
Afifa dan Ardiansyah yang sudah berada dimobil segera melajukan mobilnya itu menuju kekediaman Ardiansyah.
30 menit mereka sudah sampai dikediaman Ardiansyah.
"Assalamu'alaikum" kata Ardiansyah dan Afifa yang sudah berada disamping bundanya.
Mereka segera mencium punggung tangan bunda secara bergantian.
"Wa'alaikumsalam.
Lho sudah selesai nak" tanya bunda kepada Afifa dan Ardiansyah.
"Sudah bunda" kata Afifa.
"Bunda boleh kita ke kamar bunda sebentar" kata Afifa.
"Boleh nak, emang ada apa ya" tanya bunda heran karena Afifa tiba-tiba mengajak bunda ke kamarnya.
"Ada yang mau Afifa sampaikan kepada bunda" kata Afifa.
"Ya sudah kalau begitu ayo" kata bunda menyetujuinya dan langsung mengajak Afifa ke kamarnya.
Mereka menuju kamar bunda Habibah termasuk juga Ardiansyah.
"Bunda Afifa ingin memberikan injeksi ke bunda agar bunda terhindar dari wabah virus yang sedang melanda negara kita.
Aku mohon bunda mau ya, Afifa hanya ingin bunda selamat dan selalu sehat" kata Afifa sendu.
"Baiklah nak, bunda mau" kata bunda Habibah.
Afifa akhirnya menyuntikkan formula itu dilengan bunda Habibah.
"Sudah bunda, dengan begini Afifa gak akan terlalu khawatir lagi dan bisa lebih tenang dalam berkerja nanti" kata Afifa kemudian.
Bunda Habibah memeluk calon menantunya itu.
"Bunda sangat bangga sama kamu nak, bunda sangat bersyukur dan merasa beruntung kamu sebentar lagi akan menjadi bagian dalam keluarga kami" kata bunda penuh haru melihat ketulusan yang Afifa selama ini tunjukkan kesemua orang.
"Oh ya nak bunda punya sesuatu untuk kamu" kata bunda Habibah dan berjalan menuju ke almarinya disana ada brangkas untuk menyimpan perhiasan dan barang-barang penting lainnya.
Bunda Habibah mengeluarkan satu kotak perhiasan dan menyerahkan kepada Afifa.
"Nak terimalah ini.
Ini adalah perhiasan yang diberikan secara turun temurun dikeluarga bunda.
Kamu berhak mendapatkannya.
Bunda benar-benar tidak salah memilih kamu nak" kata bundanya sambil menyerahkan perhiasan mutiara dan berlian kepada Afifa.
"Tetapi Afifa tidak bisa menerima ini semua Bun, ini pasti sangat berarti buat bunda" kata Afifa menolak dengan halus.
"Tidak nak, bunda akan sangat sedih apabila kamu akan menolaknya.
Sebenarnya ini akan bunda berikan kepadamu saat selesai acara pernikahan kalian tetapi bunda berpikir kembali dan saat inilah waktu yang tepat untuk menyerahkan ini kepadamu.
Bunda pinta disaat pernikahan kalian, kamu mau memakainya ya nak" kata bunda sambil mengusap lembut pipi Afifa.
Afifa merasa bersyukur karena selama ini dia selalu dikelilingi dengan orang-orang yang sangat tulus menyayangi nya dan begitu baik kepadanya.
"Insya Allah bunda, Afifa akan memakainya nanti.
Afifa bersyukur bisa merasakan kasih sayang bunda Habibah.
Terima kasih sudah menyayangi Afifa dengan tulus dan mau menerima Afifa apa adanya" kata Afifa sendu dan memeluk bunda Habibah.
__ADS_1
Ardiansyah yang melihat bunda nya dan calon istrinya seperti itu pun ikut berbahagia.
Dia bersyukur atas apa yang diberikan Allah kepadanya ini.
"Sudah-sudah drama nya jangan sedih-sedih lagi" kata Ardiansyah menghentikan drama yang mengharukan itu.
"Gimana selesai sholat kita ke mall aja.
Kan tadi ada sedikit halangan jadi kita lakukan aja sebentar lagi" kata Ardiansyah mengajak bunda dan Afifa.
"Boleh tuh, sekalian makan malam diluar ya" kata bunda Habibah.
"Siap bundaku tersayang" kata Ardiansyah.
Afifa yang melihat begitu sayangnya Ardiansyah dengan bunda nya merasa bahagia.
"Aku bangga denganmu kak Ardiansyah dan aku merasa beruntung mendapatkan orang sepertimu.
Kamu begitu menyayangi bunda dan keluargamu" batin Afifa dan mengembangkan sedikit senyum tipis di bibirnya.
Ardiansyah, Habibah dan juga Afifa pun turun dan melakukan sholat berjamaah di mushola yang ada di rumah Ardiansyah.
Ardiansyah menjadi imam dalam sholatnya itu.
Afifa begitu mengagumi bacaan ayat-ayat suci Al-Qur'an yang dibaca oleh Ardiansyah begitu merdu terdengar.
Setelah selesai beribadah mereka pun berangkat menuju mall yang terbesar di kota itu.
Tak lama kemudian mereka sudah berada di mall yang besar.
Mall itu tampak sepi pengunjung karena banyak Masyarakat yang terpapar virus itu jadi tidak banyak pengunjung disana.
Nicholas yang kebetulan berada di mall itu melihat kebersamaan dokter Afifa dan Ardiansyah timbul rasa sakit yang mendalam dihatinya.
Dia mengepalkan tangannya dan menatap tajam kearah mereka dari kejauhan.
Afifa, Ardiansyah dan bunda menuju ke salah satu toko yang menjual tas branded dan sepatu branded.
Bunda dan Afifa memilih-milih tas sedangkan Ardiansyah duduk diruang tunggu yang ada di toko itu.
Ardiansyah hanya mengamati kedua orang yang sangat dicintainya itu memilih tas-tas dan sepatu-sepatu yang diinginkannya.
Tanpa sepengetahuan siapapun Nicholas terus membuntuti mereka kemanapun pergi dari kejauhan.
Habibah dan Afifa sudah selesai memilih tas dan sepatu yang akan mereka beli dan kemudian menuju kasir.
Ketika Afifa hendak membayar tiba-tiba Ardiansyah mencegahnya dan langsung memberikan black card miliknya kepada pelayan toko itu.
"Lho kak biar aku bayar sendiri" kata Afifa.
"Tidak ada penolakan, aku tidak mau mendengar penolakan dari kamu" kata Ardiansyah tegas.
"Benar apa yang dikatakan sama Syah nak, bunda juga gak mau kamu menolaknya.
Kalau kamu menolak bunda jadi sedih" kata bunda Habibah yang berpura-pura bersedih itu
Afifa mau tidak mau harus menerima itu, selain itu dia juga tidak ingin berdebat hanya karena masalah sepele dengan Ardiansyah, dia juga tidak ingin bunda Habibah bersedih.
Setelah belanja tas dan sepatu mereka menuju ke salah satu butik yang terkenal dan ternama.
Afifa yang bergandengan dengan bunda memasuki butik itu sedangkan Ardiansyah mengekorinya dari belakang.
Ketika bunda dan Afifa sedang asyik memilih baju tiba-tiba Ardiansyah mendapat telepon penting dari Fernando.
Ardiansyah pun sedikit menjauh dari Afifa dan juga bunda dan tanpa sepengetahuan Ardiansyah, Nicholas menyelinap masuk dan disaat yang tepat dia menarik Afifa dan kemudian membekap Afifa.
__ADS_1
Afifa berusaha melawan tetapi sia-sia karena kedua tangan dan mulutnya dikunci oleh Nicholas.
Dan saat itu Habibah melihat Afifa yang dibawa oleh seorang lelaki.
Habibah pun berteriak memanggil putra nya.
Ardiansyah yang mendengar teriakan bundanya pun segera berlari menuju bundanya dan mengakhiri panggilan dari Fernando.
"Bunda kenapa berteriak, apa yang terjadi" tanya Ardiansyah panik dan berusaha menenangkan bundanya itu.
"Afifa Syah dia dibawa oleh seorang laki-laki dan menuju kesana" kata bunda nya.
"Berani benar tuh orang menculik Afifa ditempat umum seperti ini" kata bundanya itu.
Ardiansyah pun mengejarnya kearah yang ditunjukkan oleh bunda nya itu.
Saat Nicholas lengah Afifa pun memberontak dan berhasil lepas dari bekapan Nicholas.
Dengan gerakan lincah Afifa menendang Nicholas dan berusaha melawan nya.
Nicholas yang melihat Afifa bisa beladiri pun terkejut.
"Bagaimana bisa Afifa bisa bela diri setahu aku Afifa adalah sosok yang lembut dan kelihatan sangat rapuh tetapi yang aku lihat sungguh diluar dugaan ku" batin Nicholas.
Afifa dan Nicholas terlibat baku hantam.
Akhirnya Nicholas dihajar habis-habisan oleh Afifa dan dengan muka yang menyedihkan dia melarikan diri dan pergi menuju mobilnya.
Saat Nicholas sudah pergi baru Ardiansyah datang menghampiri Afifa.
Ardiansyah melihat disudut bibir Afifa sedikit terluka dan mengeluarkan darah tetapi itu hanya luka kecil saja.
"Kamu tidak apa-apa fa" tanya Ardiansyah
"Tidak apa-apa kok kak. Afifa baik-baik saja hanya sedikit luka kecil aja" kata Afifa sambil mengusap bibirnya yang sedikit berdarah itu.
"Siapa yang tega melakukannya padamu dan terus orangnya kemana" tanya Ardiansyah begitu khawatir.
"Tenang kak, Afifa sudah menyingkirkan Orang itu.
Kakak tidak usah khawatir.
Afifa baik-baik saja kok" kata Afifa kepada Ardiansyah agar tidak mengkhawatirkan nya.
"Kenapa aku terlambat datang, seandainya aku tidak terlambat datang pasti aku hajar orang itu sampai mati" batin Ardiansyah.
Ardiansyah masih terus berpikir siapa yang sudah membantu Afifa dan kemana perginya orang yang sudah menyekap Afifa.
Andai saja dia tidak terlambat tadi.
Apakah orang suruhan Abi ya yang sudah membebaskan Afifa dari dekapan orang itu.
"Ayo kak, pasti bunda mencari kita.
Aku tidak mau terjadi apa-apa sama bunda kak" ajak Afifa mengalihkan perhatian Ardiansyah yang kelihatan sedang berpikir keras.
Memang Ardiansyah selama ini tidak mengetahui kalau Afifa bisa bela diri.
Mereka berdua pun berjalan beriringan menuju ke bunda nya.
Bunda yang khawatir melihat Afifa langsung berlari.
"Fa kamu tidak apa-apa nak" kata bunda panik sambil memegangi wajah Afifa.
"Bunda tidak usah khawatir ya, Afifa baik-baik saja kok Bun.
__ADS_1
Hanya luka kecil aja kok Bun paling sebentar lagi juga sembuh" kata Afifa mencoba menghilangkan ke khawatiran bunda Habibah.