
Ardiansyah mengendarai mobilnya dengan kecepatan diatas rata-rata dan langsung menuju ke apartemen Fano.
30 menit kemudian Ardiansyah sudah berada didepan pintu apartemen Fano.
Ardiansyah memencet bel apartemen Fano dan tak lama kemudian Fano datang membukakan pintunya dan mempersilahkan Ardiansyah masuk.
"Apa yang kamu dapatkan fan" tanya Ardiansyah langsung pada intinya.
"Coba kamu lihat ini" kata Fano yang sudah membuka MacBook nya dan menyerahkan semua rekamannya kepada Ardiansyah.
"Bagus gan, ini bisa juga jadi buat bukti kita untuk menjebloskan profesor Alfaro kedalam penjara" kata Ardiansyah.
"Tapi sebelumnya kita harus segera menghancurkan markas dan laboratorium milik profesor Alfaro.
Karena itu adalah sumber dari masalah ini.
Jadi mau tidak mau kalau kita ingin menyelamatkan umat manusia dari wabah ini kita harus hancurkan sumber pembuatannya" kata Fano memberikan pemikirannya.
"Wah betul banget kamu fan, tumben kamu sekarang semakin cerdik dan pintar aja" goda Ardiansyah.
"Mulai deh" kata Fano kesal.
"Udah jangan manyun gitu nanti gak ada yang mau lho" kata Ardiansyah yang masih senang menggoda Fano.
"Cih... kamu Syah, mentang-mentang sudah berhasil memperistri dokter Afifa sekarang meledekku" kata Fano yang geram dengan Ardiansyah.
"Ya jelas lah" kata Ardiansyah sambil tersenyum bangga.
"Udah-udah, sekarang dokter bodoh itu kita apain enaknya" tanya Fano yang berhasil menghentikan ledekan Ardiansyah.
"Untuk sementara kita kurung saja dahulu di tempat itu.
Oh ya bagaimana bisa kamu mendapatkan informasi dari dokter tengik itu" tanya Ardiansyah.
"Ceritanya panjang Syah" kata Fano.
"Alah kamu nih, bilang aja kamu malas cerita.
Sudah cepat ceritakan, karena aku ingin sekali mendengarnya" perintah Ardiansyah.
"Baiklah" kata Fano.
Dan akhirnya Fano pun menceritakan semuanya dari dia mulai mendatangi Anwar dan berpura-pura jadi orang suruhan profesor Alfaro sampai akhirnya dia bercerita diapartemen memberikan keterangan tentang profesor Alfaro.
"Ternyata kamu pandai berakting juga ya, lain kali sekali-kali kamu ikut main sinetron" kata Ardiansyah sambil tertawa.
"Kau itu Syah, suka banget deh kalau godain aku" kata Fano kembali kesal.
"Tapi ngomong-ngomong dokter Anwar itu begitu bodohnya ya sampai-sampai dia bisa terjerat dalam perangkap mu" kata Ardiansyah.
"Makanya itu, dan konyolnya sekali dia itu bisa-bisanya ceritain semuanya ke aku sampai masalah pribadinya dengan dokter Reina saudara istrimu itu" kata Fano yang tertawa saat ingat tingkah konyol yang dilakukan Anwar ketika dia tadi mabuk berat.
"Iya juga, tetapi untunglah Reina sudah tidak memiliki hubungan lagi dengan dokter Anwar itu" kata Ardiansyah sedikit lega.
"Besok ikut aku kerumah Abi Hamid, aku tunggu kamu disana jam 8 pagi sudah harus sampai.
Sekalian kamu bawa rekaman itu.
__ADS_1
Nanti baru kita bahas rencana selanjutnya.
Kita tidak boleh lengah dan jangan sampai profesor Alfaro lolos" kata Ardiansyah kepada Fano.
"Siap bos" kata Fano.
"Eh ya fan, apa kira-kira dokter tengik itu tahu letak markas besar profesor Alfaro yang diluar negeri kita ini" tanya Ardiansyah.
"Kalau itu aku kurang tahu Syah.
Tapi aku rasa orang yang bernama Brian itu tahu segalanya karena dari cerita dokter bodoh itu kalau Brian itu sudah sejak lama mengabdi pada profesor Alfaro.
Dia merupakan kaki tangannya profesor Alfaro.
Jadi kemanapun profesor Alfaro pergi dia selalu setia ada disampingnya.
Tetapi kalau kita ingin menjebak Brian sedikit sulit karena dia sepertinya orang yang sangat terlatih dalam hal kemiliteran dan dia juga sangat cerdas membaca pikiran orang" kata Fano yang menjelaskan pemikirannya.
"Betul kamu fan, kita harus mempunyai strategi yang matang untuk melawannya dan mendapatkan informasi darinya" kata Ardiansyah.
"Yups kamu benar sekali, kalau kita sampai gegabah bisa-bisa bahaya Syah" kata Fano
"Oh ya fan, aku kok seperti merasa kalau dokter Nicholas itu mengetahui banyak sepak terjang profesor Alfaro deh" kata Ardiansyah yang mengemukakan kecurigaannya.
"Bagaimana bisa kamu berpikiran seperti itu Syah" tanya Fano.
"Dari data yang kita dapat tentang dokter Nicholas dan kedekatan dia dengan profesor Alfaro fan" jawab Ardiansyah menjelaskan hasil kesimpulan ber analisa nya.
"Kalau gitu kita juga harus mendekati dokter Nicholas Syah" kata Fano.
Tapi caranya bagaimana" kata Ardiansyah.
" Ya itu yang harus kita pikirkan" kata Fano.
"Ya sudah besok aja kita bahas lagi. Aku harus segera pulang.
Aku takut nanti istriku sadar aku tidak ada disampingnya" kata Ardiansyah.
"Cie... cie... mentang-mentang sekarang punya istri maunya nempel melulu" kata Fano yang sekarang gantian meledek Ardiansyah.
"Biarin, makanya cepat sana cari istri biar bisa merasakan enaknya ada yang menemani" kata Ardiansyah balik meledek Fano.
"Udah-udah sana kamu cepet pulang dari pada nanti istrimu ngambek lagi" kata Fano mengusir secara halus Ardiansyah karena dia tidak ingin berdebat lagi dengan Ardiansyah.
Bisa-bisa sangat panjang nanti dan ujung-ujungnya Fano kena imbasnya.
"Ya sudah aku pulang.
Assalamu'alaikum" kata Ardiansyah berpamitan dan memberikan salam.
"wa'alaikumsalam" jawab Fano.
Ardiansyah pun keluar dari apartemen Fano dan dengan segera dia menuju mobilnya.
Setelah dirasa dia sudah nyaman duduk di kursi kemudi mobil itu dia langsung menjalankan mobilnya dengan kecepatan yang tinggi karena dia tidak ingin Afifa mengetahui kepergiannya itu.
Tidak beberapa lama akhirnya Ardiansyah sudah sampai didepan halaman rumah Abi Arsyad.
__ADS_1
Dia mulai memarkirkan mobilnya ditempat yang aman.
Setelah dia turun dari mobilnya Ardiansyah langsung kembali ke kamarnya dan ternyata setelah di lihat istrinya masih tertidur dengan sangat nyenyak nya.
Ardiansyah segera menuju kamar mandi untuk membersihkan badannya.
Setelah berpakaian dia pun menyusul istrinya yang sudah terlelap dalam alam mimpi.
Di pagi buta seperti biasa Afifa sudah terbangun dan segera dia mengambil air wudhu dan melaksanakan sholat malam.
Tetapi sebelumnya Afifa membangunkan suaminya itu.
Dan akhirnya suaminya pun membuka matanya sambil mengucek-ngucek matanya itu.
Ardiansyah yang terbangun itu segera ambil wudhu dan segera sholat malam.
Setelah aktifitas beribadahnya di pagi hari selesai.
Ardiansyah segera berolah raga ringan dengan ber joging di area pondok pesantren itu, sedangkan Afifa mulai sibuk membantu Uma Aisyah untuk membuatkan sarapan untuk Ardiansyah dan Abi Arsyad juga mereka sendiri.
Cukup lama Afifa dan Uma Aisyah memasak.
Kurang lebih 1 jam mereka baru menyelesaikan memasaknya dan segera menatanya diatas meja makan.
Ketika Afifa dan Uma Aisyah selesai menata masakannya meja makan tiba-tiba Ardiansyah sudah datang menghampiri Afifa dan Uma.
"Hmmm kelihatannya masakannya lezat sekali nih" kata Ardiansyah.
"Iya ini adalah masakan Uma, aku hanya membantunya sedikit aja" kata Afifa memberitahu.
"Oh ya, pantas kelihatan enak sekali" kata Ardiansyah.
"Hubby kamu mau aku buatkan kopi apa teh" tanya Afifa yang memberikan pilihan kepada Ardiansyah.
"Aku mau kopi aja sayang, tetapi gulanya sedikit aja ya" kata Ardiansyah kepada Afifa.
"Baik hubby sayang" kata Afifa.
"Uma panggil Abi dulu ya nak, biar kita bisa cepat sarapan bersama-sama" kata Uma Aisyah.
"Iya Uma" kata Ardiansyah.
Tak beberapa lama Afifa sudah membawa kopi buatannya untuk Ardiansyah dan itu bertepatan dengan Abi Arsyad dan Uma Aisyah berjalan menuju meja makan untuk sarapan bersama.
Jangan lupa selalu kasih dukungannya
favoritkan, like dan komen ya.
Kalau mau kasih hadiah juga gak apa-apa, author gak nolak kok
🤭🤭🤭🤭🤭
Oh ya jangan lupa difollow juga ya....
Terima kasih banyak atas dukungan kalian semua
love you....
__ADS_1