
Para wanita yang sedang mengobrol dengan disertai canda dan tawa kadang juga saling menggoda itu tampak begitu asyiknya sampai mereka lupa sama pasangan mereka masing-masing.
Ardiansyah dan para lelaki yang ada disana mereka lebih asyik membicarakan soal bisnis dan kadang diselingi dengan nasehat-nasehat dari Abi Arsyad dan Abi Hamid.
"Dunia yang kita hadapi saat ini tidak lah mudah karena tidak banyak kemungkinan juga keluarga kita akan menjadi incaran dari orang yang ingin menjatuhkan kita dan juga ingin menghancurkan kita" kata Hamid disela-sela obrolan mereka.
"Benar Abi, kadang kita lebih senang menyembunyikan keberadaan pasangan, dan keluarga kita hanya ingin menyelematkan keluarganya dari incaran orang-orang yang seperti itu" Aziel membenarkan ucapan Hamid.
"Lebih baik kita pasrahkan semua kepada sang Khaliq karena Hanya KepadaNya tempat kita berserah diri dan berpasrah.
Hanya Allah SWT lah sebaik-baiknya penolong kita" Syekh Muhammad Arsyad mengingatkan mereka.
"Kamu betul adikku, maka dari itu sebaiknya kita harus selalu merendah dan jangan sekali-kali kita berlaku sombong" Hamid menambahkan apa yang diutarakan oleh sang adik.
Ardiansyah, Aziel dan Fano begitu memperhatikan apa yang telah dipesankan oleh Abi Arsyad dan Abi Hamid.
"Insya Allah kami akan selalu mengingat pesan Abi" kata Ardiansyah dan diangguki oleh Aziel maupun Fano.
"syekh Muhammad Arsyad apakah boleh saya belajar agama pada syekh, karena pendidikan agama saya benar-benar sangat kurang" kata Fano yang memang benar-benar ingin lebih mendalami ilmu itu untuk kedepannya kelak.
"Insya Allah boleh, kamu boleh ketempat saya, karena biasanya di pondokan saya setiap hari Kamis diadakan pengajian umum. Kalau mau lebih belajar lagi boleh kalian datang sewaktu-waktu ke tempat tinggal saya, asalkan jika saya berada dirumah" Syekh Muhammad Arsyad memperbolehkan Fano.
"Terima kasih banyak" ucap Fano sambil mencium tangan Syekh Arsyad.
"Sudah-sudah jangan seperti ini, anggap aja aku sebagai orangtua kamu juga. Kan sebentar lagi kamu akan menjadi bagian dari keluarga kami" ucap sang Syekh.
Waktu sudah beranjak sore dan samar-samar terdengar suara adzan ashar.
Mereka yang sudah puas berkeliling pun memutuskan untuk kembali kerumah.
Mereka segera mengambil air wudhu dan segera melaksanakan sholat berjamaah di mushola yang ada dirumah itu.
Mushola itu terletak diatas sebuah kolam ikan dengan air yang mengalir jernih dan tempatnya ada dihalaman belakang dekat kolam renang.
Para wanita juga sudah berwudhu dan sudah memakai mukenanya dengan lengkap.
Semua keluarga dan termasuk dengan penjaga dan juga para asisten rumah tangga yang ada disitu mulai melakukan sholat berjamaah bersama.
Dengan sangat khusuk nya mereka beribadah.
Beberapa menit mereka telah usai melakukan ibadahnya itu dan asisten rumah tangga dengan pengawal juga penjaga kembali ke posisi masing-masing.
Sedang keluarga kembali masuk menuju ruang tengah.
__ADS_1
"Karena hari sudah sangat sore, sebaiknya kami kembali kerumah" pamit Hamid.
"Apa Abi dan yang lainnya tidak ingin menginap dirumah kita" tawar Ardiansyah.
"Tidak nak, lebih baik kami kembali sekarang saja karena masih banyak tugas yang harus kami kerjakan" Hamid menolak tawaran Ardiansyah.
"Benar apa yang dikatakan oleh Abang Hamid, sebaiknya kita pulang dahulu" kata Abi Arsyad.
Mereka saling berpelukan bergantian sebelum mereka kembali kerumah masing-masing.
"Bunda apa tidak sebaiknya bunda tinggal bersama kami, Afifa gak tega melihat bunda tinggal sendirian nanti kalau ada apa-apa bagaimana" pinta Afifa kepada Habibah.
"Tidak nak, bunda sudah lama sekali meninggalkan rumah bunda. Kamu jangan khawatir disana banyak ART dan para pengawal juga yang akan menjaga bunda" Habibah menolak permintaan Afifa.
"Tetapi bunda..." belum sempat Afifa melanjutkan ucapannya sudah disela oleh Habibah.
"Kamu jangan khawatir, bunda janji akan selalu jaga kesehatan bunda. Kamu jangan lupa sering mengunjungi bunda nantinya ya" pinta Habibah.
"Baik bunda, insya Allah Afifa akan sering-sering menjenguk bunda" menyetujui keinginan sang bunda.
"Kamu juga jangan lupa sering-sering kunjungi Uma dan Abi" kata Uma Hamida tidak mau kalah.
"Baiklah, kami akan sering berkunjung kerumah bunda, Uma Hamida dan Uma Aisyah" kata Afifa dan langsung memeluk sang Uma.
Akhirnya mereka satu persatu meninggalkan kediaman Afifa dan Ardiansyah.
Ya mereka sebelumnya mengantar semua keluarga sampai depan halaman rumah mereka.
"Yuk hubby" jawab Afifa.
Ardiansyah memeluk pinggang sang istri dan masuk ke dalam rumah mereka.
Mereka sampai diruang tengah dan duduk disana.
Afifa menyandarkan kepalanya ke dada bidang sang suami sedang Ardiansyah membelai lembut rambut sang istri.
Mereka menikmati acara televisi yang disiarkan oleh salah satu stasiun televisi swasta.
Lebih tepatnya saat ini mereka sedang melihat berita terkini.
"By, Alhamdulillah ya akhirnya musibah yang dialami negara kita sudah usai. Semua penduduk yang terjangkit oleh wabah virus itu juga sudah sembuh semua" Afifa tersenyum lega karena pemberitaan yang sangat membahagiakan itu.
"Benar sayang, tetapi masih banyak negara lain yang membutuhkan bantuan kita.
__ADS_1
Karena tidak hanya negara kita yang mengalaminya tetapi hampir seluruh negara di dunia pun juga merasakan wabah virus itu meskipun berbeda karakter virusnya" kata Ardiansyah.
"Kau benar by, aku harus lebih sering membuat penelitian untuk bisa menyelamatkan semua orang didunia" kata Afifa dengan penuh tekad.
"Aku akan selalu mendukungmu sayang.
Apapun yang kamu butuhkan nanti untuk menunjang penelitian kamu, Insya Allah aku akan berusaha mempersiapkannya dan menyediakan nya" kata Ardiansyah yang dengan sepenuh hati mendukung istrinya itu.
"Terima kasih ya hubby, kamu memang suami yang terbaik" kata Afifa dan langsung menghujani suaminya itu dengan banyak ciuman.
"Kamu mulai berani ya sayang" kata Ardiansyah yang mulai jahil kepada sang istri dan akhirnya mata mereka pun saling ber sitatap.
Lama mereka berdua saling memandang dan tangan Ardiansyah mulai mengusap lembut pipi sang istri.
Afifa begitu menikmati belaian sang suami.
"Sayang apa boleh aku nanti mengambil hak ku" tanya Ardiansyah disela-sela belaiannya itu.
Afifa hanya menganggukkan kepalanya sambil malu-malu.
Ardiansyah yang melihat itu tersenyum bahagia dan sekaligus gemas melihat muka merona sang istri.
Tak menunggu lama Ardiansyah pun akhirnya mendekatkan bibirnya dengan sang istri.
Dan terjadilah ciuman yang sangat panjang sampai mereka hampir kehabisan oksigen.
Karena dirasa sudah hampir kehabisan oksigen Ardiansyah menyudahi lumatannya itu dan mengusap lembut bibir sang istri.
Mereka kembali meneruskan melihat berita yang ditayangkan oleh salah satu saluran televisi sambil diselingi oleh candaan dan obrolan ringan.
"Sayang lebih baik kita mandi dan sebentar lagi sudah mau memasuki waktu Maghrib lho" ajak sang suami.
"Oh iya sama kita lupa ya by" kata Afifa.
Afifa dan Ardiansyah menaiki tangga dan menuju kamarnya.
Mereka bergantian menuju kamar mandi.
Afifa yang terlebih dahulu mandi, setelah selesai Afifa segera menyiapkan baju sang suami.
Tak beberapa lama Ardiansyah pun sudah menyelesaikan mandinya dan segera mengganti bajunya dengan baju yang sudah dipersiapkan oleh Afifa.
Afifa yang sudah bersiap dengan memakai mukenanya itu, dia mulai melantunkan ayat-ayat suci Al-Qur'an dengan lantunan yang indah dan merdu.
__ADS_1
Ardiansyah dibuatnya takjub dengan suara lantunan sang istri itu.
"Masyaallah sungguh indahnya suara lantunan istriku" batin Ardiansyah yang terpana melihat nya.