
Mereka semua menyelesaikan makannya dengan tenang.
"Uma, Abi Reina berangkat ke rumah sakit dulu ya" kata Reina.
"Tunggu Rein, kata Abi nya.
Apa kamu lupa apa yang Abi bicarakan tadi malam" kata Abi tegas.
"Tapi Abi, tenaga Reina sangat dibutuhkan saat ini" kata Reina sedikit merajuk kepada Abi nya agar Abi nya mau menuruti kemauannya.
"Tidak untuk sekarang, Abi tidak mau dengar" kata Abi Hamid.
"Ya sudah kalau begitu Reina kembali ke kamar aja deh" kata Reina yang kesal karena Abi nya melarangnya pergi kerumah sakit pun beranjak dari duduknya dan langsung meninggalkan meja makan menuju kamarnya.
"Uma kamu nasehati itu Reina" pinta Abi kepada istrinya lembut.
Uma pun beranjak dan segera mengikuti Reina yang menuju kamar nya itu.
"Ya sudah kalau begitu Aziel berangkat dulu ya Abi.
Assalamu'alaikum" kata Aziel beranjak berdiri dan menghampiri Abi nya untuk mencium punggung tangan Abi nya itu.
"Wa'alaikumsalam nak, kamu hati-hati ya dan ingat kalau ada apa-apa kamu harus segera kasih tahu Abi" kata Abi nya mengingatkan anaknya itu.
"Baik Abi" kata Aziel kemudian dan segera melenggang pergi menuju ke mobilnya.
"Ardiansyah sama Afifa pergi dulu ya Abi, Assalamu'alaikum" kata Ardiansyah.
"Wa'alaikumsalam nak, kamu hati-hati ya dijalan.
Abi titip Afifa" Kata Abi nya kepada Ardiansyah.
"Afifa berangkat dulu ya Abi, Assalamu'alaikum" kata Afifa dan langsung mendekati Abi nya untuk mencium punggung tangan nya.
"kalian hati-hati ya" kata Abi Hamid.
"Iya Abi, Insya Allah aku akan menjaga Afifa dengan baik" kata Ardiansyah.
Afifa mengikuti Ardiansyah dari belakang dan menuju ke mobil Ardiansyah.
Ardiansyah membukakan pintu mobil untuk Afifa
"Terima kasih kak" kata Afifa.
Sejurus kemudian Ardiansyah sudah kembali ke kemudi mobilnya.
"Fa kita jemput bunda dulu ya" kata Ardiansyah.
"Baik kak" jawab Afifa.
Tak lama kemudian mobil mereka sudah meluncur memecah jalanan yang sedikit senggang itu.
Ditempat lain profesor Alfaro yang mendapat berita pagi ini dari anak buahnya kalau gudang tempat pendistribusian air mineral yang sudah tercampur formula virus itu diledakkan oleh seseorang begitu marah besar.
Dia mengadakan pertemuaan dadakan dimarkas nya yang letaknya tidak jauh dari pabrik itu tetapi begitu tersembunyi.
Karena disitu merupakan tempat untuk pembuatan virus dan penelitiannya.
Setelah mereka semua berkumpul, baru profesor Alfaro memulai pembicaraannya.
Dengan wajah yang sangat marah profesor Alfaro berkata.
__ADS_1
"Kenapa kita bisa kecolongan seperti ini hah" kata profesor Alfaro kepada Brian.
"Maaf prof, sepertinya kita kedatangan tamu yang sangat terlatih dan sangat licin.
Banyak anak buah kita yang tumbang akibat kejadian kemarin" lapor Brian.
"Pokoknya saat tidak mau tahu kamu harus segera dapatkan orang yang sudah mehancurkan tempat kita itu. Kalau perlu kalian bunuh saja orang itu" kata profesor yang masih berapi-api karena marah.
"Baik prof" kata Brian sambil tertunduk karena takut melihat mata profesor Alfaro yang begitu dingin dan tajam seakan ingin mencabik-cabik orang yang ada disana.
Semua yang ada di ruangan itu juga tertunduk.
Mereka takut akan kemarahan profesor Alfaro.
Kalau profesor Alfaro sudah marah bisa-bisa nyawa mereka akan segera lenyap.
Mereka bergidik ngeri dengan sikap Profesor Alfaro.
"Prof kita harus kembali ke rumah sakit, Tuan Aziel Ramadhan sedang menunggu kita" kata dokter Syahrir.
"Baiklah kalau begitu, Ayo kita kesana" kata profesor Alfaro dan beranjak pergi tapi masih beberapa meter langkahnya terhenti.
"Tunggu dulu, Brian kamu harus perketat tempat kita ini jangan sampai ada yang mengetahuinya.
Untuk gudang yang sudah hancur biarkan kita harus mencari tempat lain untuk menampung air mineral yang sudah terpapar virus itu.
Dan satu lagi secepatnya kamu cari siapa yang sudah menghancurkan gudang kita" kata profesor Alfaro lagi.
"Baik prof" kata Brian.
Setelah itu profesor Alfaro dengan beberapa dokter sudah meninggal kan tempat itu dan kembali kerumah sakit.
Ardiansyah dan Afifa yang sudah sampai dikediaman bunda Habibah langsung memasuki rumah.
"Wa'alaikumsalam nak, gimana jadi berangkat sekarang" kata bunda Habibah.
"Jadi dong Bun, tuh Afifa juga sudah menunggu dimobil" kata Ardiansyah.
Afifa yang melihat ada bunda Habibah langsung turun dari mobil.
"Assalamu'alaikum bunda, bagaimana kabar bunda sehat bukan" kata Afifa sambil mencium punggung tangan bunda Habibah.
"Sehat nak, kamu kemana aja sayang Ardiansyah begitu khawatir dengan kamu sampai-sampai dia uring-uringan terus tuh kamu tinggal" kata bunda kepada Afifa menceritakan keadaan Ardiansyah saat ditinggalkan nya.
"Ih bunda, jangan buka rahasia dong kan Ardiansyah jadi malu Bun" kata Ardiansyah yang salah tingkah dan menggaruk kepalanya yang tidak gatal itu.
"Maaf kan Afifa bunda, karena ada pekerjaan yang harus Afifa lakukan" kata Afifa.
"Ya sudah kalau begitu ayo kita berangkat" ajak bunda kepada Afifa dan Ardiansyah.
mereka pun beranjak ke salah satu mall yang terbesar di kota itu.
Tetapi diperjalanan Afifa, bunda Habibah dan Ardiansyah melihat disebuah taman dekat dengan kompleks perumahan Ardiansyah ada beberapa orang yang tergeletak dan tak ada seorang pun yang menolongnya.
"Kak berhenti dulu" kata Afifa menyuruh berhenti kepada Ardiansyah.
"Kamu mau ngapain fa" tanya Ardiansyah.
"Kita harus menolong orang itu kak, aku mohon" kata Afifa sendu.
"Baiklah kalau begitu, bunda didalam mobil dulu dan jangan keluar sedikitpun dari mobil" kata Ardiansyah memperingati bundanya karena Ardiansyah begitu khawatir kepada bunda nya.
__ADS_1
Afifa dan Ardiansyah turun dari mobil dan menuju keorang yang terkena wabah virus itu.
Afifa memeriksa orang itu dan tak lama langsung menelepon Reina.
"Reina tolong ke apartemen ku sekarang ada beberapa pasien yang harus kita tangani" kata Afifa kepada Reina dari balik sambungan teleponnya itu setelah tersambung.
Setelah menelepon Reina segera Afifa menelepon orang kepercayaannya.
"Mario tolong segera kesini disini ada sekitar 11 orang tergeletak dan membutuhkan bantuan kita sebaiknya kamu segera bawa mereka semua ke apartemen ku sekarang" kata Afifa.
Ardiansyah yang melihat perkataan Afifa dibalik telepon itu bingung dengan apa yang dilakukan Afifa.
"Kenapa harus dibawa ke apartemennya, kenapa tidak dibawa kerumah sakit saja kan mereka butuh pengobatan" monolog Ardiansyah pelan sekali sampai orang disebelahnya pun tidak bisa mendengarkannya.
Ardiansyah yang masih sibuk dengan pemikirannya sendiri tentang apa yang dilakukan Afifa itu sedikit terkejut ketika Afifa memanggilnya beberapa kali.
"Kak... kak Ardiansyah" kata Afifa setelah beberapa kali memanggil dan baru kali ini didengarkan oleh nya.
"Eh iiyaaa fa ada apa" tanya Ardiansyah.
"Kakak melamun" kata Afifa.
"Gak kok fa cuma Kakak sedikit banyak pikiran aja sih" kata Ardiansyah berbohong.
"Kak bisa tidak kita tunda dulu membeli cincin sama perlengkapan lainnya.
Afifa harus segera pergi ke apartemen untuk menolong orang-orang ini" kata Afifa.
"Kenapa mesti ke apartemen sih fa, kenapa tidak kerumah sakit saja mereka itu butuh kerumah sakit bukan ke apartemen kamu" kata Ardiansyah yang akhirnya mengeluarkan segala isi hatinya.
"Nanti akan Afifa jelaskan kepada kakak sekarang bantu Afifa untuk ini, aku mohon kak" kata Afifa memohon dengan wajah yang hampir menangis.
"Baiklah kalau begitu, kita antar kan bunda kembali dahulu bagaimana" kata Ardiansyah.
"Apa bisa Afifa menunggu disini kak, Biar bunda kakak yang antar.
Afifa akan menunggu disini sampai bantuan datang" kata Afifa lagi.
"Tapi fa nanti kalau terjadi sesuatu sama kamu bagaimana" kata Ardiansyah khawatir dan tidak mau kehilangan Afifa untuk yang kedua kalinya.
Tak lama Ardiansyah mengeluarkan ponselnya dan menelepon Fano orang kepercayaannya.
"assalamu'alaikum fan, bisa kamu datang ke taman dekat rumah ku sekarang.
ada yang harus kamu kerjakan sekarang" kata Ardiansyah dibalik telepon nya itu.
Setelah mendengar jawaban dari Fano dan fano bersedia datang Ardiansyah segera memutuskan sambungan teleponnya dan segera memasukkan ponselnya kembali ke saku jas nya itu.
Tak beberapa lama Mario sudah datang dan segera membawa para korban itu segera ke apartemen Afifa.
"Mario tolong sterilkan gedung apartemen tempat ku tinggal dan usahakan tidak ada yang mengetahui kamu membawa mereka ke apartemen ku" kata Afifa sebelum Mario membawa semua korban itu.
"Baik non" kata Mario mematuhi perintah Afifa.
"Oh ya tutup mata mereka semua jangan sampai ada yang mengetahui" kata Afifa kemudian.
"Baik nona Afifa" kata Mario.
Mario dan anak buahnya segera menyelesaikan tugasnya seperti yang diperintahkan oleh Afifa.
Ardiansyah sedikit curiga dengan sikap Afifa.
__ADS_1
"Ada apa ini kenapa Afifa menyuruh Mario seperti itu, apa mungkin Afifa adalah dokter yang selama ini dicari oleh profesor Alfaro" batin Ardiansyah.
"Kenapa Afifa tidak mengatakan apapun kepadanya, kenapa mesti merahasiakan semua ini darinya" kata Ardiansyah dalam hati masih menebak-nebak apa yang Afifa lakukan.