Dokter Afifa

Dokter Afifa
Kemarahan yang terpendam


__ADS_3

Setelah meeting Afifa langsung kembali ke ruangannya.


"Suster Anna apa hari ini ada kunjungan pasien di ruang rawat inap" tanya Afifa


"Ada dokter dan semua berkas rekam medis sudah saya persiapkan semua" kata suster Anna.


Setelah sedikit mempelajari berkas rekam medis pasien rawat inap Afifa dan Anna langsung melakukan kunjungan untuk memeriksa pasien.


Sekitar satu setengah jam Afifa melakukan pemeriksaan di semua ruang rawat inap saat perjalanan menuju ruangannya Afifa kembali dipertemukan dengan Dokter Nicholas


"Dokter Afifa dari pemeriksaan rawat inap ya" kata dokter Nicholas basa-basi.


"Iya dok" jawab Afifa singkat.


"Boleh saya berbicara sebentar dengan dokter Afifa" tanya Nicholas.


"Silahkan dok, apa yang ingin dokter bicarakan sama saya" jawab Afifa.


"Maaf dok apa boleh kita berbicara berdua saja" kata Nicholas.


"Maaf dokter Nicholas saya tidak punya banyak waktu karena sekarang pasien saya sedang menunggu saya dan saya mohon dokter Nicholas memahami ini" tegas Afifa.


"Baiklah kalau begitu, nanti saat jam makan siang bagaimana?" tanya dokter Nicholas meminta persetujuan.


"Saya tidak bisa berjanji dokter Nicholas, kita lihat nanti saja.


Kalau begitu saya permisi dulu" kata Afifa menjawab Nicholas sekaligus berpamitan.


"Baiklah kalau begitu, silahkan dokter Afifa" mempersilahkan Afifa pergi meninggalkan nya.


Afifa pun langsung melenggang pergi dan diikuti oleh suster Anna.


"Dokter Afifa kelihatannya dokter Nicholas pantang menyerah buat mendekatimu" kata Anna.


"Appaan sih, aku tuh sudah di khitbah sama orang jadi saya sebentar lagi akan menjadi milik orang itu" jelas Afifa.


Setelah sampai ruangannya Afifa langsung melayani satu demi satu pasiennya dan tak terasa sudah waktunya jam makan siang.


"Dok diluar ada seseorang yang ingin bertemu dengan dokter" kata suster Anna.


"Siapa suster Anna, bukan dokter Nicholas kan" tanya Afifa.


"Beliau tidak menyebutkan namanya dan yang jelas bukan dokter Nicholas" jawab Anna.


"Baiklah kalau begitu suruh dia masuk" kata Afifa.


Tidak lama kemudian orang yang mencarinya masuk dan betapa terkejutnya Afifa ketika melihat yang mendatanginya itu adalah calon suaminya dengan membawa bouquet bunga yang sangat besar.


"Surprise..." kata Ardiansyah


POV Ardiansyah


Sejak pagi aku sudah membuat rencana akan mengajak Afifa dan bunda makan siang bersama.


Aku sudah mempersiapkan semuanya dari reservasi tempat dan juga ada kejutan kecil buat Afifa nanti disana.


Seharian ini aku selalu memikirkan Afifa dan kadang aku tersenyum-senyum sendiri.

__ADS_1


Aku sudah tidak sabar menunggu siang datang dan untuk mengalihkan pikiranku aku sibukkan diri dengan beberapa berkas yang ada dimeja kerjaku.


Beberapa jam aku berkutat pada berkas-berkas ku hingga tak terasa waktu sudah akan menunjukkan jam makan siang.


Segera aku telepon bunda untuk bersiap-siap aku jemput makan siang bersama Afifa dan juga aku ceritakan kepada bunda rencana untuk membuat kejutan buat Afifa.


Aku berharap Afif bahagia mendapat kejutan dariku.


POV end


"Kamu kak, kenapa datang gak kasih kabar dulu" kata Afifa yang sedikit terkejut tadi.


"Kalau kasih kabar namanya bukan surprise dong" kata Ardiansyah.


"Ya deh terserah kakak aja" kata Afifa jengah.


"Bunda sedang menunggu kita di mobil, kita makan siang bersama yuk" ajak Ardiansyah.


"Lho Kakak sama bunda juga, tetapi Afifa belum sholat dhuhur dulu kak" kata Afifa.


"Ya sudah kita sholat bersama saja di mushola rumah sakit biar aku telepon bunda buat sholat berjamaah bersama kita bagaimana" tanya Ardiansyah.


"Baiklah kalau begitu, aku setuju" jawab Afifa sambil mengangguk tanda dia setuju.


Ardiansyah pun langsung menelepon bundanya agar langsung menuju ke mushola untuk beribadah bersama-sama.


"Ya sudah ayo tunggu apalagi" ajak Ardiansyah saat setelah menelepon bundanya.


Mereka berdua pun keluar dari ruangan dokter Afifa.


"Dokter Afifa..." kata-kata dokter Nicholas menggantung saat melihat Afifa keluar bersama dengan lelaki yang pernah dilihatnya dahulu yaitu Ardiansyah.


"Ya Dokter Nicholas, maaf saya harus pergi karena ada urusan yang sangat penting" kata Afifa selanjutnya.


Dokter Nicholas mengepalkan tangannya dan merasa sangat kecewa dengan Afifa karena lebih memilih pergi dengan lelaki itu.


"Ada hubungan apa sih mereka, kenapa Afifa selalu pergi berdua dengan lelaki brengsek itu" kesal Nicholas dalam hati.


"Baiklah dokter Afifa, lain kali saja kita berbicara" kata Nicholas.


"Insya Allah dok tetapi saya tidak bisa berjanji bisa apa tidaknya" kata Afifa menanggapi dokter Nicholas


Ardiansyah yang melihat sikap dokter Nicholas yang tidak henti-hentinya mendekati Afifa merasa sedikit terbakar cemburu, tetapi saat melihat sikap Afifa yang selalu menolak dokter Nicholas membuat sedikit tenang hatinya.


"Aku percaya sama kamu bidadari surgaku, karena kamu wanita yang tangguh dan selalu berpegang dengan prinsip kamu.


Aku yakin kamu bisa menjaga kehormatan kamu" kata Ardiansyah dalam hatinya sambil sedikit tersenyum.


Nicholas menatap tajam kearah Ardiansyah yang menarik senyum tipis dibibirnya itu.


Begitu kentara sekali kalau dokter Nicholas menampakkan ketidak senangannya terhadap Ardiansyah itu.


"Oh ya dok sebelumnya perkenalkan ini kak Ardiansyah dan beliau..." belum sempat Afifa meneruskan ucapannya sudah di teruskan oleh Ardiansyah.


"Ardiansyah calon suami dokter Afifa" kata Ardiansyah dengan penuh penekanan di kata calon suami dokter Afifa dan mengulurkan tangannya ke arah dokter Nicholas.


"Dokter Nicholas" menjabat tangan Ardiansyah dengan erat sambil masih menatap tajam ke arah Ardiansyah.

__ADS_1


"Baiklah kalau begitu kita berdua pergi dulu ya dokter Nicholas, senang berkenalan dengan anda" kata Ardiansyah selanjutnya.


Dokter Nicholas melihat kepergian Afifa dan Ardiansyah dengan hati yang hancur dan berkeping-keping.


"Aku tidak akan menyerah begitu saja, aku pastikan dokter Afifa akan menjadi milikku bukan kamu lelaki brengsek.


Aku akan melakukan segala cara agar Afifa menjadi satu-satunya milikku" batin Nicholas dengan berapi-api.


Suster Anna yang melihat kejadian tadi hanya terdiam dan dia melihat begitu jelas amarah yang ada dihati dokter Nicholas.


Dokter Nicholas pun akhirnya melenggang pergi sambil membawa api yang membara dihatinya.


Ditempat lain Afifa sudah berada di mushola dan disana sudah menunggu bunda Habibah.


"Assalamu'alaikum bunda" kata Afifa memberi salam Habibah dan langsung mencium punggung tangan Habibah.


"Wa'alaikumsalam nak" kata Habibah sambil mengusap puncak kepala Afifa dengan sayang.


"Ayo kita sholat dulu" ajak bundanya.


Beberapa menit mereka sudah melakukan rangkaian ibadahnya dan kemudian beranjak pergi menuju parkiran.


"Kak aku mengambil tas dahulu ya diruanganku, nanti aku akan menyusul kakak diparkiran" kata Afifa meminta ijin kepada Ardiansyah.


"Baiklah kalau begitu, jangan lama-lama ya" jawab Ardiansyah memberi ijin ke Afifa.


Ardiansyah dan bunda Habibah menuju parkiran mobil sedang Afifa berjalan menuju keruangan nya.


Saat melihat sekelebat bayangan Afifa segera dokter Nicholas mengikutinya pas ditempat yang sedikit sepi dokter Nicholas menarik tangan Afifa dari belakang dan hampir saja Afifa terjatuh tetapi untung nya Afifa masih bisa menyeimbangkan dirinya.


"Dokter Nicholas, lepaskan tangan saya" kata Afifa tegas dan sedikit marah karena sikap kasar dari dokter Nicholas itu.


"Aku tidak akan pernah melepaskan mu sampai kapanpun dan kamu harus menjadi milik saya" kata Nicholas sarkastik.


"Dokter tolong lepaskan saya, jangan sampai saya akan berbuat kasar kepada Anda" kata Afifa penuh penekanan dan menatap tajam kearah Nicholas.


"Saya bilang tidak ya tidak" Nicholas masih kekeh dengan pendiriannya.


Tak menunggu lama akhirnya Afifa melayangkan tendangannya dan menarik tangannya agar terlepas dari genggaman Nicholas tetapi Nicholas malah mengeratkan genggamannya.


Sedangkan ditempat parkir Ardiansyah merasa tidak tenang dan akhirnya dia menyusul Afifa ke ruangannya dan menyuruh ibu nya menunggu dimobil sebentar.


Betapa terkejutnya Ardiansyah saat melewati tempat yang sedikit sepi melihat Afifa ditarik oleh dokter tengik itu.


"Lepaskan tangan calon istri saya" kata Ardiansyah dengan penuh amarah.


Kesempatan itu dipergunakan oleh Afifa untuk lepas dari Nicholas dengan menendang *********** dan juga menginjak kakinya sehingga Nicholas meringis kesakitan dan seketika itu Afifa berlari menuju ketempat Ardiansyah berada.


"Jangan sekali-kali kau ganggu Afifa kalau tidak kamu akan terima akibatnya yang lebih menyakitkan dari ini" kata Ardiansyah tegas dan penuh amarah sambil melenggang pergi membawa Afifa bersamanya.


Saat agak jauh dari dokter Nicholas, Ardiansyah pun bertanya


"Kamu tidak apa-apa kan fa, apakah ada yang terluka" tanya Ardiansyah yang begitu cemas.


"Tidak kok kak tenang saja, Insya Allah aku bisa menjaga diri" kata Afifa memberi ketenangan kepada Ardiansyah.


Setelah mengambil tas mereka pun langsung menuju ke tempat bundanya berada.

__ADS_1


__ADS_2