
Tak lama kemudian saat mereka semua sedang menyantap makanan seafood itu minuman yang dipesannya datang.
Pelayan restoran itu segera meletakkan dimeja mereka.
Sambil makan mereka sesekali minum minumannya yang baru datang itu.
Mereka juga sambil bercanda gurau hingga tak terasa makanan dan minuman mereka semua sudah habis.
Selesai Afifa membayar tagihannya dengan menggunakan black card milik suaminya yang telah diberikan beberapa hari kemarin, akhirnya Afifa, Fano dan Ardiansyah kembali ke kantor Ardiansyah.
Sedangkan Reina kembali ke apartemen Afifa sendiri.
Anna dan Aziel kembali kerumah sakit.
Disela-sela kesibukannya dirumah sakit Aziel selalu memantau perusahaan peninggalan orangtua nya.
Ditempat lain Clara yang sudah merasa dihina oleh Ardiansyah dan istrinya itu tak terima.
Dia mencoba mendatangi bunda Habibah untuk mendapat kan dukungan.
"Ardiansyah menikah itu tidak mungkin, karena dari informasi yang aku dapat dia sampai sekarang belum menikah.
Aku pastikan akan mendapatkan mu kembali Ardiansyah.
Dan aku akan memastikan wanita tadi hempaskan oleh Ardiansyah.
Aku harus ke bunda dan meminta maaf ke beliau agar dia mau memaafkan aku.
Aku tahu bunda pasti memaafkan aku karena aku tahu bunda sangat menyayangi aku" monolog Clara ketika didalam mobil menuju ke rumah bunda Habibah.
Tak berapa lama Clara sudah sampai dirumah orangtua Ardiansyah.
Clara turun dari mobilnya dan segera memencet bel didepan rumah.
Ada seorang pria tegap yang datang membukakan pintu rumah itu yang tidak lain adalah anak buah dari Fano.
"Permisi bunda Habibah ada" kata Clara ketika orang itu membukakan pintu untuknya.
"Maaf disini tidak ada yang namanya bunda Habibah" kata anak buah Fano itu.
"Bukankah ini rumah bunda Habibah kan, terus kemana yang punya rumah ini" tanya Clara yang masih bingung dengan apa yang didapatkannya.
"Saya tidak tahu karena majikan saya beberapa bulan lalu telaah membelinya" kata anak buah Fano.
"Oh ya, apa boleh aku tahu siapa majikan kamu dan dimana beliau sekarang" kata Clara berusaha mendapat sedikit informasi untuk mendapatkan keberadaan bunda Habibah.
"Majikan saya semua sedang berada diluar negeri dan maaf saya harus kembali bekerja.
Silahkan anda segera pergi dari sini" kata anak buah Fano tegas dan sedikit garang.
Sebenarnya sejak bunda Habibah tinggal bersama dirumah besannya itu yang menempati rumah itu adalah anak buah Fano dan semua anak buah Fano sudah diberi perintah kalau ada yang mencari keberadaan Habibah dan Ardiansyah disuruh bilang sudah tidak tinggal disana.
Clara pun akhirnya pergi meninggalkan tempat itu tanpa mendapat hasil seperti yang diinginkan.
"Sial... Kemana aku harus mencari tua Bangka itu" kesal Clara.
"Kalau tidak karena kekayaan Ardiansyah, mana mau aku kembali padanya" monolog Clara.
Akhirnya Clara memutuskan kembali ke apartemen nya.
Sesampai didalam apartemen nya dia langsung menghubungi seseorang.
"Ya hallo, aku ingin kamu mencari keberadaan seseorang, dan cari informasi tentang Ardiansyah CEO Aptech corp.
Satu lagi selidiki siapa wanita yang bersama Ardiansyah dan ada hubungan apa mereka.
Kalau mereka ada hubungan kamu musnahkan saja dia dari dunia ini.
Sebentar lagi aku kirim fotonya.
__ADS_1
Dan untuk bayaran mu akan aku transfer sebagian nya dan sisanya setelah tugas kamu selesai dengan baik" perintah Clara dari balik sambungan teleponnya kepada seseorang.
"Baik nona, aku akan segera melaksanakan perintah mu" kata lelaki di balik telepon itu.
Setelah itu Clara memutuskan sambungan teleponnya itu.
Dalam waktu beberapa menit saja foto yang dikirim Clara sudah terkirim kepada lelaki suruhannya.
Afifa, Ardiansyah dan Fano sudah sampai didepan pintu masuk kantor Aptech corp.
Mereka bertiga langsung menuju ke ruangan Ardiansyah.
Tak lama kemudian mereka sudah sampai diruangan Ardiansyah.
Mereka pun duduk di sofa yang ada diruangan itu.
Tak lama ponsel milik Fano berbunyi dan Fano pun segera mengangkat telepon itu.
"Assalamu'alaikum, ya ada apa" kata Fano membuka salam sekaligus bertanya.
"wa'alaikumsalam tuan, maaf saya hanya mau melaporkan beberapa menit yang lalu ada seorang wanita cantik mencari nyonya Habibah.
Dan saya sudah memberitahu kepada wanita itu kalau disini tidak ada nyonya Habibah.
Beliau juga ingin bertemu sama pemilik rumah yang baru tetapi saya bilang lagi berada diluar negeri" lapor anak buahnya itu.
"Bagus jangan sampai wanita itu kembali" kata Fano.
"Ya sudah kalau gitu saya tutup teleponnya" kata Fano mengakhiri sambungan teleponnya itu.
"Ada apa fan" tanya Ardiansyah ketika Fano sudah menutup sambungan teleponnya.
"Ada seorang wanita datang kerumah bunda dan mencari keberadaan bunda" kata Fano.
"Emang siapa orangnya" tanya Ardiansyah lagi.
"Coba kamu lihat kamera cctv yang ada dirumah deh" kata Ardiansyah memberi saran agar mereka semua tahu siapa yang mencari bunda.
Ardiansyah berdiri dari duduknya dan segera mengambil MacBook yang berada dimeja kerjanya dan menyerahkan kepada Fano.
Hanya beberapa menit mereka sudah mengetahui siapa tadi yang mencari bunda nya.
Mereka bertiga pun melihat hasil cctv itu.
"Sialan, mau apa lagi wanita itu.
Apa belum puas dia mencari masalah di restoran tadi" geram Ardiansyah.
"Istighfar hubby, kamu gak boleh kemakan emosi.
Kita tidak bisa membalas itu dengan kekerasan.
Kita lakukan dengan cara yang halus tetapi bisa membuat dia jera" kata Afifa yang berusaha menenangkan sang suami.
Beberapa detik akhirnya Ardiansyah menuruti kata-kata sang istri untuk beristighfar dan dia mulai mengambil nafas dalam-dalam dan membuangnya secara perlahan.
"Gimana sudah tenang" tanya Afifa lembut.
"Sudah sayang, kamu memang benar sayang.
Aku benar-benar merasa sedikit tenang sekarang" kata Ardiansyah.
"Lain kali kalau kamu sedang dalam emosi lakukanlah itu ya hubby, jangan pernah kamu terbawa emosi sedikit pun karena itu adalah kerjaan syetan" Nasehat Afifa kepada sang suami.
"Iya sayang, terima kasih banyak ya kamu sudah selalu mengingatkan aku" kata Ardiansyah tulus.
"Sama-sama hubby, itu sudah menjadi tanggung jawabku" kata Afifa sambil tersenyum indah.
"Aku senang deh melihat kalian ini, Bisa saling melengkapi satu sama lain, saling mengingatkan dan saling mengisi.
__ADS_1
Aku bangga sama kalian.
Semoga aku bisa menemukan jodohku yang bisa aku ajak seperti kalian berdua" kata Fano kagum melihat kebersamaan Afifa dan Ardiansyah.
"Aamiin" kata Afifa dan Ardiansyah mengaminkan ucapan Fano.
Karena setiap ucapan adalah doa itulah yang selalu tertanam dihati Afifa dan Ardiansyah.
"Terima kasih ya" kata Fano tulus.
"Kenapa kamu tidak mencoba ta'aruf sama dokter Reina saja fan" kata Ardiansyah memberi saran.
"Dia itu sebenarnya wanita yang sangat baik dan tangguh tentunya. Ya pasti dia juga ditanamkan ilmu-ilmu agama seperti istriku ini yang sangat sempurna dimataku" kata Ardiansyah lagi.
"Aku mau sih mau Syah tetapi aku takut.
Kamu tahu sendiri siapa aku hanya seorang bawahan dan tak mempunyai jabatan, kedudukan apalagi pemilik perusahaan seperti kamu Syah" kata Fano lesu.
"Eh jangan salah ya, keluarga aku tidak pernah sekalipun membeda-bedakan kedudukan, derajat dan martabat seseorang.
Bagi keluarga kami semua orang itu sama Dimata Allah. Yang membedakan kita kelak diakhirat hanyalah akhlaq dan keimanan kita itu aja baik itu di agama apapun" jelas Afifa yang sedikit memberikan harapan kepada Fano agar tidak.
Mendengar itu hati Fano sedikit lega, tetapi ada sedikit ganjalan yang mengganjal dihatinya.
"Tetapi aku kurang paham dalam hal itu dan aku merasa banyak kekurangan juga bukan orang yang baik"
"Aku yakin kamu orang baik, semua bisa dipelajari karena belajar tidak akan pernah mengenal kata terlambat.
Yang terpenting selalu belajar untuk menjadi lebih baik itu adalah suatu hal yang bijak.
Selalu menebar kebaikan, menolong, mengasihi dan selalu rendah hati apapun balasannya yang penting ikhlas itu adalah makna dari hidup.
Untuk siapapun tanpa pandang bulu" kata Afifa bijak.
"Nah betul tuh kata istriku fan, jadi tunggu apa lagi.
Saudaranya saja sudah kasih lampu hijau tuh" kata Ardiansyah yang mencoba memberi semangat kepada Fano.
"Baiklah, aku akan mencoba bertemu dengan tuan Hamid Abdullah untuk ber ta'aruf dengan Reina" kata Fano akhirnya.
"Nah gitu dong" kata Ardiansyah.
"Terima kasih ya kalian selalu banyak memberi aku pelajaran dalam menjalani hidup ini.
Dan terutama kamu fa, terima kasih banyak untuk semuanya.
Aku harus banyak belajar dari kamu"Kata Fano sedikit malu.
"Untuk belajar lebih sebaiknya kamu belajar banyak kepada Abi Arsyad deh fan, itu saran ku" kata Ardiansyah memberi saran.
"Baiklah, Insyaallah aku akan banyak belajar dari beliau" tekat Fano.
"Ya sudah sekarang lebih baik kita pulang dahulu dan nanti malam kita harus ke apartemen istriku ini" kata Ardiansyah.
"Benar kamu Syah, lebih baik aku juga pulang lebih dahulu dan nanti kita bertemu disana saja" kata Fano.
"Baiklah" kata Ardiansyah menimpali.
"Ya sudah saya pamit ya.
Assalamu'alaikum" kata Fano pamit sekaligus memberi salam.
"Wa'alaikumsalam" kata Afifa dan Ardiansyah hampir bersamaan.
Fano pun akhirnya meninggalkan ruangan Ardiansyah dan pulang ke apartemen nya yang biasa dia tinggali.
Sepeninggal Fano, Ardiansyah mulai membereskan meja kerjanya yang terlihat banyak tumpukan berkas-berkas dibantu oleh Afifa.
Setelah rapi mereka pun meninggalkan tempat itu dan pulang kerumah Abi Hamid.
__ADS_1