Dokter Afifa

Dokter Afifa
Jati diri Ardiansyah


__ADS_3

Hamid, Hamida dan Aziel sedang menyantap sarapannya dengan tenang dan tanpa suara.


Beberapa menit kemudian mereka bertiga sudah selesai menyantap sarapannya itu.


Uma segera membereskan bekas sisa makan mereka dan membawanya ke dapur untuk dicuci.


Uma mencuci piring-piring dan gelas-gelas kotor bekas sarapan dengan bersih.


Setelah selesai mencuci piring Uma segera bergabung dengan Aziel dan Abi diruang tengah sambil menikmati televisi yang sedang menyiarkan berita terbaru.


"Korban semakin banyak berjatuhan akibat wabah virus itu.


Kasian mereka yang kena dampaknya.


Uma tidak tega melihat keadaan korban yang seperti itu" kata Uma.


"Benar Uma, ini Reina dan Afifa sedang melakukan penelitian untuk menemukan formula yang bisa melawan virus itu" kata Aziel.


"Oh ya benarkah" kata Uma.


"Benar apa yang dikatakan Aziel itu sayang" kata Abi Hamid.


"Semoga kedua anak kita segera bisa membuat formula itu ya sayang, aku sudah tidak sanggup melihat penderitaan mereka itu" kata Uma sedih.


Saat mereka asyik ngobrol dan menonton televisi tiba-tiba pintu rumah ada yang mengetuk.


Tak lama kemudian salah satu ART memberi tahu kalau ada Ardiansyah didepan.


"Ardiansyah ada apa dia kesini" tanya Abi.


"Ya temui dulu bi, siapa tahu penting.


Atau mungkin dia kesini ingin menjenguk Afifa" kata Uma.


"Ya sudah suruh langsung masuk kesini saja" kata Hamid Abdullah.


"Baik tuan" kata ART itu kembali kedepan dan mempersilahkan Ardiansyah masuk menuju keruang keluarga.


"Assalamu'alaikum Abi, Uma dan bang Aziel" kata Ardiansyah memberi salam saat melihat ada Uma, Abi dan Aziel lalu mencium punggung tangan Abi dan Uma sedang dengan Aziel hanya berjabat tangan saja.


"Wa'alaikumsalam nak, tumben pagi-pagi sudah kesini" tanya Abi.


"Ada yang hendak Ardiansyah bicarakan dengan Abi berdua, karena ini menyangkut pekerjaan" kata Ardiansyah menjelaskan kedatangannya.


"Ya sudah kalau begitu lebih baik kita keruang kerja Abi saja" kata Hamid kepada calon menantunya itu.


Ardiansyah mengikuti Hamid Abdullah dari belakang hingga sampai didalam ruangan kerja Hamid.


"Masuklah nak" kata Hamid.


"Terima kasih Abi" kata Ardiansyah.


Ardiansyah pun duduk berhadapan dengan Hamid Abdullah.

__ADS_1


"Sekarang apa yang ingin kamu bicarakan nak" kata Hamid Abdullah.


"Begini Abi, sebelumnya saya minta maaf kalau saya menutupi ini semua dari kalian.


Saya disini hanya ingin menyerahkan surat tugas saya dari atasan saya" kata Ardiansyah sedikit formal dan menyerahkan berkas surat tugas itu ke Hamid Abdullah.


"Atasan" kata Abi bingung.


"Iya Abi" kata Ardiansyah.


Hamid Abdullah segera membaca berkas itu dan betapa terkejutnya dia ternyata calon menantunya adalah salah satu agen rahasia internasional.


"Jadi kami anggota agen rahasia nak" tanya Abi Hamid.


"Benar Abi, saya disini ditugaskan untuk menjaga Afifa.


Dan hari ini saya harus mulai bertugas" kata Ardiansyah


"Terus siapa yang akan menangani perusahaan kamu nak" tanya Abi Hamid.


"Ada orang kepercayaan saya Abi yang akan menggantikan saya di kantor selama saya bertugas" kata Ardiansyah menjelaskan.


"Ya sudah kalau begitu sebaiknya kita temui Afifa terlebih dahulu.


Tetapi saat bertemu Afifa nanti kamu jangan sampai terkejut dan panik" kata Abi.


"Apa maksud Abi" tanya Ardiansyah.


"Nanti kamu lihat sendiri ya nak" kata Abi Hamid.


"Insya Allah akan tetap dilaksanakan Abi" kata Ardiansyah.


Ardiansyah masih menebak-nebak maksud dari perkataan Abi tentang Afifa.


"Apa yang terjadi sama Afifa kenapa sampai Abi berbicara seperti itu" batin Ardiansyah.


"Ya sudah sekarang kamu ikut Abi ke kamar Afifa ya nak" ajak Hamid Abdullah.


"Baik Abi" kata Ardiansyah.


Mereka berjalan beriringan menuju kamar Afifa sambil berbicara.


"Maaf Abi kalau saya tidak profesional dalam bertugas" kata Ardiansyah yang dari tadi memang sikapnya seperti kepada orang tua nya tidak bersikap dalam menjalankan tugas.


"Tidak apa-apa nak, lebih baik seperti ini kalau pas sama keluarga saja dan kalau pas ada orang lain atau atasan ataupun kolega bisnis lebih baik kita bersikap profesional seperti biasa ya" kata Abi yang memakhlumi Ardiansyah itu.


"Baik Abi, dan terima kasih atas pengertiannya" kata Ardiansyah tulus.


Tak lama kemudian sudah sampailah Hamid Abdullah dan Ardiansyah dikamar Afifa.


Hamid Abdullah mengetuk pintu kamar Afifa yang memang saat itu sedang tertutup pintunya.


"Masuklah" kata seseorang dari dalam kamar Afifa.

__ADS_1


"Ayo nak kita masuk" kata Abi Hamid.


Ardiansyah hanya mengangguk menanggapi ucapan Abi Hamid.


Saat Ardiansyah sudah masuk kedalam kamar Afifa betapa terkejutnya Ardiansyah yang melihat Afifa dengan banyak luka lebam dan lengan kiri dibungkus perban itu.


"Afifa kamu kenapa?" tanya Ardiansyah panik dan khawatir.


"Ingat nak kamu harus bisa mengontrol diri" bisik Hamid Abdullah kepada Ardiansyah.


Ardiansyah pun mengerti dan kembali bernafas panjang untuk menghilangkan sedikit kegundahan hatinya.


"Afifa baik-baik saja kok kak, cuma ada insiden kecil saja kemarin" kata Afifa yang tidak menjelaskan secara rinci kepada Ardiansyah.


Hati Ardiansyah begitu sakit seakan dia bisa merasakan apa yang diderita oleh Afifa.


"Insiden apa, tolong ceritakan kepadaku Afifa" kata Ardiansyah.


"Sebaiknya kita keluar dulu" kata Abi sambil memberi kode kepada Anna untuk keluar.


Setelah Abi dan Anna keluar barulah Afifa menjelaskan semua kejadian dari awal dia diikuti sampai akhirnya dia terluka dan dibawa pulang oleh Abang Aziel dan Lionel.


"Kenapa kamu tidak memberi tahu aku fa, kamu menganggap aku ini apa" kata Ardiansyah yang tanpa disadari dia meneteskan air mata dan segera dihapusnya karena dia tidak ingin terlihat rapuh didepan Afifa.


"Maafkan Afifa kak.


Afifa hanya memberi tahu Reina saja saat itu karena Afifa hanya ingin tahu siapa dibalik semua ini.


Dan saat itu Afifa berpikir kita masih belum resmi menikah jadi Afifa beranggapan kita belum muhrim" kata Afifa jujur.


"Baiklah kalau itu syarat penting agar aku bisa menjaga mu, aku akan meminta ijin kepada Abi dan Uma serta bunda kalau kita akan menikah hari ini juga" kata Ardiansyah tegas memberikan keputusan sepihak.


"Tapi kak" kata Afifa.


"Tidak ada tapi-tapian fa, aku mohon sama kamu biarkan aku selalu berada disamping kamu dan menjaga kamu.


Aku sudah tidak sanggup melihat apa yang terjadi sama kamu.


Dan aku punya surat tugas untuk selalu menjaga kamu" kata Ardiansyah tegas dan menyerahkan surat tugasnya itu yang tadi diserahkan kembali oleh Abi Hamid kepada Ardiansyah agar ditunjukkan kepada Afifa.


Afifa membacanya dan dia begitu terkejut.


"Kakak..." kata Afifa tidak meneruskan ucapan nya.


"Benar fa, seperti apa yang tertera dalam tulisan itu" kata Ardiansyah.


"Baiklah aku menyetujui keinginan kakak untuk menikahi ku saat ini juga, tetapi hanya kalau orangtua kita menyetujui nya" kata Afifa.


"Baiklah kalau begitu aku akan memberitahukan semua ini kepada orangtua kita" kata Ardiansyah dan beranjak pergi dari kamar Afifa.


Diluar ternyata Abi dan suster Anna masih menunggu didepan kamar Afifa.


"Abi boleh saya berbicara hal yang penting dengan Abi dan Uma.

__ADS_1


Ini menyangkut Ardiansyah dan Afifa" kata Ardiansyah sopan.


"Baiklah nak, ayo kita temui Uma kamu" kata Hamid mengajak Ardiansyah bertemu dengan Hamida yang saat itu masih tetap diruang tengah sedang menikmati acara televisi kesayangannya seorang diri sedangkan Aziel sudah berangkat menuju rumah sakit.


__ADS_2