Dokter Afifa

Dokter Afifa
Dua kebahagiaan sekaligus.


__ADS_3

Semua anggota keluarga menuju ke kamar Afifa yang sudah disulap dengan beberapa dekorasi yang simpel namun tetap terlihat indah dan mewah.


Memang pernikahan itu dilakukan dikamar Afifa mengingat kondisi Afifa yang sedang terluka itu.


Afifa juga sudah dirias dengan riasan yang simpel, dan senatural mungkin dan itu menambah kecantikan Afifa.


Ketika memasuki kamar Afifa, Ardiansyah yang melihat Afifa begitu terpesona dan pandangannya selalu tak lepas dari Afifa.


"Kamu sangat cantik fa, walau tidak bermake-up pun kamu selalu cantik di hatiku.


Tidak hanya paras mu yang cantik namun juga hatimu.


Kau benar-benar jelmaan malaikat berhati suci" batin Ardiansyah.


Acara pernikahan pun dimulai dengan khitmat.


Dan yang menikahkan adalah Hamid Abdullah sendiri.


Hanya dengan satu tarikan nafas Ardiansyah dengan lugas dan lancar mengucapkan ijab qobul.


Setelah semua orang berucap sah kemudian dilanjutkan dengan berdoa yang dipimpin oleh syekh Muhammad Arsyad.


Ardiansyah menyematkan cincin berlian yang terlihat sederhana namun harganya begitu fantastik.


Setelah menyematkan cincin berlian itu Afifa langsung mencium punggung tangan Ardiansyah dan Ardiansyah pun mengecup kening Afifa.


Mereka berdua langsung menandatangani surat nikah mereka dan menunjukkan kepada keluarga surat nikah mereka.


Semua acara diabadikan oleh abang Aziel yang juga sangat bahagia dengan pernikahan mereka berdua walau terkadang abang Aziel masih sering-sering mencuri pandang kepada Anna.


Semua sangat berbahagia dengan pernikahan Afifa dan Ardiansyah.


Reina yang juga berada dikamar Afifa begitu bahagia karena akhirnya Afifa bisa bersama dengan orang yang sangat dicintainya.


Semua anggota keluarga mengucap kan selamat kepada Afifa dan Ardiansyah.


Setelah acara pernikahan itu selesai anggota keluarga berkumpul kembali ditaman belakang.


Mereka mengadakan acara syukuran dengan ber barbeque.


Ardiansyah mendorong kursi roda yang dikenakan oleh Afifa menuju taman belakang untuk bergabung dengan yang lain.


"Sayang aku merasa bahagia akhirnya aku bisa menikahi mu" kata Ardiansyah diperjalanan menuju ke taman belakang.


Afifa yang mendengar Ardiansyah memanggilnya sayang dia sedikit terkejut.


"Maaf kakak tadi bilang apa" kata Afifa yang merasa tidak percaya dengan ucapan Ardiansyah.


"Sayang aku...." belum selesai Ardiansyah mengulangi ucapannya sudah dipotong oleh Afifa.


"Kakak memanggilku sayang" kata Afifa.


"Iya kenapa, emangnya gak boleh" tanya Ardiansyah.


"Bukannya gak boleh sih kak, cuma Afifa sedikit belum terbiasa dengan panggilan itu" kata Afifa.


"Kan sekarang kamu sudah sah menjadi milikku jadi dibiasakan aja ya sayang" kata Ardiansyah sambil mengecup kening Afifa.


Afifa yang mendapat kecupan itu jadi tertunduk malu.


Tak lama kemudian Afifa dan Ardiansyah sudah berada ditengah-tengah keluarga.


"Duh pengantin baru mesra amat" kata Reina.


"Iya lah, emang kamu sendiri aja" kata Abang yang sukses membuat Reina kesal.

__ADS_1


"Ih Abang nih selalu gitu" kata Reina dan memalingkan mukanya dari abangnya itu.


"Kalian berdua tuh ya selalu begitu. Abang udah jangan godain adik kamu" kata Uma Hamida.


"Iya Uma" kata Aziel.


"Abang tuh beraninya cuma curi-curi pandang aja, masak kalah sama Afifa.


Udah sana lamar mumpung keluarga kumpul disini" gantian kini Reina yang menggoda abangnya itu.


Aziel yang mendengar ucapan Reina langsung melotot kearah Reina.


Akhirnya mereka berdua berkejar-kejaran seperti anak kecil.


"Uma Abang, Uma" teriak Reina yang meminta perlindungan kepada Uma Hamida.


"Abang udah deh, kalian itu ya seperti anak kecil aja.


Apa gak malu disini ada Anna dan keluarga nak Ardiansyah" kata Uma Hamida.


"Habis Reina itu Uma" kata Aziel membela diri.


"Tapi benar juga yang dikatakan Reina bang, mending sekalian aja Abang ungkapin perasaan Abang dan lamar aja sekalian dari pada nyesel lho nanti.


Kalau udah diambil orang baru deh nangis-nangis" kata Afifa yang melihat Reina dan Aziel.


"Apaan sih fa" kata Aziel.


"Stop tunggu... tunggu, Uma gak ngerti deh maksud kalian apa dan siapa yang sedang disukai oleh Abang kalian" kata Uma sambil meminta penjelasan kepada Reina dan Afifa.


Reina dan Afifa langsung memberi kode Uma Hamida dengan matanya dan menunjukkan ke arah Anna.


"Benarkah itu nak" tanya Uma Hamida menatap kearah putra nya itu.


"Apa sih Uma, itu akal-akalan nya Afifa dan Reina aja" kata Aziel.


Keburu diambil orang lho bang.


Abang harus gercep" kata Ardiansyah ikut nimbrung ke obrolan mereka.


"Hmmm mentang-mentang dah bisa nikahin adik ku, sekarang ikutan meledek nih" kata Aziel.


Abi yang mendengar dari kejauhan akhirnya pun ikut bergabung dan nimbrung ke percakapan mereka.


"Niat baik itu lebih baik segera dilaksanakan nak, selain berkah akan terhindar dari dosa nanti" kata Abi Hamid.


"Iya benar yang dikatakan kak Hamid nak, awas zina mata terus akan menambah dosa lho" kata Abi Arsyad.


Aziel yang disudutkan keluarga akhirnya dia menunduk dan malu.


"Aziel mau nya sih segera Abi, Uma. tetapi Aziel takut kalau ditolak dan takut kalau dia sudah memiliki seseorang yang dicintai" jujur Aziel.


Untung saat itu Anna sedang bersama Fano orang kepercayaan Ardiansyah sedang membakar daging yang letaknya sedikit jauh dari mereka.


"Kalau kamu tidak mencoba bagaimana bisa kamu tahu, betul gak Uma" kata Hamid Abdullah.


"Ya Uma setuju deh apa yang dikatakan oleh kak Hamid" kata Uma Aisyah menimpali perkataan kakaknya itu.


Setelah mendapat persetujuan dari semuanya akhirnya dengan segenap keberanian yang tersisa Aziel memberanikan diri untuk melamar Anna di tengah-tengah keluarganya itu.


Aziel menghampiri Anna yang sedang membakar daging bersama Fano dan beberapa ART Hamid Abdullah.


"Anna bisa kita bicara sebentar" tanya kak Aziel.


"Iya tuan Aziel" kata Anna.

__ADS_1


Anna pun akhirnya mengikuti Aziel ketengah-tengah keluarganya.


Semua yang melihat kedatangan Aziel dan Anna terdiam dan menyaksikan Aziel yang akan menyatakan perasaannya kepada Anna.


Aziel berhenti tepat ditengah-tengah keluarganya.


Dia mulai berhadapan dengan Anna dan memegang tangan Anna.


Anna yang diperlakukan seperti itu malu-malu dan salah tingkah.


"Ada apa ini tuan sebenarnya" tanya Anna.


"Anna sebelumnya saya minta maaf kalau saya telah lancang dan terburu-buru disini" kata Aziel dan terus menarik napas panjang.


Anna semakin tidak mengerti dengan arah pembicaraan Aziel ini.


"Maksudnya apa tuan" tanya Anna lagi.


Aziel menarik napas dalam-dalam dan kemudian menghembuskan nya perlahan untuk mengurangi rasa gugupnya itu.


"Anna maukah kamu menikah dengan ku" kata Aziel yang saat itu berlutut dihadapan Anna.


Anna yang melihat itu sangat terkejut dan seakan tidak percaya dengan apa yang dilihatnya.


Dia merasa seakan sedang bermimpi indah.


"Anna apakah kamu menerimaku menjadi imam mu" kata Aziel lagi.


Anna masih diam membeku.


Semua keluarga pun berteriak


"terima... terima... terima..." kata mereka keluarga bersamaan.


Anna masih bingung harus menerima atau tidak.


Disisi lain dia baru saja mengenal Aziel dan tidak terlalu dekat dengan Aziel dan disisi lain dia juga menyimpan perasaan yang sama seperti Aziel.


"Sudah nak Anna terima saja, Abi juga tahu sebenarnya kalian itu sama-sama saling mencintai" kata Hamid.


Anna merasa ucapan Abi benar-benar tepat sasaran.


Anna menoleh kepada Afifa dan Reina.


Reina dan juga Afifa memberi kode untuk menerima Abang nya itu.


"Bismillahirrahmanirrahim.


Dengan ijin Allah Anna menerima tuan Aziel menjadi imamku" kata Anna sambil tertunduk malu.


Semua orang bersorak bahagia dengan Anna menerima lamaran Aziel.


Bergantian mereka mengucapkan selamat kepada Aziel dan Anna.


"Aku bilang juga apa bang" kata Afifa berbisik kepada abangnya setelah mengucapkan selamat kepada abangnya dan juga Anna.


"Makasih ya fa" kata Aziel yang memang sejak dahulu sangat dekat dengan Afifa daripada dengan Reina yang merupakan adik kandungnya.


Lengkap sudah kebahagiaan mereka yang awalnya hanya merayakan sebuah pernikahan sekarang bertambah menjadi acara lamaran.


"Abi harap secepatnya di sah kan ya Abang" kata Abi menasehati putra nya itu.


"Insya Allah Abi, mohon doa nya" kata Aziel.


"Insya Allah semua keluarga selalu mendoakan kalian berdua nak" kata Abi Hamid.

__ADS_1


Anna yang berada disamping Aziel tersenyum malu-malu.


__ADS_2