
Ardiansyah dan Afifa memasuki rumah Uma Aisyah sambil membawa 4 mangkok bakso.
Mereka berdua duduk di ruang tamu sambil makan bakso.
Sedangkan Uma Aisyah sedang memberitahukan kepada seluruh orang dipondok untuk mengambil bakso ditukang bakso gratis.
Ditempat lain Anwar yang melihat Afifa dan seorang lelaki sedikit terkejut.
"Siapa laki-laki yang bersama Afifa itu, apakah saudaranya atau siapanya ya.
Jangan-jangan dia yang membebaskan Afifa dan Reina kemarin.
Tapi dari postur tubuhnya dan model rambutnya sepertinya bukan deh.
Aku harus mencari tahu ini" kata Anwar bermonolog sendiri di dalam mobilnya saat melihat Afifa turun dari mobil dan terus membeli bakso itu.
Ardiansyah dan Afifa yang sedang asyik memakan baksonya tiba-tiba
ditengah-tengah makan nya Ardiansyah mulai membuka pembicaraan.
"Sayang, emangnya mobil siapa yang dimaksud sama tukang bakso tadi" tanya Ardiansyah.
"Hubby tahu gak dia adalah orang yang telah menangkap ku dan Reina hingga aku sampai terkena tembakan ini" kata Afifa menjelaskan.
"Jadi dia itu dokter Anwar yang kamu ceritakan tempo hari" Ardiansyah masih melanjutkan pertanyaannya.
"Benar by, dia lah orangnya" kata Afifa.
"Tetapi bukannya jera tuh orang" kata Ardiansyah
"Kan niat dia hanya untuk mengambil chip itu bi dan kan yang dicurigai adalah Reina jadi wajar dong kalau dia curiga sama aku" kata Afifa menjelaskan.
"Kenapa aku jadi bodoh gini ya dihadapan Afifa" batin Ardiansyah.
"Untuk sementara kita tinggal disini dahulu biar aku minta ijin sama Abi Hamid dan Abi Arsyad dahulu" kata Afifa.
"Bener juga tuh, mungkin mereka mengira kamu ada hubungan dengan Reina, tapi emang ada hubungan sih.
Hehehe" kata Ardiansyah sambil sedikit tertawa.
"Kalau begitu biar aku hubungi Fano saja sayang biar dia yang mengurusnya" kata Ardiansyah.
"Tetapi by gimana nanti kalau terjadi sesuatu sama kak Fano coba" kata Afifa sedikit khawatir.
"Sayang... " kata Ardiansyah tidak melanjutkan katanya tetapi raut wajahnya sudah memperlihatkan kalau dia sedang cemburu.
"Maaf, aku kan gak ada maksud apa-apa hubby" kata Afifa tertunduk ketika sadar dengan tindakannya itu.
"Iya dimaafkan tetapi jangan diulangi lagi ya sayang, aku gak mau kamu mengkhawatirkan orang lain selain aku dan keluarga kita" kata Ardiansyah.
"Baik hubby ku" kata Afifa sambil menowel hidung Ardiansyah.
__ADS_1
"hmmm... sayang jangan mulai menggoda ku deh" kata Ardiansyah memberi peringatan kepada istrinya.
"Habis hubby kalau cemburu menggemaskan deh" kata Afifa yang terus menggoda suaminya itu.
Sebelum Ardiansyah membalas ucapan sang istri mereka berdua di kejutkan dengan kedatangan Uma Aisyah.
"Sedang apa, kelihatannya seru banget ngobrolnya" tanya Uma Aisyah.
"Eh... Uma, nggak ini tadi lagi bercerita kalau ada orang yang sedang mencari informasi tentang Afifa Uma, dan yang memberitahu itu Abang tukang bakso itu" jelas Ardiansyah.
"Oh ya, terus apa ada hubungannya dengan terluka ya Afifa" tanya Uma begitu cemas.
"Benar sekali Uma, karena yang mencari info itu tidak lain adalah orang yang menembak Afifa dan membuat lengan Afifa terluka" jelas Afifa.
"Tapi Uma gak perlu khawatir, Ardiansyah akan membereskan orang itu" kata Ardiansyah melanjutkan ucapan sang istri.
"Tetapi jangan sampai ada kekerasan ya, Uma takut dan juga tidak baik membalas semua dengan kekerasan" kata Uma Aisyah sedikit menasehati.
"Baik Uma, selama mereka tidak menyerang kita, kita tidak akan melukai mereka kok" kata Afifa menenangkan Uma Aisyah.
"Ya sudah kalau gitu, 2 mangkok bakso ini Uma bawa kedalam ya, kelihatannya Abi Arsyad kamu sudah selesai aktifitasnya" kata Uma Aisyah.
"Iya Uma" kata Afifa dan Ardiansyah bersamaan.
Uma Aisyah pun meninggalkan Afifa dan Ardiansyah diruang tamu.
Sepeninggal Uma Aisyah, Ardiansyah langsung mengambil ponselnya dari saku jas nya dan langsung menelepon Fano.
"Assalamu'alaikum fan" kata Ardiansyah memberi salam kepada Fano saat telepon itu tersambung.
"Ih kau itu fan, tapi emang ada sih sedikit tugas buat kamu" kata Ardiansyah.
"Kan emang biasanya seperti itu kan Syah, ya sudah tugas apa yang harus aku lakukan" kata Fano sekaligus bertanya.
"Diluar pondok pesantren milik syekh Muhammad Arsyad ada seorang dokter namanya dokter Anwar, dia sedang mengintai tempat itu dan sekarang aku bersama Afifa sedang berada dipondok itu.
Orang itu yang telah menembak Afifa sehingga lengan kirinya terluka.
Dia tadi mencari informasi tentang Afifa kepada salah satu orang penjual bakso yang sedang lewat.
Tugas kamu sekarang ringkus orang itu dan bawa kemarkas kita jangan lupa tutup mata orang itu" kata Ardiansyah memberi perintah setelah menjelaskan panjang lebar.
"Baiklah kalau begitu Syah, aku dan anak buahku akan segera meringkusnya" kata Fano mematuhi perintah Ardiansyah.
"Ya sudah kalau gitu aku tutup dulu teleponnya ya, wassalamu'alaikum" kata Ardiansyah mengakhiri teleponnya dan segera memutuskan sambungan telepon itu setelah mendengar Fano membalas salamnya itu.
Sedangkan Afifa juga baru saja selsai menghubungi Abi Hamid ketika Ardiansyah sedang menghubungi Fano tadi.
"Kamu habis menelepon siapa sayang" tanya Ardiansyah ketika Afifa menaruh ponselnya lagi kedalam tas nya.
"Aku habis menelepon Abi Hamid hubby, cuma pamit kalau kita akan menginap disini" kata Afifa santai menjawab pertanyaan suami nya itu.
__ADS_1
Ardiansyah hanya menganggukkan kepalanya tanda dia mengerti.
"Ya sudah kita masuk kedalam saja sayang, pasti Uma sama Abi sudah selesai makan baksonya" ajak Afifa.
Afifa dan Ardiansyah pun jalan beriringan menuju ruang keluarga.
"Abi, Uma sudah makan baksonya" tanya Afifa ketika baru masuk keruang keluarga dan melihat sepertinya mangkok bakso Abi dan Uma sudah kosong.
"Sudah fa" kata Abi Arsyad.
"Ya sudah kalau gitu biar Afifa membayar baksonya dahulu" kata Afifa.
Ketika Afifa beranjak pergi kegerbang pondok tiba-tiba Ardiansyah sudah mengikutinya dan mengambil alih membawa 4 mangkok bakso yang kosong.
"Biar aku saja yang membayar sayang" kata Ardiansyah.
"Lho biar aku aja, kan aku yang mentraktir mereka hubby" tolak Afifa.
"No, aku gak mau debat dan tidak ada penolakan.
Aku suami kamu, dan itu semua bagian dari tanggung jawab ku" kata Ardiansyah tegas.
"Iya by, maaf" kata Afifa yang menyadari kalau tindakannya itu sama saja merendahkan suaminya.
"Tidak apa-apa sayang, mungkin karena kamu belum terbiasa saja. Jadi aku memakhlumi kok" kata Ardiansyah lembut.
Mereka pun menuju ketempat tukang bakso itu berada.
"Berapa semua pak" tanya Ardiansyah.
" 1juta 450ribu tuan" kata pedagang bakso itu.
Ardiansyah pun mengeluarkan uang ratusan sebanyak 20 lembar dan meyerahkannya kepada pedagang bakso.
Untung tadi Ardiansyah membawa uang tunai yang rencananya akan diberikan kepada Abi Arsyad untuk membantu biaya hidup orang-orang yang berada dipondok.
Akhirnya dengan terpaksa dia membuka amplop yang itu kembali dan mengambil beberapa lembar untuk membayar bakso itu.
"Biarlah nanti aku akan mengambil uang ke atm lagi dan segera menyerahkan kepada Abi Arsyad" batin Ardiansyah.
"Lho tuan ini uangnya kebanyakan" kata pedagang bakso tadi.
"Gak apa-apa pak, selebihnya buat bapak aja" kata Ardiansyah.
"Mimpi apa aku semalam dapat rezeki lebih-lebih hari ini" batin pedagang bakso sambil tersenyum bahagia.
Ardiansyah pun akhirnya kembali masuk kerumah Uma Aisyah sambil menggandeng tangan istrinya yang sejak tadi selalu disampingnya.
Maaf hari ini hanya bisa up 1 bab saja karena hari ini rutinitas author didunia nyata sedang padat-padatnya.
Insya Allah besok aku up lebih banyak lagi ya.
__ADS_1
Jangan lupa kasih vote, dan dukungannya.
ditunggu like dan komennya ya...