
Ardiansyah dan Hamid Abdullah menemui Hamida yang berada diruang tengah sedang menikmati acara televisi seorang diri.
"Sayang, ada yang ingin Ardiansyah bicarakan dengan kita berdua" kata Hamid kepada istrinya sontak Hamida sedikit terkejut dan langsung mematikan televisinya itu dan fokus menghadap ke Hamid dan Ardiansyah.
"Iya nak, apa yang ingin kamu bicarakan" kata Hamida lembut.
"Begitu Uma, aku dan Afifa sudah memantapkan hati dan sudah kami diskusikan ini dengannya.
Kami membuat keputusan akan melangsungkan pernikahan hari ini kalau Uma dan Abi menyetujuinya.
Aku ingin menjaga Afifa lebih baik lagi, dan tak ingin kejadian kemarin menimpanya" kata Ardiansyah sendu kalau ingat apa yang diceritakan Afifa tentang kejadian kemarin malam.
Uma dan Abi tampak berpikir dan menimbang apa yang diucapkan oleh Ardiansyah itu.
Setelah berpikir sejenak Hamid mulai membuka suara.
"Abi setuju dengan apa yang kamu mau nak, semua akan memudahkan kamu menjalankan tugas dan ini juga tidak akan menghalangi kalian nanti selalu bersama" kata Hamid merestui setelah menimbang-nimbang semua nya.
"Kalau Abi sudah setuju pasti Uma akan merestui apa yang kamu inginkan nak" kata Hamida.
"Terima kasih Uma dan Abi" kata Ardiansyah begitu senang dan langsung beranjak menghampiri kedua orang paruh baya itu dan mencium tangannya bergantian.
"Sudah-sudah nak, jangan seperti ini.
Abi punya satu syarat untuk kalian.
Abi harap kalian untuk sementara tinggal disini saja, ini demi keamanan kalian terutama Afifa" kata Hamid.
"Tetapi Abi, kalau Ardiansyah tinggal disini bagaimana dengan Bunda.
Bunda akan seorang diri disana dan tidak ada yang menjaganya" kata Ardiansyah yang sedikit galau dengan permintaan Hamid.
"Kalau masalah itu biar bunda tinggal disini juga.
Biar Uma ada yang menemani bila sedang sendirian.
Bagaimana Uma apa kamu setuju" kata Hamid dan sekaligus meminta persetujuan istrinya itu.
"Menurut Uma ide Abi boleh juga. Dan tak ada salahnya besan tinggal bersama kita.
Uma sangat bahagia sekali karena Uma nanti tidak akan kesepian lagi" kata Hamida menyetujui apa yang suaminya katakan.
"Ya sudah lebih baik kamu sekarang berbicara terlebih dahulu kepada bunda kamu nak" kata Hamid menyuruh Ardiansyah.
"Baik Abi, kalau begitu Ardiansyah pamit untuk telepon bunda dahulu ya Abi, Uma" kata Ardiansyah.
"Iya nak, silahkan" kata Abi dan Uma hampir bersamaan.
Ardiansyah pun keluar menuju halaman rumah Hamid Abdullah.
__ADS_1
Tak lama kemudian dia telah mengeluarkan ponselnya yang berada disaku jas nya itu dan mulai menekan sambungan telepon yang ada diponselnya.
"Assalamu'alaikum bunda" kata Ardiansyah saat sambungan itu telah terhubung.
"Wa'alaikumsalam, iya nak" jawab bundanya.
Akhirnya Ardiansyah menceritakan keinginan nya dan juga menjelaskan kalau semua sudah setuju.
Ardiansyah hanya meminta persetujuan bundanya dan menyampaikan apa yang diucapkan oleh Abi Hamid dan Uma Hamida kepada bundanya itu.
"Bunda sebenarnya mau saja nak, tapi bunda segan takut merepotkan mereka" kata bunda Habibah.
"Tidak bunda, ini juga kemauan Uma Hamida.
Ini demi kebaikan kita dan keselamatan Afifa bunda.
Kemarin malam Afifa hampir saja terbunuh Bun kalau saja bang Aziel tidak segera datang" kata Ardiansyah menjelaskan tujuannya tinggal di sana.
"Apa Afifa hampir terbunuh nak, apa yang terjadi sama putri kesayangan bunda itu" kata Habibah panik dan khawatir.
"Hanya insiden kecil bunda, Afifa sedang diincar oleh sekelompok orang yang ingin berbuat jahat" kata Ardiansyah yang sedikit menutupi kenyataan yang sebenarnya agar bundanya itu tidak terlalu khawatir.
"Sekarang Afifa keadaannya bagaimana nak" tanya bunda yang benar-benar cemas itu.
"Alhamdulillah Afifa baik-baik saja bunda. Biar Fano nanti yang mengantar bunda kerumah Abi dan Uma" kata Ardiansyah
"Iya bunda, kalau begitu Ardiansyah tutup ya.
Wassalamu'alaikum" kata Ardiansyah dan memutuskan sambungan ponselnya setelah mendengar jawaban salam dari bunda nya itu.
Selesai menelepon bundanya Afif menelepon Fano orang kepercayaannya itu untuk menjemput bundanya dan mengantarkannya ke rumah tuan Hamid Abdullah.
Dan sekaligus menyuruh Fano untuk pergi ke KUA untuk mengurus semua pernikahannya yang akan dilangsungkan hari ini juga.
Apapun bisa dilakukan oleh Ardiansyah karena Ardiansyah merupakan salah satu orang yang memiliki kekuasaan dan kedudukan.
Setelah menelepon semuanya Ardiansyah pun masuk kedalam dan disana masih ada Hamid dan Hamida.
"Bagaimana nak, apa bunda mu menyetujuinya" tanya Abi Hamid.
"Alhamdulillah Abi, bunda merestui dan menyetujui nya" kata Ardiansyah yang saat itu begitu gembira dan sangat tampak diwajahnya gurat kebahagiaan itu menyelimuti dirinya.
"Ya sudah kalau begitu kamu beritahu kabar bahagia ini kepada Afifa.
Dan setelah itu kamu bersiap-siap dan sebelah kanan itu kamar tamu, kamu boleh menggunakannya untuk bersiap-siap dan beristirahat dahulu.
Biar Uma yang akan mempersiapkan Afifa nanti sebelum acara dimulai" kata Hamid Abdullah.
"Baik Abi" jawab Ardiansyah.
__ADS_1
Ardiansyah segera beranjak pergi menuju ke kamar Afifa dengan sedikit berlari kecil karena dia sudah tidak sabar menyampaikan berita bahagia ini kepada Afifa.
Sampai didepan pintu kamar Afifa, Ardiansyah mulai mengetuk pintu.
"Masuk, tidak dikunci" terdengar suara suster Anna yang menjawab ketukan pintu itu.
Ardiansyah pun memasuki kamar Afifa dan terlihat Afifa sedang berbaring ditempat tidurnya itu.
"Iya kak, ada apa" kata Afifa saat tahu Ardiansyah yang datang.
"Maaf boleh kita berbicara berdua" kata Ardiansyah sedikit canggung karena ada Anna disana.
"Anna bisa kamu tinggalkan kami berdua" kata Afifa kepada Anna yang sudah mengetahui maksud dari Afifa dan segera keluar dari kamar itu.
Anna keluar dari kamar itu dan menutup kembali pintu kamar itu.
"Sudah kak, sekarang kakak sudah bisa menceritakan kepadaku" kata Afifa.
"Fa aku sudah membicarakan kepada Uma, Abi dan juga bunda dan beliau semua setuju.
Maka dari itu kamu segera bersiap-siap karena mungkin sebentar lagi pak penghulu akan datang" kata Ardiansyah.
"Baik kak, terima kasih" kata Afifa tulus berterima kasih karena sudah memberikan berita bagus itu.
"Ya sudah kalau begitu aku keluar dahulu" kata Ardiansyah dan langsung menuju kepintu dan keluar dari kamar Afifa dan digantikan dengan Anna masuk kembali ke kamar Afifa.
Diruang keluarga Abi sedang menelepon adik kesayangannya itu Aisyah.
Setelah menjelaskan semua kepada Aisyah dan suaminya, Hamid meminta Aisyah dan suaminya hadir diacara pernikahan putri nya itu.
Aisyah dan suaminya sangat bahagia dengan berita itu dan segera bersiap-siap untuk menuju kekediaman Hamid Abdullah.
Ardiansyah yang sudah keluar dari kamar Afifa itu terus berjalan ringan menuju kekamar tamu dan disana dia mulai bersiap-siap.
Ardiansyah mulai menuju kamar mandi dan membersihkan dirinya dan mulai berpakaian rapi.
Dia merasa gugup dan sekaligus bahagia karena dalam beberapa hitungan jam saja dia akan segera menjadi suami Afifa.
Dia akan memiliki Afifa seutuhnya dan ini akan memudahkan dia menjaga Afifa.
Ardiansyah kembali melihat dirinya dari pantulan kaca, setelah dirinya merasa berpakaian rapi dan sopan Ardiansyah pun keluar dari kamarnya dan menuju ke ruang tengah yang disana ternyata sudah ada bundanya, Fano, Abang Aziel, Uma Hamida, Abi Hamid, Uma Aisyah dan Abi Arsyad.
"Ehemmm, calon pengantin pria ternyata sudah rapi nih" goda Aziel.
"Abang... jangan godain nak Ardiansyah melulu jadi malu kan anaknya" kata Uma Hamida.
Ardiansyah yang digoda hanya menunduk malu.
"Sebentar lagi pak penghulu sudah datang lebih baik sekarang kita ke kamar Afifa semua" kata Abi Hamid mengajak semuanya ke kamar Afifa.
__ADS_1