Dokter Afifa

Dokter Afifa
Perubahan rencana profesor Alfaro


__ADS_3

Dokter Nicholas dan dokter Syahrir Yang masih berada di pabrik mineral itu masih memeriksa perkembangan dari misi nya.


Di sana ternyata sudah ada profesor Alfaro.


"Bagaimana pengintaianmu pada dokter Reina bisa gagal" tanya profesor Alfaro.


"Saya rasa ada yang berada dibalik dokter Reina prof.


Tapi saya belum bisa memastikan dan sepertinya Yaang berada dibelakang dokter Reina bukanlah orang biasa" kata dokter Nicholas menjelaskan pengintaian nya kepada profesor Alfaro.


"Baiklah kalau begitu aku akan mengerahkan anak buah ku untuk menyelidikinya.


Dan kalian apa sudah kalian siap kan penyamaran ku nanti dirumah sakit itu" kata profesor Alfaro.


"Sudah tuan akan tetapi kursi kepemimpinan tertinggi ada pada dokter Ridwan.


Dan beliau mulai besok akan selalu mengawasi setiap kinerja kita" kata dokter Syahrir.


"Bagaimana bisa itu terjadi, kan selama ini kamu adalah pimpinan dirumah sakit itu kan" bentak profesor Alfaro seakan-akan tidak percaya dengan berita yang didapatnya.


"Kalau begitu kita harus membuat strategi yang baru" kata profesor Alfaro.


"Siap prof" kata Nicholas dan Syahrir bersamaan.


"Ya sudah sekarang kita kembali kemarkas.


Kita harus segera membuat strategi baru untuk rencana kita ini" kata profesor Alfaro akhirnya dan mengajak mereka berdua menuju markas.


Mereka bertiga pun keluar dari pabrik air mineral itu dan mulai melajukan mobilnya menuju markas mereka.


Waktu yang dipergunakan untuk menempuh jarak pabrik dengan markas sekitar 2 jam karena letak pabrik itu yang jauh dari pusat kota dan letaknya di daerah yang sedikit terpencil juga.


Mereka memasuki markas itu dan semua orang menunduk hormat kepadanya ketika mereka memasuki markas itu.


Di markas sudah ada Bryan yang merupakan asisten dan orang kepercayaan profesor Alfaro.


"Bryan bagaimana apa ada sesuatu yang kamu dapatkan" tanya profesor Alfaro saat bertemu Bryan.


"Kita sepertinya kedatangan penyusup prof, tetapi saya masih sedang menyelidikinya" kata Bryan.


Profesor Alfaro menautkan kedua alisnya dan terlihat sedikit marah karena kerja orang suruhannya tidak ada yang beres sama sekali.


"Kerja kalian apa hah, begitu saja bisa kecolongan.


Dan kamu Nicholas dan kamu Syahrir, saya tidak mau tahu pokoknya secepatnya kalian harus menemukan chip itu" bentak profesor Alfaro dan menegaskan kepada kedua dokter itu untuk segera menemukan chip berharga itu.


Karena keserakahan akhirnya membuat profesor Alfaro gelap mata dan menghalalkan segala cara agar dia bisa menguasai dunia.


Chip itu adalah kunci dia untuk bisa memuluskan rencana nya untuk menundukkan dunia ini.


Tetapi rencana itu sampai sekarang belum juga mendapatkan hasil hingga membuat Profesor Alfaro frustasi.


"Kita harus adu domba dokter Ridwan dengan pemilik rumah sakit itu, dengan begitu kita akan dengan mudah mendepak dokter tua itu dari rumah sakit.


Setelah dokter tua itu didepak dari rumah sakit, aku yang akan jadi pahlawan di sana dan akan mengambil alih penguasaan rumah sakit itu" kata profesor Alfaro menjelaskan rencananya.


Nicholas sebenarnya sudah jengah dan tak tahan dengan Profesor Alfaro yang sangat kejam itu, tetapi dia tidak bisa berbuat apapun karena adiknya berada ditangan profesor Alfaro.


"Kalian berdua harus memuluskan rencana ku" kata Profesor Alfaro kepada Nicholas dan Syahrir.


"Baik prof" kata kedua dokter itu.

__ADS_1


"Mulai besok kalian harus berusaha untuk mengadu domba dokter Ridwan dengan tuan Aziel Ramadhan" kata profesor itu.


"Baik prof saya akan berusaha semaksimal mungkin" kata Nicholas.


"Aku tidak mau mendengar kegagalan, kalau tidak..." kata profesor itu menggantung.


Nicholas sudah mengerti maksud dari perkataan profesor Alfaro itu.


Dia hanya bisa menelan ludah karena dia sangat mengkhawatirkan keadaan adiknya.


"Baik prof" kata Nicholas akhirnya berkata dengan sedikit keberanian.


Saat mereka sedang membuat rencana tiba-tiba ponsel milik Bryan berbunyi dan dengan segera dia mengangkat nya.


"Maaf prof saya harus menerima telepon dahulu" kata Bryan minta ijin


"Silahkan" kata profesor mengijinkan Bryan menerima telepon itu.


Bryan sedikit menjauh dan mulai berbicara dengan orang dibalik sambungan itu yang ternyata anak buahnya.


Anak buahnya sedang memberikan laporan kepada Bryan kalau lagi ada situasi yang kurang bagus saat ini.


"Baiklah kalau begitu, kamu perketat pengawasan pabrik" kata Bryan diakhir teleponnya itu.


Bryan dengan langkah cepat langsung menghadap profesor Alfaro.


"Maaf prof, ada berita kurang baik.


Pabrik air mineral kita sedang kedatangan beberapa penyusup.


Saya sudah menugaskan anak buah saya untuk memperketat keamanan dan pengawasan pabrik.


"Bagus kalau begitu, kamu harus tangkap itu penyusup dan dapatkan informasi darinya" kata Profesor Alfaro.


"Sekarang kita harus menjalankan rencana kita barusan dan kalian pastikan kita tidak akan kecolongan lagi" kata profesor Alfaro.


"Baik prof" jawab Bryan, Syahrir dan Nicholas bersamaan.


"Ya sudah kalian sekarang kembali ke tugas masing-masing" kata profesor Alfaro menyudahi pembicaraannya itu.


Mereka pun kembali ke tugasnya masing-masing.


"Dokter Syahrir sepertinya saya langsung kembali pulang saja" kata dokter Nicholas.


"Baiklah kalau begitu, saya juga mau istirahat hari ini.


Seharian ini sangat berat buat saya" curhat dokter Syahrir.


"Ya sudah saya akan antar dokter Syahrir dahulu, karena mobil dokter berada dirumah sakit bukan" kata Nicholas.


"Iya dok, terima kasih sebelumnya" kata Syahrir tulus.


Akhirnya dokter Nicholas mengantarkan dokter Syahrir kerumah sakit karena dokter Syahrir harus mengambil mobilnya.


Setelah menempuh perjalanan yang sedikit melelahkan dokter Nicholas dan dokter Syahrir sampai dirumah sakit.


"Ya sudah dok, saya tidak bisa mengantar sampai kedalam.


Saya harus segera pergi" kata Nicholas Yang menurun kan dokter Syahrir didepan pintu gerbang rumah sakit.


"Gak apa-apa dok, saya mengerti kok.

__ADS_1


Terima kasih banyak ya atas tumpangannya" ucap dokter Syahrir tulus.


"Sama-sama dok, kalau begitu saya pergi dulu.


Selamat malam dok" kata Nicholas


"Selamat malam" jawab Syahri.


Nicholas pun akhirnya melajukan mobilnya menuju apartemen mewah nya itu.


Sesampai diapartemen mewahnya dokter Nicholas segera menuju kamarnya dan segera mandi setelah itu dia mulai merebahkan tubuhnya karena dia sangat letih hari ini.


Dan tak menunggu lama akhirnya Nicholas pun tertidur dengan pulasnya.


Di markas milik Ardiansyah sedang diadakan pertemuan penting.


Disana sudah ada Fano dan beberapa anak buah Ardiansyah.


tak ketinggalan Ardiansyah juga sudah berada disana.


"Bagaimana apakah kamu sudah menyusupkan beberapa anak buah kita untuk masuk kedalam pabrik" tanya Ardiansyah.


"Sudah tuan, tetapi ada sedikit hambatan.


satu orang suruhan kita hampir saja tertangkap untungnya sudah saya keluarkan dari situasi itu sebelum dia ditangkap oleh anak buah profesor Alfaro" jelas Fano kepada Ardiansyah.


"Kalau begitu kalian harus berhati-hati" kata Ardiansyah


"Besok malam kamu harus temani aku untuk menyusup kedalam pabrik air mineral itu Fano" kata Ardiansyah tegas.


Akhirnya mau tidak mau Fano pun menyetujuinya.


"Baiklah tuan, akan saya laksanakan" jawab Fano.


"Ya sudah sekian dulu pembicaraan kita.


Kalian bisa bubar dan jalankan tugas kalian masing-masing.


Ingat kita harus berhati-hati karena orang yang kita hadapi bukan sembarangan orang.


Dia sangat licik.


Kita harus bisa berhasil dalam misi ini karena ini menyangkut keberlangsungan umat manusia" kata Ardiansyah dan juga mengingatkan anak buahnya itu.


"Siap tuan" kata mereka.


Mereka pun bubar dan menuju ke rumah masing-masing.


"Fan aku harus pergi dahulu karena seharian ini aku sangat lelah" ucap Ardiansyah kepada sahabat nya itu.


"Baiklah kalau begitu.


Aku juga ingin pulang dan beristirahat" kata Fano


"Ya sudah kalau begitu assalamu'alaikum fan.


aku duluan ya" kata Ardiansyah memberi salam perpisahan.


"Wa'alaikumsalam ayah, hati-hati.


Jangan mikirin dokter Afifa melulu lho.

__ADS_1


ingat misi kita" kata Fano sedikit mengejek Ardiansyah


"Kau itu" kesal Ardiansyah dan langsung berlalu pergi meninggalkan Fano sendirian.


__ADS_2