
Afifa, Reina dan Nicholas yang kini sibuk dengan penelitiannya sedangkan Hamid, Aziel, Anna, Fano dan Ardiansyah kini sibuk memperhatikan gerak gerik orang yang berlalu lalang disetiap drone yang dihasilkan dalam setiap video lengkap dengan percakapannya.
"Sekarang menurut kalian bagaimana, kita langsung menyerang langsung ketempat utama mereka atau bagaimana" Hamid buka suara untuk memecahkan keheningan yang sempat terjadi cukup lama.
"Menurut Fano kita kuasai pusat pemantau mereka Abi, karena dari sana kita bisa leluasa untuk melakukan apapun.
Pusat pemantau itu juga bisa terhubung ke satelit ataupun ruang antariksa.
Kalau kita bisa menguasai pusat pemantauan milik mereka berarti selangkah lagi kita bisa mengalahkan mereka.
Ibarat burung jika patahkan sayap-sayap nya maka dia tidak akan bisa bergerak dan tak berdaya dan disitu kita mulai Serang mereka" ide briliant Fano memang tidak bisa dianggap remeh.
Dia sangat pandai mengatur strategi penyerangan dan membuat siasat.
"Wow.. ide kamu bagus juga fan.
Aku setuju dengan kamu.
Beruntung sekali adikku mendapat lelaki yang pandai berstrategi" puji Aziel.
"Abi juga setuju, tetapi sebelumnya kita harus mencari tahu dimana letak pemantauan mereka" kata Hamid
"Aku akan menyebarkan drone tikus dan semuat untuk mencari tahu dimana keberadaan tempat itu" kata Aziel.
"Aku juga akan mengirim drone kunang-kunang untuk membantu drone milik bang Aziel" Ardiansyah ikut andil juga.
Sekarang kita lihat rekaman pergerakan profesor Alfaro dan Gerald.
Mereka memperhatikan dengan seksama video yang dihasilkan drone milik Aziel.
"Ternyata mereka juga memiliki suatu pulau seperti kita yang dijadikan tempat untuk memantau" kata Aziel.
Dilayar monitor tampak profesor Alfaro, Gerald dan Danielo sedang menuju pulau tempat mereka.
"Apa aman alat kita ini nantinya" tanya Ardiansyah yang terlihat khawatir jika drone mereka bisa terdeteksi oleh alat canggih mereka nantinya.
"Aku akan memasukkan suatu drone terbaruku kedalam tubuh mereka bertiga agar tidak terdeteksi oleh mereka" kata Aziel.
"tapi itu membutuhkan waktu bang, coba Abang lihat mereka itu sudah mau berangkat dan sekarang berjalan menuju landasan helikopter mereka" ragu Ardiansyah.
"sudah percayakan aja pada Abang kamu ini, Abi yakin abang mu ini memiliki rencana sendiri" Hamid mencoba menenangkan Ardiansyah yang terlihat sangat khawatir.
Benar apa yang diucapkan oleh Hamid.
Apa yang diyakininya membuahkan hasil.
Aziel berhasil menyusupkan drone mereka ke tubuh profesor Alfaro, Gerald dan Danielo.
__ADS_1
"Ternyata Abang pandai juga ya, aku benar-benar sangat takjub dengan rencana Abang" puji Fano yang kini ikut memanggil Aziel dengan sebutan Abang semenjak Aziel berta'aruf dengan Reina.
"Semua itu karena dia kalian semua" kata Aziel yang memang tidak pernah menyombongkan kemampuannya selama ini.
Drone itu sudah masuk kedalam tubuh mereka bertiga melalui aliran darah.
"Kak Aziel, coba lihat bukankah itu detektor yang digunakan untuk mengendalikan satelit yang nantinya akan digunakan menyebarkan virus melalui gelombang suara ya" Anna menunjukkan bagian detektor yang terpasang didalam otak Gerald.
"Jadi pengendali itu ada didalam tubuh Gerald sendiri" mereka tak percaya ternyata musuh yang dihadapinya bukanlah musuh biasa karena mereka juga merupakan gabungan dari para ilmuwan yang memiliki kecerdasan jauh diatas rata-rata.
"Yang kita hadapi kali ini bukan lah orang biasa tetapi mereka adalah orang-orang yang sangat memiliki ilmu yang tinggi" kata Hamid.
"Iya Abi, cara berpikir mereka benar-benar sangat cerdik.
Mereka mungkin sudah mengira kalau yang mereka hadapi itu juga bukan orang biasa" kata Fano
"Iya, untuk itu kita harus terus berdoa dan meminta petunjuk kepada Allah SWT.
Karena tiada kekuatan yang lebih tinggi dari pada kekuatan Allah SWT" Hamid mengingatkan anak-anaknya.
"Benar apa yang dikatakan oleh Abi, sebaiknya kita pasrahkan pada Allah.
Karena aku yakin mereka masih punya titik kelemahan" kata Aziel yang menguatkan perkataan Hamid.
"Sekarang beberapa hari kedepan kita pelajari saja apa yang mereka lakukan" kata Anna.
"Wow bukankah itu gabungan dari kecanggihan elektronik dan ilmu biologis bang" tanya Fano yang semakin takjub dengan keluarga calon istrinya itu.
"Kamu benar, ini kolaborasi dari gabungan beberapa ilmu" Aziel membenarkan apa yang diucapkan Fano.
"Ini sudah siang sebaiknya kita melakukan ibadah dahulu" ajak Afifa yang saat itu sudah keluar dari dalam laboratorium bersama Reina dan Nicholas.
Mereka pun menuruti perkataan Afifa dan segera beranjak dari sana menuju masjid yang ada didalam pulau itu.
Mereka dan para penjaga mulai melakukan ibadah secara berjamaah.
Cukup lama mereka beribadah kali ini.
Mereka tak lupa berdoa memohon petunjuk kepada Allah agar mereka bisa menumpas para orang lalim.
Dan sekarang mereka tampak menyudahi ibadah mereka.
Mereka kini mulai menuju ke ruang makan.
Dimeja makan sudah tersedia berbagai menu makanan yang sangat lezat karena Ardiansyah mempekerjakan seorang koki yang sangat memiliki keahlian yang baik.
"Wow kelihatannya sangat lezat" kata Nicholas saat mendekat kemeja makan dan tanpa menunggu lama Nicholas langsung duduk di salah satu kursi yang mengitari meja makan itu.
__ADS_1
"Kau itu makan melulu yang dipikirin" kata Fano meledek Nicholas.
Fano kini terlihat akrab dengan Nicholas sejak beberapa Minggu terakhir ini.
"Lho jangan salah kalau kita kelaparan yang ada kita tidak bisa mikir nanti" kata Nicholas.
"Sudah-sudah sebaiknya kalian tenang dan mulai makan" kata Hamid yang mampu menghentikan mereka berdua.
Kini mereka semua makan dengan lahap dan dalam keheningan.
Hanya suara denting piring dan sendok yang terdengar karena saling bertabrakan.
15 menit berlalu mereka sudah menyelesaikan makannya dan kini mereka hendak kembali ke ruang kerja mereka tadi.
Kini semua sudah berkumpul dan duduk mengelilingi sofa yang ada diruang kerja itu.
Tampak Aziel mulai menunjukkan semua video yang dihasilkan drone yang telah dia sebar itu.
"Tunggu kak berhenti disitu, dan tolong perbesar bagian itu" pinta Afifa.
"Emangnya ada apa sayang kok kamu minta menghentikan video di bagian itu dan menyuruh memperbesar segala" tanya Ardiansyah yang menurutnya video itu hanya biasa dan tidak ada hal yang bisa dicurigai ataupun memberikan petunjuk.
Aziel menuruti perkataan Afifa dan mulai memperbesar sebuah gambar yang nampak pada mereka.
"Abi coba deh Abi lihat itu, bukankah itu adalah alat untuk membuka fatamorgana yang dihasilkan suatu tempat untuk ber klamufase" kata Afifa menunjukkan kepada Abi nya.
"Kau benar nak, kamu benar-benar sangat jeli dalam melihat sesuatu.
Sepertinya kemampuan kamu semakin maju pesat deh" kata Abi.
"Semua karena Allah Abi, aku sudah diberi kemampuan seperti itu" Afifa selalu merendah.
"Apa drone Abang bisa menghentikan atau menghancurkan alat itu bang" tanya Afifa
"Bisa fa, apa harus kita hancurkan sekarang" Aziel bertanya balik.
"Sepertinya tidak sekarang bang, tetapi kita tunggu waktu yang tepat untuk melakukannya itu" kata Afifa.
Kini Aziel kembali memutar video yang dihasilkan oleh drone
"Bang tunggu, apa itu bagian dalam tubuh mereka kan, coba Abang non aktifkan secara perlahan detektor yang yang ada di dalam tubuh Danielo dan juga non aktifkan juga alat kontrol untuk perintah satelit juga pesawat antariksa yang didalamnya terdapat bom yang bermuatan virus itu dalam tubuh Gerald" pinta Afifa.
"Kau memang sangat cerdas dan cerdik fa. Setiap detail bisa kamu lihat dengan sempurna" kata Aziel yang semakin kagum dengan adiknya.
Tidak hanya Aziel yang mengagumi kemampuan Afifa tetapi semua orang yang ada disana termasuk suaminya sendiri Ardiansyah.
Ardiansyah sangat bersyukur bisa mendapatkan wanita yang sangat langka dan memiliki banyak kemampuan.
__ADS_1
Saat mereka sedang asyik membicarakan tentang misi mereka Lionel datang menghadap dengan kedua orang yang selalu menjadi kepercayaannya.