
Ardiansyah yang saat itu dengan yang lainnya berada di pesawat saat kejadian pembebasan Torres oleh seseorang itu.
Mereka hampir kembali namun Hamid Abdullah melarang mereka kembali dan menyuruh mereka ke pulau Milik Afifa dan Ardiansyah yaitu tempat yang sebelumnya mereka tinggalkan itu.
Perjalanan jauh yang mereka tempuh membuat mereka tidak langsung sampai ditempat tujuan.
Karena kelelahan Afifa nampak tertidur begitu pulas nya diatas pesawat jet pribadi miliknya itu.
Ternyata tidak hanya Afifa tampak yang lain juga tertidur karena kelelahan habis pertempuran yang banyak menguras tenaga dan pikiran mereka.
Hingga mereka tidak sadar kalau pesawat sudah mendarat dengan sempurna ditempat tujuan mereka.
"Tuan, nyonya bangun kita sudah sampai" salah seorang pramugari dan pramugara pesawat itu membangunkan mereka semua.
Seketika mereka terkejut dan tampak mengejap-ngejapkan matanya untuk mengembalikan kesadaran mereka.
Setelah kesadaran mereka sudah terkumpul mereka menuruni pesawat itu satu persatu.
Kini mereka tampak berjalan beriringan menuju ke sebuah ruangan yaitu ruangan tempat kerja Afifa dan juga Ardiansyah.
Kedatangan mereka disambut oleh Aziel, Anna dan juga Hamid Abdullah.
"Abi kapan datang" kata Afifa begitu senangnya melihat Abi nya sudah berada disana.
Afifa segera mencium punggung tangan Abi nya dan memeluk Abi nya itu.
Rasa rindu akan orangtua nya tak bisa dibendung.
Demikian juga dengan Reina yang merupakan gadis yang sangat dekat dan manja dengan Hamid Abdullah.
Reina, Afifa dan Hamid Abdullah saling berpelukan melepas kerinduan mereka beberapa saat.
Tak beberapa lama pelukan itu sudah dilonggarkan oleh masing-masing.
"Bagaimana kabar disana Abi, dan keadaan perusahaan Abi bagaimana apa sudah teratasi" tanya Afifa.
"Semua sudah terkendali nak, kamu jangan khawatir" menimpali ucapan Afifa.
"Afifa rindu sama Uma Abi, sudah lama sekali Afifa tidak bertemu dengan Uma Hamida dan Uma Aisyah" katanya sendu.
"Uma dalam keadaan sehat, mereka juga merindukanmu nak.
Sebaiknya besok kamu bisa kembali ke negara kita, kerumah kita" kata Hamid menenangkan Afifa.
"Reina juga rindu Uma dan masakan Uma juga Abi" kata Reina manja.
"Iya, besok kita pulang sama-sama ya semua" kata Hamid Abdullah.
"Oh ya kapan Abi sampai" tanya Afifa saat tersadar pertanyaan ini yang dari tadi ingin ditanyakan ke Abi nya itu.
"3 jam yang lalu nak" kata Hamid Abdullah.
"Berarti Abi baru sampai dong"
"Iya sayang"
"Maafkan kami Abi karena kami gagal membawa Torres.
__ADS_1
Ada sekelompok orang yang berhasil membebaskannya" Ardiansyah tertunduk saat mengucapkan itu.
Hamid menepuk punggung Ardiansyah.
"Sudahlah nak, nanti kita akan kejar mereka.
Yang terpenting mereka Gerald dan Danielo sudah kita dapatkan" jawab Hamid menenangkan.
"Apa yang kita rencanakan sudah berhasil walau sedikit masalah itu hal biasa.
Kamu tidak usah merisaukannya.
Nanti kita akan menyusun rencana lagi" Hamid membesarkan hati Ardiansyah dan yang lainnya agar tidak terlarut dalam penyesalan dan perasaan bersalahnya itu.
Kini tampak semua sudah duduk disamping Hamid membuat lingkaran.
Mereka mengobrol dan saling bercerita tentang pengalamannya menjalankan misi mereka itu.
Obrolan yang begitu mengasyikkan itu terhenti saat ada bunyi ponsel milik Hamid.
Hamid mengangkat dan segera nyambung kan saluran teleponnya itu.
"Iya Lionel, ada apa" tanya Hamid.
"Misi kita sudah berhasil dan kini kita juga sudah membawa profesor Alfaro menuju penjara kita tuan" laporan Lionel.
"Bagus kalau begitu sekarang kamu siapkan penjagaan yang ketat" perintah Hamid dari balik telepon itu.
"Baik tuan" jawab Lionel.
Dan merekapun menyudahi teleponnya dan memutuskan sambungan teleponnya itu.
Kini profesor Alfaro sudah ada ditangan kita.
Mereka membawanya dipenjara kita.
"Syukurlah kalau begitu" jawab mereka serempak dan hampir bersamaan.
"Ya sudah sebaiknya kalian beristirahat dahulu, karena Abi tahu kalian pasti sangat capek"
"Baik Abi" jawab mereka serempak.
Kini mereka menuju kekamar masing-masing termasuk juga dengan Hamid, Aziel dan Anna.
Mereka juga menuju ke kamar masing-masing.
Rumah itu tampak hening dan hanya ada beberapa pengawal dan penjaga yang sedang bertugas untuk berpatroli.
***
Sisuatu kamar tampak sepasang suami istri sedang duduk bersandarkan sandaran tempat tidur.
"Apa kamu capek sayang" tanya Ardiansyah yang tampak melingkarkan tangannya di pinggang ramping istrinya itu.
"Tidak hubby, aku hanya merindukan Uma saja.
Aku merasa beberapa hari kemarin Uma sepertinya mengalami sesuatu hal tetapi aku tidak tahu" meletakkan kepalanya di dada Ardiansyah.
__ADS_1
Tangan Ardiansyah mulai naik dan membelai lembut rambut Afifa.
Sudah ke berapa kalinya setiap berada disamping Ardiansyah tubuh Afifa selalu menghangat, nyaman dan mendesir.
Demikian dengan Ardiansyah, dia tidak bisa memungkiri bahwa istrinya itu selalu saja mampu membuat dirinya ber maraton.
Detak jantungnya berdetak kencang.
"Kamu yang sabar ya sayang, besok kita kembali kerumah Abi dan Uma ya" kata Ardiansyah lembut sambil mencium puncak kepala Afifa.
Afifa mendongakkan kepalanya dan kini tatapan sendu mereka bertemu dan saling mengunci.
Lama mereka saling bertatapan dan kini Ardiansyah memegang tengkuk Afifa agar wajahnya semakin mendekat dan tidak berjarak.
Ardiansyah menempelkan bibirnya dan mulai mencium hangat Afifa dengan lembutnya.
Afifa yang mendapat perlakuan spontan dari suami merasakan gelenjar aneh seperti sengatan listrik yang begitu memabukkan.
L*umatan demi l*umatan mereka lakukan.
Mereka saling mengecap dan kini ciuman itu semakin menuntut.
Akhirnya terjadilah malam yang panjang di antara mereka.
Desa*han dan teriakan yang seksi mereka lakukan membahana diseluruh ruangan itu.
Sampai berkali-kali mereka mencapai pada puncak pelepasannya sehingga kini mereka sudah lemas karena kecapekan.
Mereka tertidur dengan pulas nya dan saling berpelukan tanpa mengenakan satu helai benang yang menempel ditubuhnya.
Begitu sunyi dan senyap hanya terdengar dengkuran halus dari mereka berdua hingga tiba-tiba alarm mereka berbunyi dan menunjukkan waktu yang hampir mulai menginjak subuh.
Afifa beranjak dari tempat tidurnya dan dia mulai mengerjap-ngerjapkan matanya untuk mengembalikan kesadarannya dari mimpinya.
Dilihatnya tampak sang suami masih mendengkur halus.
Afifa beranjak turun dari tempat tidur dan menuju kamar mandi.
Badannya terasa remuk semua dan tiba-tiba kepalanya sedikit pusing.
Afifa segera membersihkan tubuhnya dan segera berganti pakaian untuk segera melaksanakan sholat Subuh.
Sambil menunggu adzan subuh Afifa menyempatkan diri untuk bersholat malam terlebih dahulu.
Tak beberapa lama Ardiansyah pun ikut terbangun.
Dipandangnya sang istri yang kini sedang melakukan sholat malam.
Ardiansyah beranjak dan menuju kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya.
Setelah selesai membersihkan tubuhnya dia bersiap untuk sholat subuh berjamaah bersama yang lainnya.
Sayup-sayup terdengar suara adzan subuh, Afifa dan Ardiansyah beranjak menuju mushola yang ada didalam rumah mereka itu.
Ternyata semua anggota keluarga sudah berada disana.
Kini mereka mulai melakukan sholat berjamaah bersama dengan di imami oleh Hamid Abdullah sendiri.
__ADS_1
Mereka menjalankan ibadah dengan khusuk dan tenang.