Dokter Afifa

Dokter Afifa
Afifa dan Reina tertangkap


__ADS_3

Setelah berpamitan kepada Abi dan Uma nya Afifa berjalan menuju mobil nya dan langsung meluncur menuju apartemen tetapi diperjalanan ada sebuah mobil yang sedang membuntutinya.


Afifa menyalakan bluetooth di mobilnya dan mulai menelepon Reina.


"Assalamu'alaikum Reina, aku dalam perjalanan tetapi aku sedang dibuntuti oleh seseorang.


Apa bisa kamu membantuku" kata Afifa.


"Baik fa, tunggu sebentar aku akan menuju ketempat kamu.


Kamu nyalakan pemancar biar kami bisa melacak keberadaan kamu" kata Reina.


"Siap Rein, aku nyalakan pemancar nya sekarang" kata Afifa.


Afifa mencoba berputar-putar dan merubah arah tujuannya.


"Anna ada tiga buat kita. Afifa sedang dibuntuti oleh seseorang.


Ayo kita ke sana dan lacak keberadaan Afifa kita akan menghadang orang yang membuntuti Afifa" kata Reina memberi perintah kepada Anna.


"Ya sudah kita berangkat sekarang. Aku akan membawa MacBook Ku sebentar" kata Anna.


Anna naik menuju kamarnya dan mengambil MacBook dan setelah itu dia berangkat bersama Reina.


Mereka mengendarai mobil Reina dan tak lama mereka sudah meluncur menuju ke Afifa.


Anna mulai membuka MacBook nya dan mulai melacak mobil Afifa.


"Rein kita ke kanan, sepertinya ada dua mobil yang sedang membuntutinya" kata Anna.


"Baiklah kalau begitu kita akan mengalihkan mereka agar konsentrasi mereka terpecah" kata Reina.


Reina pun kembali menelepon Afifa melalui sambungan bluetooth nya dimobil.


"Fa ada 2 mobil yang sedang membuntuti kamu sebaiknya kamu meminta bantuan Abi dan juga Mario untuk memecahkan mereka" kata Reina.


"Sebaiknya jangan dulu Rein, kita harus tahu motif mereka.


Saya rasa kita berdua bisa mengatasinya" kata Afifa.


"Ya sudah kita akan berhenti di gedung tua dekat taman anggrek jarak kamu dari ku berapa meter lagi" tanya Afifa sekaligus meminta bertemu di gedung tua.


"Aku sudah tidak jauh dari tempatmu melajukan mobil kamu" kata Reina.


"Ya sudah kalau begitu tunggu sebentar aku akan memutar arah menuju gedung tua itu" kata Afifa dan langsung melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi menuju gedung tua itu.


"Afifa turun dan bersembunyi dibalik semak-semak belukar yang menjulang tinggi.


2 mobil yang membuntuti Afifa pun menghentikan mobilnya dan semua yang ada dimobil turun.


Reina melihat itu dan menghitung jumlah orang-orang yang membuntuti Afifa itu.


"Fa kamu hati-hati mereka ada 9 orang sedang menuju ketempat mu bersembunyi.


Aku akan mengikutinya dari belakang" kata Reina.


"Baik Rein, kamu hati-hati.


Dan bilang kepada Anna untuk bersembunyi dan bila dalam waktu 10 menit kita belum keluar dari sana suruh Anna menghubungi Abang Aziel biar nanti Abang yang bilang ke Abi" kata Afifa.

__ADS_1


"Baik fa" kata Reina.


Tanpa mematikan sambungan telepon ke Afifa.


Reina melajukan mobilnya menuju semak-semak dibawah pepohonan yang tidak jauh dari tempat Afifa.


"Anna kamu disini saja.


Apabila aku dalam waktu 10 menit belum kembali tolong kamu menghubungi Abang Aziel dan juga Mario" kata Reina.


"Baiklah Reina" kata Anna.


Reina pun turun dari mobilnya dan mulai mengendap-endap dibelakang orang-orang yang mengincar Afifa.


Saat salah satu lengah dan tertinggal dari rombongan orang-orang tadi, Reina langsung membekapnya, membuat orang itu pingsan dalam satu gerakan saja.


Tak lupa Reina pun mengikat orang itu dan menariknya menuju semak-semak agar tidak diketahui oleh yang lainnya.


"Fa satu orang sudah aku bekuk" kata Reina.


"Baik Rein, terima kasih" kata Afifa.


Afifa keluar dari tempat persembunyian dan mulai menyerang seseorang yang didepan dan sedikit jauh dari rombongan.


Tetapi langkah Afifa diketahui oleh teman-temannya penguntit itu.


Mereka semua berlari dan mulai menyerang Afifa.


Dengan lincah Afifa melawan dan menghindar dari pukulan yang dilakukan oleh orang-orang penguntit tadi.


Reina datang menolong Afifa.


Ada beberapa orang yang terjatuh dan yang lainnya masih melawan Afifa dan juga Reina.


"Fa kalau begini kita bisa kehabisan tenaga dan ini sangat bahaya" kata Reina.


"Betul apa yang kamu katakan Rein" Afifa.


Ada beberapa orang yang membawa senjata dan Afifa bersama Reina hanya menghadapinya dengan tangan kosong.


Anna yang menunggu dibalik semak-semak tadi melihat jam karena ini sudah 10 menit lebih dari semenjak Reina pergi.


Anna pun langsung menghubungi Abang Aziel.


"Assalamu'alaikum tuan Aziel, maaf mengganggu.


Kami membutuhkan bantuan tuan.


Afifa dan Reina sedang menghadapi beberapa orang yang sedang menguntit kami.


Kami sekarang berada di gedung tua dekat taman anggrek" kata Anna panjang lebar.


"Wa'alaikumsalam, baik suster Anna saya akan segera kesana" kata Aziel.


Aziel pun keluar dari rumahnya dan langsung menuju mobilnya dan melajukan mobilnya kearah yang dimaksud oleh Anna.


Tidak lupa Aziel menghubungi Lionel dan menyuruh Lionel langsung menuju ke arah tempat Afifa dan Reina berada.


Reina dan Afifa yang sedang menghadapi beberapa orang itu mulai kuwalahan karena ternyata mereka bukan orang biasa karena mereka begitu tangguh.

__ADS_1


"Sialan kita mulai kuwalahan fa, apa yang harus kita lakukan" kata Reina.


"Kamu harus kuat Reina, kita harus hadapi mereka dengan sekuat tenaga" kata Afifa.


Tiba-tiba ada 3 orang datang mendekat kearah perkelahian Afifa, Reina dan penguntit itu.


Salah seorang yang mendekat itu melepaskan tembakannya ke arah Afifa dan Reina dan tepat mengenai lengan Afifa.


"Fa..." kata Reina berteriak saat tahu Afifa terkena tembakan.


Reina pun segera menerjang pistol yang telah menembak Afifa.


Reina dan Afifa sudah mulai terkena banyak pukulan dan akhirnya mereka dapat dibekuk oleh penguntit dan orang yang baru datang itu.


Reina dan Afifa begitu terkejut karena yang baru datang itu adalah dokter Anwar.


"Kau..." kata Reina dengan muka merah padam dan berapi-api.


"Iya ini aku Reina, apa kalian kaget" kata dokter Anwar mendekati Reina dan mulai menyentuh pipi Reina dengan jari telunjuknya.


"Lepaskan aku brengsek" kata Reina.


"Tidak semudah itu Reina" kata dokter Anwar penuh dengan penekanan dan keangkuhan.


"Hahaha... hahaha... akhirnya kamu masuk dalam perangkap ku juga Reina dan dokter Afifa yang terhormat" kata dokter Anwar tertawa lepas sedangkan anak buahnya memegangi Afifa dan Reina.


Afifa tidak kaget dengan dokter Anwar karena sebelumnya dia sudah menyelidikinya tetapi Afifa menyembunyikan dari Reina karena tidak ingin Reina terluka.


Walau Afifa sebelumnya cuma sekedar memperingatkan Reina tentang dokter Anwar ini.


"Apa mau mu Anwar dan kenapa kalian melakukan ini kepada kami" kata Reina.


"Sangat mudah dokter Reina yang cantik.


Serahkan chip itu dan aku akan melepaskan kalian" kata Anwar.


"Tidak bisa karena aku tidak memiliki chip itu" kata Reina.


"Apa kamu pikir aku sebodoh itu Reina" kata Anwar.


Anwar pun menampar wajah cantik Reina dengan sangat keras dan membuat darah segar Reina keluar dari sela-sela sudut bibirnya.


Reina meludahi Anwar dan berkata.


"Aku benar-benar tidak memiliki chip itu Anwar perlu kamu ketahui itu" kata Reina.


"Oh ya" kata Anwar sambil bertepuk tangan.


"Serahkan atau aku akan menyakiti kalian berdua dengan sangat keji" kata Anwar.


"Sampai mati pun aku tidak akan memberikannya kepada kamu" kata Reina.


"Baiklah kalau begitu" kata Anwar dan mulai memberi kode kepada anak buahnya untuk menghajar Afifa yang sudah banyak mengeluarkan darah itu dari lengan kirinya.


"Stop hentikan itu" kata Reina.


"Kamu pengecut Anwar, kamu hanya berani menghadapi wanita dan main keroyok saja" kata Reina yang sudah benar-benar marah dan benci sama Anwar.


"Aku sungguh menyesal karena telah berhubungan dengan kamu dan aku menyesal karena mengenal kamu.

__ADS_1


Kamu tak lebih dari seorang bajingan yang hanya berani menghadapi seorang wanita" lanjut Reina dengan penuh kebencian yang berapi-api.


__ADS_2