
Kini Afifa dan Ardiansyah sudah berada dikamarnya.
Mereka berdua duduk disofa yang ada disitu
Afifa menyandarkan kepalanya di dada sang suami sedangkan Ardiansyah memeluk pinggang Afifa dengan erat
"Kamu tahu gak by, kemarin aku lihat kamu dan tim kamu sangat tegang sekali.
Aku was-was banget deh.
Takut kamu kenapa-kenapa" jujur Afifa sambil membelai perut sixpack sang suami.
"Tetapi aku sudah selamatkan. Semua juga berkat doa kamu sayang" kata Ardiansyah sambil menciumi rambut istrinya
"Yuk mandi bersama dah gerah nih aku"
Afifa pun menuruti sang suami.
Ardiansyah yang sudah sejak tadi menahan hasratnya kini memeluk Afifa dari belakang dan menghujani Afifa dengan ciuman
"Ih geli hubby" kata Afifa.
Sentuhan demi sentuhan Ardiansyah lakukan kepada Afifa akhirnya Afifa terhanyut dalam sentuhan yang memabukkan itu.
Ardiansyah membalikkan badan Afifa agar menghadap kearahnya.
Dengan rakus Ardiansyah mulai mencium dan ******* bibir lembut sang istri.
Hingga akhirnya pergulatan panas terjadilah didalam kamar mandi.
Suara erangan bersahut-sahutan menggema di dalam kamar mandi.
Setelah pelepasan mereka berdua selesai akhirnya mereka pun mulai membersihkan diri dan langsung keluar kamar mandi dan mulai beribadah bersama.
Setelah beribadah mereka kembali menuju ruang kerja mereka dimana Hamid dan yang lainnya sudah berada disana.
Afifa dan Ardiansyah duduk bersebelahan.
"Oh ya nak, bagaimana keadaan kamu.
Maaf Abi gak sempat bertanya tadi"
"Aku baik Abi, cuma beberapa orang terluka akibat penyerangan itu" Ardiansyah tertunduk sedih
"Gak apa, yang penting kalian selamat.
Yang terluka apakah sudah diobati nak" tanya Hamid
"Sudah Abi, tadi langsung dibawa ke markas dan diobati oleh dokter" jawab Ardiansyah.
"Ya sudah kalau begitu"
"Tapi Abi, Ardiansyah takut mereka akan menyerang balik kita.
Bagaimana kalau itu terjadi" kata Ardiansyah yang masih tertunduk lesu.
"Kamu jangan khawatir soal itu.
Kamu dan Aziel kan memiliki alat canggih drone penghancur tuh.
Ya sudah sebar saja disekeliling markas yang sudah kamu kuasai itu" saran Hamid.
"Benar kata Abi, aku sampai tidak berpikir sampai disitu"merutuki kebodohannya
__ADS_1
"Aku ada formula yang akan menyebabkan semua pasukan gatal-gatal yang menyiksa.
Lebih baik drone penghancur itu kita kasih formula itu bagaimana" kata Afifa memberikan ide nya.
"Wah boleh banget tuh" kata Anna yang mulai ikut nimbrung.
"Aku juga punya racun yang bisa melumpuhkan lawan.
Dengan sekali sengatan bisa membuat musuh lumpuh seketika" kata Nicholas.
"Wow kau memilikinya Nick, tapi jangan bilang itu kamu gunakan untuk kejahatan ya" selidik Afifa.
"Kamu salah fa, itu aku gunakan disaat aku terdesak saja. Tetapi racun itu baru saja aku temukan juga kok saat aku sudah bergabung dengan kalian ini" jujur Nicholas.
"Wah aku harus banyak belajar nih dari kamu" kata Afifa.
Ardiansyah merasa tidak senang Afifa semakin dekat dengan Nicholas, rasa cemburunya mulai keluar.
Tetapi sebisa mungkin ditekan perasaan itu karena Ardiansyah tahu Afifa hanyalah miliknya.
"Oh ya fa, Nick bukankah sekarang waktunya kalian untuk membuat formula untuk virus terbaru itu" Hamid mengingatkan.
Kebetulan ruang laboratorium untuk Afifa masih didalam ruangan itu dan tepatnya disamping tempat mereka sekarang berada.
Ruangan laboratorium itu dikelilingi dinding kaca yang sangat tebal dan bisa terlihat siapapun yang sedang melakukan penelitian didalamnya dari tempat Afifa berada sekarang.
"Iya Abi, ini aku dan Nicholas mau melakukannya" kata Afifa.
"Hubby aku melakukan penelitian ya" pamit Afifa kepada suaminya.
"Iya sayang, kamu harus berhati-hati ya" kata Ardiansyah.
Jauh di lubuk hati Ardiansyah menyimpan sedikit sesak di dada.
Entah kenapa melihat Afifa bersama Nicholas dia merasa sangat cemburu dan tidak terima orang yang dicintainya berdekatan dengan lelaki lain
Afifa dan Nicholas segera beranjak dan pergi menuju ruang laboratorium.
Tampak Afifa dengan cekatan meracik cairan dan bubuk-bubuk menjadi suatu formula.
Afifa ingat betul dengan ciri-ciri orang yang terjangkit virus terbaru itu.
Dia sedikit berpikir dan mulai Meramu berbagai cairan dan serbuk-serbuk halus.
Sedang Nicholas disisi lain Afifa juga sedang meneliti dan membuat penemuan yang nantinya bermanfaat bagi banyak orang.
Ardiansyah yang melihat dari luar sedikit lega karena Afifa dan Nicholas sibuk dan terlihat serius dengan kerjaan masing-masing.
Walau mereka dalam satu ruangan tetapi mereka agak berjauhan.
Kini Ardiansyah membantu Aziel dan Anna yang sedang memantau keadaan.
Hingga tengah malam tiba-tiba Reina dan Fano datang membawa keberhasilan.
Kini semua sedang berkumpul di ruangan tadi.
"Hai semua assalamu'alaikum" sapa Reina dengan senyum ceria menghiasi wajahnya.
"Wa'alaikumsalam. Hai Rein, ceria banget tumben" kata Afifa yang kini sudah berada diruangan itu juga dan sudah menghentikan penelitiannya.
"Iya dong karena aku dah berhasil menguasai markas itu" jawabnya berbinar-binar.
"Ya sudah kalian istirahat aja dahulu. Besok kita lanjutkan" kata Hamid.
__ADS_1
Karena hari sudah sangat malam akhirnya mereka kini menuju kamar masing-masing.
Untuk sementara setiap video yang dihasilkan drone akan otomatis tersimpan.
Kini Afifa sudah bersama Ardiansyah.
Dia merebahkan tubuhnya disamping sang suami dan menyandarkan kepalanya di dada bidang suaminya itu.
Ardiansyah mulai membelai lembut rambut Afifa.
Diciuminya istrinya itu dengan kelembutan.
Hasratnya kembali muncul setiap berada disamping sang istri.
"Sayang aku benar-benar suka dengan aroma tubuhmu.
Begitu memabukkan" kata Ardiansyah.
"Ih hubby mesum aja" kini Afifa malu-malu dan menyembunyikan wajahnya di dada sang suami.
Ardiansyah mulai memberikan belaian lembut hang menghanyutkan sehingga desah demi ******* keluar dari mulut Afifa.
Afifa yang mendapat perlakuan lembut dan membuatnya serasa di awang-awang.
Akhirnya terjadilah malam panas untuk melepas kerinduan mereka.
Berkali-kali penyatuan itu terjadi dan berkali-kali pula pelepasan demi pelepasan dilakukannya.
Berbulir-bulir peluh membanjiri kedua tubuh yang kini tidak ditutupi sehelai benangpun.
Kini Afifa dan Ardiansyah pun akhirnya terlelap dalam tidurnya sambil berpelukan hangat.
Keesokan hari Afifa dan Ardiansyah bangun seperti biasa sebelum sholat adzan subuh berkumandang.
Dia lakukan rutinits seperti biasanya.
Afifa yang semenjak selesai ibadah langsung beranjak menuju dapur.
Dia mulai membuatkan sarapan sang suami dan kopi spesial untuknya.
1jam berkutat didalam dapur akhirnya Afifa sudah menyelesaikan masakannya.
Dengan dibantu oleh beberapa ART Afifa segera menyajikannya diatas meja makan yang cukup besar itu.
Setelah dirasa semua sudah tertata rapi, Afifa segera memanggil sang suami yang sedang berada diruang fitness.
"By, yuk sarapan.
Udah siap tuh" kata Afifa lembut dan segera melingkarkan tangannya ke pinggang Ardiansyah dengan manja saat Ardiansyah sudah berada didekatnya.
Mereka berdua akhirnya menuju ke meja makan.
Tampak disana semua sudah berkumpul.
Reina, Fano, Aziel, Anna, Nicholas dan juga Hamid Abi mereka.
Mereka seperti biasa menyantap sarapannya dalam hening.
10 menit kemudian mereka sudah menghabiskan makanannya dengan tandas.
Kini semua kembali beraktifitas diruang kerja Afifa dan Ardiansyah.
Afifa dan Nicholas kini dibantu Reina melanjutkan penelitiannya.
__ADS_1
Sedangkan Hamid, Aziel, Fano, Ardiansyah dan Anna kembali melihat hasil rekaman video yang dihasilkan oleh drone yang mereka sebar.
Kini drone yang berada di baju Gerald dan profesor Alfaro sudah berpindah ketempat lain yang masih disekitar Gerald dan Profesor Alfaro.