
Afifa, Ardiansyah, Uma Aisyah dan juga Abi Arsyad makan dengan sangat tenang dan tidak ada seorangpun yang berbicara.
Beberapa menit mereka sudah menghabiskan semua makanan mereka.
Selesai makan Afifa dengan segera membereskan sisa bekas sarapan mereka dan membawa piring dan gelas kotor menuju ke dapur dan segera mencucinya.
Saat membersihkan semua peralatan dapur dan peralatan bekas sarapan tadi tiba-tiba Ardiansyah datang dibelakang Afifa.
"Sayang habis ini kita pulang ke rumah Abi Hamid ya.
Ada banyak hal yang mesti kita bicarakan dengan Abi dan juga yang lainnya.
Oh ya bukannya hari ini kamu mulai latihan menggerakkan lengan kamu kan dirumah Abi Hamid juga kan" kata Ardiansyah panjang lebar tidak ada jedanya.
"Iya hubby, kemarin Afifa juga bilang ke Abi kalau hari ini kita akan kembali kerumah.
Oh ya hubby tadi malam kamu kemana?.
Waktu aku terbangun ku lihat kamu sudah tidak ada disamping ku" tanya Afifa disela-sela ucapannya.
"Nanti aku jelaskan dirumah Abi Hamid ya sayang" kata Ardiansyah.
"Ya sudah hubby mandi sana, aku bereskan ini semua dulu nanti aku akan menyusul" kata Afifa.
"Baik sayang" kata Ardiansyah.
Ardiansyah pun meninggalkan Afifa dan menuju kamar mereka.
Sesampai dikamar Ardiansyah langsung menuju ke kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya.
Tak beberapa lama Afifa sudah ada dikamarnya dan dengan cepat dia menyiapkan baju untuk suaminya dan dia juga mengambil baju untuk dirinya dan segera pergi mandi dikamar sebelah yang kebetulan kosong tidak ada yang menempati.
Dengan cepat Afifa membersihkan tubuhnya dan segera memakai baju yang tadi dibawanya.
Setelah selesai Afifa kembali menuju kamarnya.
"Hai sayang, kamu kelihatannya sudah seger aja dan rapi pula.
Emangnya kamu mandi dimana" tanya Ardiansyah ketika melihat Afifa memasuki kamarnya dengan wangi yang membuat Ardiansyah tenang dan ingin sekali memeluk istri tercintanya itu.
"Oh dikamar sebelah by, kamu sih lama amat mandinya jadi aku mandi deh dikamar sebelah" jawab Afifa dan betapa terkejut Afifa tiba-tiba Ardiansyah sudah memeluk dirinya.
"Hubby lepas deh, katanya mau pulang ke Abi Hamid.
Ayo buruan" kata Afifa yang sedikit jengah.
"Sebentar aja sayang, aku hanya ingin memelukmu sebentar saja.
Aku suka aroma tubuhmu sayang begitu menenangkan.
Jadi aku mohon biarkan aku begini sebentar saja ya" kata Ardiansyah memohon kepada istrinya itu.
Akhirnya mau tidak mau Afifa membiarkan suami tercintanya itu memeluknya dan membenamkan kepalanya di ceruk leher Afifa.
Setelah beberapa menit kemudian Ardiansyah melepaskan pelukannya.
"Ayo sayang kita pergi sekarang. Aku juga sudah ada janji dengan Fano juga" kata Ardiansyah.
"Lho emangnya hubby mau ada meeting penting kok sampai ada kak Fano juga" tanya Afifa sambil sedikit memicingkan matanya.
"Bukan sayang, Fano nanti akan datang kerumah Abi Hamid juga.
Jadi sabar ya nanti aja cerita selanjutnya kalau sudah ada dirumah Abi Hamid.
Aku ada sesuatu yang akan bikin kamu bangga" kata Ardiansyah.
__ADS_1
"Ya sudah ayo, aku sudah tidak sabar nih" ajak Afifa.
Mereka keluar dari kamar bersamaan dan kebetulan diruang tengah Abi Arsyad dan Uma Aisyah sedang mengobrol berdua dengan santai.
"Kalian mau kemana, kok sudah rapi amat" tanya Uma Aisyah.
"Kami mau kembali kerumah Abi Hamid dulu Uma, ada banyak hal yang mesti kami bahas dengan Abi Hamid.
Insya Allah nanti kalau ada waktu kami akan kembali kesini lagi" kata Ardiansyah menjawab pertanyaan Uma Aisyah.
Abi Arsyad yang mengetahui itu hanya diam saja karena sebelumnya dia sudah mengetahui maksud dari Ardiansyah kembali kerumah Abi Hamid.
"Kenapa harus buru-buru sih nak, kan Uma masih rindu sama Afifa" kata Uma Aisyah.
"Uma, biarkan mereka pergi karena ini sangat penting.
Nanti akan Abi ceritakan ya" kata Abi Arsyad membujuk istrinya agar tidak menghalangi kepergian Afifa dan Ardiansyah.
"Sudah kalian cepat pergilah, dan sampaikan salam ku kepada Abang Hamid dan kak Hamida" kata Abi Arsyad memerintahkan mereka berdua segera pergi.
"Kami pamit dulu Uma, Abi.
Assalamu'alaikum" kata Afifa dan Ardiansyah bergantian dan tak lupa mencium punggung tangan Abi dan Uma juga.
"Wa'alaikumsalam" kata Uma dan Abi Arsyad hampir bersamaan menjawab salam dari Ardiansyah.
"Ya sudah kamu hati-hati dijalan ya nak, jangan kencang-kencang bawa mobilnya. Jaga Afifa dengan baik" pesan Uma Aisyah yang akhirnya merelakan mereka pergi.
"Insya Allah Uma, Ardiansyah akan selalu menjaga Afifa dengan sepenuh jiwa Ardiansyah" kata Ardiansyah.
Mereka pun keluar dari kediaman syekh Muhammad Arsyad dan masuk kedalam mobil nya yang sudah terparkir dihalaman depan rumah.
Ardiansyah pun melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang setelah dia dan Afifa duduk dengan nyaman didalamnya.
Beberapa lama kemudian mereka sudah sampai digerbang yang sudah terbuka lebar untuk mereka tanpa mereka pinta.
Mereka turun dan melihat ternyata diluar sudah menunggu Fano.
"Fan sudah lama" tanya Ardiansyah ketika dia sudah berada didepan Fano.
"Baru saja Syah" jawab Fano.
"Kenapa gak langsung masuk aja" tanya Ardiansyah dan bertepatan dengan Abi Hamid sedang melintas ke halaman depan.
"Dia sudah dari beberapa menit yang lalu dan Abi sudah menyuruhnya masuk tetapi tidak mau katanya sekalian mau menghirup udara segar" kata Abi menjelaskan kenapa Fano tidak mau masuk kedalam rumah.
"Eh Abi, assalamu'alaikum Abi" kata Ardiansyah dan segera meraih tangan Abi Hamid dan langsung mencium punggung tangan nya.
"Assalamu'alaikum Abi" kata Afifa mengikuti jejak sang suami.
"Wa'alaikumsalam nak, ayo sekarang kita masuk saja dan kita bicarakan didalam" kata Abi Hamid.
Mereka masuk dan diruang tengah ternyata sudah ada Reina, Abang Aziel, dan Anna juga Lionel.
"Abi kemana Uma" tanya Afifa.
"Uma sedang belanja dengan bunda kalian" kata Abi menjawab pertanyaan Afifa yang mencari keberadaan Uma nya itu.
"Sebaiknya kita bicarakan saja diruang kerja Abi" kata Abi kepada mereka semua yang berada disana.
Semua mengikuti langkah kaki Abi Hamid menuju ruang kerjanya.
Mereka semua duduk disofa dekat meja kerja Abi Hamid.
Setelah semua sudah duduk barulah Abi membuka pembicaraan.
__ADS_1
"Sebelumnya Abi minta maaf harus mengumpulkan kalian semua disini. Karena Abi mendapatkan beberapa informasi dari dokter Ridwan kalau obat yang dihasilkan oleh dokter Rio di laboratorium kita dirumah sakit itu ternyata semacam virus baru dan sepertinya virus ini pengembangan dari virus tempo hari" kata Abi Hamid.
"Terus bagaimana Abi, apa yang harus kita lakukan" kata Aziel.
"Kita harus menunggu sampai nanti malam karena diperkirakan anak buah tuan Fernando yang dijanjikan akan tiba sore ini.
Untuk itu nanti malam kita lanjutkan pertemuan kita di apartemen Afifa saja" kata Abi Hamid.
Mereka semua yang berada disana menganggukkan kepalanya tanda mengerti.
"Maaf Abi, Ardiansyah dan Fano juga mendapat informasi yang sangat penting buat kita" kata Ardiansyah.
"Informasi tentang apa nak" tanya Abi.
Ardiansyah pun akhirnya menceritakan semua yang dilakukan oleh Fano persis seperti apa yang telah Fano ceritakan kepadanya tadi malam.
"Ini benar-benar kabar yang sangat bagus nak, terus apa lagi yang kalian dapat" tanya Hamid Abdullah.
Fano menyerahkan rekaman dari percakapannya dengan dokter Anwar yang sudah disimpannya dalam flashdisk.
Flashdisk itu disambungkan kesebuah proyektor agar semua bisa melihat dan mendengarnya dengan jelas.
Proyektor mulai dinyalakan dan mereka menikmati sajian yang telah ditonton kan oleh proyektor itu.
Ketika mereka selesai menonton semua mata mengarah kepada Reina kecuali Afifa, Ardiansyah dan Fano tentunya.
"Rein ada bisa kamu jelaskan" kata Abi Hamid datar dan tegas.
"Maafin Reina Abi, tetapi itu hanya masa lalu Reina sebelum Reina tahu siapa Anwar sebenarnya yang akhirnya melukai Afifa juga" kata Reina yang tertunduk dengan penuh penyesalan itu.
"Reina sudah tidak memiliki hubungan apapun dengannya Abi, Abang.
Reina juga sangat membencinya saat ini.
Rein berjanji akan menebus semua kesalahan Reina selama ini Abi, Abang dan semuanya" kata Reina masih tertunduk dan mulai menitikkan air matanya karena penyesalan yang amat sangat dalam.
"Sudahlah nak, yang penting semua sudah berlalu. Sekarang yang penting kamu harus lebih hati-hati lagi dan cari orang yang sangat tepat untuk menjadi pendamping mu kelak" nasehat Abi Hamid yang tadi berdiri menghampiri Reina dan membelai puncak kepala Reina dengan penuh kasih sayang.
Abi Hamid menghapus air mata Reina dengan kedua jarinya.
"Sudah kamu jangan menangis, kelihatan jelek tau nak" kata Abi Hamid
"Ih Abi nih" kata Reina manja.
"hmmm manja amat non" ledek Afifa.
"Apaan sih fa, biarin kan sama Abi sendiri" balas Reina sambil menjulurkan lidahnya.
"Sudah-sudah kalian jangan bertengkar. Ingat nanti malam ke apartemen Afifa ya.
Sekarang Aziel dan Anna kamu boleh kembali kerumah sakit.
Dan kamu Reina dan Afifa mulai sekarang kamu harus belajar menembak dari Lionel" kata Abi Hamid.
"Eh tunggu bukannya hari ini adalah jadwal kamu berlatih gerakan lengan kamu ya fa sama dokter Ridwan.
Kenapa beliau belum datang" tanya Abi Hamid yang menyadari kalau hari ini jadwal Afifa.
"Mungkin sebentar lagi Abi dokter Ridwan datang, lagian Afifa sudah sering berlatih sejak jarum infus dilepaskan.
Dan Alhamdulillah banyak perkembangan kok Abi.
Jadi Abi jangan terlalu khawatir ya" kata Afifa
Hamid Abdullah yang mendengar perkataan Afifa akhirnya bisa bernafas lega.
__ADS_1
"Ya sudah kalian bisa kembali ke kegiatan kalian masing-masing" kata Abi Hamid.
Mereka semua keluar dari ruang kerja Hamid Abdullah dan kembali mengerjakan kegiatan masing-masing.