
Ardiansyah yang memasuki rumah Uma Aisyah sambil bergandengan tangan dengan istri tercintanya itu mulai bergabung dengan Abi Arsyad dan Uma Aisyah.
"Kamu menginap disini nak" tanya Uma Aisyah.
"Apa kamu sudah ijin Abi Hamid nak, takutnya nanti dia mencari kamu.
Apalagi kamu juga habis terluka gitu" tanya Abi Arsyad.
"Sudah Abi, tadi Afifa menelepon Abi Hamid dan beliau mengijinkan karena sekarang sudah ada yang menjaga Afifa Abi.
Jadi jangan khawatir ya" kata Afifa kepada Abi Arsyad.
Ardiansyah yang mendengar ucapan Afifa tersenyum tipis.
Dia merasa bahagia karena merasa dibutuhkan oleh istri tercintanya itu.
"Ya sudah lebih baik kita sholat dahulu kan sudah Maghrib juga" ajak Abi Arsyad.
"Afifa kamu sholat dirumah saja sama Uma ya, Biar Abi sama Ardiansyah di masjid saja berjamaah sama anak-anak pondok" kata Abi Arsyad memberi perintah.
"Baik Abi" kata Afifa menurut.
"Jangan lupa kunci semua pintu ya sayang dan jangan biarkan orang masuk sampai aku dan Abi datang" pesan Ardiansyah kepada istrinya karena dia sedikit khawatir dengan Anwar.
"Iya hubby, kamu dah berangkat sana.
Tidak usah terlalu khawatirkan aku ya, Insya Allah aku akan bisa menjaga diri dan Uma Aisyah" kata Afifa menenangkan Ardiansyah.
"Tapi beneran ya sayang, ingat pesanku.
Masalahnya kan kamu tahu sendiri diluar ada yang sedang mengintai kamu" kata Ardiansyah.
"Iya hubby sayang, udah deh gak usah terlalu khawatir berlebihan gitu" kata Afifa sedikit jengah.
"Benar kata Afifa nak, kamu gak perlu khawatirkan mereka.
Ingat ada Allah yang akan menjagakan keluarga kita ini.
Dan lagian masjid juga masih didalam lingkup pondok dan didepan juga jadi kamu gak usah khawatir ya.
Jadi ayo kita berangkat saja sebelum terlambat berjamaah dimasjid" kata Abi Arsyad yang membuat Ardiansyah sedikit lega mendengarnya.
Ardiansyah dan Abi Arsyad pun akhirnya berangkat menuju masjid sedang Uma dan Afifa menuju mushola yang ada didalam rumah itu.
Setelah mengambil wudhu Afifa dan Uma segera sholat Maghrib berjamaah.
Selesai sholat tidak lupa Afifa dan Uma berdzikir dan berdoa tidak lupa juga membaca Alqur'an.
Ketika mereka sedang beribadah ditempat lain ternyata Fano sudah berada di samping mobil Anwar.
"Hai bro bisa buka pintu sebentar ada yang mau saya tanyakan nih" kata Fano sambil mengetuk pintu mobil merah milik dokter Anwar.
Anwar pun membuka sedikit kaca mobilnya.
"Iya ada apa ya tuan, apa ada yang bisa saya bantu" tanya Anwar dari dalam mobilnya.
"Maaf apakah tuan orang sekitar sini atau orang dari daerah lain"tanya Fano.
"Saya tinggal disekitar sini dan saya ini lagi menunggu penumpang ya makhlum lah saya penarik grab tuan" kata Anwar berbohong agar identitas dan misi nya tidak gagal.
"Oh ya, jadi tuan sering berada disini kalau gitu" tanya Fano lagi.
"Benar tuan, saya memang tiap hari berada disini untuk menunggu penumpang" kata Anwar yang masih saja bersandiwara.
"Dasar pembohong ulung.
Bisa-bisa dia mau mengelabui ku.
Tapi aktingnya boleh juga, pantas saja dia sampai bisa menangkap Afifa dan Reina beberapa waktu lalu" batin Fano dalam hati.
"Oh ya, wah semoga bapak banyak penumpangnya ya. Oh ya bapak kan biasa mangkal nih disini jadi bapak tahu dong tentang orang kehidupan orang didalam pondok itu" tanya Fano yang ingin menjebak Anwar itu dengan pertanyaannya agar Fano bisa tahu sejauh apa yang diketahui oleh Anwar tentang Afifa.
"Siapa orang ini, kok sepertinya dia juga sedang mencari informasi tentang aktifitas orang didalam pondok itu.
Aku mesti jawab apa nih?
Kalau aku gak jawab pasti akan menimbulkan pertanyaan yang berbuntut panjang, tetapi kalau aku jawab wah bisa bahaya.
Iya kalau mereka adalah orang suruhan profesor Alfaro kalau tidak bisa membahayakan aku" batin Anwar.
"Hai tuan kenapa malah bengong saja" kata Fano.
"Eh iiyyaaaa tuan maafkan saya" kata Anwar gugup.
"Gak apa-apa kok tuan, sekarang tolong anda bisa jawab pertanyaan saya tadi" tanya Fano.
"Oh pertanyaan yang tadi ya.
__ADS_1
Ya sedikit sih tuan, emangnya ada apa ya tuan sampai tuan ingin mengetahui kehidupan orang didalam pondok itu" Anwar bertanya balik.
"Gak ada sih, cuma hanya ingin tahu aja.
Oh ya siapa pemilik pondok itu tuan, pasti anda mengetahuinya bukan dan apakah beliau memiliki keluarga misalnya istri dan anak begitu" tanya Fano lagi.
"Anwar sedikit berpikir, sebenarnya siapa sih ini.
Apa dia tidak tahu tentang syekh Muhammad Arsyad ya, kok dari gelagatnya sedang mencari info tentang keluarga syekh Muhammad Arsyad.
Apa jangan-jangan mereka adalah musuh atau saingan syekh, atau mungkin dia cuma sekedar ingin tahu aja ya" batin Anwar yang masih sibuk menerka-nerka motif orang yang sedang bertanya kepadanya itu.
"hey, kenapa anda bengong lagi tuan, apa ada yang sedang anda pikirkan.
Tenang saja tuan saya tidak akan bertindak buruk terhadap tuan" kata Fano.
Deg..
Anwar langsung sedikit khawatir dengan dirinya sendiri.
"Eh maaf... maaf tuan, saya lagi kepikiran istri saya dirumah yang sedang sakit sebenarnya.
Tetapi kalau saya menunggui istri saya nanti kita makan apa dan biaya pengobatan istri saya bagaimana" kata Anwar asal bicara dan dengan wajah yang memperlihatkan sedikit kesedihan itu.
"Baiklah kalau begitu, nanti anda akan saya berikan beberapa uang asalkan anda mau menjawab pertanyaan saya" kata Fano yang selalu lihai dalam menyamar itu.
"Sebenarnya itu, pondok milik Syekh Muhammad Arsyad tuan, beliau sudah mempunyai istri dan seorang putri" kata Anwar akhirnya mau menjawab pertanyaan Fano.
"Oh ya, jadi benar kalau begitu" kata Fano sedikit pelan tapi masih bisa didengar oleh Anwar.
"Benar apa ya tuan" tanya Anwar sedikit bingung.
"Ah tidak apa-apa, oh ya apa putrinya adalah seorang dokter?
Sekarang putrinya berada dimana ya" tanya Fano.
"Kok tuan tahu, atau jangan-jangan tuan sedang menyelidiki nona Afifa ya" tanya Anwar.
"Ah gak penting itu, lagian juga bukan urusan kamu kan" kata Fano.
"Jelas jadi urusan saya, apa anda orang suruhan dokter Nicholas" tanya Anwar yang curiga dan akhirnya keceplosan juga.
"Dokter Nicholas, siapa dokter Nicholas dan emangnya ada hubungan apa dokter Afifa dengan dokter Nicholas" tanya Fano balik.
"Jadi anda bukan orang suruhan dokter Nicholas?" kata Anwar bertanya dan ingin memastikan.
"Apa jangan-jangan Anda orang suruhan profesor Alfaro ya" kata Anwar yang dengan bodohnya membongkar kedoknya itu.
"Kok anda tahu profesor Alfaro" tanya Fano.
"Ya kenal lah tuan, karena saya adalah anak buah beliau.
Kenapa kita tidak saling tahu ya" tanya Anwar sedikit berpikir.
"Karena saya agen rahasia yang disewa oleh profesor" kata Fano asal dan membohongi Anwar.
"Akhirnya kau kena perangkap juga, dasar manusia bodoh" batin Fano.
"Kalau begitu kita sama dong tuan, gimana kalau kita saling bekerjasama saja.
Kan kita sama-sama orang suruhan profesor Alfaro juga" kata Anwar yang sudah masuk jebakan Fano.
"Boleh, kalau begitu sekarang ceritakan informasi apa yang kamu dapat" tanya Fano.
"Sebentar lebih baik kita berkenalan dahulu dan saling panggil nama saja biar enak ngobrolnya" kata Anwar.
"Baiklah kalau begitu" kata Fano.
"Aku dokter Anwar dan panggil saja Anwar" Anwar pun memperkenalkan dirinya kepada Fano.
"Aku fanfan" kata Fano.
"Fanfan kok nama kamu lucu ya" Anwar sedikit tertawa.
"Apanya yang lucu, perasaan gak ada yang lucu deh, apa mau aku timpuk kamu" kata Fano yang sebal dengan dokter Anwar.
"Maaf...." kata dokter Anwar.
"Ya sudah masuk gih kita bicara didalam mobil saja" kata Anwar.
Fano pun akhirnya masuk ke mobil Anwar.
Dan Anwar pun akhirnya bercerita sedetail-detailnya tentang informasi yang didapat.
"Tunggu... tunggu... katamu tadi dokter Afifa dengan seseorang lelaki ya, emangnya kamu tahu siapa dia" tanya Fano.
"Kurang tahu juga tapi kelihatannya mereka sangat akrab dan mesra gitu. Tadi aku lihat mereka sampai bergandengan tangan" kata Anwar menjelaskan.
__ADS_1
"Jangan-jangan dia suami atau kekasihnya" kata Fano.
"Benar juga apa yang kamu katakan" kata Anwar yang setuju dengan pemikiran Fano.
"Tidak salah kamu jadi orang suruhan profesor Alfaro ternyata kamu sangat pintar menganalisa orang" kata Anwar.
"Ya iyalah aku pintar, emang kamu bodoh yang bisa masuk perangkapku" batin Fano.
"Ya haruslah kan aku adalah agen rahasia jadi harus pandai, kalau aku gak pandai mana mungkin aku direkrut" kata Fano asal.
"Iya juga" kata Anwar.
"Oh ya kamu tinggal dimana sekarang, kelihatan nya kamu bukan orang daerah sini ya sampai-sampai kamu tidak mengetahui pondokan ini milik siapa" kata Anwar.
"Kamu benar, aku memang bukan orang sini aku dari negara S.
Dan untuk sementara aku tinggal di markas profesor Alfaro yang dipakai penelitian buat pengembangan virus itu" kata Fano asal.
"Wow ternyata kamu dari luar negeri. Oh ya apa tidak kesepian kamu disana.
Secara tempat dibelakang pabrik minuman itu ya walah agak sedikit jauh sih, tapi tempatnya kan sepi banget dan jarang orang lewat kesana.
Hanya orang-orang tertentu yang bisa masuk kesana.
Kalau orang biasa pasti sudah kena ranjau-ranjau disana" kata Anwar yang secara tidak langsung malah memberi tahu lokasi maskas utama profesor Alfaro.
"Kan aku termasuk orang pilihan beliau mana mungkin aku kena ranjau-ranjau itu" kata Fano yang sangat pandai memanfaatkan situasi untuk mendapatkan informasi lawan.
"Iya juga sih, pasti kamu mengetahui letak ranjau itu ya" kata Anwar.
"Kalau aku tidak tahu mana mungkin aku bisa selamat sampai sekarang" kata Fano.
"Iya juga sih, aku waktu awal kesana hampir terbunuh karena ranjau itu. Untung saja ada Brian yang me non aktifkan ranjau itu jadi aku bisa selamat. Dan sejak itu aku gak pernah lewat situ lagi" kata Anwar menceritakan pengalamannya itu.
"Oh ya, emangnya kamu lewat mana sampai mau kena ranjau itu" kata Fano.
"Ya lewat jalan utama itu. Aku kira jalan utama buat orang-orang itu adalah jalan aman ternyata jalan setapak lah yang lebih aman.
Tapi aku heran kalau mobil profesor Alfaro lewat jalan utama itu kok tidak kenapa-kenapa ya" kata Anwar yang sedikit heran menceritakan semua pengalamannya itu.
"Yah kan profesor Alfaro punya remot kontrolnya dodol jadi tahu lah akan hal itu" kata Fano.
"Iya juga ya, kenapa otakku jadi lemot begini yah" kata Anwar merutuki kebodohannya.
"Oh ya habis ini kamu mau kemana" tanya Anwar kepada Fano setelah mereka terdiam sejenak.
"Biasa lah mau ke markas lah buat laporan" kata Fano.
"Bagaimana kalau kita ke club malam dahulu, nanti aku yang traktir deh" kata Anwar.
"Wah ide yang bagus tuh" kata Fano.
Akhirnya Fano pun diajak Anwar ke club malam dengan membawa mobil masing-masing.
Ternyata club yang dituju itu adalah milik salah satu sahabat Fano.
Didalam mobil Fano menyalakan bluetooth yang akan terhubung dengan ponsel nya untuk menelepon anak buahnya yang tadi disuruh untuk mengawasinya dari kejauhan dan juga Ardiansyah.
"Assalamu'alaikum Syah" kata Fano saat telepon itu tersambung.
"Ya wa'alaikumsalam fan, gimana apa sudah kamu bereskan dokter tengik itu" kata Ardiansyah setelah membalas salam dari Fano.
"Dia sudah masuk kedalam perangkap aku, sekarang aku sedang mengikuti dokter bodoh itu ke sebuah club malam milik Andrean teman kita dulu yang satu tim basket.
Aku sudah mendapatkan banyak informasi mengenai profesor Alfaro, nanti aku jelaskan dimarkas saja" kata Fano.
"Baiklah nanti setelah usai pekerjaan kamu, kita bertemu dimarkas.
Jangan lupa kamu harus berhati-hati" kata Ardiansyah.
"Siap Syah.
Nanti di club aku akan membawa dokter bodoh itu menuju suatu tempat.
Aku sudah punya rencana untuk dokter bodoh itu.
Kamu tenang saja pasti nanti aku ceritakan semuanya.
Kamu tinggal terima beres saja oke" kata Fano.
"Baiklah, kamu memang yang terbaik fan.
Terima kasih banyak fan" kata Ardiansyah tulus dan bangga sama sahabatnya itu.
"Siapa dulu Fano" kata Fano membanggakan dirinya sendiri.
"Ya... ya..." kata Ardiansyah.
__ADS_1
"Ya sudah aku tutup dulu kalau begitu. Wassalamu'alaikum" kata Ardiansyah mengakhiri dan memutuskan sambungan teleponnya itu setelah mendengar Fano memberikan jawaban dari salamnya.