
Fano, Reina dan ketiga anak buahnya mulai mengendap-endap memasuki markas utama milik profesor Alfaro.
Fano memberi perintah dengan tangannya menunjuk ketiga anak buahnya agar mendekat dari arah kiri sedangkan dia bersama Reina akan mendekat dari arah kanan.
Penjagaan dari arah belakang tidaklah seketat dari belakang.
"Awas kalian harus ingat ada ranjau" kata Fano.
"Ranjau sudah di non aktifkan dalam waktu 10 menit aku harap kalian segera bergerak masuk dan ranjau akan kembali aktif dalam 10 menit lagi"Kata Aziel memberitahukan kepada tim Reina dan Fano.
"Siap bang" kata Reina.
Tim Fano bersama Reina sudah mulai memasuki pintu belakang.
"Ada 2 orang dibalik pintu dan mereka hendak keluar" kata bang Aziel memberitahukan keadaan didalam markas profesor Alfaro.
"Kalian cepat bersembunyi" kata bang Aziel.
"Enam, lima, empat, tiga, dua, satu" kata Aziel menghitung waktu mundur 2 orang yang akan keluar dari pintu dekat Reina.
Setelah dua orang penjaga sudah benar-benar berada diluar dengan sempurna dan pintu itu tertutup lagi Reina dengan sangat cepat menerjang salah seorang penjaga dan diketahui oleh temannya dan akhirnya terjadi perkelahian dengan cepat Fano membantu Reina.
Beberapa gerakan mereka bisa menumbangkan kedua penjaga itu dan diseretnya kembali penjaga itu ditempat yang tersembunyi.
"Sudah aman kalian bisa masuk" kata Aziel.
Tim Fano dan Reina pun memasuki markas itu dan sembunyi dibalik tembok-tembok yang menjulang tinggi.
Didepan mereka ada sebuah lorong besar.
"Hati-hati jika masuk lorong itu karena banyak penjaga berlalu lalang menjaga keamanan" kata Aziel.
"Oh ya kalian lihat keatas ada sebuah lorong Angin kecil. Kalian masuk kesana sambil mengintai dari lorong pembuangan angin itu" kata Aziel.
"Oke bang" kata Reina.
"Kalian bertiga berjaga disini, tunggu perintah dari kami berdua. Aku dan Fano akan memasuki lubang angin itu" kata Reina yang sekarang mengambil alih kepemimpinan.
Reina pun meloncat dan membuka lubang angin itu.
Dengan sekali loncatan lubang angin itu dapat terbuka.
Dia meloncat kembali dan menumpukan bebannya pada tangan dengan sekali tarikan dia bisa mengangkat seluruh tubuhnya dan masuk kedalam lubang angin itu.
Setelah Reina sudah masuk sempurna kini Fano mengikuti gerakan Reina dan akhirnya dia berhasil masuk dengan sangat baik.
Mereka berjalan dengan cara tiarap diatas lobang angin yang berada dilangit-langit yang menghubungkan ke setiap lorong dan ruangan.
Reina mengawasi setiap pergerakan yang ada dibawah tempat nya berada sekarang.
"Fan kamu maju dan coba lihat dari lobang angin itu.
Kita akan menarik 2 penjaga secara bersamaan ketika mereka tidak sedang bergerumbul atau bertemu.
Selanjutnya kita pakai pakaian penjaga itu untuk menyamar dan masuk dengan bebas kedalam, tetapi kita harus tetap waspada" perintah Reina.
"Siap Rein" kata Fano.
"Nih cewek dah cantik, berwibawa, tangguh, cerdas dan sangat cekatan.
__ADS_1
Benar-benar paket komplit deh" batin Fano yang lagi-lagi terpesona dengan sikap Reina itu.
"Benar kata Afifa dan Ardiansyah" yang masih sedikit terseret dalam lamunannya.
"Fan kamu dengar aku gak, Fano..." kata Reina yang sedikit mengguncang tubuh Fano agar fokus.
"Apa yang kamu pikirkan sampai-sampai kamu melamun gitu heh" tanya Reina sarkastik.
"Sttt" kata Fano sambil menempelkan jari telunjuk dimulut nya memberi kode ke Reina untuk diam.
"Makanya fokus" kata Reina kesal dengan tingkah Fano.
"Maaf Rein" kata Fano menyesal.
"Ya sudah kamu jalan kesana dan lihat dari lubang itu.
Setelah cuma tinggal dua penjaga kita tarik mereka dan kita pakai baju mereka" kata Reina dengan nada kesalnya.
"Baik Rein" kata Fano.
"Kamu kalau kesal menggemaskan Rein" batin Fano tetapi masih bisa fokus dan tidak larut dalam lamunannya lagi.
Reina dan Fano mulai mengawasi dari lubang masing-masing dan ketika 2 orang penjaga yang sedang berjalan dibawah mereka dengan segera Reina dan Fano turun dan Reina segera menancapkan senjata biusnya kearah penjaga yang dibawahnya tadi.
Sedang Fano pun dengan sekali tendangan bisa melumpuhkan penjaga itu.
"Fan tangkap dan tancapkan obat bius itu ketubuh orang itu" kata Reina sambil melempar senjata biusnya kearah Fano.
Dengan sigap Fano menangkapnya dan segera menancapkan ke tubuh penjaga itu.
Dengan gerakan cepat mereka membawa penjaga itu naik keatas dengan cara saling membantu.
Mereka mengganti kemudian langsung menggunakan pakaian penjaga itu tanpa harus berganti pakaian.
"Siap" kata Fano.
Mereka pun turun kembali dan langsung berjalan seakan-akan mereka adalah penjaga seperti yang lainnya.
Mereka berjalan menyusuri tempat itu sambil mengamati didalamnya.
"Bang hentikan cctv yang ada di lorong tempatku berada" pinta Reina lirih agar tidak ada yang mendengarkannya.
"Siap Rein" kata Aziel.
Aziel dari apartemen mencoba menghentikan cctv itu.
"Sudah Reina.
Waktu kalian hanya 15 menit dari sekarang" kata Aziel.
Reina dan Fano menjaga jarak dan kembali berjalan seperti penjaga lainnya.
Saat berpapasan dengan 1 penjaga dan tidak ada yang lainnya dengan gerakan cepat dia membekuknya dan menyembunyikan penjaga itu seperti yang dilakukan yang sudah-sudah.
Satu,dua,tiga dan akhirnya sampai puluhan mereka meringkus penjaga-penjaga itu.
"Fan lihat kita lihat ruangan ini" kata Reina.
"Baik Rein, tapi lebih baik kamu dibelakang ku biar aku masuk duluan jika aman kamu bisa masuk" kata Fano
__ADS_1
"Baiklah" kata Reina.
"Rein kamu kearah kiri saja dan menuju ke lantai paling atas karena disana pusat pengendali dan pusat pemantau cctv" perintah Aziel.
"Baik bang, tapi gimana denga Fano" kata Reina.
"Tenang saja Fano akan baik-baik saja karena tempat yang dimasuki Fano adalah sebuah gudang saja" kata Aziel.
Fano sebenarnya juga mendengar pembicaraan Aziel dengan Reina melalui alat komunikasinya itu yang menempel ditelinga.
Reina bergegas menuju lantai paling atas menuju tempat yang dimaksud oleh Aziel dengan jalan mengendap-endap dan tetap waspada.
Hingga akhirnya Reina pun bisa bisa sampai diruangan itu dengan beberapa rintangan yang menghadang.
Reina segera meringkus penjaga yang ada diruangan pusat pengendali dan pantau cctv.
Reina dengan segera mematikan suara yang ada diruangan itu agar ketika dia berbicara tidak didengar oleh orang lain.
Setelah dimatikan mulailah Reina memantau setiap ruangan itu.
"Fan bisa kamu naik ke atas ketempat ku dan perintah kan ketiga anak buah kamu tadi untuk masuk kedalam" kata Reina.
"Baik Rein" kata Fano.
Setelah memberi perintah anak buah nya Fano segera menuju kearah yang dimaksud oleh Reina.
Tempat itu sudah steril dan benar-benar sudah tidak ada penjaga sama sekali.
"fa kamu dan Ardiansyah segera masuk disisi kiri kamu dan kanan kamu ada penjaga.
Kalian berdua harus meringkus penjaga itu bersamaan dan sembunyikan mereka.
Jangan lupa berikan suntikan bius itu" perintah Reina.
"Siap Rein" kata Afifa dan juga Ardiansyah.
"Hitungan ketiga kalian sudah menerjangnya karena pas hitungan itu mereka sudah keluar dengan sempurna.
Satu, dua, tiga" kata Reina
Dan benar hitungan yang Reina berikan tadi penjaga itu sudah keluar sempurna dan langsung diterjang oleh Afifa dan Ardiansyah.
Hanya dalam beberapa kali pukulan penjaga itu bisa dibekuknya.
"Fa kamu dan Ardiansyah berjalan ke arah kanan dan biarkan ketiga anak buahmu berjalan dari arah kiri" perintah Reina yang terus memantau keadaan dari balik ruang pengendali dan pemantau.
Tak beberapa lama Fano sudah berada ditempat Reina.
"Fan kamu awasi ini aku akan turun dan membantu Afifa, aku takut Afifa kenapa-kenapa karena kondisi Afifa yang baru pulih" pinta Reina.
"Baiklah Rein" kata Fano.
Reina kembali menuju kearah Afifa namun sebelumnya dia sudah mengetahui tempat profesor itu berada dengan Mr. X
yang sudah diketahui identitasnya oleh Reina.
"Bang tolong kamu retas pejabat siapa saja yang menjadi pengikut setia orang yang aku kirim fotonya ketempat Abang" kata Reina didalam perjalanannya.
"Baiklah Rein" kata Aziel.
__ADS_1
"Bilang ke Abi suruh telepon aparat keamanan untuk segera membekuk mereka tapi jangan gunakan sirine biar tidak mengundang kecurigaan siapapun" perintah Reina tegas.
"Siap Rein" kata bang Aziel.