
Nicholas yang berjanji setia dan mempertaruhkan nyawanya sebagai taruhannya membuat Hamid mulai memberi kepercayaan kepada Nicholas.
Tak beberapa lama Alex yang merupakan pengikut setia nya kini masuk.
"Assalamu'alaikum tuan" kata Alex memberi salam.
"Wa'alaikumsalam Alex" kata Hamid Abdullah menjawab.
"Bagaimana keadaan keluarga kamu"
"Baik tuan, semua berkat kemurahan hati anda" kata Alex yang benar-benar bersyukur karena telah mempertemukan dirinya dengan orang yang sangat baik dan penuh wibawa.
"Alhamdulillah kalau begitu. Oh ya bukankah seharusnya kamu kemarin dikirim ke suatu tempat ya" yang heran melihat keberadaan Alex disana.
"Kemarin tuan Lionel menghubungi saya dan menyuruh saya untuk segera kemari tuan" kata Alex menjelaskan.
"Apa kau mengenal lelaki ini Alex" tanya Hamid.
"Iya tuan, beliau adalah dokter Nicholas.
Dia sebenarnya orang yang baik tuan dan hanya karena adiknya menjadi sandera profesor Alfaro" Alex mulai menjelaskan siapa itu dokter Nicholas yang dahulu juga pernah menyelamatkan dirinya itu.
"Oh ya, seperti nya kalian sangat dekat" tanya Hamid
Reina yang dari tadi hanya diam ternyata sedang mengamati siapa sebenarnya Nicholas itu.
"Dokter Nicholas dahulu pernah menyelamatkan saya tuan" kata Alex jujur.
"Baiklah aku mempercayai dirimu" kata Hamid akhirnya.
"Sebaiknya kita berikan dokter Nicholas tugas Abi, yaitu kembali bergabung dengan Profesor Alfaro untuk mencari tahu misi apa lagi yang akan dilakukannya dan selain itu untuk mencari Dimana adiknya berada, setelah mengetahuinya baru kita bebaskan adik dokter Nicholas ini dan mengirimnya ke suatu tempat yang aman buat mereka" Reina mulai menjabarkan apa yang ada di kepalanya.
"Boleh juga apa yang kamu katakan nak, tetapi apa tidak beresiko" kata Hamid.
"Kemungkinan resiko pastilah ada Abi, tetapi sepertinya kita tidak memiliki cara lain selain itu" kata Reina.
Belum sempat Hamid menjawab perkataan Reina dari arah pintu tiba-tiba ada yang sedang membuka pintu itu dan masuklah Afifa dan Ardiansyah dari balik pintu itu.
"Maaf aku harus menyela perkataan Abi dan kamu Rein" kata Afifa meminta maaf.
"Gak apa fa, mungkin dengan kamu dan Ardiansyah berada disini kita akan bisa menemukan cara untuk menguji dokter Nicholas dan sekaligus menemukan adik beliau yang kini menjadi sandera profesor Alfaro" kata Reina
Mereka pun berkumpul dan mulai menyusun rencana untuk mencari jaringan komplotan dari profesor Alfaro.
"Kalau menurut Afifa sebaiknya dokter Nicholas untuk sementara lebih baik kita bawa ke suatu tempat dahulu sampai luka-luka nya sembuh setelah itu baru nanti dia menghubungi profesor Alfaro untuk memberitahukan keberadaannya.
Mungkin dengan begitu profesor Alfaro tidak akan mencurigai dokter Nicholas.
Akses komunikasi dengan dokter Nicholas sebaiknya di amankan biar tidak bisa ditembus oleh pihak lain" penuturan Afifa yang mengemukakan semua apa yang dipikirkan.
"Sepertinya itu tidak buruk ide nya" kata Reina.
__ADS_1
"Apa tidak akan mencurigakan profesor Alfaro nanti masalah nya kan saat itu Nicholas didorong kan sama tuh profesor sehingga dia ketangkap kita terus nanti apa alasan dia coba" kata Ardiansyah tak setuju dengan ide sang istri.
"Abi setuju dengan pemikiran Afifa, untuk alasan bilang saja saat diperjalanan ada sekelompok orang yang dahulu pernah dia tolong telah datang membebaskan nya." kata Abi yang sepemikiran dengan Afifa.
"Terus Abi apabila ditanya siapa itu sekelompok orangnya bagaimana" tanya Reina.
"Kalau itu kita masukkan aja orang-orang kita yang ada di pulau untuk menjadi bawahan dokter Nicholas ya sekalian sambil mencari informasi dimana adik dokter Nicholas disekap" kata Abi
"Boleh juga tuh" kata Reina.
"Kalau menurut kamu bagaimana dokter Nicholas" tanya Hamid kepada Nicholas yang sejak tadi hanya menjadi pendengar setia saja.
Sebenarnya jauh dari hati Nicholas ada rasa sakit yang menyelimuti hatinya ketika dia melihat Afifa bersama dengan Ardiansyah.
Nicholas yang sejak tadi berusaha meredam rasa sakit dihatinya pun sedikit terkejut.
"Ehh...eeeeee saya menurut saja apa yang menjadi rencana tuan" kata Nicholas sedikit terbata-bata.
"Apa yang sedang kamu pikirkan, apa kamu berniat akan mengkhianati kami" tanya Reina
"Bukan seperti itu dokter Reina, aku tidak ada niat sedikitpun untuk berkhianat kepada kalian" kata Nicholas berusaha meyakinkan.
"Sudah-sudah, aku percaya dengan apa yang dikatakan oleh dokter Nicholas" kata Afifa
Ardiansyah yang mendengar itu sedikit terkejut, bagaimana bisa istrinya mempercayai orang seperti Nicholas.
Akhirnya timbullah kecemburuan dihati Ardiansyah.
Dia menatap istrinya seakan ingin meminta penjelasan kenapa dengan mudahnya dia percaya sama dokter itu setelah banyak kesalahan yang ditimbulkan.
Ardiansyah keluar dari ruangan itu untuk menenangkan hatinya.
"Permisi saya mau ke toilet sebentar" pamit Ardiansyah.
"Silahkan" kata Hamid
Afifa segera mengikuti langkah sang suami, dia tahu sekarang suaminya sedang kecewa terhadap dirinya yang terkesan sangat mempercayai Nicholas yang dahulu menjadi rivalnya itu.
"By apa kamu marah sama aku" tanya Afifa lembut dan membelai punggung sang suami ketika mereka sudah berada dihalaman rumah yang dijadikan markas itu.
Ardiansyah masih terdiam dan dia mulai menghirup udara dalam-dalam dan menghembuskannya perlahan untuk menenangkan hatinya saat ini.
"Aku tidak bermaksud menyakitimu hubby, apa kamu masih tidak percaya akan perasaanku yang seutuhnya hanya untuk kamu" yang masih terus membelai sang suami itu.
"Aku percaya dokter Nicholas karena aku tahu siapa sebenarnya dia hubby, aku hanya kasihan terhadapnya hubby.
Percayalah padaku" pinta Afifa sendu.
Ardiansyah akhirnya menghadap ke arah Afifa dan menatap wajah cantik sang istri.
"Jujur aku memang sedikit cemburu dengan perkataan kamu tadi sayang, aku tidak bisa melihat istriku mempercayai orang lain yang kamu tahu sendiri kalau dokter itu juga menaruh hati terhadapmu sayang" kata Ardiansyah sambil memegang wajah sang istri itu dengan tatapan nanar.
__ADS_1
"Tapi hubby aku kan sudah menjadi milikmu seutuhnya, please aku mohon percayalah.
Aku akan menjaga kehormatan ku dan kesetiaan ku hanya untuk kamu" kata Afifa yang akhirnya meneteskan air mata karena sedih sang suami masih belum bisa mempercayai dirinya seutuhnya.
Ardiansyah mengusap air mata sang istri dengan sayang.
"Maafkan aku sayang, aku janji akan mempercayai dirimu sepenuh nya" kata Ardiansyah.
"Terima kasih hubby" kata Afifa dan langsung mencium pipi sang suami.
"Hmmmm kamu mulai berani ya" kata Ardiansyah yang akhirnya tersenyum karena mendapat ciuman yang secara tiba-tiba dari sang istri.
"Kan gak dosa hubby, malah dapat pahala lho godain suami duluan" kata Afifa dan berlari menjauh dari Ardiansyah.
Ardiansyah yang melihat Afifa berlari akhirnya dia pun mengejarnya.
Mereka berkejar-kejaran dengan wajah yang terlihat dengan penuh kebahagiaan.
Saat mereka sedang asyik dengan berkejar-kejaran datang lah Hamid Abdullah menghampiri mereka
"Ehemmm" Hamid Abdullah berdehem cukup keras dan berhasil menghentikan dua insan yang lagi dilanda asmara.
"Eh Abi" kata Afifa
Ardiansyah hanya tertunduk malu.
"Kenapa malu nak, Abi juga pernah muda seperti kalian" goda Abi nya.
"Oh ya Abi ada berita bahagia buat kalian.
Sebaiknya besok kalian umumkan pernikahan kalian ke pers dan sekalian tunjukkan jati diri kalian" kata Abi.
"Tapi Abi apa tidak beresiko nantinya karena mereka jadi tahu siapa yang ada dibelakang kami.
Kami setuju saja dengan mengumumkan pernikahan kami Abi, tetapi kalau jati diri kami saya rasa itu belum saatnya Abi" kata Afifa
"Benar Abi apa yang dikatakan oleh Afifa. Sebaiknya jati diri kami tak akan pernah tampak di publik. Abi juga tahu dengan lolosnya profesor Alfaro keadaan masih belum benar-benar aman" kata Ardiansyah yang sependapat dengan pemikiran sang istri itu.
"Baiklah kalau begitu, Abi akan mengikuti apa yang menjadi keinginan kalian.
Sebaiknya kita kembali sekarang ya.
Dan besok kalian harus mengadakan pesta untuk rekan kerja dari Ardiansyah dan Abi beserta keluarga yang lain akan bertindak sebagai tamu undangan ya" kata Hamid.
Hamid Abdullah sudah mengira kalau putrinya pasti tidak mau mempublikasikan siapa sebenarnya dirinya dan alasan-alasan nya pun Hamid juga sudah menebaknya.
"Kau memang putriku Afifa, aku bangga sama kamu nak" batin Hamid Abdullah.
"Baik Abi kami akan mempersiapkan segala sesuatunya besok.
Dan apakah Abi sudah memberitahu Uma Aisyah dan Abi Arsyad" tanya Afifa.
__ADS_1
"Itu sudah tentu nak, kamu tinggal mempersiapkan diri saja karena semua sudah Uma Hamida dan bunda persiapkan" kata Hamid Abdullah.
"Benarkah Abi" mereka berdua seakan tak percaya kalau selama ini Uma dan bunda nya telah membuat rencana yang sedemikian rupa.