
"Kalau begitu Rein, kamu harus berhati-hati karena kamu adalah incaran mereka selama ini" kata Afifa.
"Tenang aja fa, Abang akan selalu menjaga Reina dan kamu juga jangan terlalu khawatir akan hal itu.
Yang penting kamu fokus aja sama penelitian kamu" kata Abang Aziel menenangkan Afifa agar tidak khawatir.
"Baiklah kalau begitu bang" kata Afifa akhirnya.
"Oh ya fa, kemarin calon suami mu tuh nyariin kamu terus sampai-sampai kerumah sakit segala lho.
Dan kamu tahu tidak dia menanyai keberadaan kamu terus ke aku sampai memohon-mohon" kata Reina.
"Ah yang bener Rein" kata Afifa ragu.
"Ih dibilangin kok, kalau tidak percaya tanya tuh sama Anna" Reina mencoba menyakinkan Afifa.
"Tapi kamu jawab apa" tanya Afifa.
"Ya aku bilang kamu sedang berada di suatu tempat, ingin menenangkan diri dan tak mau diganggu gitu.
Abi juga ditanyai tuh sama calon suami mu.
Sampai-sampai dia kerumah Abi Arsyad sama Uma Aisyah" kata Reina.
"Udah tenang aja akhirnya dia mau mengerti kok, Abi Arsyad sama Uma Aisyah juga Abi Hamid sudah memberi penjelasan dan pengertian kepada nya" kata Reina lagi.
"Syukur deh kalau gitu" kata Afifa.
"Tapi fa kamu harus ingat satu Minggu lagi kalian akan menikah lho.
Aku harap kamu akan menjelaskannya nanti kepadanya.
Biar nanti tidak terjadi kesalahpahaman diantara kalian" kata Reina memberi saran
"Baiklah Rein, aku tahu kok" kata Afifa.
"Oh ya Rein tolong kamu periksa orang itu. dia sudah aku kasih formula yang aku buat" kata Afifa.
Reina mulai menganalisis pasien itu dan beberapa menit Reina pun memberikan hasil analisanya itu.
"Kayanya 95% menuju sempurna deh fa" kata Reina.
"Ya sudah kamu bantuin aku kalau gitu sekarang" pinta Afifa.
"Baik saudaraku yang cerewet ini dan teman berantem ku" kata Reina sambil mencubit hidung Afifa pelan.
"Ih apaan sih" kata Reina sambil mengerucutkan bibirnya.
Mereka pun dengan cekatannya segera memulai penelitiannya.
Ditempat lain dokter Nicholas yang mengikuti Reina dengan Aziel kehilangan jejak.
"Sial kemana mereka, aku harus segera melaporkannya" Nicholas bermonolog.
Dengan segera Nicholas mengambil teleponnya dan menghubungi seseorang dan menjelaskan semua pengintaian terhadap Reina.
Setelah itu Nicholas pun kembali ke rumah sakit karena besok profesor Alfaro akan mulai menyelinap kedalam rumah sakit itu dan menyamar sebagai dokter Rio yang akan memimpin penelitian.
__ADS_1
Maka dari itu Nicholas harus mempersiapkan semua nya sebelum profesor Alfaro datang.
Sesampai dirumah sakit Nicholas langsung menuju keruangan dokter Syahrir.
"Permisi dok apa boleh saya masuk" kata Nicholas meminta ijin.
"Silahkan dokter Nicholas" kata dokter Syahrir menyuruh dokter Nicholas untuk masuk.
"Besok adalah kedatangan dokter Rio, disini saya hanya ingin memastikan saja dok apakah semua peralatan dan bahan-bahan buat ujicoba penelitian sudah dipersiapkan" tanya dokter Nicholas
"Tenang saja, semua sudah beres dan tinggal melanjutkan rencana selanjutnya" kata dokter Syahrir.
"Oh ya dok apakah dokter tahu kearah mana dokter Reina dan tuan Aziel Ramadhan pergi" tanya dokter Syahrir kepada Nicholas
"Mereka menuju keluar kota dan saya kehilangan jejak mereka saat ditengah perjalanan" kata Nicholas.
"Lebih baik kita perintahkan anak buah kita saja, karena kita harus segera pergi ke pabrik minuman untuk melihat pendistribusian air mineral yang sudah diberi virus itu" kata dokter Syahrir.
"Baiklah kalau begitu, dan kita harus berhati-hati karena sepertinya badan inteligen internasional sudah mengendus keberadaan profesor Alfaro.
Maka dari itu kita harus menjalankan rencana ini secara halus dan jangan sampai membuat kecurigaan pihak lain" kata Nicholas kepada dokter Syahrir.
"Seperti nya memang begitu" dokter Syahrir menimpali.
"Ya sudah dok, lebih baik kita segera pergi sekarang sebelum ada yang mengetahui" kata dokter Nicholas mengajak dokter Syahrir segera pergi ke pabrik air mineral.
"Baiklah kalau begitu" kata dokter Syahrir menerima ajakan dokter Nicholas.
Mereka berjalan berdua menuju parkiran.
Sesampai diparkiran mereka berdua langsung memasuki mobilnya dan segera melajukan mobilnya menuju tempat pembuatan air mineral yang sudah dicampurkan dengan virus itu.
Setiap gerak gerik dokter Nicholas selalu diawasi dan selalu menjadi pantauannya.
Setelah dirasa pantauan mereka cukup akurat segera mereka melaporkan kepada pimpinan masing-masing.
Ditempat lain Ardiansyah yang sudah selesai mengurus pendaftaran pernikahannya di KUA , dia langsung melajukan mobilnya menuju ke kantornya.
Di sana ternyata sudah ada yang menunggu Ardiansyah didalam ruangannya.
"Maaf tuan, anda sudah ditunggu oleh tuan Fano.
beliau sudah berada di ruangan tuan" kata Mitha sekretarisnya saat tahu Ardiansyah akan mau memasuki ruangannya.
"Baiklah kalau begitu.
Terima kasih" kata Ardiansyah.
Tanpa menunggu lama Ardiansyah langsung memasuki ruangannya.
"Hai bro, ada berita apa hari ini" kata Ardiansyah saat sudah memasuki ruangan nya.
"Begini Syah, tadi anak buahku mengikuti dokter Nicholas ternyata dia tidak sendirian ada seorang dokter lain yang ikut andil juga.
Tadi mereka menuju sebuah pabrik air mineral gitu.
Aku takutnya ada sesuatu dengan pabrik itu.
__ADS_1
Aku ini berusaha menyelundupkan anak buah ku untuk masuk kedalam pabrik tersebut.
Dan ada 1 berita lagi, kalau yang sedang mengintai kita tidak hanya tim kita tetapi ada tim lain yang sedang mengintai Nicholas dan juga pergerakannya" jelas Fano kepada Ardiansyah.
"Terus apa ada perkembangan lain tentang calon istri saya" tanya Ardiansyah.
"Sejauh ini aku masih sulit untuk menemukan, sepertinya dia dalam perlindungan dan sepertinya cukup sulit untuk menembusnya" kata Fano.
"Baiklah kalau begitu, kamu lanjutkan pengintaianmu.
Nanti malam kita bahas semua.
Aku tunggu nanti malam dimarkas" kata Ardiansyah.
"Baiklah bro, aku pergi dahulu kalau begitu.
Assalamu'alaikum" kata Fano dan langsung melenggang pergi tanpa menunggu balasan dan salamnya.
"Wa'alaikumsalam" kata Ardiansyah
"Kebiasaan deh tuh anak belum selesai dah main pergi aja" kesal Ardiansyah kepada sahabat sekaligus orang kepercayaannya.
Setelah kepergian Fano, Ardiansyah mulai menghubungi tuan Fernando yang merupakan atasannya di agen rahasia internasional.
Ardiansyah pun mulai menceritakan semua hasil pengintaian anak buahnya.
"Baiklah kalau begitu besok saya akan langsung menuju markas" kata Ardiansyah diakhir teleponnya itu.
Ardiansyah menaruh kembali ponselnya diatas meja kerjanya.
Dia mulai fokus dengan berkas-berkas yang beberapa hari terbengkalai.
Dia mulai mempelajari berkas-berkas itu dan mulai menandatangani beberapa berkas.
"Mitha tolong keruangan saya" perintah Ardiansyah di sambungan interkom nya.
"Baik tuan" jawab Mitha.
Tak menunggu lama Mitha sudah berada didepan pintu ruangannya.
Dia mulai mengetuk pintu.
"Masuk" kata Ardiansyah menyuruh Mitha langsung memasuki ruangannya.
"Iya tuan, ada yang diperlukan" kata Mitha saat sudah berada didepan bos nya itu.
"Ini berkas-berkas yang sudah saya tanda tangani.
Untuk meeting-meeting penting tolong kamu tunda dahulu karena saya ada tugas yang sangat penting.
Kalau tidak tolong wakilkan saja dengan wakil saya tuan Yudha" kata Ardiansyah
"Baik tuan.
Apa ada lagi tuan" kata Mitha.
"Sudah itu saja, dan kamu boleh pergi" kata Ardiansyah
__ADS_1
"Kalau begitu saya permisi dahulu" kata Mitha berpamitan
"Hmmm" jawab Ardiansyah singkat hanya dengan deheman.