
Tak terasa sudah tiga hari Afifa dirawat dirumah sakit dan kini kondisi Afifa sudah benar-benar pulih dan putra mereka tampak semakin gemuk dan sehat.
Saat ini kunjungan dokter diruangan rawat inap Afifa.
"Dok apakah istri saya sudah boleh pulang sekarang" tanya Ardiansyah kepada dokter yang baru saja selesai memeriksa istrinya itu.
"Boleh tuan dan saya rasa dokter Afifa sudah benar-benar pulih dan sehat.
Sebaiknya tuan segera menyelesaikan administrasi nya dan dengan begitu tuan dan dokter Afifa bisa segera kembali kerumah kalian" kata dokter itu lembut.
"Baiklah kalau begitu dok, saya akan segera menyelesaikannya" jawab Ardiansyah.
Segera Ardiansyah keluar dari ruangan itu dan segera menuju loket administrasi untuk membayar biaya perawatan Afifa dan putranya itu.
"Sayang aku tinggal sebentar ya.
Apa kamu tidak apa-apa aku tinggal sendiri" pamit Ardiansyah sebelum pergi.
"Pergilah hubby, aku baik-baik saja kok" kata Afifa.
Kini Afifa sendiri diruangan nya sambil memangku putranya yang sangat tampan itu.
"Sayang, apakah kamu bahagia.
Semoga kelak kamu bisa menjadi orang yang sangat bijaksana, kuat, tegas dan menuruni semua kemampuan uma ya nak.
Dan Uma harap kamu bisa menjadi anak yang Sholeh dan selalu membantu orang yang sangat membutuhkan bantuan mu.
Aamiin..." doa Afifa sambil menciumi putranya itu.
Bayi tampan itu tersenyum dan membuka matanya lebar-lebar.
Afifa yang melihat itu begitu gemas sekali.
"Apa kamu mendengarkan Uma nak" tanya Afifa.
Bayi itu tersenyum dan seakan menanggapi semua ucapan Afifa.
"Anak baik" kata Afifa.
Afifa tampak sangat menikmati perbincangannya dengan putranya itu sampai-sampai dia tidak menyadari kalau Uma Aisyah dan Abi Arsyad sedang berkunjung menjenguknya.
"Assalamu'alaikum fa, apakah kamu sudah merasa baikan" tanya Aisyah.
"Uma, Abi.
Alhamdulillah Uma dan hari ini Afifa sudah diperbolehkan pulang" yang sedikit terkejut dengan kedatangan Uma Aisyah dan Abi Arsyad.
"Benarkah, syukurlah kalau begitu" kata Aisyah yang sangat bahagia dengan kabar itu.
"Biar Uma akan membereskan barang-barang kamu agar kita bisa segera pulang.
__ADS_1
Oh ya, dimana suami kamu kok Uma tidak melihatnya.
Apakah suamimu sedang pergi bekerja fa" tanya Aisyah lagi.
"kak Ardiansyah sekarang sedang menyelesaikan administrasinya Uma, mungkin sebentar lagi dia akan kembali" jawab Afifa dan bertepatan dengan kedatangan Uma Hamida, bunda Habibah dan Abi Hamid.
Tak lupa juga Anna, Aziel, Reina dan juga Fano yang tampak hadir juga menjenguk Afifa.
"Assalamu'alaikum" semua memberi salam saat memasuki ruangan Afifa dan hampir bersamaan.
"Sudah lama kamu adikku" tanya Hamid saat melihat Aisyah dan suaminya itu.
"Baru saja sampai bang" jawab Arsyad.
"Oh ya kebetulan sekali ya kalau begitu" kata Hamid.
"Fa kemana Ardiansyah kok aku tidak melihatnya" tanya bunda Habibah yang saat itu mengetahui anaknya sudah tidak ada disisi menantunya dan cucunya itu.
"Kak Ardiansyah sedang mengurus semu administrasi kami bunda, mungkin sebentar lagi dia pasti kembali" jawab Afifa.
Walaupun rumah sakit itu adalah milik keluarganya tidak membuat Afifa dan Ardiansyah melalaikan kewajibannya untuk membayar semua biaya perawatan.
Mereka tetap membayarnya seperti orang lain pada umumnya.
Karena mereka tahu uang hasil dari pembayaran itu digunakan untuk kesejahteraan karyawan dan juga untuk meningkatkan kualitas dan peralatan dalam rumah sakit itu sendiri.
"Kenapa mesti kamu membayar sih fa, kan rumah sakit ini milik Abi" kata Reina.
Semua yang mendengarnya begitu kagum dengan apa yang diucapkan oleh Afifa.
Sesosok wanita yang sederhana dan tetap saja bersahaja walaupun bergelimang harta.
Reina yang mendengar ucapan Afifa langsung terdiam.
"Benar juga apa yang dikatakan Afifa" batin Reina karena merasa malu dengan sikapnya itu.
Tak lama kemudian Ardiansyah sudah kembali keruangan dimana Afifa dirawat.
"Abi, Uma, bunda dan semua nya.
Ternyata kalian sudah ada disini" Ardiansyah tampak sedikit terkejut melihat kedatangan semua keluarganya itu.
"Bagaimana Syah, apa sudah selesai semua" tanya Hamid.
"Alhamdulillah sudah selesai Abi, Dan aku juga sudah keruang dokter juga sudah mengambil resep obat untuk Afifa" kata Ardiansyah.
"Ya sudah kalau begitu sebaiknya kita pulang sekarang saja.
Apa kalian tidak ingin tinggal dirumah Abi Syah, fa" Hamid mengajak dan sekaligus memberi pertanyaan.
"Kami langsung pulang kerumah saja Abi" kata Afifa langsung menjawab pertanyaan Hamid.
__ADS_1
"Ya sudah kalau itu sudah menjadi keinginan kalian.
Biar kami nanti yang akan sering berkunjung untuk menjumpai cucu kami" kata Hamid yang sebenarnya ingin anak, cucu dan menantunya tinggal kembali kerumahnya.
"Iya Abi, terima kasih sudah mengerti" kata Afifa.
"Biar Uma sama bunda nanti yang akan tinggal bersama kalian membantu kamu untuk merawat si kecil" kata Hamida.
"Terima kasih Uma" jawab Afifa.
"Barangnya sudah dikemas semua kita bisa langsung pulang sekarang" kata Habibah di sela-sela perbincangan menantu dan besannya itu.
Kini semua pun beranjak dan hendak pulang kerumah Afifa.
Putra Afifa digendong oleh Uma Aisyah yang sejak kedatangannya tidak sedikitpun ingin berpisah dengan bayi itu.
"Aisyah berikan padaku, kasihan kamu sepertinya terlihat kecapekan" pinta Uma Hamida lembut.
"Tidak apa-apa kak, aku sangat senang bisa menggendongnya" jujur Aisyah.
Hamida merasa tak enak hati ingin meminta secara terang-terangan itu.
Dia sebenarnya ingin sekali menggendong cucu nya itu.
Tidak hanya Hamida saja yang merasakan hal itu tetapi Habibah juga merasakan seperti apa yang dirasakan oleh Hamida.
Kini mereka semua sudah masuk di dalam mobil.
Ada 4 mobil beriringan menuju ke mansion Afifa dan Ardiansyah.
Sesampai disana mereka disambut oleh semua asisten rumah tangga baik laki-laki ataupun perempuan termasuk juga sopir , penjaga kebun dan para pengawal juga penjaga.
Mereka semua sangat antusias dengan kedatangan Afifa dengan putra kecilnya.
"Selamat datang kembali dirumah nyonya Afifa" teriak semua orang yang ada disana.
"Terima kasih semuanya" Afifa menangis terharu dengan sambutan para asisten, penjaga dan pengawal itu.
Setelah itu mereka semua masuk kedalam mansion.
Diruang keluarga sudah tersedia banyak camilan yang terhidang diatas meja.
"Wow banyak sekali camilan disini, tumben-tumbenan tidak seperti biasanya" kata Reina yang sangat senang karena banyak cemilan yang merupakan cemilan favoritnya.
Dengan segera Reina membuka semua tutup dari cemilan tersebut dan mulai memakannya.
"Rein, kau itu baru masuk langsung aja ngemil" kata Aziel kepada adiknya.
Hamid dan yang lainnya hanya menggelengkan kepalanya melihat kelakuan Reina.
"Biarin bang, habis semuanya adalah makanan favorit aku.
__ADS_1
Jadi apa salahnya" jawab Reina cuek.