
Reina dan Afifa yang sudah ditangkap oleh dokter Anwar tidak bisa berkutik.
Darah Afifa terus mengalir dari lengan kirinya.
"Cepat berikan Reina, aku tidak punya banyak waktu" kata Anwar dengan suara yang begitu mengerikan.
"Lepas kan kami dokter Anwar, karena kami memang tidak mengetahui chip yang dokter Anwar maksud" kata Afifa.
"Tidak semudah itu dokter Afifa.
Sekarang kamu beritahu saya dimana letak chip itu berada" Anwar membentak Afifa dan Reina.
Anwar maju mendekati Reina dan tangan nya menekan rahang Reina.
"Cih, aku sudah bilang aku tidak tahu dengan chip itu" kata Reina.
Anwar pun memberi kode ke anak buahnya untuk membawa Reina dan juga Afifa.
"Kita bawa mereka ke markas" kata Anwar.
"Siap tuan" kata anak buah Anwar.
Setelah Anwar memberi perintah kepada anak buahnya segera dia mengeluarkan ponselnya dan menelepon profesor Alfaro.
"Malam prof, saya sudah mendapatkan dokter Reina dan dokter Afifa.
Saya akan membawanya ke markas" kata Anwar.
"Kerja yang bagus Anwar, kamu memang bisa diandalkan.
Kita akan mengintrogasi nya nanti di markas" kata profesor Alfaro dari balik sambungan ponsel itu.
"Baik prof" kata Anwar dan langsung memutuskan sambungan teleponnya.
Aziel dan Lionel yang sudah sampai ditempat Afifa dan Reina berada mulai mengendap-endap bersama beberapa anak buahnya untuk menyelamatkan Afifa dan Reina.
Satu persatu anak buah Anwar berhasil dibekuk oleh Aziel dan juga Lionel.
Anwar yang melihat itu menjadi geram dan akhirnya terjadilah baku hantam antara anak buah Lionel dengan Anwar dan anak buah nya.
Lionel dan Aziel berusaha membebaskan Afifa dan Reina.
Baku hantam itu memakan waktu yang sedikit lama dan akhirnya beberapa anak buah Anwar terkapar sedang Anwar dan dua orang berhasil kabur dari tempat itu.
"Sial siapa yang berani mengacaukan rencana ku.
Awas kamu Reina, aku pastikan nanti kamu tidak akan bisa lolos lagi" batin Anwar.
Anwar tidak mengenali siapa yang telah berhasil membebaskan Afifa dan Reina itu karena Aziel dan Lionel memakai topi dan juga bercadar.
Anwar dan kedua anak buahnya itu segera menuju ke markas dan disana ternyata profesor Alfaro sudah menunggunya.
Anwar mulai memasuki markas profesor Alfaro.
"Maaf prof, ada seseorang yang berada dibelakang mereka.
Mereka berhasil dibebaskan oleh sekelompok orang tetapi saya tidak mengetahui siapa mereka karena mereka bercadar dan memakai topi.
__ADS_1
Tetapi dari gerakannya mereka itu seorang laki-laki" kata Anwar melaporkan.
"Bodoh, hanya meringkus 2 orang aja kalian bisa gagal" bentak profesor Alfaro sambil menampar Anwar dengan begitu kerasnya sehingga sudut bibir itu semakin terluka dan mengeluarkan darah.
"Maafkan kami prof, berikan kami satu kesempatan. Aku pastikan, aku bisa membawa Reina dan chip itu" kata Anwar meminta pengampunan kepada profesor.
"Aku tidak mau ada kata gagal lagi nantinya sekarang kamu obati itu lukamu" kata profesor Alfaro.
Profesor Alfaro hanya memanfaatkan Anwar saja karena profesor Alfaro mengetahui hubungan Anwar dengan Reina selama ini.
Anwar dijanjikan akan mendapatkan rumah sakit milik keluarga Afifa itu jika berhasil mendapatkan Reina.
Karena ambisi dan keserakahannya membuat mata hati Anwar mati sehingga dia dengan segala cara mendapatkan segala yang menjadi ambisi nya itu.
Ditempat lain Afifa dan Reina segera dibawa menuju kerumah Abi Hamid Abdullah.
Sebelumnya Aziel sudah menghubungi Abi nya itu dan mengatakan Afifa terluka begitu juga Reina.
Untuk melindungi mereka akhirnya Hamid Abdullah menyuruh putranya itu untuk membawa kedua putrinya kerumah saja.
Untung saja ketika Aziel dan Lionel datang membawa Afifa dan Reina, Uma Hamida sudah terlelap dalam alam mimpinya.
Abi Hamid Abdullah sudah menunggu mereka didepan pintu rumahnya.
"Bawa mereka ke kamar masing-masing" kata Abi Hamid.
"Dan kamu Lionel tolong perketat penjagaan dirumah ini jangan sampai ada yang berani masuk ataupun lolos dari kita" kata Hamid Abdullah.
"Baik tuan" kata Lionel.
Lionel segera memerintahkan anak buahnya untuk siaga.
Abi mengikuti langkah Aziel.
"Bagaimana bisa mereka terluka" kata Abi bertanya kepada Aziel.
Dan Aziel pun akhirnya menceritakan seperti yang diceritakan oleh Anna.
Abi segera memanggil dokter Ridwan untuk segera datang kerumahnya.
Sekitar 15 menit akhirnya dokter Ridwan sudah tiba dikediaman Hamid Abdullah.
"Segeralah periksa Afifa dan Reina" kata Hamid Abdullah.
"Baik tuan" kata dokter Ridwan.
Dokter Ridwan memeriksa Afifa karena keadaan Afifa yang lebih parah daripada Reina.
"Bagaimana keadaan Afifa dokter Ridwan" kata Abi yang sangat mengkhawatirkan Afifa itu.
"Kita harus segera menjahit lengan nona Afifa tuan, agar darah yang melukai lengannya segera bisa dihentikan.
Untuk bagian lainnya saya rasa tidak ada luka yang sangat serius cukup dioleskan salep saja.
Dokter Ridwan mulai memasangkan infus ditangan kanan Afifa.
Saya rasa 3 hari nona Afifa sudah pulih tuan" kata dokter Ridwan.
__ADS_1
"Ya sudah persiapkan operasi lengan putriku segera dan pastikan tidak ada yang mengetahui ini" kata Hamid Abdullah.
"Baik tuan" kata dokter Ridwan.
Dokter Ridwan memberikan obat untuk menghentikan pendarahan dan meredakan nyeri sambil menunggu sampainya peralatan operasi kecil itu datang.
Anna yang ditugaskan mengambil peralatan operasi diapartemen Afifa pun segera berangkat dengan diantar oleh Aziel.
Selama menunggu peralatan datang dokter Ridwan dan Abi Hamid Abdullah menuju ke kamar Reina dan mulai memeriksa Reina.
Setelah memeriksa Reina dokter memberikan beberapa obat pereda nyeri dan juga sedikit saleb buat mengobati luka memarnya.
"Nona Reina baik-baik saja tuan hanya ada beberapa luka memar saja tidak ada yang perlu dikhawatirkan" kata dokter Ridwan.
"Ya sudah kalau begitu, terima kasih dokter Ridwan.
"Sama-sama tuan" kata dokter Ridwan.
Abi dan dokter Ridwan kembali ke kamar Afifa untuk melihat kondisi Afifa lagi.
30 menit kemudian Anna dan juga Aziel sudah datang membawa peralatan operasi kecil itu dan menyerahkannya kepada dokter Ridwan.
Anna membantu dokter Ridwan dalam proses pengoperasian luka lengan Afifa yang terkena tembakan.
Dokter Ridwan mengeluarkan peluru yang telah melukai lengan kiri Afifa itu.
Setelah selesai mengeluarkan peluru yang melukai Afifa dengan cekatan dokter Ridwan menjahit luka itu dan selanjutnya membalutnya dengan perban agar tidak terpapar bakteri nantinya.
"Sudah selesai, mungkin sebentar lagi nona Afifa akan siuman dan saya harap nona diberikan sedikit air putih hangat dahulu baru obat ini diminumkan" kata dokter Ridwan.
"Baik dok kata Anna" menimpali perkataan dokter Ridwan.
Dokter Ridwan pun keluar dari kamar Afifa dan diluar kamar ternyata Abi dan Aziel sudah menunggunya.
"Bagaimana dok" tanya Abi dan Aziel hampir bersamaan.
"Alhamdulillah operasi nona Afifa berjalan dengan lancar dan sudah saya beri beberapa obat untuk diminum juga salep untuk mengobati lukanya.
Biar suster Anna nanti yang akan mengawasi dan merawatnya.
Besok saya akan kesini untuk lagi untuk memeriksanya dan mengganti perban nya" kata dokter Ridwan.
"Baiklah kalau begitu terima kasih banyak dok" kata Abi Hamid tulus.
"Sama-sama tuan dan ini sudah menjadi kewajiban saya.
Kalau begitu saya pamit dulu tuan" kata dokter Ridwan dan berpamitan untuk pulang kerumahnya.
Sepeninggal dokter Ridwan Anna begitu setia berada disisi Afifa.
Anna menjaga Afifa dengan begitu telaten hingga akhirnya tak beberapa lama kemudian Afifa sudah sadar dari pingsannya itu.
"Silahkan diminum fa, setelah itu baru kamu boleh minum obat ini" kata Anna menyerahkan air putih hangat kepada Afifa dan membantu Afifa untuk duduk sebelumnya.
Dikamar lain tempat Reina berada terlihat Reina sudah tertidur dengan pulas nya.
Aziel dan Abi Hamid pun kembali ke kamar masing-masing setelah Memastikan Reina dan Afifa baik-baik saja.
__ADS_1