
Tak terasa waktu sudah memasuki waktu dhuhur.
Mereka menyudahi perbincangannya tentang Reina dan Fano.
Mereka pun akhirnya melaksanakan sholat dhuhur berjamaah dan setelah itu mereka pun segera makan siang, karena saat itu tidak ada makanan jadi mereka memutuskan untuk makan siang bersama disalah satu restoran mewah yang ada di kota itu.
Mereka sekalian merayakan kebahagiaan Reina.
Mereka mengenakan mobil masing-masing dan segera melajukan mobilnya menuju resto itu yang sebelumnya sudah di reservasi dan dikosongkan dari semua pengunjung.
Ternyata resto itu adalah salah satu usaha milik Ardiansyah jadi dengan mudah dia bisa mengosongkan restonya itu dan hanya untuk keluarga saja.
Diluar resto sudah disiapkan banyak pengawal dan penjaga.
Semuanya memasuki ruang VVIP diresto itu yang letaknya berada dilantai 3 dengan desain yang begitu mewah dan tempat yang sangat private.
Tempat itu biasanya dipakai untuk acara-acara resmi.
Mereka segera mengelilingi meja yang cukup besar.
Tak beberapa lama pelayan datang dengan makanan yang berkelas dan paling mahal juga merupakan menu andalan diresto itu.
Pelayan itu menghidangkan diatas meja itu.
Mereka menikmati semua makanan yang terhidang didepannya.
"Makanan disini sangat enak dan dari rasa dan penyajiannya sangat istimewa" kata Hamid.
Karena tidak ada yang mengetahui kalau ini adalah salah satu usaha milik Ardiansyah.
"Benar yang dikatakan oleh Abi, semua makanan disini begitu lezat sekali. Ini benar-benar rekomended deh" kata Reina yang mengomentari menu disana.
Semua yang makan disana pun juga menyetujui dan membenarkan apa yang diucapkan oleh Hamid dan Reina.
"Bisa nih buat rekomendasi acara pertemuan atau meeting dengan salah satu klien" kata Afifa yang sangat menyukai menu masakan diresto ini.
Ketika mereka sedang asyik menikmati makanannya dan sedikit mengobrol tiba-tiba datanglah manager resto datang menghampiri mereka.
"Selamat siang tuan dan nyonya" kata manager itu sambil membungkukkan tubuhnya tanda memberi hormat.
"Siang" jawab mereka bersamaan seperti orang sedang paduan suara.
"Maaf tuan ini hadiah dari kami, dan selamat atas pernikahan tuan dengan nona Afifa" kata manager resto itu memberikan sebuah bungkusan besar dan entah apa isinya.
__ADS_1
"Maafkan kami tidak bisa menghadiri pesta itu" lanjut manager itu.
"Sudah tidak apa-apa, kami berdua tahu kamu sedang banyak tugas" kata Ardiansyah membuat sang manager lega karena bos nya itu begitu pengertian dan murah hati.
"Tunggu dulu apa jangan-jangan ini resto milik kamu Syah. Masalahnya kenapa sejak tadi semua pelayan dan manager resto ini begitu sangat menghormatimu dan mereka juga membungkukkan badannya menyambut kamu datang tadi" tanya Aziel yang mulai curiga sejak tadi.
"Iya bang, ini usaha kecil-kecilan ku yang sudah aku rintis sejak aku masih kuliah dulu bersama temanku" jujur Ardiansyah.
"Wow kau ternyata begitu hebat ya. Aku tak menyangka usaha kamu banyak sekali" puji Reina.
"Aku belum seberapa dibanding dengan Abang dan Abi, kalian akan selalu menjadi panutan ku" kata Ardiansyah merendah.
"Sudah-sudah sekarang kalian nikmati aja makanan ini jangan banyak bicara" Hamid menghentikan percakapan yang terjadi barusan.
Beberapa menit kemudian mereka pun sudah menghabiskan semua hidangan itu dengan tandas tak bersisa.
"Ya sudah sebaiknya kita kembali kerumah Ardiansyah dan Afifa" ajak Hamid karena merek sejak tadi belum melihat-lihat sekeliling rumah milik mereka.
Mereka semua kembali kerumah Ardiansyah dan Afifa dengan mengendarai mobil masing-masing.
Karena luasnya rumah itu hingga bisa menampung banyaknya mobil berjajar di halaman rumah.
"Apa Abi dan yang lainnya mau saya ajak berkeliling disetiap sudut rumah ini" tawar Ardiansyah.
"Boleh karena kami memang sudah dari tadi berniat mengelilingi rumahmu itu" kata Hamid dan diangguki oleh yang lainnya.
Ada dua mobil golf yang terparkir dekat gazebo yang menghadap ke danau itu.
Mereka pun segera menaiki mobil golf itu.
"Wah sangat luas dan indah rumah kamu fa" kata Reina yang sangat takjub dengan apa yang disuguhkan kematanya.
"Benar Rein, rumah ini tampak begitu besar dan sangat luas, sudah gitu ada kolam renang juga, dan lihat itu bukan kah itu untuk olah raga bola basket Rein" kata Anna terkesima dengan fasilitas didalam rumah Afifa.
"Iya itu lapangan basket karena suamiku dulu adalah kapten tim basket sewaktu SMA" kata Afifa menjelaskan.
"Woww benarkah, kalau begitu pasti banyak gadis-gadis yang mengejarnya dulu" tanya Anna.
"Kalau itu sudah pasti, semua berlomba-lomba mencari perhatiannya kecuali aku" kata Afifa sambil tersenyum mengingat waktu SMA.
"Iya, tetapi ada satu orang yang berani menolak cinta nak Ardiansyah waktu itu" Uma Aisyah ikut nimbrung dengan percakapan mereka itu karena mereka satu mobil golf bersama Uma Hamida dan bunda Habibah.
"Uma tahu dari mana" tanya Reina yang mulai penasaran itu.
__ADS_1
"Ya tahulah karena Uma menjadi saksinya dan mendengarnya sendiri" kata Uma Aisyah.
"Oh ya, emangnya siapa yang berani menolak putra ku itu" Habibah pun juga ikut nimbrung ke pembicaraan mereka karena penasaran dengan seseorang yang sudah menolak putra nya yang tampan itu.
"Ehemmmm, kasih tahu gak ya" kata Uma Aisyah yang biasanya pendiam jadi mulai ikutan mengobrol.
"Ih Uma nih, jangan kasih tahu Uma" pinta Afifa yang merasa gak enak hati dengan bunda Habibah.
"Ahhaaaa aku tahu, pasti kamu ya fa yang sudah menolak kak Ardiansyah saat itu" kata Reina yang teringat dengan curhatan Afifa sewaktu mereka masih SMA.
"Ih Reina, kenapa kamu ceritakan sih" kata Afifa sambil mencebik kan bibirnya itu.
"Yups kamu betul Rein, tetapi Afifa waktu itu punya alasan. Dia takut dosa karena pacaran dalam agama kita kan dilarang dan itu mendekati zina ya kan. Dan selain itu Afifa juga hanya ingin fokus bersekolah aja sewaktu itu" tutur Uma Aisyah.
"Oh bunda ingat sekarang, Ardiansyah juga pernah bercerita tentang itu" kata bunda Habibah yang baru ingat juga perkataan Ardiansyah yang menceritakan tentang dokter Afifa sewaktu dirinya dirawat milik keluarga Hamid Abdullah.
"Oh ya bunda, memang nya kak Ardiansyah bercerita apa" Reina benar-benar sangat kepo sekali hari ini.
"Ya seperti yang diceritakan oleh Uma Aisyah" kata bunda Habibah.
"Kalau begitu kalian memang sudah ditakdirkan bersama sejak lama sepertinya" akhirnya Reina pun memberikan kesimpulannya.
"Kau itu Rein, dan kamu tahu gak Rein kalau kak Fano juga merupakan salah satu tim basket di sekolahku dahulu.
Dia juga sama seperti suamiku banyak digandrungi oleh kaum hawa" kata Afifa.
"Oh ya, wah seharusnya aku bangga ya bisa mendapatkan hatinya sang idola di jaman nya" kata Reina sambil membusungkan dada nya sambil tertawa renyah.
Para wanita sibuk bercerita dan kadang diselingi canda tawa yang renyah.
Tampak kehangatan keluarga diantara mereka.
Uma Hamida yang tadinya hanya mendengarkan saja pun juga ikut masuk dalam obrolan mereka dan juga tertawa bahagia.
Oh ya kalau para lelaki kira-kira sedang membahas apa ya
Ada yang tahu gak nih para reader ku.
Jangan lupa kasih dukungannya ya...
Kasih VOTE ya karena kasih vote sama juga kalian mendukung karyaku.
KOMENTAR DAN LIKE nya jangan lupa juga....
__ADS_1
Terima kasih sudah setia membaca karyaku.
Kasih banyak-banyak dukungan kalian dan nanti tgl 1 Oktober akan aku umumkan siapa yang akan mendapatkan give away dari author.