Dokter Afifa

Dokter Afifa
Kejujuran Nicholas


__ADS_3

Sepeninggal Satriyo sang jenderal, Anna mulai membersihkan luka milik Fernando dan dengan cekatan Afifa membantu mengeluarkan peluru yang ada di kaki Fernando.


Sebelum di tutup dengan kain kasa dan perban Afifa mengoleskan obat ajaib yang beberapa terkahir ini telah ditemukannya.


Formula itu bisa menutup luka dengan sempurna dan tanpa meninggalkan bekas luka sama sekali seperti sebelumnya.


Selain itu formula itu hanya membutuhkan waktu 2 hari sudah mendapatkan hasil yang sempurna.


"Terima kasih kalian sudah merawat ku" tulus Fernando.


"Sama-sama tuan Fernando dan itu semua sudah menjadi tugas kami" kata Afifa santun.


Sementara itu jauh disebuah hutan dimana Nicholas ditawan dan dimasukkan kedalam sebuah ruangan sedang diinterogasi oleh seseorang yang tidak lain dahulu sama-sama menjadi anak buah dari profesor Alfaro.


"Kau..." Nicholas tampak sangat terkejut.


"Inilah aku, apa kamu terkejut ha" Alex hanya mencibir dan senyum sinis tipis disudut bibirnya.


"Jadi kau yang selama ini telah berkhianat kepada profesor Alfaro" selidik Nicholas.


"Aku sudah lama tidak menjadi pengikut profesor Alfaro karena aku muak dan tidak ingin melihat banyak orang yang menjadi korban.


Untung saja ada seseorang yang begitu tulus mau menolongku dari genggamannya dengan membebaskan keluargaku.


Kini keluargaku aman dan aku bisa tenang tanpa harus ada ketakutan" kata Alex.


" Sekarang bisa tidak kau lepaskan aku" kata Nicholas penuh harap.


"Maaf kalau masalah ini aku tidak bisa kawan.


Kita harus menunggu tuan Hamid dan mendengarkan keputusan apa yang nanti akan diambilnya" kata Alex yang sebenarnya tidak tega melihat Nicholas.


Alex tahu sebenarnya Nicholas adalah orang yang sangat baik namun dia terpaksa menjadi seperti itu karena sesuatu hal.


"Aku pergi dulu ya Nick, semoga tuan Hamid Abdullah mengampuni kamu.


Karena aku tahu dia orang yang sangat murah hati seperti kedua putrinya" kata Alex.


"Tunggu kedua putri, emangnya tuan Hamid memiliki anak" tanya Nicholas yang masih belum tahu kebenarannya.


"Ya iyalah, aku yakin kamu mengenalnya" kata Alex santai.


Nicholas masih berusaha berpikir siapa sebenarnya tuan Hamid Abdullah itu dan kedua putri.


"Apa kamu bisa menjelaskannya kepadaku" pinta Nicholas.


"Tunggulah sampai besok Nick, kamu pasti akan mengetahuinya.


Sebaiknya sekarang kamu istirahat dan ini obat untuk semua lukamu" kata Alex.


"Terima kasih banyak Lex" ucap Nicholas tulus.


Dikediaman Hamid Abdullah semua orang sudah kembali kekamar masing-masing termasuk sepasang suami istri yang tadi ikut dalam perkelahian sengit dengan Profesor Alfaro dan anak buahnya yaitu Ardiansyah dan Afifa.


"Sayang, sejak kapan kamu memiliki ilmu beladiri?


Setahu aku dulu kamu tidak mempunyai nya saat kamu dan Aqila bermasalah dulu.


Kamu masih ingat kan, kamu di buli seperti itu tetapi kamu tidak membalasnya" tanya Ardiansyah.


"Sebenarnya sudah sejak lama sejak aku masih kecil, tetapi aku tidak mau membalas sesuatu dengan kekerasan karena itu bukanlah aku.


Apalagi yang aku hadapi saat itu adalah sahabatku" jelas Afifa.


"Kamu memang benar-benar malaikat tanpa sayang yang berwujud bidadari" kata Ardiansyah yang memuji istrinya itu.

__ADS_1


"Kamu juga hebat hubby, kamu selain tampan, baik hati dan juga seorang yang sangat tangguh.


Aku bersyukur bisa menjadi pendamping mu" kata Afifa balik memuji suaminya.


"Seharusnya akulah yang harus bersyukur karena kamu seorang yang sempurna" kata Ardiansyah.


"Sudah-sudah nanti aku bisa besar kepala nih, yuk ah tidur by" ajak Afifa.


"Baiklah sayang. aku juga sudah sangat letih" kata Ardiansyah.


Mereka berdua mulai merebahkan tubuhnya diatas kasur yang empuk dan berukuran king size.


Dipeluknya Afifa dengan erat demikian juga Afifa yang tidur di dada sang suami.


Tak lama kemudian mereka sudah terbuai dalam mimpi indahnya.


Keesokan hari Afifa, Reina, Ardiansyah dan Hamid Abdullah berangkat bersama menuju kekantor milik Satriyo Wibowo.


Mereka sebelumnya sudah memberitahu kepada Satriyo Wibowo.


Sampai dikantor Satriyo Wibowo mereka diantarkan oleh seorang ajudan yang berada didepan.


"Silahkan tuan-tuan dan nyonya-nyonya tuan Satriyo sudah menunggu kalian semua" kata ajudan itu mengantarkan mereka hingga sampai kedepan ruangan Satriyo.


"Silahkan masuk dan silahkan duduk" Satriyo mempersilahkan tamu-tamu nya itu.


"Perkenalkan ini tuan Fiko dia adalah pimpinan departemen kesehatan.


Tuan Fiko ini adalah putra dan putri tuan Hamid Abdullah yang tadi saya ceritakan kepada Anda" kata Satriyo memperkenalkan tamu-tamu nya itu.


Mereka saling bersalaman dan memperkenalkan diri masing-masing.


"Kami hanya ingin menyerahkan formula ini semoga bisa membantu kekacauan yang terjadi di negara kita beberapa waktu belakangan ini" kata Reina yang menyerahkan formulanya itu.


"Nanti biar anak buah saya mengantarkan dalam jumlah yang sangat besar kepada departemen anda" kata Hamid Abdullah.


"Baik tuan, kami dari pihak departemen kesehatan sangat berterima kasih karena tuan sudah banyak membantu kami" tulus Fiko.


"Sama-sama, kamu tidak usah sungkan karena semua sudah menjadi tanggung jawab kami semua.


Kalau begitu sebaiknya kami permisi karena banyak tugas yang harus kami lakukan" kata Hamid Abdullah mulai berpamitan.


"Lho kenapa mesti buru-buru sih mid, gak menunggu dulu sambil kita ngobrol-ngobrol" kata Satriyo.


"Maaf sat sepertinya lain kali, kami sekarang benar-benar harus pergi karena banyak tugas yang mesti harus kami lakukan saat ini.


Dan rumah sakit juga sangat membutuhkan tenaga anak-anak ku setelah kemarin terjadi ledakan diruang laboratorium dirumah sakit tempat anak ku mengabdi" kata Hamid menolak ajakan Satriyo dengan halus.


"Baiklah kalau begitu, jangan lupa hati-hati dijalan" kata Satriyo.


"Terima kasih sat" kata Hamid.


Mereka semua bersalaman dan setelah itu Hamid dengan ketiga anaknya keluar dari kantor milik Satriyo.


"Sekarang lebih baik kita ke markas kita yang dihutan.


Banyak tugas yang harus kita kerjakan disana" kata Hamid Abdullah saat berada didalam mobil milik Afifa.


"Baik Abi" kata ketiganya serentak.


Dengan menempuh perjalanan yang sedikit jauh akhirnya mereka berempat sampai dimarkas Hamid Abdullah yang berada dihutan.


Markas itu sangat tersembunyi dan tidak akan ada orang yang bisa menembus markas itu kecuali Hamid Abdullah beserta orang kepercayaannya dan anak-anak nya itu.


Karena markas mereka memiliki banyak kecanggihan yang sangat fantastik.

__ADS_1


Markas itu seperti kasat mata dan tidak ada seorangpun bisa melihatnya selain itu tempat itu memiliki iron dome yang akan melindungi tempat itu dari serangan apapun.


Selain itu banyak kecanggihan lainnya yang ada didalam markas itu.


"Dimana tahanan kita" tanya Hamid Abdullah.


"Disana tuan" kata seorang penjaga sambil menunjukkan ruangan tempat menyekap Nicholas.


Tuan Hamid Abdullah bersama Reina memasuki tempat itu sedangkan Afifa dan Ardiansyah melihatnya dari balik dinding kaca yang tebal yang hanya tampak satu arah saja karena yang berada diruang penyekapan tidak akan bisa melihat keluar tampaknya seperti tembok besar kalau dilihat dari ruang penyekapan.


Itu salah satu kecanggihan yang ada di markas itu juga.


"Selamat siang dokter Nicholas" kata Reina menyapa nya.


"Dokter Reina, kamu disini" kata Nicholas gugup dan sambil memandang orang yang berada disebelahnya itu sambil memicingkan mata nya.


Tampak Nicholas berpikir


"Apa dia yang adalah tuan Hamid Abdullah" batin Nicholas.


"Bagaimana kabarnya dokter Nicholas" tanya Hamid Abdullah.


"Baik tuan, dan seperti yang anda lihat" kata Nicholas santun.


"Sekarang bisa kamu membantu kami" tanya Hamid lagi.


"Apa yang ingin tuan ketahui" Nicholas bertanya balik.


"Bagus sepertinya kamu bisa diajak kerjasama" kata tuan Hamid.


"Apa ada seseorang yang ada dibalik profesor Alfaro dan apa yang menjadi misi beliau.


apakah anda mengetahuinya" tanya Hamid Abdullah.


"Ada tuan beliau adalah orang berpengaruh di seluruh dunia, tetapi saya belum pernah mengetahui wajah beliau sesungguhnya karena setiap bertemu dengan kami beliau selalu mempergunakan topengnya" kata Nicholas.


"Baiklah dokter Nicholas.


Apa anda juga bisa memberitahukan kepada kami markas-markas mereka yang tersebar didunia" tanya Hamid lagi.


"Saya hanya mengetahui beberapa saja untuk lainnya saya kurang tahu" jelas Nicholas jujur.


"Kenapa anda begitu lugas menceritakan semuanya kepada kami, apa anda ingin berniat berkhianat kepada profesor Alfaro.


Bukankah Anda orang kepercayaan beliau" kata Hamid yang sedikit curiga karena Nicholas begitu mudahnya bercerita tentang profesor Alfaro tanpa harus dipaksa ataupun digertak.


Akhirnya Nicholas menceritakan kebenaran yang terjadi selama ini.


Dari pembantaian keluarganya dan hingga adiknya dibawa orang-orang profesor Alfaro sebagai tawanan agar Nicholas mau menuruti semua perintah dari profesor itu kalau tidak adiknya akan melayang di tangan profesor Alfaro.


Saat itu terjadi Nicholas sedang bertugas sebagai dokter sukarelawan disebuah desa disuatu negara yang begitu terpencil dan sangat jauh.


Tempat itu adalah seperti kota yang akan mati tetapi Nicholas dan teman-teman yang seprofesi dengannya berhasil menyembuhkan dan menemukan beberapa obat penawar dari penyakit mereka itu.


Sebenarnya Nicholas juga memiliki ilmu dalam hal pengobatan dan pengembangan suatu virus tetapi Nicholas tidak pernah mau membuat penelitian dikarenakan orang yang dihadapi adalah profesor Alfaro makanya dia menyembunyikan keahliannya itu.


"Begitulah ceritanya tuan, aku tidak tega melihat penderitaan orang walaupun aku sudah melihat penderitaan orang-orang yang lebih parah dari negara ini seperti tempat yang saya sebutkan tadi" kata Nicholas jujur.


"Baiklah kalau begitu, apakah kamu mau bekerja untuk kami. Dan aku harap kamu bisa menjaga kepercayaan kami.


Tapi sebelumnya saya akan menguji kesetiaan kamu kepada kami" kata Hamid akhirnya memiliki sedikit kepercayaan kepada Nicholas.


"Baik tuan, saya akan melakukan apa saja dengan seluruh jiwa dan raga saya.


Saya bersedia mengabdi kepada tuan walau nyawa saya sebagai taruhannya" ucap Nicholas jujur dari hatinya.

__ADS_1


__ADS_2