
Ardiansyah meninggalkan Afifa sendiri didalam resort namun sebelumnya dia sudah memerintahkan dua pengawalnya untuk menjaga Afifa didepan pintu kamar nya dan menyuruh pengawal itu untuk melaporkan setiap gerak gerik orang disekitar istrinya itu.
Ardiansyah menuju ke markas nya.
Dia langsung masuk dan mencari keberadaan orang yang telah mengikutinya sejak tadi.
Dia dan beberapa anak buah nya mulai menginterogasi orang itu.
Berbagai macam cara dia lakukan untuk mendapatkan informasi dari orang itu tetapi pengintai itu hanya mengakui kalau dia hanyalah seorang pencuri yang hendak mencuri barang berharga milik Ardiansyah dan Afifa.
Ardiansyah melihat banyak kejanggalan karena sejak tadi dia dan Afifa tidak menenteng barang berharga sedikitpun.
Dia curiga kalau ini ada hubungannya dengan Profesor Alfaro.
Karena hanya dia satu-satunya yang saat ini patut dicurigainya.
Ardiansyah mengajak Mike untuk keluar dari ruangan itu dan memberikan perintah kepada Mike.
"Kau lepaskan dia, ikuti dia dan laporkan setiap gerak geriknya.
Aku curiga ada orang lain dibelakang nya" kata Ardiansyah tegas.
"Baik tuan" kata Mike.
Saat sedang asyik berbicara dengan Mike tiba-tiba telepon Ardiansyah berdering.
Dikeluarkan ponsel yang sejak tadi disimpan disaku celananya.
"Ya tuan Fernando" kata Ardiansyah saat sambungan teleponnya sudah terhubung.
"Tuan Ardiansyah sebaiknya kalian berhati-hati, karena saya dengar profesor Alfaro mulai melakukan pergerakan.
Ada orang kuat berada dibalik profesor Alfaro.
Dan sepertinya orang itu sangat berkuasa didunia" kata Fernando menyampaikan apa yang didapatnya dari salah satu informan yang dia sebar.
"Baik tuan, saya akan berhati-hati dan terima kasih atas informasinya" kata Ardiansyah tulus.
Setelah sambungan telepon dengan Fernando terputus Ardiansyah mulai menghubungi Hamid Abdullah karena Ardiansyah tahu kalau mertuanya itu sangat berpengaruh juga didunia.
"Assalamu'alaikum Abi" salam Ardiansyah saat teleponnya sudah terhubung.
"Iya nak, ada apa" tanya Hamid dari balik teleponnya.
Ardiansyah akhirnya menceritakan semua yang dikatakan oleh Fernando.
Sebenarnya Hamid sudah mengetahuinya sebelum Ardiansyah memberitahukannya.
Hamid hanya ingin memastikan saja dahulu.
Dia sudah menyebar banyak informan ke seluruh dunia.
Karena anak buah Hamid tersebar di seluruh dia jadi memudahkan beliau mendapatkan informasi apapun.
"Kamu tenang saja, hanya pastikan kamu jaga Afifa untuk Abi ya.
Biar nanti Abi yang akan menanganinya sampai kamu datang dari honeymoon" pesan Hamid kepada menantunya itu.
Hamid sebelumnya sudah diberitahu oleh Ardiansyah kalau mereka sekarang sedang ber honeymoon di negara B.
"Baik Abi" Ardiansyah dengan penuh keyakinan menyanggupi pesan Hamid.
"Ya sudah kamu hati-hati disana. Dan jangan lupa bawa kabar membahagiakan kalau pulang nanti" kata Hamid.
"Insya Allah Abi" kata Ardiansyah.
Setelah berbicara panjang lebar Ardiansyah dan Hamid menyudahi pembicaraannya ditelepon setelah mereka saling bersalam.
Afifa yang masih didalam kamarnya sedang menunggu makan siangnya.
__ADS_1
Karena sejak tadi dia belum sempat makan siang.
Tak menunggu lama salah satu pegawai resort itu membawa makanan yang dipesan Afifa melalui sambungan interkom.
Afifa mulai menikmati makan siang nya sambil duduk disofa dan menonton televisi.
Tanpa sengaja ada pemberitaan tentang suatu virus yang sedang menyerang beberapa negara.
Virus ini berbeda dengan virus yang pernah menyerang negaranya.
Afifa yang melihat itu hatinya mulai tergerak.
Dilihatnya dari berita itu tentang ciri-ciri korban yang terjangkit.
Perilaku dan kondisi fisiknya lebih menyeramkan dibanding dengan apa yang telah terjadi di negaranya beberapa waktu lalu.
"Apa ini ulah profesor Alfaro ya" monolog Afifa.
Dengan segera Afifa menelepon Abi nya
"Assalamu'alaikum Abi" kata Afifa ketika teleponnya sudah terhubung dengan Hamid.
"Iya nak, kenapa" tanya Hamid.
Afifa menceritakan apa yang dilihat dan didengarnya melalui berita yang ditayangkan oleh salah satu stasiun swasta di negara B.
Afifa sebenarnya sangat pandai menguasai berbagai bahasa juga.
Kecerdasannya begitu luar biasa.
Dengan melihat dan mendengar dia akan bisa mengerti dalam hal apapun.
Kecerdasan Afifa begitu sangat langka karena tidak banyak orang didunia ini yang memiliki kecerdasan seperti Afifa.
Kurang lebih hanya ada 3 orang didunia yang memiliki kecerdasan seperti Afifa.
Tetapi Afifa sungguh pandai menutupi keahlian apa saja yang dimilikinya.
Hamid begitu menutup rapat karena dia tidak ingin Afifa dalam bahaya.
Karena selama ini orang-orang yang memiliki keahlian seperti Afifa selalu menjadi incaran orang didunia apalagi orang didunia hitam dan para mafia juga para penguasa yang lalim.
Hamid selalu berpesan kepada Afifa agar tidak menampakkan apa yang dikuasainya kepada siapapun dan sampai detik ini Afifa selalu menuruti apa yang dikatakan oleh Abi nya itu.
Keahlian Afifa semakin hari semakin meningkat.
Saat ini dengan melihat perilaku dan kondisi korban melalui saluran televisi itu saja Afifa sudah bisa menebak virus apa yang sedang menggerogoti beberapa negara.
"Baru saja virus yang kemarin usai kini datang virus baru lagi" batin Afifa.
"Kamu tenang saja nak, dan usahakan jangan sampai menimbulkan kecurigaan siapapun.
Setelah kamu kembali kita akan membahasnya nanti" kata Hamid menghilangkan kekhawatiran sang anak.
"Iya Abi, ya sudah Afifa tutup dulu ya Abi.
Wassalamu'alaikum" kata Afifa memutuskan sambungan teleponnya setelah dia mendengar Abi nya membalas salamnya itu.
Jiwa Afifa sudah meronta dan ingin segera menemukan obat untuk mencegah virus itu.
Tetapi dia tidak bisa berbuat apa-apa karena saat ini dia sedang melakukan honeymoon dengan sang suami.
Dia menunggu Ardiansyah pulang sampai-sampai dia tertidur diatas sofa.
Bekas makanannya juga masih ada diatas meja belum dibersihkan.
Lama Afifa tertidur sampai tak terasa waktu sudah sangat sore.
Untung Afifa tidak pernah meninggalkan sholatnya.
__ADS_1
Sebelum dia makan tadi dia sempatkan diri untuk beribadah sejenak.
Afifa menggeliat dan melihat sudah sangat sore sekali.
Afifa beranjak menuju kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya dan sekalian berwudhu.
Tak beberapa lama Afifa keluar dan mulai melakukan rangkaian ibadahnya.
Beberapa menit Afifa sudah menyelesaikan ibadahnya dan dia pergi menuju balkon dan melihat sinar matahari merah keemasan di ufuk barat.
Dia mulai merasa cemas karena Ardiansyah masih belum terlihat pulang.
Dia berusaha menelepon suaminya namun teleponnya sedang tidak aktif.
Afifa benar-benar sangat khawatir sekali.
Dia terus memandangi sinar matahari yang perlahan mau tenggelam dan masih berpikir tentang keberadaan Ardiansyah.
Saat asyik berjibaku dengan pemikirannya sendiri tiba-tiba ada tangan kekar memeluknya dari belakang dengan sigap Afifa menerjang dan menghalaunya hingga tanpa sengaja hampir mengenai pusaka milik sang suami namun untung dengan sigap Ardiansyah bisa menghalau serangan dari sang istri.
Afifa menolehkan wajahnya dan mendapati sang suami.
"Ih kamu ni by buat kaget aja. Untung kamu bisa menepis serangan ku kalau tidak sudah babak belur kamu"Kata Afifa pongah.
"Istighfar sayang, gak boleh sombong" kata Ardiansyah mengingatkan.
Dengan segera Afifa tersadar
Dia langsung beristighfar berkali-kali.
Dia benar-benar sedang milad tadi sampai tidak menyadari dia telah menyombongkan dirinya sendiri.
Afifa tampak sedih karena perbuatannya.
Dia benar-benar menyesal, sangat menyesal.
Ardiansyah mendekati Afifa, merangkum tubuh Afifa kedalam pelukannya, menenggelamkan kepala Afifa di dada bidangnya sambil mengusap punggungnya.
"Sudah sayang, aku tahu kamu sedang khilaf.
Jangan terlalu larut dalam penyesalan ya" pinta Ardiansyah yang saat ini berusaha memberikan ketenangan pada istrinya.
Ardiansyah sudah paham dengan sifat Afifa dia akan sangat merasa berdosa kalau melakukan sedikit kesalahan yang itu dilarang oleh agamanya.
Afifa masih tetap bersedih tetapi tidak sesedih pertama kali.
Dalam pelukan sang suami dia meredakan ketentraman dan sedikit perasaan itu segera diatasinya walau masih saja mengusik jauh kedalam hatinya.
Hai para reader ku maaf kalau bisa up sedikit. Karena anak masih kurang sehat dan sedikit rewel.
Dan maaf kalau isi dari novel ini kurang memuaskan dan masih banyak kekurangannya.
Terima kasih sudah mendukung karya ku yang seperti ini.
Jangan lupa kasih
VOTE
Komentar (Saran dan kritikan boleh)
Like
Dan favoritkan ya biar bisa selalu mengikuti up dari novel ini.
Jangan lupa mampir dikaryaku yang lain ya
"Kaulah yang pertama dan terakhirku"
Kasih dukungan kalian sebanyak-banyaknya ya...
__ADS_1
Terima kasih banyak
😘😘😘😘