnya dan mengangkat telepon dari Fernando.


"Iya tuan Fernando" kata Ardiansyah saat telepon itu sudah tersambung.


"Tuan Ardiansyah ada tugas penting untuk kamu, saya harap kamu segera ke markas sekarang" kata Fernando.


"Baik tuan"jawab Ardiansyah.


Dan sambungan langsung diputus oleh tuan Fernando.


Ardiansyah kembali melajukan mobil nya dan menuju ke markas agen rahasia internasional.


Setelah beberapa menit menempuh perjalanan akhirnya dia sampai di parkiran markas agen rahasia internasional.


Ardiansyah langsung keluar dari mobil dan menuju ketempat keberadaan Fernando.


"Siap lapor tuan" kata Ardiansyah.


"Silahkan duduk tuan Ardiansyah" kata Fernando.

__ADS_1


"Saya ada misi penting, untuk mengawal seorang dokter. Dia adalah kunci untuk menyelamatkan semua orang di dunia" kata Fernando dan menyerahkan data-data tentang dokter itu.


"Ini adalah data dari dokter itu.


Saya mohon kamu melaksanakan tugas ini dengan baik.


Saya percaya kamu, dan hanya kamu yang bisa mengemban tugas ini" kata Fernando melanjutkan ucapannya tadi.


"Baik tuan" kata Ardiansyah dan langsung membaca data-data dokter yang dimaksud oleh Fernando.


Setelah membaca dengan seksama Ardiansyah sedikit terkejut karena dokter yang dimaksud adalah Afifa.


Sebenarnya Ardiansyah sudah tahu sebelumnya tetapi Ardiansyah tidak mengetahui kalau Afifa yang memegang chip profesor Robert tetapi Ardiansyah tidak mengetahui kalau Afifa menjadi incaran banyak orang karena setahu nya yang sedang diincar adalah Reina saudara Afifa.


"Bagaimana tuan Ardiansyah" tanya Fernando.


"Baik tuan, saya akan melaksanakan tugas ini dengan seluruh jiwa dan nyawa saya" kata Ardiansyah.


Ardiansyah begitu bahagia karena dengan begitu dia bisa selalu berada didekat Afifa.


"Ya sudah kalau begitu kamu bisa kembali, mulai besok kamu harus temui tuan Hamid Abdullah dan menyerahkan surat tugas ini kepada beliau karena beliau yang memintanya langsung" kata Fernando.


"Dan satu hal kamu akan bekerjasama dengan Lionel dia adalah orang kepercayaan dari tuan Hamid, beliau adalah agen terbaik di divisi kita tetapi beliau memilih mengabdikan dirinya kepada tuan Hamid Abdullah" Fernando kembali melanjutkan penjelasannya kepada Ardiansyah.


"Siap tuan saya akan ingat itu semua" kata Ardiansyah sambil menjabat tangan Fernando dan terus berjalan keluar menuju mobil nya.


Dimobil Ardiansyah senyum-senyum sendiri.


Dia akan menjadi suami yang baik buat Afifa dan juga akan membahagiakan Afifa sampai kapan pun.


Ardiansyah pun akhirnya melajukan mobilnya menuju ke rumahnya.


Sesampai dirumah Ardiansyah membuka pintu dan melihat dikamar bunda nya ternyata sudah tertidur kemudian dia menuju ke kamarnya.


Sampai dikamar Ardiansyah segera menuju ke kamar mandi untuk membersihkan tubuh nya karena badannya sudah lengket semua.


Tak lama setelah itu dia segera mengenakan baju dan merebahkan tubuhnya di atas kasurnya itu.


Dia sudah tidak sabar ingin segera esok pagi.


Tak beberapa lama akhirnya Ardiansyah sudah masuk ke alam mimpi.


Ditempat lain disebuah apartemen milik Nicholas, tampak Nicholas yang sedang berada didepan kaca apartemen nya merenung sambil melihat kearah luar menikmati kelap-kelip lampu kota dimalam hari.


Pikirannya jauh memikirkan Afifa.


"Aku tidak menyangka kalau Afifa adalah seorang yang tangguh. Semakin lama aku semakin mengagumi nya dan aku tak sanggup melihat dia bersama lelaki lain.


Tetapi aku tidak boleh egois bagaimanapun juga aku harus mengikhlaskan Afifa menjadi milik orang lain.


Kebahagiaan Afifa merupakan kebahagiaan bagiku" batin Nicholas.

__ADS_1


Dia melihat rahangnya sedikit memar dan bibirnya sobek akibat tendangan dari Afifa tadi walau sudah diobati tetapi memar-memar ditubuh dan wajahnya begitu tampak.


"Aku harus benar-benar mengikhlaskan Afifa walau sangat sakit buatku.


Yang penting sekarang aku harus mencari jalan untuk membebaskan adikku dan aku akan pergi sejauh mungkin.


Aku tidak mau menjadi boneka dan bawahan profesor Alfaro.


Aku gak mau menyakiti manusia dan aku harus segera menyudahi semua ini.


Aku harus mencari cara lain agar aku bisa terbebas dari profesor Alfaro" batinnya dan mulai memantapkan hati untuk segera menemukan adik satu-satunya.


Lama kelamaan Nicholas akhirnya menguap dan dia mulai menuju kamarnya dan mulai merebahkan tubuhnya diatas kasur yang empuk.


Dan tak lama sudah terbuai dalam mimpinya.


Afifa yang sejak tadi merebahkan tubuhnya dia mulai beranjak dari tempat tidurnya dan duduk disisi tempat tidurnya itu.


Dia mengambil ponselnya yang berada di atas nakas dan mulai menelepon Reina yang kebetulan sejak tadi berada dimarkas Three Angel.


"Assalamu'alaikum Rein" kata Afifa memberi salam ketika sambungan teleponnya telah terhubung.


"Wa'alaikumsalam, iya ada apa fa" kata Reina dari balik sbjngan telepon itu.


"Gimana keadaan disana dan kamu masih sendiri atau bagaimana" tanya Afifa.


"Aku sedang bersama Anna fa, keadaan disini aman terkendali dan kamu jangan terlalu khawatir akan hal ini" kata Reina.


"Ya sudah kalau begitu beberapa menit lagi aku akan menuju kesana dan tolong besok bantu aku memberi injeksi kepada semua anggota keluarga kita" kata Afifa


"Siap fa, kamu jangan khawatir besok pasti akan aku bantu" kata Reina membalas ucapan Afifa.


Afifa segera mengganti bajunya dengan celana jeans, sweater Hoodie dan memakai hijab instan berwarna biru navy.


Dia mulai mengaca dan setelah dirasa rapi dan pantas dia segera mengambil kunci mobil dan tas nya dan tak lupa membawa ponselnya dan memasukkan didalam tas nya.


Afifa berjalan keluar dan saat di ruang keluarga ternyata ada Abi dan Uma yang terlihat lagi melihat siaran TV.


"Lho fa, kamu mau kemana nak sudah malam begini" tanya Abi.


"Afifa harus ke apartemen Abi, Reina membutuhkan bantuanku" kata Afifa.


Abi yang sudah mengetahui apa yang dilakukan Reina dan Afifa hanya diam saja karena beliau tidak ingin membuat khawatir istrinya tercinta itu.


"Ya sudah kamu hati-hati ya nak, ingat pesan Abi ya" kata Abi Hamid Abdullah.


jangan lupa


like, komen, vote dan hadiah ya


😁😁😁😁😘😘😘😘😘

__ADS_1


__ADS_2