
Nicholas yang sangat syok dengan apa yang dilakukan oleh Gerald om nya itu kini mulai berpikir untuk menghentikan apa yang sedang direncanakan Gerald.
Dia sudah mantap untuk menghentikan semua rencana Gerald walaupun nyawa taruhannya.
Dia berpikir bukan lagi karena dendam tetapi karena banyak orang tak berdosa nanti menjadi korban.
Nicholas tersadar saat Afifa dan Anna mulai memanggilnya dan mengguncangkan tubuhnya.
"Kamu tidak apa-apa Nick" tanya Afifa lirih.
"Aku gak apa-apa kok" kata Nicholas dan kini kembali bergabung dengan Hamid dan Aziel.
Aziel tampak serius dengan monitor dan keyboardnya.
Matanya fokus ke arah monitor besar dihadapannya dan jari tangannya menari-nari dengan lincah dan cepatnya diatas keyboard.
"Anna tolong bantu aku disisi kiri" pinta Aziel.
Dengan sigap Anna sudah berada disebelah kiri.
Jari tangannya juga tampak seperti Aziel yang menari begitu cepat diatas keyboardnya.
Mereka berkolaborasi mengambil data dan melihat semua rekaman video yang dihasilkan ribuan drone yang berada di 15 negara.
Sambil memantau dari layar monitor mereka bergantian untuk beribadah dan juga makan.
Tak sedetik pun ruangan itu tidak ada yang memantau.
Jika kecapekan mereka saling bergantian untuk beristirahat.
Waktu berjalan begitu cepat, tak terasa ini sudah 2 hari dari kepergian Ardiansyah dan saat ini tibalah waktunya untuk memulai misi mereka.
Dari jarak jauh Hamid menginstruksi semua tim yang sudah tersebar di 15 negara.
Semua tim dan pasukannya sudah bersiap mengelilingi markas-markas milik Danielo dan anak buah nya yang tersebar di 15 negara.
"Hitungan mundur dari sekarang kalian segera maju 3... 2... 1" instruksi Hamid dari jarak jauh.
Semua tim sudah bergerak dan mengendap-endap mulai memasuki markas itu.
Dengan bantuan drone yang sangat canggih itu dengan leluasa mereka bisa melumpuhkan satu persatu melumpuhkan penjaga dan kini mereka mulai memasuki kebagian dalam markas.
Meskipun banyak ranjau mereka bisa dengan baik mengendalikan dan menghindarinya.
Panjagaan didalam begitu ketat dan mereka bergerak dalam jarak 4 meter dari penjaga lainnya sehingga sedikit menyulitkan mereka.
Untung mereka punya siasat dan kini mereka mulai melemparkan granat asap kedalam markas itu.
asap itu bisa dengan cepat membuat mereka lemas tak berdaya.
Tim Hamid segera masuk kedalam markas dan yang lain segera mengumpulkan penjaga itu didalam penjara yang ada dimarkas itu.
__ADS_1
Semua mulai mengganti seragam mereka dengan seragam musuh.
Kini yang ada di markas itu sudah berhasil dilumpuhkan dan semua orang yang ada dimarkas itu digantikan dengan tim Hamid.
Hanya 1 tim yang kini berkendara yaitu tim Ardiansyah.
Setelah berhasil menguasai markas musuh dinegara B tiba-tiba Profesor Alfaro dan Gerald datang dengan bala bantuan karena ada salah seorang pengawal mereka yang berhasil kabur dari pergerakan yang dilakukan Ardiansyah dan melaporkan semua kepada Gerald.
Pertempuran tidak bisa dihindarkan.
Banyak korban berjatuhan dan bersimbah darah.
Korban pihak musuh begitu banyak yang berjatuhan meredam nyawa.
Tampak Gerald dan profesor Alfaro panik, Gerald memencet tombol gawat darurat dari ponselnya yang terhubung ke markas pusat mereka.
Tetapi dengan sigap bisa di hentikan oleh Ardiansyah.
Ardiansyah menembak tangannya dan ponsel Gerald terpental jauh hingga terjatuh tepat dihadapan Ardiansyah.
Secepat kilat Ardiansyah menghancurkan ponsel milik Gerald.
"Sial, kau harus menerima serangan ku" gerutu Gerald.
Dengan langkah cepat Gerald menyerang Ardiansyah.
Untung Ardiansyah bisa menghindari serangan demi serangan yang dilancarkan oleh Gerald.
Mereka saling menyerang dan saling menghalau.
Anggota tim lainnya juga seperti itu karena amunisi mereka sudah habis jadi sekarang mereka menggunakan keahlian beladiri nya untuk menyerang dan bertahan.
Waktu berjalan begitu lama akhirnya pasukan musuh dapat dilumpuhkan.
Ardiansyah dan Gerald tampak kelelahan sedang profesor Alfaro yang kini berada didekat Gerald dan Ardiansyah berusaha membantu Ardiansyah.
Alfaro memberi kode kepada Gerald kalau mereka ditunggu helikopter yang akan membawanya pergi.
Gerald dan profesor Alfaro menggunakan granat yang berupa asap.
Ardiansyah yang tidak siap dengan kondisi asap yang mengepul dan membatasi penglihatannya akhirnya terkecoh oleh Gerald dan Profesor Alfaro.
Profesor Alfaro dan Gerald dengan cepat meninggalkan tempat itu dan menuju landasan helikopter yang berada di atap gedung itu.
Mereka berdua lolos dan kini mereka sedang berada di sebuah tempat dimana disana sudah ada Danielo.
Ternyata mereka memiliki markas bayangan yang merupakan markas utama mereka.
Markas utama yang dilihat Aziel adalah kamuflase mereka untuk mengelabuhi musuh mereka.
Untung drone yang Aziel kirim masih menempel ditempat yang tersembunyi di baju Gerald dan Profesor Alfaro.
__ADS_1
Aziel dan orang yang berada di dekatnya benar-benar dibuat tak percaya dengan apa yang dilihatnya.
"Abi ternyata mereka lebih licik dan coba Abi lihat siasat mereka benar-benar sangat sempurna.
Makanya pihak pemerintahan internasional tidak sanggup untuk menangkap apalagi hanya sekedar melumpuhkan mereka" kata Aziel.
"Benar, mereka ternyata sudah memperkirakan serangan yang mungkin akan terjadi" jawab Hamid membenarkan ucapan anaknya itu.
Mereka berlima masih saja mengawasi apa yang dibicarakan oleh profesor Alfaro, Gerald dan Danielo.
Ardiansyah yang berhasil melumpuhkan dan menguasai markas musuh dinegara B kini memerintahkan anak buahnya untuk berjaga.
Dia sudah menerapkan strategi keamanan tempat itu.
Dan dia melimpahkan pimpinan tempat itu kepada salah seorang anak buahnya yang benar-benar sangat dipercaya dan berkompeten.
Kini Ardiansyah meninggalkan tempat itu dengan menaiki pesawat jet pribadi menuju pulau dimana istri nya berada.
Waktu jarak tempuh yang begitu lama akhirnya Ardiansyah sampai juga ditempat itu.
"Assalamu'alaikum" salam Ardiansyah saat memasuki ruang kerjanya.
Sebelumnya ada seorang pengawal memberitahukan keberadaan istri dan keluarganya yang ternyata ada diruang kerja.
Afifa yang melihat kedatangan Ardiansyah segera berlari dan mencium punggung tangan suaminya dan selanjutnya memeluk erat suaminya itu.
Mereka berpelukan sangat erat dan hangat menyalurkan kerinduan yang mereka rasakan.
Padahal hanya beberapa hari mereka terpisah tetapi serasa mereka telah berpisah ribuan tahun.
Mereka yang melihat Ardiansyah dan Afifa saling berpelukan membelalakkan matanya.
Karena didepan mereka Afifa dan Ardiansyah begitu mesranya.
"Ehemmm" akhirnya Hamid berdehem cukup keras dan berhasil menyadarkan suami istri yang sedang dilanda kerinduan itu.
Segera Ardiansyah dan Afifa melepaskan pelukan mereka.
Ardiansyah tertunduk malu begitu pula dengan Afifa.
"Maafkan kami, karena kami lupa kalau semua berada disini.
Aku tadi hanya terlalu bahagianya bisa berjumpa dengan istriku sampai melupakan ada orang lain disekitar kita" kata Ardiansyah yang merutuki kebodohannya.
"Tidak apa-apa, Abi dulu juga seperti kalian berdua.
Ya sudah sekarang lebih baik kalian berdua sana melepaskan rindu kalian" kata Hamid yang paham dengan isi hati kedua insan yang dilanda kerinduan itu.
"Kalau begitu kami permisi dahulu ya semua" pamit Ardiansyah dan diikuti Afifa dari belakangnya.
Ardiansyah dan Afifa meninggalkan ruangan itu dan menuju ke kamar mereka.
__ADS_1