Dokter Afifa

Dokter Afifa
Penemuan titik masalah dari suatu musibah yang mewabah.


__ADS_3

Setelah perjalanan yang panjang akhirnya Hamid Abdullah dan putranya Aziel Ramadhan sampai rumah sekitar pukul 02.00 dini hari.


Tuan Hamid memasuki kamarnya dan langsung menuju ke kamar mandi setelah itu dia mulai ingin merebahkan tubuhnya untuk beristirahat sejenak demikian juga dengan Aziel.


Dia melakukan hal serupa dengan Abi nya itu.


Tak menunggu lama mereka pun sudah terbuai dalam mimpinya masing-masing.


Keesokan hari Afifa yang sudah bangun dari sebelum subuh hendak mencari Abi nya.


"Apa kamu melihat Abi ku" tanya Afifa kepada salah satu penjaga


"Abi Nona sudah kembali dari semalam bersama tuan muda Aziel" kata pengawal itu.


"Oh ya sudah kalau begitu" kata Afifa dan berlalu pergi kembali ke kamarnya.


Setelah didalam kamarnya Afifa langsung menuju ke kamar mandi setelah selesai dia sempatkan diri untuk melakukan kegiatan yang sudah menjadi kebiasaannya yaitu beribadah.


Dia melakukan rangkaian ibadahnya hingga jam menunjukkan pukul 6.30, setelah itu dia langsung sedikit berolah raga.


Selesai olah raga Afifa langsung kembali ke kamarnya untuk mandi lagi.


Setelah selesai dan berpakaian rapi Afifa menuju meja makan.


Di sana sudah disediakan berbagai makanan yang sangat lezat.


"Rein, tumben dah siap dimeja makan saja" kata Afifa.


"Biasa fa dah laper banget nih, kemarin malam aku gak sempat makan" kata Reina.


"Tuh kan kebiasaan deh kamu, bila Uma tahu bisa berabe deh kamu" kata Afifa


"Tapi kan Uma gak akan tahu fa, paling cuma kamu doang" kata Reina sambil nyengir.


"Kau itu, selalu deh.


Awas entar sakit" kata Afifa yang sedikit mengkhawatirkan saudaranya itu.


"Oh ya Abang sama Abi kemana ya kok nggak kelihatan" tanya Reina.


"Mereka dah balik dari semalam" kata Afifa santai.


"Apa!!!!" kata Reina terkejut


"Ih kau itu, gak usah teriak kali" kata Afifa.


"Aku balik gimana nih hik...hik..." kata Reina pura-pura bersedih.


"Udah deh gak usah pura-pura bersedih" kata Afifa yang tahu kebohongan Reina.


"Ih kau itu fa, tau aja" jawab Reina yang sedikit kesal sambil memanyunkan bibirnya.


"Sudah gak usah manyun gitu entar cantiknya ilang lho.


Mending kita lahap nih makanan katanya dah lapar" kata Afifa yang membujuk Afifa agar tidak kesal lagi.


Mereka pun akhirnya makan dengan lahapnya.


Selesai makan mereka membersihkan meja makannya dan mulai mencuci piring.


"Fa selanjutnya apa yang harus kita lakukan" kata Reina.


"Kita mulai penelitian kita dan kita harus segera menyelesaikannya" kata Afifa.


"Baiklah kalau begitu" kata Reina.


Saat mereka asyik mengobrol tiba-tiba ponsel Afifa berbunyi.


Afifa segera mengangkatnya


"Assalamu'alaikum Anna, ada apa ya" tanya Afifa


"Fa gawat dirumah sakit pasien semakin meningkat dan kita sudah kuwalahan" kata Anna.

__ADS_1


"Tapi kan sebentar lagi akan datang tenaga ahli" kata Afifa.


"Benar fa, mungkin nanti tenaga ahli itu datang.


Tetapi beberapa terakhir ini dokter Nicholas dan dokter Syahrir selalu pergi entah kemana" kata Anna menjelaskan.


"Apa mereka ada hubungannya dengan ini" tanya Afifa


"Saya rasa sih begitu fa, karena saya melihat mereka sering bersama" kata Anna.


"Ya sudah sekarang kamu tetap awasi mereka berdua. Selain itu jangan lupa kamu retas semua internet dirumah sakit mana pun" kata Afifa


"Oh ya Anna satu lagi coba kamu retas jaringan internet milik perusahaan air mineral yang dipinggir kota, setelah itu laporkan semua yang kamu dapatkan kepada saya" pinta Afifa kepada sahabatnya itu


"Siap fa" kata Anna.


"Fa bagaimana kalau kita menyelinap ke pabrik itu fa" kata Reina.


"Maksud kamu Rein" tanya Afifa


"Begini rencananya fa, setelah kita mendapat kabar dari Anna tentang pabrik itu sebaiknya kita bertindak dengan menyelinap kedalam pabrik itu.


Kita selidiki apa saja yang terjadi disana begitu.


Setelah kita bisa memastikan sendiri kita bisa mengambil langkah selanjutnya untuk menjerat profesor Alfaro itu dan menjebloskannya ke penjara" kata Reina.


"Wah ide bagus tuh Rein sepertinya.


Kita harus gerak cepat sebelum dia menemukan keberadaan kita" kata Afifa


"Tuh kamu sudah tahu" kata Reina


"Ya... ya... kamu memang terbaik deh" kata Reina.


"Sepertinya kita membutuhkan senjata deh fa untuk berjaga-jaga" kata Reina.


"Betul kamu Rein, kalau begitu sebelum rencana kita mulai kita persiapkan semuanya.


Jangan sampai Abi tahu Rein bisa gagal rencana kita ini" kata Afifa.


"Kamu sudah periksa pasiennya kan Rein" tanya Afifa.


"Sudah fa, dan sekarang dia masih diruang isolasi" kata Reina


"Ya sudah kalau begitu" kata Afifa.


Mereka pun menuju keruang penelitian.


Semua bahan kimia mulai mereka racik dengan cekatan menjadi sebuah formula.


Ditempat lain Ardiansyah yang sedang berada dikantornya masih saja memikirkan Afifa.


Dia masih tidak tenang, tetapi dia berusaha mengalihkan perhatiannya dengan pekerjaan-pekerjaan nya dan juga pada misi pentingnya itu.


Saat sedang asyik memeriksa berkas-berkas yang berada diatas mejanya Ardiansyah baru teringat kalau hari ini dia harus bertemu dengan tuan Fernando.


"Mitha tolong keruangan saya" perintah Ardiansyah melalui sambungan interkom nya.


"Baik tuan" kata Mitha.


Selang beberapa menit Mitha sudah berada diruangannya.


"Mitha tolong ini berkas-berkas yang sudah aku tanda tangani dan ini berkas untuk meeting nanti tolong serahkan pada tuan


Yudha" kata Ardiansyah memberi tugas kepada sekretarisnya itu.


"Baik tuan" kata Mitha.


"Ya sudah kalau begitu kamu boleh pergi.


Oh ya kalau ada yang mencari saya kamu bilang saya sedang tugas keluar kota untuk beberapa hari" kata Ardiansyah kepada Mitha.


"Baim tuan" kata Mitha lagi.

__ADS_1


Dan setelah itu Mitha segera pergi menjalankan tugasnya seperti yang diperintahkan bos nya itu.


Setelah kepergian Mitha, Ardiansyah pun beranjak pergi sambil membawa kunci mobilnya.


Ardiansyah mengendarai mobilnya dengan kecepatan sedang.


Mobil itu membelah jalanan yang saat ini sedang padat-padatnya tidak seperti biasanya yang sedikit lenggang.


Ternyata dibeberapa titik keramaian terdapat banyak orang-orang yang tergeletak karena kena wabah virus itu.


Ardiansyah yang melihat kearah orang yang terserang wabah itu badannya dipenuhi dengan kulit-kulit yang sedikit melepuh.


Ardiansyah tidak tega melihatnya.


Banyak relawan disana yang berusaha membantu orang-orang yang sedang terjangkit oleh wabah itu.


Ardiansyah pun menepikan mobilnya dan bertanya kepada seorang yang sedang menjadi relawan.


"Kenapa semua bisa tergeletak disini" tanya Ardiansyah.


"Kemarin sempat ada pembagian minuman air mineral tuan.


Tetapi entah kenapa setelah itu banyak yang berjatuhan seperti ini" kata relawan itu.


"Apa kamu tahu siapa yang membagikannya" tanya Ardiansyah lagi.


"Kalau itu saya kurang tahu tuan" kata relawan itu.


Memang di kota itu sedang membutuhkan banyak air bersih.


Karena air PDAM kota itu sedang tidak mengalir beberapa hari ini.


Banyak warga berbondong-bondong untuk menuju truk-truk pendistribusian air mineral buat kebutuhan mereka tetapi air itu ternyata menjadi malapetaka buat mereka sendiri.


Ardiansyah pun kembali ke mobilnya dan pergi ke markas agen rahasia.


Ardiansyah memasuki markas itu yang letaknya berada dibawah gedung perkantoran.


Ardiansyah segera turun dari mobilnya dan menuju ketempat keberadaan tuan Fernando.


"Selamat siang tuan" kata Ardiansyah


"Iya Ardiansyah, apa yang kamu dapat beberapa hari ini" kata tuan Fernando.


"Begini tuan diperjalanan menuju kesini saya mendapatkan banyak masyarakat yang tergeletak di suatu tempat umum, mereka sebelumnya sedang antri air bersih yang didistribusikan oleh suatu perusahaan.


Ini adalah bekas air mineral yang mereka minum sebelum mereka membawanya pulang untuk dikonsumsi keluarganya" kata Ardiansyah menjelaskan.


"Saya kira ini berhubungan dengan pabrik air mineral yang berada dipinggir kota tuan, karena anak buah saya yang sedang mengikuti dokter Nicholas bersama teman dokternya menuju kesana" kata Ardiansyah lagi meneruskan penyidikannya.


"Kita harus segera menyusup ke dalam pabrik itu untuk memastikannya" kata Fernando.


"Rencana malam ini saya dengan beberapa anak buah saya akan menyusup kedalam sana" kata Ardiansyah.


"Baiklah kalau begitu, kamu harus tetap berhati-hati.


Jangan sampai kamu lengah.


Aku merasa itu adalah markas mereka juga" kata Fernando lagi.


"Oh ya tuan ada satu tim lain yang juga sedang mengintai pergerakan dokter Nicholas itu" kata Ardiansyah.


"Kalau itu saya sudah tahu karena itu teman saya yang pernah berada dalam satu kesatuan intelijen internasional.


Kamu tidak usah mengkhawatirkan hal itu" kata Fernando.


"Dia berada di pihak kita dan kita juga sudah saling berkomunikasi.


Oh ya setelah penyidikan mu dipabrik air mineral itu kamu akan saya berikan tugas lagi yang sangat penting.


Karena tugas ini hanya kamu yang bisa menjalankannya.


Karena aku percaya sama kepandaian dan kepiawaian mu" kata Fernando lagi meneruskannya ucapan nya tadi.

__ADS_1


"Baik tuan, kalau begitu saya akan pergi dahulu" kata Ardiansyah dan langsung meninggalkan ruangan itu.


__ADS_2