Dokter Afifa

Dokter Afifa
Kekhawatiran Aisyah


__ADS_3

Kini Ardiansyah sudah berada dikamarnya dan mulai dibangunkan nya Afifa dengan mencium keningnya.


"Sayang bangunlah, apa kamu sudah baikkan.


Kalau kamu sudah baikkan sebaiknya kita bersiap-siap untuk kembali kerumah" kata Ardiansyah lembut dan sambil membelai puncak kepala Afifa.


Afifa yang memang tidak tidur itu segera duduk diatas ranjangnya.


"Aku sudah lebih baik kok hubby, aku akan bersiap-siap dahulu" kata Afifa lirih.


"Apa benar kamu sudah sehat sayang" sedikit meragukan Afifa.


Dipandanginya sang istri itu dengan lembut dan lama.


Dia merasa memang Afifa sudah lebih baik dari keadaannya tadi.


"Ya sudah bersiap-siap lah sayang, aku juga akan bersiap-siap" akhirnya Ardiansyah yakin kalau istrinya sudah lebih baik dan akhirnya mengijinkan istrinya untuk bersiap-siap.


20 menit mereka bersiap-siap untuk segera pulang kembali ke negaranya.


"Aku sudah sangat merindukan Uma dan bunda hubby, pasti mereka bahagia kita kembali" Afifa begitu antusias


"Pasti mereka akan sangat bahagia sekali sayang" membenarkan ucapan sang istri.


Setelah dirasa mereka sudah rapi dan semua sudah siap kini mereka segera turun kebawah dan disana sudah berdiri semua anggota keluarga dengan pakaian rapi dan tampak membawa koper mereka masing-masing.


"Fa, kamu sudah baikan nak" tanya Hamid Abdullah.


"Sudah Abi, aku sudah lebih baik.


Aku sudah sangat rindu sama Uma dan bunda Abi" kata Afifa begitu bersemangatnya.


"Ya sudah kalau begitu kita berangkat ke landasan pesawat kita ya" kata Hamid Abdullah.


Kini mereka semua berangkat menuju landasan pesawat dan mereka segera terbang menuju negaranya.


Perjalanan yang sangat panjang membuat Afifa mengantuk dan akhirnya tertidur disamping sang suami dengan menyandarkan kepalanya dipundak sang suami.


Ardiansyah membelai kepala sang istri yang tertutup hijab itu.


"Apa Afifa tertidur Syah" tanya Fano yang kini mendekat ke arah Ardiansyah dan Afifa.


"Iya fan, dia baru saja tertidur" kata Ardiansyah.


"Ya sudah lebih baik nanti saja aku berbicara denganmu" kata Fano.


"Emangnya ada yang sangat penting" tanya Ardiansyah


"Tidak seberapa penting juga sih, nanti saja kalau kita sudah sampai aja" jawab Fano dan berlalu kembali ke kursinya.


Tak beberapa lama Ardiansyah pun ikut tertidur disamping Afifa.


Perjalanan memakan waktu sekitar 12jam dan akhirnya mereka sampai juga dinegaranya.


Semua turun dari pesawat dan dibandara sudah menunggu 5 mobil menjemput mereka.

__ADS_1


Nicholas kembali ke apartemen nya demikian juga Fano dan Anna mereka kembali ketempat masing-masing.


Kini tampak Afifa, Ardiansyah, Aziel, Reina dan Hamid Abdullah yang kembali kekediaman Hamid Abdullah.


Disana sudah menunggu Uma Hamida, Uma Aisyah, Abi Arsyad dan bunda Habibah.


Tampak 2 mobil memasuki halaman rumah Hamid Abdullah dan saat mobil berhenti keluarlah Afifa dan juga Ardiansyah dari mobilnya diikuti dengan yang lainnya keluar juga dari mobil.


Dihalaman rumah Uma dan bunda sudah menunggu Afifa dan semuanya dengan wajah yang bahagia.


Mereka saling melepas rindu, saling berpelukan lama dan kemudian mereka langsung menuju ke ruang makan.


"Pasti perjalanan yang jauh membuat kalian capek dan sangat lapar ya kan.


Kebetulan kami sudah menyiapkan makanan buat kalian.


Yuk sekarang makan karena saat ini bertepatan dengan makan malam kan walau sudah sedikit terlambat" kata Uma Hamida dengan senyum mengembang.


Mereka segera duduk di tempat masing-masing.


Semua memakan makan malamnya dengan hening dan hanya ada suara sendok dan garpu yang berbenturan.


Setelah menyantap makan malam mereka semua berkumpul diruang keluarga yang sangat luas.


"Bagaimana keadaan kamu sayang, Uma sangat merindukanmu" kata Aisyah kepada Afifa.


"Afifa sehat Uma, hanya kemarin sedikit kecapekan aja" jawab Afifa.


"Ya sudah sebaiknya kalian beristirahat semua karena hari sudah malam.


"Baik Uma" Afifa dan Ardiansyah beranjak berdiri dan menuju ke kamarnya sebelumnya dia sudah berpamitan kepada semua anggota keluarga.


Sepeninggal Afifa tampak Uma Aisyah menatap kearah Afifa pergi sampai akhirnya Afifa menghilang dari pandangannya.


"Bang, apa kalian tidak lihat Afifa sedikit pucat tadi.


Apa dia baik-baik saja" terlihat raut wajah yang sangat khawatir sekali tercetak diwajahnya Aisyah.


"Kamu kenapa sih Uma, sudah jangan terlalu berpikir.


Doain Afifa baik-baik saja" syekh Arsyad mencoba menenangkan istrinya agar tidak terlalu mengkhawatirkan Afifa.


"Tapi bi, coba deh lihat baik-baik tadi" merajuk dan tetap yakin dengan feeling yang dia rasa.


"Sudah besok saja kita tanyakan kepada Afifa" menghentikan pembicaraan istrinya itu.


"Oh ya bang Hamid bagaimana kabar misi kalian apa sudah selesai" tanya Syekh Muhammad Arsyad.


"Sebenarnya misi sudah selesai semua markas mereka sudah kami kuasai tetapi ada yang lolos satu dan masih belum kami ketahui keberadaannya.


Sebaiknya kita nikmati saja hidup kita saat ini karena virus sudah bisa kita atasi dengan formulasi yang dibuat Afifa, Reina dan Nicholas" kata Hamid Abdullah yang memberikan kabar bahagia itu.


"Alhamdulillah, akhirnya" ucap syukur semua keluarga secara bergantian.


"Meskipun begitu kita harus masih waspada dengan kemungkinan yang terjadi nanti karena masih ada satu yang berhasil lolos" kata Hamid Abdullah lagi.

__ADS_1


"Benar, tetapi setidaknya semua bisa teratasi dan untuk selanjutnya kita harus bisa antisipasi dan mulai menyelidiki" kata Aziel membenarkan Abi Hamid.


"Ini sudah malam sebaiknya kalian semua beristirahat" kata Hamid Abdullah.


Semua keluarga pun akhirnya kembali ke kamar masing-masing.


Disebuah kamar tampak Afifa yang sedang menyandarkan tubuhnya di sandaran tempat tidur sedangkan Ardiansyah sedang berada di kamar mandi untuk membersihkan dirinya.


Beberapa menit kemudian Ardiansyah sudah keluar dari dalam kamar mandi.


"Kok belum tidur sayang" tanya Ardiansyah menghampiri sang istri dan mulai membelai lembut rambutnya yang terurai indah itu.


"Gak tau hubby kenapa mataku tidak bisa aku pejamkan sama sekali, ingin rasanya aku makan lalapan yang ditempat biasanya hubby" kata Afifa.


"Ini sudah malam lho sayang, dan kita baru saja selesai makan tadi. Apa kamu belum kenyang hemm" tanya Ardiansyah.


"Iya by tapi aku lapar lagi, yuk beli by" rengek Afifa dengan manjanya.


Ardiansyah yang melihat istrinya merengek manja jadi tak tega akhirnya mau tidak mau dia mengajak istrinya itu untuk membeli makanan yang diinginkan.


"Tumben Afifa minta makan lalapan tengah malam begini, apa ada yang aneh ya.


Semenjak dia sakit kemarin sepertinya ada sesuatu yang aneh deh" batin Ardiansyah.


"Ya sudah kamu ganti baju dahulu, kita pergi sekarang.


Jangan lupa memakai jaket ya karena angin malam tidak bagus" pesan Ardiansyah lembut.


"Iya hubby" Afifa begitu antusias dan segera berdiri dan mengganti bajunya, tak lupa dia memakai jaket.


Ardiansyah yang sudah siap dia mulai mengambil kunci mobil dan kini mereka berjalan berdua menuju ke tempat yang dituju nya.


10 menit kemudian mereka sudah sampai di tempat penjual lalapan.


Tempat itu sangat ramai sekali karena memang tempat itu sangat terkenal makanannya enak dan sambalnya begitu menggoda.


Afifa dan Ardiansyah mulai menuju kesebuah meja yang kosong dia sengaja memilih tempat lesehan untuk menikmati makanannya sambil melihat lalu lalang mobil.


Yuk mampir di novel ku yang lain dong


please...


"KAULAH YANG PERTAMA DAN TERAKHIRKU"


Jangan lupa kasih


LIKE


KOMENTAR


FAVORITKAN


DAN VOTE


Dukungan kalian sangat berarti buat kami untuk bisa terus berkarya

__ADS_1


__ADS_2