
Mereka semua keluar dari ruang kerja Hamid Abdullah dan kembali beraktivitas.
Afifa berjalan beriringan dengan suami tercintanya.
Ketika sudah sampai di teras depan Ardiansyah hendak berpamitan dengan istri tercintanya.
"Sayang aku kekantor dahulu ya bersama Fano" kata Ardiansyah sambil menunjuk kearah Fano yang sudah beberapa menit lalu menunggu Ardiansyah didalam mobil.
"Iya hubby..... eh tunggu by apa boleh aku ikut kekantor hubby.
Aku lagi jenuh dirumah nih by.
please boleh ya hubby" kata Afifa sedikit manja.
"Ih istriku bisa manja juga ya" kata Ardiansyah sambil menowel ujung hidung sang istri.
"Ya bisa dong hubby kan sudah halal jadi gak apa-apa kan manja sama suami sendiri" kata Afifa sambil tersenyum dan mengedipkan mata kirinya.
"Eh... eh.... eh.... mulai genit ya" kata Ardiansyah gemas melihat istrinya seperti itu.
Ada rasa bahagia dan bangga karena Afifa memperlihatkan sisi lainnya hanya pada dirinya saja.
"Ya sudah ayo sayang kita berangkat, kasian Fano sudah nunggu dari tadi" ajak Ardiansyah.
"Oke hubby ku sayang, tetapi kita bawa mobil sendiri saja by ya" kata Afifa.
"Iya sayang, biar aku beritahu Fano dahulu ya sayang" kata Ardiansyah.
Ardiansyah menuju ke mobil Fano dimana Fano sudah menunggunya sejak dari tadi.
Sedang Afifa langsung masuk ke mobil milik Ardiansyah dan duduk manis samping kursi pengemudi sambil menunggu Ardiansyah berbicara dengan Fano.
Tak lama kemudian Ardiansyah pun masuk dikursi kemudi mobilnya.
"Sudah siap sayang, kita berangkat ya" kata Ardiansyah.
Afifa hanya menganggukkan kepalanya dan terlihat menggemaskan bagi Ardiansyah.
Tiba-tiba Ardiansyah menarik lembut kepala sang istri dan mencium keningnya.
"Ih by, malu dilihat orang" kata Afifa merajuk dengan mengerucutkan bibirnya.
Dan saat itu Ardiansyah langsung mengecup lembut bibir Afifa sekilas.
"Kamu kalau merajuk gitu menggemaskan deh sayang.
Apa kita pergi ke suatu tempat aja deh sayang dan aku akan membolos kerja hari ini" kata Ardiansyah.
Afifa yang mengerti maksud sang suami langsung berbicara
"No by, kamu tidak boleh bolos kerja.
Jangan mentang-mentang perusahaan itu punya kamu ya, kamu bisa seenaknya bolos kerja" kata Afifa dengan berlagak akan marah ke Ardiansyah.
"Habis kamu nya gitu aku kan jadi pengen bersenang-senang dengan kamu sayang" kata Ardiansyah.
"Mulai deh hubby, jangan coba-coba lho ya by" kata Afifa memperingatkan.
"Iya... iya... sayang.
Ya dah kita berangkat kekantor saja" akhirnya Ardiansyah menyerah.
Ardiansyah melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang membelah jalanan kota itu.
Afifa menyandarkan kepalanya di bahu suaminya yang sedang menyetir.
"Sayang gimana kalau selesai masalah profesor Alfaro, kita rencanakan honeymoon" usul Ardiansyah.
"Wah boleh tu by, aku mau deh.
Ya sekalian kita mengistirahatkan sejenak pikiran kita dari rutinitas yang sangat melelahkan" kata Afifa yang sangat antusias.
__ADS_1
"Enaknya kita kemana ya sayang" kata Ardiansyah.
"Terserah hubby deh, pokoknya Afifa pengen tempatnya yang jauh dari keramaian" kata Afifa santai.
"Kok terserah aku sih sayang" kata Ardiansyah protes.
"Aku lagi gak ada rekomendasi tempat yang bagus buat honeymoon deh by.
Jadi aku pasrahkan pada suamiku tercinta ini, aku akan menurut dan akan mengikuti setiap langkahmu" kata Afifa sok puitis.
"Hmmm kata-kata kamu sweet banget sih sayang.
Terima kasih ya" kata Ardiansyah.
"Ya sudah nanti aja kita pikirkan ya sayang. Sekarang ayo kita turun karena kita sudah sampai didepan kantorku" kata Ardiansyah yang memang mobilnya sudah berhenti di pelataran kantor nya.
Mereka berjalan bersama dan Ardiansyah menggandeng tangan istrinya itu.
Semua mata tertuju kearah Ardiansyah dan Afifa.
Banyak karyawan-karyawan yang membicarakannya dibelakang.
"Tumben-tumbenan si bos bawa wanita kekantor.
Dah gitu digandeng pula.
Mereka kelihatan sweet banget ya" kata salah satu wanita yang menjadi karyawan paling lama disana.
"Iya juga sih, apa jangan-jangan dia kekasih si bos ya" kata lainnya menimpali.
"Cantik, anggun, dan sholikha lagi. Benar-benar istri idaman deh" kata karyawan pria ikut menimpali karyawan wanita tadi.
"Ehemmm " wakil direktur berdehem kepada karyawan yang sedang bergerumbul membicarakan sang bos.
Saat mereka melihat arah deheman itu satu persatu karyawan meninggalkan tempat bergerumbul ya mereka tadi.
Setelah melihat gerombolan karyawan itu menghilang wakil direktur itu segera masuk lift dan menuju keruangan nya yang ada dilantai atas.
Afifa dan Ardiansyah sudah sampai didepan pintu ruangan Ardiansyah.
Ardiansyah dan Afifa masuk keruangan itu.
"Sudah lama kamu fan" tanya Ardiansyah yang mengejutkan Fano yang sedang melamun itu.
"Kamu Syah buat aku kaget aja.
Ya lumayan sih" kata Fano.
Ardiansyah dan Afifa duduk disofa bersebelahan.
"Oh ya Fan, sekarang gimana keadaan dokter Anwar" tanya Ardiansyah.
"Tenang Syah dia masih kami sekap dimarkas kita" kata Fano.
"Ya sudah kalau begitu jangan sampai dia kabur, bisa merusak rencana kita nantinya" kata Ardiansyah.
"Oh ya by, ngomong-ngomong gimana kalau kita menyusup ke pabrik itu" kata Afifa.
"Itu memang sudah menjadi rencana kami fa, tapi kami masih menunggu waktu yang tepat buat menjalankan nya" kata Fano.
"Iya sayang, kami masih menunggu waktu terbaik untuk itu" kata Ardiansyah membenarkan pernyataan Fano.
"Cuma yang menjadi kendala kita adalah bagaimana caranya menangkap profesor Alfaro yang menyamar jadi dokter Rio itu. Sedangkan bukti kita hanya itu-itu aja takutnya lemah Dimata hukum" kata Fano.
"Aku rasa bukti pernyataan Anwar cukup kuat kak, tapi memang kita harus punya bukti yang lebih kuat untuk membuktikan kebenaran ini" kata Afifa.
"Ya itu yang aku maksud fa" kata Fano menimpali.
"Kita tunggu hasil pembicaraan nanti malam aja bagaimana" tanya Ardiansyah.
"Boleh tuh by, sekalian nanti orang suruhan tuan Fernando yang akan menggantikan obat itu sekalian suruh menaruh cctv yang sangat kecil dan tidak terlihat biar bisa jadi bukti tentang profesor Alfaro" kata Afifa mengemukakan pemikirannya.
__ADS_1
"Wah bener tuh, aku setuju banget sama pemikiranmu sayang" kata Ardiansyah.
"Setelah rencana itu berjalan sebaiknya kita menyusup lagi ke pabrik milik profesor Alfaro.
Dan kita hancurkan laboratorium pembuatan virus itu" kata Fano.
"Seperti nya memang harus seperti itu Fan, karena kalau kita melakukannya sebelum rencana penggantian obat yang merupakan virus terbaru itu dengan formula yang bisa menyembuhkan" kata Ardiansyah.
"Oh ya by, kan jaringan profesor Alfaro kan gak hanya di negara kita tetapi sudah mencakup seluruh dunia juga kan.
Apa tidak sebaiknya kita juga mencari jaringan internasional mereka karena aku merasa ada sedikit ganjalan deh" kata Afifa.
"Ganjalan apa maksudmu sayang" tanya Ardiansyah.
"Aku merasa profesor Alfaro ini juga merupakan boneka suatu penguasa yang menguasai dunia hitam misalnya" kata Afifa.
"Bisa juga sayang, karena mereka seakan terkoordinasi banget bekerjanya" kata Ardiansyah memberikan pemikirannya dan juga membenarkan atas pemikiran Afifa.
"Nah itu yang aku maksudkan juga kemarin Syah.
Sepertinya kita harus mendekati dokter Nicholas deh Syah untuk mencari informasi kan setahu kita dokter Nicholas sebelumnya bekerja disalah satu negara yang paling berkuasa di dunia" kata Fano
"Kalau menurutku sebenarnya dokter Nicholas itu orang yang baik deh, cuma dia punya alasan tersendiri sampai dia bisa jadi pengikut dari profesor Alfaro" kata Afifa.
"Sayang, kamu kok seakan membela dokter Nicholas ya. Atau jangan-jangan kamu...." kata Ardiansyah mengambang tak diteruskan.
"Apa maksud kamu sih by" kata Afifa sarkastik sedikit tersulut emosi.
Dan beberapa detik Afifa langsung beristighfar untuk menenangkan emosinya.
"Maaf sayang, aku gak bermaksud apa-apa" kata Ardiansyah akhirnya menyesal atas ucapannya yang sudah menyinggung perasaan Afifa.
"Lagian kamu Syah sudah tahu Afifa itu adalah milikmu, kenapa sampai kamu cemburu gitu" kata Fano menyalahkan Ardiansyah.
"Maaf sayang, aku memang selalu cemburu kalau berhubungan dengan dokter Nicholas itu" kata Ardiansyah jujur mengakui apa yang dirasakan dengan wajah yang sedikit ditekuk.
"Sudah-sudah, aku mengerti kok by, aku juga minta maaf karena aku tidak peka dengan perasaan kamu" kata Afifa.
"Tetapi sekali lagi aku mohon kalau kita sedang membicarakan masalah seperti ini lagi, jangan sampai melibatkan perasaan ya hubby. Takutnya nanti kita gak bisa berpikir secara realistis" kata Afifa melanjutkan dan meminta pengertian Ardiansyah.
"Iya sayang" kata Ardiansyah.
"Percaya deh by sama aku, aku tidak akan pernah meninggalkanmu.
Apa kamu tahu selama beberapa tahun aku bisa menjaga cintaku hanya untuk kamu kenapa aku tidak bisa menjaganya hanya karena seorang dokter Nicholas ya kan" kata Afifa mencoba meyakinkan suaminya itu.
"Iya benar juga kamu sayang, maafkan aku yang cemburu buta sama kamu. Lain kali tidak aku ulangi lagi deh" kata Ardiansyah yang sedikit lega dengan pernyataan dari Afifa.
"Aku sudah menjadi milikmu dan selamanya akan tetap seperti itu hubby ku sayang" kata Afifa sambil mengedipkan matanya mencoba menggoda sang suami.
"Ehemmm" Fano pun berdehem untuk menghentikan Afifa dan Ardiansyah yang mulai akan memperlihatkan kemesraannya didepannya yang lagi jomblo itu.
"Please deh, kalian kalo mesra-mesraan jangan didepan para jomblowan gini dong.
Bikin aku miris aja deh" Rajuk Fano.
"Hehehe Maaf kak Fano" kata Afifa.
"Makanya kamu sana segera cari istri biar bisa mesra-mesraan deh seperti kita" kata Ardiansyah semakin meledek.
"Mulai deh kamu Syah.
Lagian gimana coba aku dapat pasangan kamu nya selalu kasih aku banyak tugas gini" kata Fano tak mau kalah.
"Apa perlu aku carikan pendamping hidup nih" kata Ardiansyah lagi.
"Gak perlu Syah, terima kasih" kata Fano menolak dengan nada sinis nya.
"Sudah-sudah jangan ribut lagi. Sekarang lebih baik kita cari makan siang aja. Perutku dah berdemo nih minta diisi" kata Afifa melerai perdebatan sang suami dengan sahabatnya itu.
"Ya sudah ayo kita makan diluar aja gimana" kata Fano.
__ADS_1
"Boleh juga tuh, ayo kalo gitu" kata Ardiansyah membalas ucapan Fano.
Mereka bertiga pun akhirnya keluar karena saat itu sudah menunjukkan jam makan siang.