Dokter Afifa

Dokter Afifa
kecurigaan profesor Alfaro


__ADS_3

Kini tinggal Hamid Abdullah bersama Ardiansyah di ruangan itu.


"Sekarang lebih baik kita pulang" kata Abi Hamid.


"Baik Abi" kata Ardiansyah.


Kini Ardiansyah dan Hamid Abdullah mulai meninggalkan kantor milik Ardiansyah.


Tetapi sebelum Ardiansyah pergi dia memberi pesan kepada sekretarisnya yaitu Mitha.


"Mitha tolong nanti semua tugas alihkan kepada wakil saya.


Untuk sementara saya tidak akan pergi kekantor karena ada hal penting yang harus saya kerjakan" kata Ardiansyah berpesan kepada Mitha.


"Baik tuan" jawab Mitha mematuhi perintah bos nya itu.


Ardiansyah mempersilahkan Hamid Abdullah untuk berjalan terlebih dahulu.


Mereka berjalan menuju ke mobilnya diparkir setelah masuk dan duduk nyaman didalam mobil Ardiansyah mengemudikan mobil itu meninggalkan kantornya dan langsung pulang kerumah Hamid Abdullah.


Tidak beberapa lama mereka sudah sampai dihalaman rumah Hamid Abdullah.


Ardiansyah dan Hamid Abdullah pun segera turun dari mobilnya dan kebetulan sekarang pas waktunya makan siang dan keluarga sedang berkumpul di meja makan.


"Wah kebetulan sekali Abi datang, yuk makan siang dulu Abi pasti lapar kan" kata Uma Hamida.


"Kelihatannya makanannya enak sekali ini, pasti Uma yang masak ya" kata Abi Hamid.


"Bukan sayang, ini semua resep rahasia keluarga besan, tadi besan yang memasak.


Aku dan yang lain cuma membantu aja" kata Uma menjelaskan.


"Oh ya, pantas menu nya agak berbeda" kata Abi Hamid.


Mereka pun mengambil makanan masing-masing dan untuk para istri mereka mengambilkan suami masing-masing dan kemudian mereka segera menyantapnya.


"Hmmm ini benar-benar lezat" kata Uma Hamida.


"Iya sayang ini benar-benar enak, besan kita ternyata pandai memasak" kata Abi membesarkan ucapan sang istri.


"Ah besan ini bisa aja, ini hanya masakan kampung biasa aja" kata bunda Habibah.


"Tapi beneran enak lho ini" kata Uma Hamida.


"Bunda pandai masak ya, lain kali Afifa bisa dong diajari memasak" kata Afifa.


"Boleh nak, bunda dengan senang hati mengajarimu memasak" kata bunda Habibah.


"Terima kasih banyak bunda" kata Afifa tulus.


"Uma dari tadi Afifa tidak melihat Uma Aisyah sama Abi Arsyad kemana beliau" kata Afifa.


"Oh kalau itu tadi Uma Aisyah bilang kalau Abi Arsyad sedang ada acara penting jadi beliau meminta ijin pulang lebih dahulu" kata Uma Hamida.


"Yah padahal kan Afifa masih rindu sama Uma Aisyah. Afifa dah lama gak maen kerumah Uma Aisyah" kata Afifa dengan muka bersedihnya itu.


"Kan nanti kamu bisa maen ketempat Uma Aisyah nak" kata Abi Hamid.


"Iya Abi" kata Afifa tertunduk.


"Sudah sayang sekarang kamu habiskan makanan kamu ya, besok pasti aku antar kerumah Uma Aisyah" bujuk Ardiansyah agar istrinya tidak terlalu sedih.


Mereka pun melanjutkan makan dan tak lama kemudian makanan di piring masing-masing sudah habis tak tersisa.


Seusai makan mereka semua pun berkumpul dihalaman belakang hanya untuk mengobrol ringan dan ber sendau gurau.


Dirumah sakit dimana Aziel sudah berada di ruangan dokter Ridwan.

__ADS_1


Sedangkan suster Anna kembali bekerja ditempat biasanya yaitu diruangan dokter Afifa yang kini digantikan oleh dokter Anita.


"Suster Anna bisa bicara sebentar, tolong langsung keruangan saya ya" kata dokter Anita.


"Baik dok" kata suster Anna.


Untung sedang tidak ada pasien sama sekali diruangan dokter Anita.


Kini Anna sudah berada diruangan Anita.


"Iya dok ada yang bisa saya bantu" kata suster Anna.


"Kamu beberapa hari ini tidak masuk kenapa sus" tanya dokter Anita.


"Maaf dok, beberapa hari ini saya kurang sehat dok, tetapi Alhamdulillah sekarang sudah sehat kembali dan bisa bekerja seperti biasanya" jawab suster Anna.


"Apa tidak ada yang kamu tutup-tutupi suster Anna" tanya dokter Anita curiga.


Dokter Anita merupakan salah satu dari pengikut profesor Alfaro.


"Saya menutup-nutupi apa dok, kalau dokter tidak percaya dokter bisa menanyakan kepada tetangga saya" kata Anna.


"Baiklah kalau begitu, saya percaya kok" kata dokter Anna akhirnya mempercayai ucapan Anna.


"Oh ya kamu tahu tentang dokter Afifa dan juga dokter Reina" tanya dokter Anita.


"Bukankah dokter Afifa sudah dipecat dari rumah sakit ini. Sedangkan dokter Reina saya kurang mengetahuinya" kata Anna.


"Benarkah kamu tidak mengetahuinya" tanya dokter Anita seakan-akan menginterogasi Anna.


"Mengetahui apa maksud dokter ya, apakah ada sesuatu hal tentang dokter Afifa dengan dokter Reina" Anna balik bertanya.


"Tidak juga sih, cuma dengar-dengar mereka mempunyai hubungan" kata dokter Anita.


"Oh ya, masak sih dok, saya malah baru tahu hari ini. Sepengetahuan saya mereka cuma sekedar rekan kerja saja" bohong Anna karena Anna sebenarnya mengetahui siapa sebenarnya Afifa dan Reina juga Anna mengetahui siapa dokter Anita ini.


"Kalau dokter Afifa sih sepengetahuanku beliau tinggal disebuah pondok pesantren, kan beliau anak dari seorang syekh. Kalau dokter Reina saya gak tahu dok" jawab Anna santai.


"Oh begitu ya" kata dokter Anita.


"Benar dok" kata Anna.


Dokter Anita cuma mengangguk-anggukkan kepalanya sambil berpikir.


"Ya sudah kamu bisa lanjutkan pekerjaan kamu" kata dokter Anita.


"Baik dok" kata Anna dan langsung undur diri dari hadapan dokter itu.


Sepeninggal Anna dokter Anita pun pergi dari ruangan itu dan berjalan menuju ke ruangan dokter Syahrir.


"Permisi dok" kata dokter Anita setelah sebelumnya dia mengetuk pintu ruangan dokter Syahrir dan dipersilahkan masuk oleh dokter Syahrir.


Ternyata diruangan itu sudah ada dokter Rio yang sebenarnya adalah profesor Alfaro.


"Dok saya mau mengatakan sesuatu" kata Anita.


"Silahkan dokter Anita" kata dokter Rio.


Anita pun menceritakan dari hasil interogasi suster Anna.


"Apa anda yakin dokter Anita dari semua jawaban-jawaban suster Anna" tanya Rio.


"Saya yakin dok, masalahnya saya melihat seperti tidak ada kebohongan dimatanya" kata Anita.


"Apa sebaiknya kita menyelidiki pondok pesantren itu" kata Rio.


"Menurut saya itu tidak ada salahnya prof, karena dengan begitu kita bisa tahu dan memperoleh sedikit celah tentang keterlibatan dokter Afifa dengan dokter Reina" kata Syahrir.

__ADS_1


"Oh ya sekarang kita tidak bisa mengandalkan dokter Anwar karena kedok dia sudah diketahui oleh dokter Reina dan juga dokter Afifa.


Lebih baik kita suruh dokter Nicholas untuk mendekati dokter Reina.


Tetapi keberadaan dokter Reina sekarang kita kurang tahu.


Dia seakan menghilang tanpa jejak setelah kejadian itu.


Dan rumahnya sudah sejak 1 bulan ini tidak ditempati hanya ada ART nya saja.


Ketika saya kesana ART itu bilang kalau rumah itu sudah dipindah tangankan dan sekarang yang tinggal disana adalah seorang pengusaha dari luar negeri namanya Lio dan beliau jarang sekali berkunjung kerumah itu hanya kalau beliau berada di negara ini saja baru tinggal disana" jelas Syahrir menjabarkan informasi yang diperolehnya itu.


"Sekarang yang membuat saya sanksi adalah hubungan dokter Afifa dan dokter Reina" kata profesor Alfaro.


"Dan sekarang kemana menghilangnya dokter Reina itu" kata profesor Alfaro lagi.


"Sebaiknya kita mencari informasi dari pondok pesantren itu saja prof, siapa tahu dari situ kita menemukan titik terang tentang dokter Afifa dan juga dokter Reina.


"Benar apa yang kamu katakan dokter Syahrir.


Kali ini kita harus menjalankannya dengan baik jangan sampai kita kecolongan lagi.


Sementara dokter Anwar biar bekerja dimarkas" kata profesor Alfaro.


"Baik prof" kata dokter Syahrir dan dokter Anita.


"Ya sudah saya akan kembali ke laboratorium dahulu, karena saya lihat tadi pemilik rumah sakit datang" kata profesor Alfaro.


"Baik prof" kata dokter Syahrir.


Rio dan Anita pun akhirnya meninggalkan ruangan dokter Syahrir.


Dalam perjalanan mereka berjumpa dengan Aziel Ramadhan.


"Dokter Rio dan dokter Anita dari mana kalian, bukannya seharusnya kalian sekarang sedang bertugas.


Dan kau dokter Rio kenapa kamu tidak becus melakukan penelitian sehingga banyak pasien bergelimpangan" kata Aziel, dia tidak peduli walaupun sekarang mereka berada di lorong rumah sakit.


"Maaf tuan saya tadi dipanggil oleh dokter Syahrir menyangkut kegagalan saya dalam bekerja.


Tetapi saya berjanji, saya akan bisa berhasil kali ini" kata Rio yang sedikit geram dengan Aziel.


Tangan profesor Alfaro mengepal didalam saku jas putihnya dan ingin sekali menghajar pemilik rumah sakit itu, tetapi dia tahan karena belum saatnya untuk menghancurkan pemilik rumah sakit itu.


"Saya akan memberi Anda kesempatan sekali lagi jika sampai besok anda tidak dapat memberikan hasil yang bagus lebih baik anda serahkan sendiri surat pengunduran diri anda atau anda akan saya keluarkan dari rumah sakit ini dengan tidak hormat seperti dokter Afifa" kata Aziel tegas.


"Baik tuan" kata dokter Rio menunduk sambil merutuki Aziel.


"Dan kau dokter Anita bukannya kamu sekarang bertugas diruangan kamu kenapa bisa bersama dokter Rio.


Apa kalian mempunyai hubungan khusus hah" bentak Aziel.


"Maaf tuan dadi saya juga dipanggil oleh dokter Syahrir, beliau meminta laporan tentang pasien saya" kata dokter Anita berbohong.


"Benarkah itu" kata Aziel.


"Benar tuan" kata Anita.


"Ya sudah kalau begitu kalian kembali bekerja dengan baik, jangan sampai buat saya kecewa untuk kedua kalinya" kata Aziel penuh penekanan.


"Baik tuan" jawab dokter Rio dan dokter Anita bersamaan.


Aziel pun pergi meninggalkan kedua dokter itu.


Sebenarnya Aziel sudah mengetahui kalau dokter Anita dan dokter Rio berada di ruangan dokter Syahrir.


Karena sepeninggal dokter Anita tadi Anna sempat mengikuti dokter Anita dari kejauhan dan memastikan kemana perginya dokter Anita tadi, karena Anna merasa curiga kenapa dokter Anita sampai menayakan tentang kedua sahabatnya itu. Anna juga mengetahui kalau dokter Rio sedang berada diruangan itu karena secara tidak sengaja tadi Anna memergoki dokter Rio mendatangi dokter Syahrir.

__ADS_1


Setelah itu Anna melaporkannya kepada Aziel sang calon suaminya itu secara detail mulai dari dokter Anita menanyai tentang kedua calon adik iparnya yang sekaligus sahabatnya itu.


__ADS_2