Dokter Afifa

Dokter Afifa
Pembaharuan strategi


__ADS_3

Setelah membagi tugas Hamid dan yang lain nya kembali fokus melihat video didepannya.


"sepertinya besok waktu yang tepat untuk masuk kedalam markas pemantauan mereka karena seperti yang kita lihat Danielo dan Gerald akan berangkat ke negara J dan mungkin mereka beberapa hari disana" Hamid mulai buka suara lagi setelah beberapa saat keadaan hening.


"Benar, tetapi saya punya pemikiran Abi" kata Fano.


"Apa itu nak Fano coba kamu jelaskan kepada kami semua" pinta Hamid.


"Saya takutnya itu adalah jebakan karena bagaimana mungkin mereka keluar dari tempat itu secara bersamaan.


Apa Abi tidak curiga sedikitpun" Fano yang merasa ada kejanggalan dengan kepergian Danielo dan Gerald.


"Iya Abi, Fano benar.


Bisa saja mereka sengaja membuat jebakan kepada kita karena tempat itu adalah tempat yang memang sangat penting dan merupakan jantungnya" kini Reina mulai bersuara yang sejak dari tadi dia hanya menjadi pendengar setia saja.


"Afifa juga merasa seperti itu Abi, apa ada rencana lain Abi ya mungkin untuk memecah perhatian mereka begitu" kata Afifa.


Tampak Hamid dan yang lainnya mulai berpikir dengan keras.


"apa tidak sebaiknya kita menyerang laboratorium mereka Abi, hanya untuk mengalihkan perhatian mereka.


Tapi tunggu dulu bukannya Torres yang akan menjaga tempat tersebut jadi besar kemungkinan mereka sedang membuat rencana yang mungkin sangat besar" Afifa kembali ragu dengan apa yang dipikirkan.


"Benar sekali itu, kita tunggu saja sampai malam tiba nanti.


Sementara kita tetap dalam rencana semula sambil melihat perkembangan informasi sampai nanti malam" kata Aziel.


"Sebaiknya kita ibadah dahulu dan meminta petunjuk kepada Allah" ajak Hamid.


Mereka semua beranjak dari ruang kerja itu dan mulai melakukan rangkaian ibadah.


selesai melakukan rangkaian ibadah mereka kembali dan mulai fokus kelayar kembali.


"Oh ternyata itu hanya siasat mereka saja dengan memberikan informasi kalau mereka akan ke negara J padahal mereka akan ke markas utama mereka yang merupakan markas bayangan atau bisa kata lain markas penjebakan" kata Aziel.


"Iya kakak benar, jadi bagaimana selanjutnya" kata Reina.


"Kita lancarkan sedikit serangan aja dimarkas mereka itu dan seakan-akan kita masuk dalam jebakan mereka.


Sebaiknya jangan dari kita.


Lebih baik kita mengorbankan beberapa anak buah kita untuk ini dan katakan pada anak buah kita kalau yang menyuruhnya adalah profesor Alfaro.


Kita adu domba mereka dengan begitu akan terjadi kekacauan didalam kubu mereka dan dengan begitu mereka akan mencurigai Torres" kata Fano mengeluarkan pemikirannya.


"wah benar sekali, siasat kamu memang hebat Fano" kini Nicholas benar-benar kagum dengan kecerdasan Fano.


"Iya aku setuju dengan Fano, dan sebaiknya itu dibuat bersamaan dengan misi menyelamatkan keluarga profesor Liu dan Profesor Kitaro" Afifa ikut memberikan ide nya.


"Tapi menurutku dengan serangan yang kita lakukan di markas sesungguhnya mereka yang dipulau itu karena itu adalah jantungnya" kata Ardiansyah yang kini ikut memberikan pemikirannya.

__ADS_1


"Benar juga, kalau begitu kita lakukan aja serempak" kata Aziel yang sangat antusias itu.


"Lionel siapkan beberapa anak buahku untuk menyerang markas utama yang merupakan markas penjebakan itu dan sisanya bawalah untuk mengamankan keluarga profesor Liu dan Profesor Kitaro.


Dan sesuai dengan misi awal kamu Fano dan Ardiansyah kalian segera menyerang markas sesungguhnya mereka.


Dan yang lainnya tetap disini sesuai tugas masing-masing" perintah Hamid.


Mereka semua mengangguk dan menerima perintah Hamid.


"Ya sudah sebaiknya kita beristirahat saja karena hari ini sudah memasuki waktu Maghrib.


Kita harus tetap beribadah dan jangan sampai ditinggalkan. kita beribadah bersama sampai waktu isya' setelah itu kita makan malam dan selanjutnya kalian boleh istirahat" kata Hamid tegas.


"Baik Abi" kata mereka bersamaan.


"Ya sudah tunggu apa lagi ayo sekarang kita ke masjid" ajak Hamid.


Kini mereka semua mengikuti langkah Hamid menuju masjid.


Setelah serangkaian ibadah diselesaikan dan makan malam juga sudah dilakukan kini mereka kembali menuju kamar masing-masing.


Tampak Afifa yang kini sedang membersihkan tubuhnya yang lengket karena seharian mereka beraktifitas hingga malam.


Afifa tampak sudah keluar dari kamar mandinya dan sudah mengenakan pakaian tidurnya.


Ardiansyah kini bergantian masuk kamar mandi dan mulai membersihkan tubuhnya.


Ardiansyah yang keluar dari kamar mandi mendapati sang istri yang sudah tertidur dengan pulas nya.


Ardiansyah mendekat dan mulai membaringkan tubuhnya disamping tubuh Afifa.


Dipandanginya Wajah cantik sang istri itu dan dibelainya lembut pipi Afifa.


Tak beberapa lama Ardiansyah akhirnya ikut terlelap dan berada dialam mimpi.


Ardiansyah tidur dengan memeluk Afifa dan karena dekapan Ardiansyah Afifa semakin mengeratkan tubuhnya masuk kedalam pelukan Ardiansyah.


Kini mereka sudah tidur saling berpelukan tidak ada malam panas seperti hari-hari sebelumnya.


Hamid dikamarnya tampak belum juga memejamkan matanya.


Dia mendapat kabar kalau sang istri sedang sakit.


Mau tidak mau malam itu juga tanpa diketahui siapapun Hamid terbang menggunakan pesawat jet nya kembali kerumahnya yang beberapa hari terakhir ini ditinggalkannya.


Hanya beberapa pengawal dan penjaga yang mengetahuinya.


Hamid sudah berpesan kepada pengawal itu untuk memberitahukannya kepada anak-anaknya kalau dia kembali pulang untuk menyelesaikan sesuatu hal.


Sengaja Hamid tidak memberitahu mereka tentang Uma mereka yang kini sedang sakit itu.

__ADS_1


Hamid tidak mau mereka khawatir dan berakibat gagalnya rencana mereka.


Rencana untuk menyelamatkan umat manusia itu jauh lebih penting.


....


Keesokan hari seperti biasa Afifa sudah terbangun setelah melakukan aktifitas biasanya Afifa segera turun dan mulai membuat sarapan.


Saat sarapan telah tersaji dan semua berkumpul di meja makan tampak Afifa merasa ada yang kurang.


"Lho kemana Abi" tanya Afifa.


"Mungkin masih dikamarnya fa" jawab Reina.


"Ya sudah aku panggil dahulu ya" Afifa beranjak dan berjalan menuju kamar Hamid.


Betapa terkejutnya Afifa ketika tidak mendapati Abi nya itu.


Afifa mulai mencari kesetiap sudut ruangan tetapi tidak diketemukannya dan akhirnya Afifa kembali ke meja makan.


"Abi tidak ada disini, apa ada dari kalian yang mengetahui kepergian Abi" tanya Afifa yang tampak begitu cemas dan panik.


"Kamu minum dahulu sayang, tenangkan dirimu dulu.


Kita cari Abi bersama-sama ya" Ardiansyah berusaha menenangkan istrinya itu.


Afifa segera meminum air putih yang diberikan oleh Ardiansyah sampai habis tak bersisa.


Kini dia mulai mengatur nafas dan mencoba untuk tenang kembali.


Tak beberapa lama tampak seorang penjaga dan pengawal menghampiri mereka.


"Maaf tuan dan nyonya, tuan Hamid sudah kembali kerumahnya karena ada sesuatu hal penting yang harus diselesaikan.


Beliau semalam berangkatnya bersama beberapa pengawalnya" lapor pengawal itu.


"Oh baiklah kalau begitu, terima kasih ya" kata Ardiansyah lembut.


"Alhamdulillah ternyata Abi pulang kerumah, tapi aku masih khawatir apa sebaiknya kita telepon Abi" kata Afifa yang sedikit lega tadi.


"Biar aku aja yang telepon Abi" kata Aziel.


"Ya sudah kalau begitu, nanti kabari aku setelah Abang telepon Abi ya" pinta Afifa.


"Iya adikku yang bawel" kata Aziel.


Kini mereka mulai mengambil makanan dan langsung menyantap sarapan mereka hingga habis.


Mereka semua begitu menyukai masakan Afifa yang menurutnya sangat lezat itu.


Selesai sarapan seperti biasa mereka kembali keruang kerja itu dan mulai mengerjakan bagian masing-masing seperti sebelumnya.

__ADS_1


__ADS_2