Dokter Afifa

Dokter Afifa
penyelidikan Anna dan dokter Ridwan


__ADS_3

Afifa menuju ke bawah tepatnya ke dapur.


Dia hendak menyiapkan sarapan buat suaminya meskipun ruang gerak nya terbatas tetapi setidaknya dia ikut membantu ART dan Uma nya menyiapkan sarapan pagi.


Ardiansyah sepeninggal Afifa langsung bergegas menuju kamar mandi.


Setelah 15 menit akhirnya Ardiansyah menyelesaikan rutinitas mandinya itu dan segera mengganti bajunya.


Dia melihat didepan cermin setelah dirasa sudah rapi dan sopan Ardiansyah pun akhirnya menuju ke bawah dan mulai mencari keberadaan istrinya itu.


Sesampai dibawah Ardiansyah menuju meja makan karena dia melihat keberadaan istrinya disana.


Semua ternyata sudah berkumpul di meja makan dan sudah dengan memakai baju rapi dan sopan.


Ardiansyah duduk disebelah Afifa.


Setelah mengambil makanan semua makan dengan tenang.


Beberapa menit akhirnya mereka semua sudah selesai makan.


"Maaf sebelumnya Afifa harap semua berkumpul disini sampai semua mendapat kan injeksi dari formula yang Afifa dan Reina temukan" Afifa berkata untuk memecahkan keheningan sesaat seusai sarapan pagi tadi.


"Betul apa yang dikatakan Afifa, formula itu akan melindungi kita dari berbagai macam virus yang mengancam kesehatan kita" kata Reina melanjutkan ucapan Afifa memberikan kejelasan tentang formula yang telah mereka berdua temukan.


"Baiklah kalau begitu" kata Abi Hamid dan semua hanya mengangguk saja mananggapi ucapan Afifa dan juga Reina.


"Kalau begitu Afifa mohon Abang Aziel mengantarkan Anna untuk mengambilnya" kata Afifa meminta tolong abangnya.


"Baiklah adikku tersayang" kata Abang Aziel sambil membungkuk dan meletakkan satu tangannya di dada.


Sontak yang melihat kekonyolan Aziel jadi tertawa.


"Ih Abang nih ya ada-ada saja deh" kata Reina dengan senyum tipis mengejek.


"Ya sudah aku berangkat dulu bersama Anna" kata Abang Aziel.


"Yuk sayang kita berangkat dahulu" kata Aziel mengajak calon istri nya.


Sontak Anna yang mendengar jadi malu-malu dan mukanya merah merona.


"Cie... cie... yang lagi kasmaran nih. Inget bang masih belum muhrim tuh" ledek Reina.


"Ih, bilang aja iri" kata Abang Aziel membalas meledek Reina.


Reina yang mendengar balasan abangnya sangat kesal dan menghujani abangnya dengan pukulan ringan di lengannya.


"Sudah-sudah selalu saja debat kayak anak kecil aja gak malu apa, Aziel kamu berangkat aja sana kasian nanti lainnya kelamaan menunggu" kata Abi Hamid melerai perdebatan kedua anaknya dan memberi perintah tegas kepada putranya itu.


"Baik Abi" kata Aziel dan langsung berjalan menuju mobil nya diparkir diikuti oleh Anna.


Sepeninggal Aziel dan Anna semua berkumpul di ruang keluarga mereka bercengkrama dan mengobrol ringan.


Tak beberapa lama Dokter Ridwan datang.


"Permisi tuan ada dokter Ridwan didepan" kata salah satu ART milik Hamid Abdullah.


"Suruh saja langsung masuk" kata Hamid.

__ADS_1


Dokter Ridwan pun masuk.


"Assalamu'alaikum.


Maaf saya terlambat datang tuan" kata dokter Ridwan


"tidak apa-apa dok, mari sini duduk bersama" kata Hamid.


"Sebelumnya saya akan memeriksa nona Afifa dulu tuan" kata dokter Ridwan.


"Silahkan dok, disini apa dikamarnya saja" tanya Hamid.


Karena kebetulan Afifa sedang bergabung dengan keluarga yang lainnya.


"Lebih baik dikamarnya saja tuan, karena saya akan memeriksa luka nya" kata dokter Ridwan.


Akhirnya Afifa dibantu dengan suaminya dan juga Reina berjalan menuju ke kamar Afifa dengan diikuti dokter Ridwan dari belakang.


Setelah sampai dikamarnya Afifa segera diperiksa.


Dibukanya perban yang membalut luka tembak Afifa.


"Sepertinya lukanya sudah menutup untuk itu mulai besok saya harap nona mulai belajar untuk menggerakkan lengan kiri nona biar bisa segera pulih" kata dokter Ridwan.


"Terima kasih dok" kata Ardiansyah tulus.


"Sama-sama tuan muda" kata dokter Ridwan menimpali.


Dokter Ridwan pun mengganti perban yang membalut luka tembak di lengan kiri Afifa dengan kain kasa baru.


Sekarang ganti dokter memeriksa Reina


"Semua berkat dokter kami disini bisa cepat pulih.


Terima kasih dokter Ridwan" kata Reina.


"Sama-sama nona" jawab dokter Ridwan.


Setelah selesai memeriksa dokter pun pamit undur diri.


Sampai dibawah dokter pun segera menghadap kepada tuan Hamid.


"Bagaimana keadaan kedua putri saya dok" tanya Hamid ketika dokter Ridwan sudah berada dihadapannya.


"Sejauh ini perkembangannya sungguh sangat pesat tuan, semua jauh diluar perkiraan saya.


Nona Afifa dan nona Reina benar-benar hebat karena jauh dari prediksi saya.


Nona Reina sudah sembuh total sedangkan nona Afifa butuh latihan untuk menggerakkan tangan kiri nya" Kata dokter Ridwan.


"Oh ya tuan ada yang ingin saya bahas dengan tuan ini mengenai rumah sakit tuan" kata dokter Ridwan selanjutnya.


"Baiklah kalau begitu mari kita menuju ke ruang kerja saya saja" ajak Hamid.


Dokter Ridwan pun mengikuti langkah kaki Hamid Abdullah menuju keruang kerja nya.


"Silahkan duduk dok" kata Hamid setelah sampai diruang kerjanya itu.

__ADS_1


Dokter Ridwan pun duduk berhadapan dengan Hamid Abdullah.


"Apa yang ingin kamu sampaikan dok" kata Hamid.


"Begini tuan, sekarang keadaan rumah sakit semakin kacau. Banyak nyawa orang-orang yang tidak berdosa menjadi korban.


Penelitian yang dilakukan oleh dokter Rio tidak membuahkan hasil malah semakin menambah korban bergelimpangan.


Dokter Syahrir pun mulai bertingkah seakan dia adalah pemegang kendali.


Mungkin sebaiknya segera ditindak tuan sebelum banyaknya korban berjatuhan" kata dokter Ridwan menjelaskan hasil penyidikan nya kepada Hamid Abdullah.


"Baiklah kalau begitu besok kamu kesini lagi dan kita mulai membuat rencana dan langkah apa yang harus kita lakukan" kata Hamid kepada orang kepercayaannya itu.


"Ya sudah sekarang kamu bisa melanjutkan penyidikan mu lagi, besok jangan lupa datang kemari" kata Hamid Abdullah menyudahi pembicaraannya dengan dokter Ridwan.


Dokter Ridwan pun keluar dari ruangan kerja Hamid Abdullah dan langsung kembali kerumah sakit untuk kembali melakukan penyidikan.


Setelah kepergian dokter Ridwan tidak beberapa lama Anna dan Aziel pun datang.


Anna segera memberikan injeksi kepada seluruh anggota keluarga kecuali Ardiansyah dan bundanya.


Setelah selesai Hamid mengajak Anna dan Aziel untuk kekamar Afifa guna untuk membicarakan tentang rumah sakit.


Sekarang dikamar Afifa telah berkumpul Hamid Abdullah, Aziel, Anna, Reina, Ardiansyah dan juga Afifa sendiri pastinya.


"Abi mendapat laporan dari dokter Ridwan kalau keadaan rumah sakit sekarang semakin kacau.


Banyak orang tak berdosa harus meredam nyawa.


Penelitian dokter Rio ternyata tidak membuahkan hasil malah semakin memperparah keadaan.


Sekarang menurut kalian harus bagaimana" kata Abi Hamid menjelaskan kepada anak-anaknya dan meminta pendapat mereka.


"Sebenarnya Anna curiga dengan dokter Rio Abi,


Anna merasa kalau dokter Rio itu adalah profesor Alfaro.


Dari hasil penyidikan, Anna melihat ada kejanggalan" kata Anna.


"Kejanggalan apa yang kamu maksud nak" tanya Abi dan yang lainnya menyimak setiap ucapan anak dengan serius.


"Begini Abi Anna lihat banyak dokter yang tunduk terhadap perintah dari dokter Rio.


terutama dokter Syahrir, dokter Nicholas, dokter Anwar dan beberapa dokter lainnya.


Selain itu mereka terlihat sering mengadakan pertemuan rahasia didalam rumah sakit" jelas anna.


"untuk saat ini Abi tidak bisa melibatkan Afifa dan juga Reina karena kondisi mereka yang belum stabil.


Saya harap Aziel, Anna dan Ardiansyah untuk menanganinya sementara waktu sampai Afifa dan Reina benar-benar sembuh" kata Abi.


"Baik Abi" kata mereka hampir bersamaan.


"ya sudah kalau begitu kalian laksanakan sekarang.


Besok kembali Kita akan membuat strategi baru lagi" kata Abi Hamid menyudahi percakapan mereka.

__ADS_1


Mereka pun akhirnya mulai menjalankan tugas seperti yang diperintahkan oleh Abi Hamid.


__ADS_2